Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Malam persidangan


__ADS_3

Keesokan hari, pukul 8 malam Harry dan Rudi sudah bertandang di rumah Fadia sesuai undangan. Di rumah Fadia juga sudah ada Elsa dan Ibu Elsa. Mau bagaimana pun, ia harus membawa orang ketiga di dalam rumah nya.


Fadia dan ibu Elsa duduk di sofa tunggal. Sedangkan Harry dan Rudi duduk di sofa panjang. Elsa duduk di lantai beralaskan tikar di depan tv sibuk dengan ponsel merk apa dalam bahasa Jawa.


Fadia menghela nafas panjang. Malam ini ia akan memberi pertanyaan yang akan meyakinkan hatinya.


"Baiklah.. Sebelumnya aku minta maaf bang Rudi. Aku tidak bisa menunggu sampai tiga bulan." kata Fadia.


"Tidak apa."


"Tapi sebelum aku menentukan pilihan, boleh kah aku bertanya pada kalian berdua?" tanya Fadia menatap Harry dan Rudi bergantian.


Kedua pria itu mengangguk.


"Kalian tahu kan aku janda dan beranak satu? tentu aku jelek dimata orang lain. Jadi kalau ada yang tanya pada kalian kenapa mau menikah dengan janda? sudah punya anak lagi.


"Abang duda dek. Tentu itu tidak masalah jika kamu janda sudah ada anak."


Fadia membenarkan apa yang di katakan Rudi, memang tidak akan yang menanyakan hal itu karena status mereka sama.


Ia beralih menatap Harry, seharusnya pertanyaan ini di tujukan ke Harry karena dialah yang pasti akan di tanya seperti itu nantinya.


"Kalau aku di tanya seperti itu aku hanya jawab karena aku memilih mu." terang Harry singkat, padat, dan jelas.


"Baiklah. Aku juga harus tanya kan ini. Bahkan ini sangat penting dari kata cinta dan sayang. Aku pernah berumah tangga tentu ini adalah faktor penting dalam rumah tangga." Fadia diam sejenak sebelum melanjutkan pernyataan dan pertanyaan nya.


"Ini masalah nafkah. Yang kita tahu nafkah itu ada tiga. Nafkah keluarga, nafkah istri, dan nafkah batin. Bagaimana kalian menafkahi ku? tapi yang ku maksud nafkah lahir." tanya Fadia. Wajar bila ia mempertanyakan ini. Bagaimana pun masalah ini sangat penting dan nafkah kunci keharmonisan rumah tangga bukan? bila semua nya pas di hati istri pasti rumah tampak nyaman.


Rudi memulai menjawab pertanyaan Fadia. "Jujur saja dek. Gaji seperti kita 3 juta kan? dan abang sudah dapat bonus tiap tahun dari perusahaan." tanya Rudi.


Fadia mengangguk cepat.


"Premi tambahan paling sedikit 500 ribu. Abang bagi jadi dua bagian."


"Maksudnya bang?" tanya Fadia belum mengerti.


"Abang tiap bulan selalu kasih ibu 500 ribu, 1 juta untuk keperluan abang sebulan, sisa nya lah untuk abang kasih ke istri. Kalau masalah bonus, kita bisa bagi dua. Bonus abang 12 juta jadi 6 juta sama abang, 6 juta sama adek."

__ADS_1


"Berarti 2 juta itu sudah sama premi yang abang kasih ke istri ya?" tanya Fadia.


Rudi mengangguk.


"Jadi misalnya ini ya bang, 2 juta itu tidak cukup untuk keperluan keluarga selama sebulan. Apa abang mau kasih aku uang tambahan?"


"Ya harus cukup lah dek. Harus pandai mengatur uang."


Fadia merasa geram atas jawaban Rudi. Apa dia tidak berpikir jika kebutuhan rumah tangga itu semakin hari semakin naik harga nya? sedangkan Fadia hidup berdua dengan Gadhing 2 juta perbulan sering tidak cukup apalagi menikah dengan Rudi?


"Kalau menurut kamu gimana Harry?" Lebih baik beralih ke Harry daripada ia tersulut emosi, pirkir Fadia.


"Harus sebut nominal gaji Yu?" tanya Harry.


Fadia mengedikkan bahu. "Terserah kamu saja."


Harry mengangguk. Ia lebih memilih tidak menyebut nominal. Tentu karena tidak enak pada Rudi yang nominalnya jauh di bawanya.


"Aku akan memberikan semua gaji ku padamu Yu." ujar Harry pasti.


"Kenapa? tidak takut aku habis kan?" tanya Fadia mencoba meragukan keputusan Harry.


"Jadi untuk keperluan pribadi mu gimana?"


"Ya minta jatah ke kamu. Sepertinya seru minta jatah ke istri tapi suami yang kerja." Harry cengengesan saat melihat Fadia melotot padanya.


Selalu saja Harry menyelipkan hal yang menjengkelkan. Kalimat nya serius tapi mengapa harus cengengesan begitu? kan Fadia tambah terpesona pada ketampanan Harry.


Tapi Fadia curiga, bagaimana bisa Harry menjadi Asisten Afdeling jika sikapnya sering bercanda dan pandai menggoda. Atau hanya pada dirinya saja kah?


"Kamu tidak malu menikah dengan janda?" tanya Fadia.


"Tidak. Aku menerima mu dan juga Gadhing. Aku sayang Gadhing dan aku sayang juga cinta sama kamu sebelum kita bertemu." jawab Harry.


"Kasih aku alasan mengapa kamu bisa sayang dan cinta sama aku."


Harry menatap Fadia hingga netra mereka bertemu. Ia menghela nafas sebelum menjawabnya.

__ADS_1


"Dengar. Aku memilih mu dan aku tidak memiliki alasan atas pertanyaan mu Yu. Karena jika aku mempunyai satu alasan mengapa bisa menyayangi dan mencintai mu maka bisa saja aku menemukan 2 alasan untuk meninggalkan mu."


"Maka jangan pernah menyuruhku mencari alasan itu." sambung Harry.


Apa yang harus Fadia lakukan jika begini? hatinya kembali jatuh cinta pada Harry. Apa dia akan menjadi budak cinta dari seorang Harry Setiawan? Fadia menggeleng kepala.


Fadia menghela nafas panjang. "Baiklah. Pertanyaan terakhir. Kasih aku alasan tentang kalian agar aku menerima salah satu dari kalian."


"Abang sudah kerja tetap dan status kita sama pasti hidupmu akan adem ayem tidak lagi yang bergosip tentang mu." jawab Rudi mendahului Harry.


Fadia manggut-manggut membenarkan apa yang di katakan Rudi.


Harry berdehem lebih dahulu sebelum menjawabnya. "Aku tidak tahu harus menjawab apa Yu."


"Kenapa begitu?" tanya Fadia.


Sedangkan Rudi sudah tersenyum miring seakan mengejek Harry. Ibu dan Elsa hanya mendengarkan sedari tadi.


"Karena air tidak selalu jernih begitu pula ucapanku, kapas tak selalu putih begitu pula hatiku, langit tak selalu cerah begitu pula hidupku, jalan tak selalu lurus begitu pula langkah ku, aku hanya seseorang yang sedang berusaha menjadi lebih baik Yu." jawab Harry lirih.


Harry sendiri bingung harus yang mana ia banggakan. Pekerjaan? ia tahu pasti dirinyalah lebih mapan dari Rudi, tapi semua yang ia miliki hanya titipan dari sang Maha Pemberi.


Fadia bangga atas jawaban Harry. Coba beritahu Fadia dimana ia menemukan pria sejujur Harry. Pria dengan berani mengungkapkan ketidak kesempurnaan nya sebelum pernikahan nya. Sungguh ia beruntung akan di persunting pria ini. Pria yang ia kenal 11 tahun lalu.


Pria yang selalu menyempatkan memberinya kabar. Pria yang selalu membuat ia tersenyum walau hanya dari suaranya. Dulu, ia tidak pernah berfikir untuk bisa bertemu dengan Harry walau Harry sering bertanya.


"Bolehkah aku menemui mu ke Sumatera? "


Pasti Fadia selalu menjawab. "Tidak perlu, kumpulkan saja uang itu untuk melamar kekasihmu."


Ia ingat pertanyaan itu pertama kali terucap Harry saat tahun pertama ia menjadi Asisten tapi ia tidak tahu Harry Asisten apa saat itu.


Fadia menghela nafas.


Bismillahirrahmanirrahim. ucap Fadia dalam hati.


"Harry.. Mintalah aku pada orang yang lebih berhak atas diriku."

__ADS_1


🌸


Like, komen, dan vote ya biar emak lebih semangat.


__ADS_2