Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Niko menikah


__ADS_3

Setelah sekian lama akhirnya Niko bisa memiliki secara utuh dan halal. Beberapa menit lalu, ia sudah bergelar menjadi seorang suami lagi dengan wanita yang berbeda.


Kini saat nya dimana istrinya mencium punggung tangan dan ia akan mencium kening istrinya untuk pertama kali.


"Apakah boleh?" izin nya pada sang istri.


Istri Niko nampak mengangguk. "Maaf kalau membuat mu tak nyaman." ucapnya kemudian ia mengecup kening istrinya.


Sungguh pernikahan ini adalah mimpinya. Membayangkan saja sudah membuat hatinya bergetar apalagi sekarang ini menjadi nyata.


Walau ia sadar bahwa pernikahan ini adalah amanah dari seseorang tetapi membuat dirinya begitu bahagia.


Tidak ada pesta perayaan. Hanya ada akad dan acara makan bersama dengan keluarga dan tetangga sekitar.


Malam hari nya Niko membersihkan diri lebih dahulu setelah itu mencari istrinya ternyata sedang berada di kamar gadis kecil yang sudah di anggap putri kandung oleh istrinya.


"Apakah Nasya sudah tidur?" tanya Niko namun istrinya meletakkan jemari telunjuk di bibir peringatan agar tak bersuara.


Niko pun mengangguk kemudian keluar kamar. Kakinya melangkah menyambangi kamar anak sambung nya yang pertama.


"Abang, kenapa masih main handphone?" tegur Niko melihat anak sambung nya yang sudah duduk di kelas satu SMA masih bermain ponsel.


"Om eh ayah." ucap anak sambungnya masih terdengar kaku memanggil Niko dengan sebutan ayah.


Niko mendekati anak sambung nya itu duduk bersebelahan di tepi ranjang. "Panggil apa saja yang membuat abang nyaman. Jangan panggil ayah, panggil Buya saja. Pasti abang sudah mengerti mengapa Buya menikahi Bunda mu. Buya hanya meminta terimalah Buya tanpa harus melupakan ayah."


Anak sambung nya itu tersenyum dan mengangguk. Niko tahu jika anak pertama istrinya itu benar-benar memiliki hati yang lembut dan tulus.


"Tidurlah, ini sudah sangat larut. Jangan main handphone terus."


"Iya, Buya. Selamat malam."


Niko keluar kamar itu setelah memastikan anak sambungnya sudah tertidur pulas. Kemudian langkah kakinya membawanya ke kamar anak istrinya yang kedua dan ketiga. Ternyata dua bocah berumur sepuluh tahun itu sudah tertidur , ia pun memilih keluar dari kamar tersebut.


Niko berjalan menuju kamar nya dan akan berbagi dengan istrinya. Tetapi tepat di depan pintu langkahnya terhenti. Tidak tahu mengapa ia menjadi sangat gugup berada di satu ruangan dengan wanita itu yang sudah berstatus menjadi istri sah nya.

__ADS_1


"Kau sudah gila, Niko. Ini lah waktu yang kau impikan selama ini. Kenapa kau seperti baru saja menikah?"


Nika terus mondar-mandir di depan pintu kamar tersebut. Sama sekali tidak bisa menetralkan rasa gugupnya hingga tubuhnya terjingkat kaget karena pintu kamar tersebut terbuka.


"Mas, kenapa mondar-mandir di depan pintu?"


"Mas?" bukan menyahut karena sedikit terkejut istrinya memanggil dirinya dengan sebutan 'mas'.


"Iya, ayo masuk." ajak istrinya membuat ia menuruti masuk ke dalam kamar pengantin mereka.


Niko menggeleng ketika pikiran malam pertama dengan istrinya terlintas karena takut berharap terlalu jauh. Ia tahu jika pernikahan ini ada karena sebuah amanah.


"Dik."


"Mas."


Pandangan keduanya bertemu dan saling melempar senyum. "Terimakasih." Lagi-lagi mereka mengucapkan dengan bersamaan.


"Terimakasih telah menerimaku walau ku tahu ini hanyalah amanah bagimu. Tapi menurutku ini adalah anugrah terindah dalam hidupku bisa memilikimu." ucap Niko tulus. Pandangan keduanya bertemu dengan mata yang berkaca-kaca.


Niko hanya tersenyum sebagai tanggapan lalu melabuhkan kecupan di kening istrinya. "Tidurlah, kau pasti sudah lelah." Niko hendak membantu istrinya berbaring namun di cegah hingga tatapan mereka kembali bertemu.


Istrinya menggenggam tangannya membuat hatinya berdesir. "Aku halal bagimu, mas. Apa kau tak menginginkan hak mu malam ini?"


Pertanyaan istrinya itu membuat ia menelan saliva dengan kasar. "Jangan tanyakan itu, kau pasti tahu untuk bersanding dengan mu adalah doaku dari dulu. Tetapi semenjak dia hadir dalam hidupmu, aku sadar dan aku mengubah doaku menjadi semoga kamu tetap bahagia."


"Tentu itu keinginanku tapi aku tak ingin memaksa mu untuk melakukan nya sekarang." imbuh Niko lagi.


"Bila aku yang meminta?" tanya istri Niko membuatnya terkejut langsung menatap istrinya tak percaya.


"Aku serius, mas. Aku siap." imbuh istrinya lagi seakan mengerti dengan tatapan nya.


"Kita sholat dulu ya." ujar Niko dan di setujyi istrinya. Keduanya berwudhu secara bergantian dan melaksanakan sholat sunnah lebih dahulu.


Seusai sholat, kini keduanya masih duduk terdiam dengan keadaan sama-sama canggung.

__ADS_1


Bagi Niko, memang ini adalah mimpinya tetapi sejak dahulu merasa tak akan menjadi nyata. "Aku meminta anak-anak kita memanggilku Buya. Apa kau mengizinkan?"


"Sekarang kau adalah ayah nya. Terserah kau mau di panggil apa."


Lama Niko menatap wanita yang sudah halal untuknya. Baginya, hari ini adalah mimpi yang tak akan terwujud. Penantian yang sangat lama. Di sibukkan dengan kehidupan bersama pasangan masing-masing hingga takdir menyatukan merek.


"Fadia." panggilnya membuat wanita itu juga menatap ke arahnya.


Ya, wanita yang ia nikahi siang tadi adalah Fadia Rahayu. Cinta pertama dan terakhir seorang Niko.


"Ya."


"Bolehkah aku membuka hijab, mu?" tanya Niko sopan dan diangguki oleh Fadia.


Perlahan Niko membuka hijab Fadia. Ia tertegun melihat kecantikan istrinya jika tak memakai hijab. Sudah 9 tahun lebih ia tak pernah melihat rambut panjang nan hitam milik Fadia.


"Fad, kau pasti tahu ini adalah waktu yang ku tunggu. Tapi sekali lagi ku katakan padamu. Aku tak akan memaksa mu. Aku siap menunggu." Niko meraih dagu Fadia agar melihat ke arahnya.


"Niko, kenapa kau selalu saja mengalah dengan keadaan? sudah ku katakan aku akan belajar menjadi istri yang baik untukmu. Bukan hanya karena amanah, kau tahu pasti bila cinta Harry untukku abadi dan aku pun sama. Tapi, aku harus membuka hati untuk mu." sahut Fadia menatap wajah suami baru nya.


Niko mendekap Fadia dengan erat. Ia masih merasa seperti mimpi bisa bersanding dengan Fadia. "Jangan pernah lupakan cinta mu ke bang Harry. Tetapi beri aku tempat di hatimu walau sedikit saja, Fad."


Fadia mengangkuk di dada Niko. "Pasti. Kau tahu sedari dulu aku menyayangi mu."


Lama dekapan itu berlangsung hingga Niko mengurai pelukan. Kini pandangan nya berubah. "Apa boleh malam ini, Fad?"


Fadia mengangguk. Niko tersenyum kemudian mengecup kening istrinya turun ke kedua mata. Kemudian menatap lama bibir istrinya itu.


"Aku mencintaimu, Fadia. Bagaimana pun awal pernikahan kita ini, tetapi aku sangat bahagia bisa menikah dengan mu."


Setelah mengucapkan itu, Niko melabuhkan ciuman di bibir Fadia hingga melanjutkan malam pertama mereka.


❤️


TBC

__ADS_1


Ini bab yang akan membawa di kisah Gadhing ya gaes..


__ADS_2