Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Kencan Pertama


__ADS_3

Persiapan untuk pernikahan Hary dan Fadia sudah dimulai. Keluarga Harry menolak halus untuk acara lamaran di adakan di Malang. Keluarga Harry tetap meminta acara dilakukan dimana semestinya.


Fatin pun hanya bisa pasrah. Ia pun meminta bantuan Ibu Elsa untuk mempersiapkan acaranya di desa.


"Bagaimana kalau uang kami tidak cukup Rry? Ini tanah Batak, pasti mahal untuk sewa serangkaian prosesi adat Jawa." keluh Fadia.


"Bukankah kamu selalu ingatkan aku kumpulkan uang untuk pernikahan ku? lalu kenapa kamu begitu khawatir Yu?"


"Keluarga kami pun tidak ada." sambung Fadia lagi.


Harry menghela nafas. "Ada tokoh masyarakat dan tokoh agama juga kan? Jangan terlalu dipikirkan ya."


"Tapi sayang uang nya loh. Mending di simpan saja. Di tabung Rry."


Harry hanya tersenyum mengacak rambut Fadia gemas. Tentu itu membuat Fadia cemberut.


Itulah obrolan keduanya di dalam taksi. Malam ini, mereka akan double date. Fadia, Harry, Niko, dan Elsa. Pak Seto sudah kembali ke desa lebih dulu karena ia harus menemani istrinya di rumah tengah hamil.


Ini adalah kencan pertama Harry dan Fadia. Karena sebelum nya keduanya selalu jalan dengan Gadhing juga. Tapi malam ini Gadhing pergi bersama Fatin dan suami.


Penampilan Fadia sangat cantik. Bila melihatnya tidak akan percaya bila ia seorang ibu dan seorang janda. Persis bak seorang gadis. Ia memakai kaos garis-garis dengan celana jeans hitam. Dengan anting sebagai pemanis. Ia sengaja menggerai rambut panjang mediun brown nya yang baru ia warnai bersama Elsa tadi siang. Dan wajah nya di hiasi make up malam ini.


Sedangkan Harry memakai kaos hijau tosca dengan celana jeans putih gading. Sama sekali tidak menampakkan ia seorang atasan dimana ia bekerja.


Sedangkan Elsa memakai sweater ungu dengan rambut copper nya sebahu serta make up tebal nya. Niko juga memakai jaket hijau malam ini.


Keempatnya keluar dari taksi saat sampai di salah satu kafe yang tidak terlalu jauh dari simpang komplek perumahan Fatin.


Harry menggenggam tangan Fadia sepanjang mereka berjalan masuk ke dalam kafe.


Fadia yang merasa tangannya di genggam pun menjadi salah tingkah. Selalu saja ia tidak bisa mengendalikan dirinya.


"Harry. Malu di genggam begini." ujar Fadia.


"Biasa saja Yu. Mereka juga tidak mengenal kita."


Kini dua pasangan itu duduk terpisah. Fadia duduk berhadapan dengan Harry semakin membuat ia gugup dan salah tingkah.


****


Harry terus menatap Dinda tampak lebih cantik cantik malam ini. Ia dapat melihat bila Fadia sedang salah tingkah karena ulahnya. Tapi itulah yang ia suka.


"Kenapa menatap ku seperti itu?" tanya Fadia.


"Kamu cantik." puji Harry dengan senyuman.


Blus..


Lagi dan lagi hati Fadia melambung ke atas awan. Harry memang selalu bisa membuat ia bertambah salah tingkah dengan jantung bertalu-talu seakan ingin keluar dari dalam dada.


Hening.


Sebenarnya kedua nya bingung harus apa. Keduanya sebenarnya sama-sama sudah berkencan dengan masa lalu mereka.


Tapi mengapa keduanya merasa kikuk sendiri. Apa begini yang di rasakan seseorang yang akan kita jadikan pasangan halal kita? atau hanya mereka saja yang merasa seperti ini?


Kurang pengalaman kah?

__ADS_1


Keduanya memberanikan diri saling menatap. Sejurus kemudian keduanya tergelak seakan mengerti apa yang mereka alami.


"Apa kamu merasakan apa yang ku rasakan Rry?" tanya Fadia setelah tawa nya meredah.


Harty mengangguk. "Ya. Aku bingung harus apa. Padahal kita sudah tidak ABG lagi."


"Sebentar, karena kita tidak ada yang tahu. Aku cek Mbah Google ya."


Apa yang dilakukan saat kencan pertama.


Fadia membaca hasil pencarian nya. Tapi ia tidak membuka tujuan awal nya. Ia beralih ke blog dengan judul.


5 Tips psikologi di kencan pertama agar si do'i klepek-klepek padamu.


Ia tersenyum tatkala membaca 5 tips itu. Haruskah ia melakukan nya? oke kita coba.


"Sudah dapat Yu apa yang harus kita lakukan?"


Fadia hanya menggeleng karena waitress datang kemeja mereka.


"Aku mie goreng saja ya. Tapi telurnya di campur ya dan minumnya es jeruk dingin. Kamu mau apa Rry?." ucap Fadia.


"Aku nasi goreng telur nya di mata sapi. Minum nya capuccino dingin."


"Oke. Tunggu sebentar ya." ucap waitress itu ramah.


****


Keduanya kembali hening. Tapi sekarang Harry lah merasa jantung nya berdebar tak karuan karena Fadia menatapnya begitu dalam. Sungguh ia salah tingkah saat ini.


Harry mengerutkan dahi hingga alis nya bertautan. Ia heran karena tumben-tumbenan Fadia bertanya seperti itu.


"Tidak sulit Yu. Yang sulit itu berjauhan dengan mu."


****


Demi apapun. Ia baru menyadari bila seorang Harry sangat pandai merayu. Wanita mana pun pasti akan jatuh hati pada Harry.


"Kenapa kamu sekarang pandai gombal?" tanya Fadia.


Harry mengedik bahu. "Kamu merubah ku Yu."


"Sudah ah. Kamu mah gitu. Suka gombal." gerutu Fadia.


"Bukan gitu Yu. Aku juga tidak tahu kenapa bisa gini. Dulu saat berhubungan dengan yang lain saja aku tidak pernah begini."


"Masak? Yakin? pacaran 7 tahun tidak pernah? Sulit di percaya." kata Fadia sewot.


"Kamu cemburu?" tanya Harry memastikan.


"Ya iyalah, siapa juga yang tidak cemburu. Iihh menyebalkan."


"Sayang.."


Demi apapun.. Jantung Fadia semakin tak karuan saat Harry memanggilnya dengan 'Sayang'.


Malam ini Fadia merasa Harry menjengkelkan walau ia akui malam ini Harry terlihat sangat tampan. Tapi mengapa perasaan nya seakan lebih sensitif sekarang. Ia seperti merasa Harry nya adalah miliknya sekarang. Dan ia marah ada wanita lain di masalalu nya.

__ADS_1


Bolehkah ia serakah bila urusan Harry?


Apa memang begini rasanya hubungan yang akan menikah? Takut di tinggalkan.


Waitress datang mengantar pesanan mereka. Mulai memakannya dan mencoba melupakan perdebatan tadi.


"Malam Minggu aku mau pergi ya sama Elsa ke kampung sebelah."


"Pergi kemana? ngapain Yu?" tanya Harry.


"Kondangan. Teman sekolah dulu nikahan."


Harry diam saja. Ia berpikir itu artinya Fadia akan bertemu teman-teman nya dulu dan mantan juga.


"Aku ikut." seru Harry.


"Nanti aku lama gimana?" Fadia mulai cemas.


"Tidak. Aku ikut. Nurut sama calon suami Yu."


Fadia cemberut. "Iya-iya."


****


Harry tahu Fadia tidak ingin diikuti. Tapi ia juga tidak tahu bagaimana bisa menjadi pria posesif.


Ia memperhatikan Fadia yang masih cemberut bak anak kecil yang permintaan nya tidak dituruti.


Ia merogoh ponsel merk apel tergigit nya mengetik sesuatu disana.


Harry :


Godong bayem, digawe jamu. Atiku ayem, nyanding sliramu.


(Daun bayam dibikin jamu. Hatiku tentram bersanding denganmu)


Benar dugaan nya. Pasti Fadia tersenyum tatkala membaca isi pesan WhatsApp nya.


"Gombal." ucap Fadia.


Harry hanya terkekeh.


"Besok begitu sampai rumah langsung istirahat ya." ujar Harry.


"iya."


🌸


Like dan komen ya.. biar emak semangatg





__ADS_1


__ADS_2