
Takbir menggema dimana-mana. Tangis haru meliputi seisinya. Hari kemenangan telah tiba. Keluarga besar Harry telah berkumpul di rumah sang kakek.
Tadi sebelum sholat Idul Fitri, semua keluarga Harry telah meminta maaf satu persatu dari yang lebih tua terdahulu.
Tapi tidak dengan Fadia, ia lebih memilih meminta izin dan maaf pada sang suami. Karena baginya, Harry lah yang lebih ia utamakan. Walau akhirnya ia terkena cibiran dari kedua bibi Harry.
Jika orang lain meminta izin dengan dengan cara bersalaman dan menunduk lalu mengatakan apa saja permintaan maaf mereka, berbeda dengan cara permintaan maaf Fadia.
Saat ini Harry tengah duduk di sofa tunggal menunggu giliran untuk di salami para sepupu nya.
"Mas.." panggil Fadia masih berdiri di depan Harry.
Harry hendak berdiri namun di cegah Fadia. Dengan hati-hati ia bertumpu pada kedua lutut menatap Harry dengan senyuman.
Fadia memegang kedua daun telinga dan memasang wajah sesedih mungkin.
"Suamiku.. Maaf aku sering tidak mendengarkan mu untuk jangan memasak, maaf kalau aku sering makan jajanan saos, maaf kalau aku masih sering stop tukang bakso bakar, maaf kalau aku sering beli baju online, dan maaf kalau aku sangat sayang dan cinta kamu."
Fadia mengakui apa yang selama ini tidak ia ceritakan pada Harry.
Harry menahan tawa melihat tingkah sang istri, sebenarnya ia sudah tahu semua dari art nya.
Fadia mulai cemberut karena Harry belum juga mengeluarkan suara sementara kakinya sudah pegal.
"Mas.. Iihh cepat dong.. Pegal ini." keluh nya dengan masih kedua tangan berada di kedua daun telinga nya.
Harry tidak menjawab namun memberi isyarat pada Fadia untuk berdiri dan ia pun berdiri. Jika semua orang dirumah kakek menangis namun tidak dengan Harry dan Fadia.
Ia memeluk sang istri lalu menangkup wajah Fadia memberi banyak kecupan disana.
"Mas juga minta maaf ya sayang, maaf kalau harus galak biar buat kamu nurut. Kemana Gadhing?"
"Itu sama kakek."
"Kenapa anak sulung ku begitu mudah dekat sama orang Yu?"
"Mungkin karena selama ini tidak ada keluarga kami." sahut Fadia lirih.
"Semua orang disini adalah keluarga mu Yu, apa aku saja tidak cukup hem?"
__ADS_1
Harry menuntun Fadia untuk duduk di sofa nya tadi lalu ia duduk di lantai dengan menggenggam kedua tangan Harry.
"Maksud kamu apa mas?"
"Ya apa kamu lupa aku ini bukan hanya suami mu, aku sahabat mu, aku abang mu, aku juga bisa seperti orang tua, dan aku juga seperti selingkuhan kalau Gadhing sedang manja padamu."
Fadia tidak menjawab, ia hanya terkekeh lalu menerima uluran tangan dari para sepupu Harry dengan tangan satunya mengelus kepala sang suami.
Harry sendiri tidak akan menerima uluran tangan dari sepupu wanitanya. Dari dulu ia tidak suka melakukan hal itu.
"Sayang, bangkitlah.. Jangan seperti ini." tegur Fadia karena Harry sudah merebahkan kepala di kakinya.
"Harry.. Harga dirimu kemana? mau saja disuruh duduk dilantai sama istrimu. Yang duduk di lantai itu harusnya istrimu bukan kamu."
Mendengar cibiran itu akhirnya Harry duduk dengan tegak menatap tajam kedua bibi nya.
"Mintalah pada paman diperlakukan seperti aku memperlakukan Ayu bi.. Aku sendiri yang menyuruh Ayu untuk duduk di sofa."
"Halah.. Itu lagi perut istrimu besar kali kayak sudah bulan nya saja. Atau jangan-jangan kalian buru-buru nikah karena sudah hamil duluan?"
Suasana ruang tamu rumah kakek tiba-tiba menjadi hening karena mendengar ucapan salah satu bibi Harry.
Fadia mendengar itu langsung memeluk perut nya. Ingatan kisah masalalu perlakuan buruk dari keluarga mantan suaminya terngiang kembali.
Ia menangis, tapi bukan menangis membenarkan ucapan bibi Harry namun ia takut kisah lamanya terulang lagi.
Isakan tangis Fadia terdengar di telinga semua orang membuat mereka menilai bahwa Fadia hamil di luar nikah benar adanya.
Harry mengubah duduk dengan membalikkan tubuh kearah Fadia. Dihapus air mata yang terus mengalir itu.
"Kenapa menangis hem?" tanya Harry menahan amarah.
"A-aku takut Rry.. Aku takut di usir seperti dulu."
Mendengar jawaban Fadia membuat hati Harry sakit bagai di sayat-sayat. Selama ini ia memperlakukan Fadia dengan baik bagai ratu di rumahnya kini harus mendengar ketakutan masalalu nya lagi.
Harry bangkit membungkuk untuk menggendong Fadia membawanya masuk ke dalam kamar sang kakek.
"Kamu disini dulu ya.. Nanti aku panggilkan Gadhing biar temani kamu."
__ADS_1
Fadia hanya mengangguk lemah.
Langkah lebar yang ia pilih setelah menutup pintu kamar. Rahangnya mengeras bahkan tangan itu sudah terkepal erat.
Suasana di ruang tamu masih hening seakan memang sedang menunggu Harry menjelaskan semuanya.
Duduk dengan kedua siku bertumpu pada lutut. Tangan nya terkatup sebagai sanggahan dagunya. Masih dengan bibir tertutup rapat karena ia sedang mengontrol emosinya. Ia tidak mengapa jika tuduhan itu dilayangkan untuknya tapi jangan didepan Fadia dan membuat istrinya itu menangis.
Harry menatap tajam pada sang bibi. Duduk tegak ketika emosinya mulai menurun.
"Apa maksud bibi ngomong gitu di depan istriku?"
"Jadi betul istrimu itu hamil duluan? kalau betul, apa yakin anak di kandung istrimu itu anakmu?"
"Jangan melewati batasan mu bi.." ancam Harry kemarahan nya memuncak kembali, wajah Fadia dengan derai air mata kembali teringat.
"Jaga bicara mu Harry.." Ibu Harry bersuara meninggi karena ia juga takut jika apa yang di katakan adik iparnya adalah kebenaran.
Harry pun menoleh menatap sang ibu dengan tatapan tajam pula. Ia kecewa karena ibunya juga meragukan nya.
"Kek, aku akan ambil alih peternakan sapi kakek. Besok aku akan melihat hasil laporan jual-beli nya. Aku tidak mau ada orang lain menjual sapi-sapi itu tanpa seizin ku."
"Kamu serius Harry? gimana dengan pekerjaan mu?"
"Aku akan mengirim orang yang ku untuk mengurus peternakan. Dan aku tidak akan membiarkan siapapun menipuku." sergah Harry sembari menyindir suami bibinya karena sering menipu sang kakek.
"Dan satu hal lagi, istriku tidak hamil di luar nikah apalagi mengandung anak dari laki-laki orang lain. Istriku, akulah yang menghamilinya. Istriku hamil anak kembar karena itu perut nya lebih besar dari umur kandungan nya."
Harry bangkit setelah puas menjelaskan semuanya. Ia berjalan menuju kamar kakek mendatangi sang istri.
Langkahnya terhenti saat berada di depan sang ibu. "Aku kecewa Bu.." ucapnya lirih.
Harry membuka pintu melihat sang istri dan anak sambungnya tengah menonton YouTube di ponsel miliknya.
"Sayang.. Ayo kita pulang." ajaknya.
🌸
Bersambung..
__ADS_1