Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Ketakutan dan obatnya


__ADS_3

Satu notifikasi pesan WhatsApp dari calon istrinya. Ia tersenyum setidaknya ada sedikit tenang melihat nama calon istrinya mengirim pesan. Padahal ia belum tahu pesan itu membuat ia bahagia atau justru sedih.


Fadia :


Our love is the best love because you make my imaan rise, you help me in the dunya and for that reason i want to meet you again in Jannah."


(Cinta kita adalah yang terbaik karena engkau membangkitkan imanku, menolongku di dunia ini. Dan untuk alasan itulah, aku ingin berjumpa kembali denganmu di surga)


Hatinya kini berbunga-bunga membaca isi pesan dari calon istrinya. Ingin sekali ia datangi rumah Fadia lalu memeluknya sepanjang malam.


Ini adalah hal langkah untuknya. Jarang-jarang Fadia mengutarakan ungkapan cinta untuknya.


Harry :


Mari kita berjalan bersama menuju keinginan mu itu.


Fadia :


Loh belum tidur? kirain sudah 🙄


Harry :


Belum. Aku gugup Yu untuk besok. Bahkan sampai sekarang aku bingung mahar untuk kamu apa selain cincin nikah. 😔


Harry lebih memilih jujur. Karena ia benar-benar tidak tahu. Kata keluarga nya lebih baik tanya Fadia. Tapi setelah tanya Fadia, malah jawab nya terserah.


Nanti bila setuju terserah padanya. Calon istrinya tidak setuju. Dasar wanita maunya di mengerti.


Fadia :


Mahar yang paling mudah saja Harry.


Harry memutuskan menelepon Fadia.


"Assalamualaikum calon istriku."


Terdengar kekehan Fadia di seberang telepon. Dan ia pun tersenyum.


"Waalaikumussalam Harry. Boleh aku mengatakan sesuatu?"


"Katakan saja."


"Harry.. Bolehkah aku merasa takut untuk menikah lagi?


"Jangan takut Yu."


"Kamu boleh memikirkan lagi hubungan kita sebelum terlambat. Aku tidak apa jika kamu membatalkan."

__ADS_1


Fadia memutuskan panggilan telepon nya begitu saja tanpa menjelaskan apa yang dikatakan nya tadi.


Dan hal itu membuat Harry geram. Bagaimana bisa Fadia mengatakan itu sedangkan pernikahan mereka di langsung beberapa jam lagi.


Ia mencoba menghubungi Fadia kembali namun agaknya Fadia tidak ingin mengangkat panggilan telepon darinya.


Harry sendiri tahu jika Fadia selain trauma akan masa lalunya, Fadia termasuk orang yang sering insecure pada keadaan sekitarnya.


Ia semakin gusar dengan keadaan. Di tutupnya mulut yang terbungkam sedari tadi dan tangan sebelahnya berkacak pinggang. Langkah nya sudah seperti setrika dan tatapan nya menerawang jauh membayangkan jika pernikahan itu batal.


Harry menggeleng. Ia tidak rela jika itu terjadi. Di lihatnya jam dinding menunjukkan pukul 3 dini hari. Dengan langkah pasti, ia mengambil kunci sepeda motor, membuka pintu dan mengeluarkan sepeda motor nya itu. Kini ia melesat ke kekediaman calon istrinya itu.


Apa ada laki-laki lain di hati Ayu?


Di perjalanan Harry sudah membayangkan bagaimana bila pernikahan mereka benar-benar di batalkan Fadia.


****


Di dalam kamar Fadia termenung memikirkan besok ia telah di persunting seseorang. Entah bagaimana bisa bayangan kekejaman di masa lalu nya membuat ia takut akan terjadi lagi.


Seakan rasa takut itu mengalahkan cinta Harry untuknya. Rasa takut itu mengalahkan cinta nya untuk Harry.


Tidak ada tempat untuknya mengadu. Ia terbiasa merasakan kepahitan nya sendiri. Tidak ada yang tahu apa saja yang ia lewati saat menjalani pernikahan nya dulu. Orang-orang hanya tahu jika Fadia bercerai karena di usir keluarga mantan suaminya dulu.


Dari situlah stigma-stigma buruk tentang nya. Ada yang mengatakan Fadia tidak becus jadi istri, ada yang mengatakan Fadia wanita tidak benar karena memang saat zaman SMP dan SMA nya dulu sering teman-teman sekolah Fadia maupun Elsa bermain di rumah Fadia karena ia tinggal sendirian.


Setelah ia berbicara pada Harry di telepon, ia memutuskan rebahan. Tanpa terasa air bening menetes dari pelupuk mata nya.


****


Harry sudah berada di depan tratag di kediaman Fadia. Ia melihat banyak bapak-bapak yang sengaja bergadang disana dengan memainkan kartu domino dan kartu jocker.


Dan ia juga dapat melihat keadaan rumah Fadia sudah sepi. Itu artinya sanak saudara Fadia sudah terlelap.


"Loh pak Harry kok kesini?" tanya salah satu bapak-bapak itu dan ternyata karyawan nya.


"Ada perlu sebentar." ucapnya singkat.


Harry :


Fadia Rahayu. Buka pintu nya atau aku akan membuat kegaduhan disini.


Tidak menunggu lama, Fadia membukakan pintu untuk Harry. Ia dapat melihat jika Fadia habis menangis. Tampak jelas mata Fadia yang memerah dan basah.


Tapi bukan itu maksud kedatangan nya. Mendadak ia emosi dan geram pada wanita tercinta nya ini. Tanpa menunggu Fadia berbicara ia pun menarik Fadia masuk ke dalam kamar Fadia. Kamar pengantin mereka.


Ia tutup pintu dan menguncinya. Ditatap calon istrinya itu. Tatapan sangat intens ke arah Fadia.

__ADS_1


"Harry.. Ak-.."


Belum sempat Fadia menyelesaikan ucapan nya, bibir Fadia sudah di raup oleh bibir Harry. Luapan emosi ia lampiaskan pada cium an itu.


Ini adalah kedua kalinya ia menci UM Fadia dengan kasar. Pertama kali ia melakukan hal itu saat Fadia mengakui siapa Niko di hidupnya sebenarnya. Dan sekarang ia melakukan lagi.


Ciu man kasar itu berlangsung sangat lama. Bahkan ia menahan tengkuk leher Fadia agar semakin memperdalam ciu man itu. Ia merasakan Fadia mulai memukul dadanya.


Bibirku pasti bengkak sekarang. Gerutu Fadia dalam hati.


Harry menahan tawa melihat wajah Fadia yang cemberut. Emosi yang sedari tadi sudah di ubun-ubun kini sudah menguap entah kemana.


"Aku akan melakukan malam pertama sekarang kalau kamu sampai berani membatalkan pernikahan kita."


Lagi Harry menahan tawanya saat melihat wajah panik Fadia dengan menyilangkan tangan di dadanya.


Sangat menggemaskan.


****


Fadia menunduk.


"Maaf. Maafin aku." ucap Fadia lirih.


"Maaf untuk yang mana? untuk membatalkan pernikahan kita? Jadi kamu masih berpikir akan membatalkan pernikahan kita?" Harry mencerca Fadia dengan begitu banyak pertanyaan.


Fadia masih saja menunduk. Bahkan kini matanya sudah mulai memanas.


"Baiklah jika kamu masih berpikir untuk membatalkan pernikahan kita. Mari kita lanjutkan malam pertama kita." sambung Harry lagi.


Harry menarik pinggang Fadia hingga tubuh mereka tidak berjarak hanya pakaian yang di kenakan lah sebagai pembatas.


"Kamu mau aku melakukan nya dengan tempo perlahan atau tempo cepat?"


Si al. Aku jatuh dalam perangkap ku sendiri. Ah Junior ku kenapa bangun? belum saat nya junior.. Bersabarlah sedikit lagi. gumam Harry.


Ya ampun.. Ingin sekali aku menjawab nya. Kenapa rasa takut ku hilang berada di dekat Harry? ah kamu memang obat dari segala ketakutan ku. gumam Fadia.


Kini keduanya saling menatap.


"Aku hanya takut Harry.. Masa laluku menghantui ku terus."


"Jangan takut. Ada aku. Akulah obat ketakutan mu." Harry mencoba menenangkan Fadia dalam pelukan nya.


*Kenapa Harry tahu jika dialah obat ketakutan ku seperti yang ku pikirkan tadi? Apa dia Mbah dukun?


🌸*

__ADS_1


***Bersambung...


Bagaimana? tambah gak***?


__ADS_2