Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
AKAD


__ADS_3

"Mas.. Kamu sangat ganteng." puji Hanum melihat penampilan Harry dari pantulan cermin.


Harry tidak menggubris pujian adiknya itu. Seperti biasa, Harry menampilkan wajah tanpa ekspresi nya pada orang lain. Tapi bila membahas tentang Fadia maka ia lah yang paling antusias dan yang pasti wajah nya akan berubah berbinar tatkala nama Fadia di sebut.


Dasar bucin!


Hanum melihat mimik wajah Harry tanpa ekspresi itupun menjadi kesal.


"Nyesel aku sudah memuji mas Harry. Dasar bucin akut." Hanum meninggalkan Harry dengan menghentak kan kaki.


Harry lagi-lagi tidak menggubris nya. Ia fokus dengan Jas formal berwarna putih. Jas formal dengan detail tekstur ini memiliki kapel neck line yang rapi. Bentuknya yang slim fit akan membuat tubuh terlihat lebih ramping. Jas ini memiliki dua buah kancing depan, detail kancing pada cuff, 1 kantong slot depan serta 3 kantong depan dengan flap atau penutup.


Ia senyum-senyum sendiri membayangkan ke nekad tan nya mendatangi Fadia bahkan ia menemani Fadia di kamar hingga calon istrinya itu tertidur.


"Nak. Keluarlah, kakek memanggil mu." titah sang ibu.


Harry mendengar itupun langsung beranjak keluar kamar.


"Ada apa kek?"


"Kakek mau tanya, benar kamu akan menikahi janda?"


Harry menghembuskan nafas.


"Benar kek. Ini bukan karena status nya. Harry sudah mengenal Ayu sangat lama saat SMA dulu. Harry mengenal baik Ayu kek, dia perempuan baik-baik hanya saja keberuntungan tidak menghampiri dia saat pernikahan pertamanya."


"Bagaimana dengan anak nya?" tanya kakek lagi.


"Namanya Gadhing kek. Anak itu bahkan tahu nya Harry lah ayah nya. Mantan suami Ayu tidak pernah komunikasi lagi dengan mereka."


"Kenapa begitu? jadi selama ini siapa yang memberi nafkah?" tanya sang kakek.


"Ayu bekerja di perusahaan yang sama dengan ku."


Sang kakek tampak menghela nafas. "Semoga kamu bahagia cu. Hahh.. Cucu tertua ku sudah besar ternyata. Tapi sayang, tidak mau meneruskan usaha kakek."


Harry berdecak. "Harry tidak mau bau sapi dan kerbau kek."


Kakek Harry adalah juragan sapi dan kerbau di Malang. Tapi sayang, Bapak Harry dan juga Harry tidak mau meneruskan usaha sang kakek malah memilih bekerja di tempat lain.


"Kamu sama saja dengan bapak mu itu." cibir sang kakek.


Harry cengengesan. "Sabar ya.. Mungkin anak Harry mau meneruskan usaha kakek."


Gantian sang kakek tampak berdecak. "Mau berapa tahun lagi menunggunya itu Harry?"


"Ayolah kakek. Harry suka pekerjaan ini. Rumah sewa dan kost-kostan saja ibu yang urus."


Sang kakek menyerah, mereka banyak mengobrol hingga Harry melupakan kegugupan nya untuk sesaat.


****


Di tempat lain Fadia sudah selesai di rias dan berbalut kebaya berwarna putih berbahan brokat dipenuhi payet-payet serta rok kain batik.

__ADS_1


Keluarga dari pihak Fadia maupun pihak Harry memakai pakaian seragam yang sudah di sediakan Harry sebelumnya. Untuk yang wanita memakai kebaya berwarna merah beserta rok batik dan untuk pria memakai jas hitam.


Begitu juga Gadhing. Ia tampak sangat bahagia. Sebagaimana anak berusia lima tahun pasti sangat rumah nya ramai dan akan banyak orang yang berjualan mainan di tempat acaranya.


Bocah laki-laki itu sudah terlihat tampan dengan jas yang sama dengan seragam keluarga.


"Bunda.. Apa Gadhing ganteng?"


"Tentu sayang. Anak bunda sangat ganteng."


Sebenarnya sedari tadi Fadia sudah sangat gugup. Kebiasaan nya saat gugup pasti tangan nya sangat dingin bahkan kini mulai berkeringat.


Padahal ini adalah pernikahan keduanya tapi mengapa lebih gugup dari yang pertama? Fadia bolak-balik menghirup udara sebanyak-banyaknya.


"Apa kau gugup Fad?" tanya Elsa sedari tadi sudah di dalam kamar Fadia.


Fadia mengangguk. "Sangat gugup El."


Elsa memberi sapu tangan pada Fadia karena ia tahu jika Fadia gugup pasti tangan nya akan berkeringat.


"Itu wajar Fadia. Jangan banyak mencemaskan sesuatu yang belum tentu terjadi. Berbahagialah. Kau pantas untuk itu."


Fadia menerima sapu tangan itu. "Terimakasih kau selalu ada untukku."


Elsa mengangguk. "Kita saudara. Dan aku akan kesepian karena kau sudah ada teman tidur."


"Oh iya Fad. Mahar mu apa dikasih Harry?"


Fadia mengedikkan bahu. "Entahlah. Aku tidak ingin menuntut apapun."


"Dulu saja waktu nikah sama dia dan aku masih gadis ting ting maharnya cuma 100 ribu. Ini aku janda mau nuntut lebih? ah aku tidak sematre itu."


"Ya kau benar. Sudah lah lupakan."


Fadia tersenyum. "Cepatlah kau minta lamar Niko. Jangan mojok cari lapak untuk mesum di sawitan terus." sindir Fadia.


Keduanya pun tertawa.


"Beraksi nanti malam kita?" tanya Elsa.


"Tentu. Biar tahu Harry seberapa bar-bar nya aku."


Lagi-lagi keduanya tertawa.


****


Waktu yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba. Acara inti dari segala prosesi yang di lewati dan akan ada prosesi setelah acara sakral ini.


Ijab Kabul.


Keluarga Harry dan para rombongan Asisten Perkebunan sudah melangkah menuju ke kediaman Fadia.


Wajah Harry yang tadinya tampak tersenyum kini berubah menjadi serius. Ini adalah awal langkah hidupnya.

__ADS_1


Bayangan-bayangan saat pertama kali mengenal Fadia yang masih SMP dan masa pubertas nya itu selalu menjadi hiburan untuknya. Saat ia di cereweti karena ia bercerita malas tanggapi pacarnya yang sangat posesif karena ia tidak di bolehin berkomunikasi dengan wanita lain termasuk dengan Fadia.


Bayangan saat pertama kali bertemu dengan Fadia di apel pagi. Wajah merah merona nya karena malu-malu. Wajah masam nya karena kesal, wajah cemberutnya karena merajuk.


Bayangan saat pertama kalinya Gadhing memeluk nya sebagai ayah yang ditunggu selama ini. Celotehan nya yang selalu membuat ia tertawa. Bahkan sering sekali anak itu tanpa sengaja menceritakan keburukan Fadia.


****


Tidak lupa setiap moment di abadikan sang fotografer. Saat Harry beserta rombongan menapakkan kaki mendekati tratag pun tak luput dari jepretan nya.


Tempat ijab kabul sudah ada wali hakim yang akan menikahkan Harry dan Fadia. Serta sudah ada dua saksi pria yang tak lain adalah Kepala Desa dan Kepala Dusun.


Harry sudah duduk di depan wali hakim sedangkan Fadia berada di dalam kamar dan akan keluar ketika sudah sah menjadi istri seorang Harry Setiawan S.P.


Seluruh keluarga dari kedua belah pihak ikut menyaksikan acara sakral ini.


"Apa anda sudah siap saudara Harry?" tanya wali hukum tersebut


Harry mengangguk. "Siap pak."


"Tulis maharnya disini." titah wali hakim menyerahkan selembar kertas dan pulpen.


Harry pun menuliskan mahar yang akan ia berikan pada Fadia.


Wali hakim mengerutkan dahi. "Apa anda yakin dengan maharnya?"


Harry mengangguk pasti. "Yakin pak."


"Kita mulai ya.." kata wali hakim sembari mengulurkan tangan.


Harry pun menyambut uluran tangan tersebut dengan dalam hati terus berdoa meminta agar ia bisa melafadzkan ucapan kabul dalam satu tarikan nafas.


"Bismillaahirrahmaanirrahiim, dengan memohon rahmat dan berkat Allah SWT, Saya Nikahkan dan Kawinkan Fadia Rahayu binti Muhammad Ali dengan engkau Harry Setiawan bin Supriadi dengan wali hakim dengan cincin emas seberat 10 gram dan uang 25 juta dibayar tunai.


"Saya terima nikah dan kawinnya Fadia Rahayu binti Muhammad Ali untuk saya dengan maskawin tersebut dibayar tunai."


"Bagaimana saksi sah?"


SAH


SAH


SAAAHH


"Baarakallahu likulii wahidimmingkumaa fii shaahibihi wa jama'a bainakumma fii khayrin"


Artinya: mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan.


🌸


Bersambung..


Udah sah ya.. Jangan minta langsung malam pertama ya.. emak dag dig dug 🤣🤣🤣

__ADS_1


Ah iya.. ucapan ijab dari wali hakim berbeda dengan wali nasab ya.. kira-kira seperti itu ya ucapan nya..


__ADS_2