Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
You'r mine


__ADS_3

Fadia sedari tadi tidak tenang, ada rasa takut, gugup, bercampur menjadi satu. Saat ini ia berada di dalam kamar ditemani Elsa dan dua MUA.


"Duduk lah Fad. Tenanglah.. Pasti kalian sah." ucap Elsa yang mulai jengah karena Fadia sedari tadi berjalan bolak-balik bak setrika.


Terdengar jelas suara lantang melafadzkan kalimat ijab dan kabul di telinga Fadia.


"Bismillaahirrahmaanirrahiim, dengan memohon rahmat dan berkat Allah SWT, Saya Nikahkan dan Kawinkan Fadia Rahayu binti Muhammad Ali dengan engkau Harry Setiawan bin Supriadi dengan wali hakim dengan cincin emas seberat 10 gram dan uang 25 juta dibayar tunai.


"Saya terima nikah dan kawinnya Fadia Rahayu binti Muhammad Ali untuk saya dengan maskawin tersebut dibayar tunai."


Fadia tercengang mendengar mahar yang di sebutkan wali hakim. Otaknya pun mendadak menjadi mesin kalkulator untuk menghitung berapa jumlah uang dari emas 10 gram di tambah uang tunai 25 juta itu.


"Astaga... Kenapa Harry bo doh sekali." gerutu Fadia.


"Hei.. Harry sekarang suami mu Fad. Kenapa kau bilang dia bo doh?" tanya Elsa.


Fadia berdecak. "Apa dia tidak takut uang nya habis? sementara acara resepsi dan ngunduh mantu dia yang tanggung." gerutu Fadia lagi.


"Berarti uang Harry cukup untuk ini semua Yu. Kau ini, di kasih mahar banyak malah marah. Kalau aku jadi kau tentu senang hati ku. Ya kan?" terang Elsa dan bertanya pada kedua MUA untuk lebih meyakinkan.


"Iya."


Ketiganya pun cekikikan selain Fadia. Entah apa yang di rasakan Fadia saat ini. Tapi yang pasti debaran jantungnya semakin membuat ia gugup karena sekarang ini sudah menyandang status sebagai istri.


Pintu kamar Fadia terbuka, tampaklah Fatin dan masuk ke kamar Fadia.


"Ayo dek. Suami mu sudah menunggu."


Fadia pun melangkah dengan di rangkul Fatin juga Elsa. Ada rasa haru menyeruak hati Fadia. Ruang tamu itu sudah sangat ramai bahkan para atasan nya dulu ikut hadir di acara akad nya.


****


Harry melihat Fadia keluar kamar dan ia pun tersenyum melihat wanita yang baru saja sah menjadi istrinya.


Sangat cantik.


Kini Fadia telah duduk bersebelahan dengan Harry namun ia masih saja menatap dengan penuh cinta untuk istrinya itu. Tapi ada yang aneh.


Kenapa Ayu cemberut? apa di tidak bahagia? bukankah semua baik-baik saja?


Setelah menandatangani berkas-berkas kini Harry akan memasang cincin maskawin nya.


Fadia pun mengulurkan tangan kanan nya. Ia hanya menunduk. Ia tidak bisa menyembunyikan air mata nya sedari tadi. Ia pun dapat merasakan kecupan dari bibir lembab Harry.


Hatinya menghangat saat mendengar Harry membacakan doa setelah akad untuknya yang sama sekali tidak pernah ia dapatkan di pernikahan pertamanya dulu. Ia tetap menunduk kala Harry menyentuh kepalanya.


"Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih."


Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya.


****


Tidak terasa sudah waktu makan siang. Sedari tadi Fadia terus menjadi bahan godaan para Asisten kebun. Bedanya ia lebih di hormati dan di segani karena ia adalah istri atasan mereka berbeda saat ia masih bekerja dulu, mereka menggoda Fadia karena tertarik pada Fadia.

__ADS_1


Sedari tadi pasangan yang baru halal itu belum ada kesempatan untuk berbicara berdua saja. Keadaan seakan tidak mengijinkan mereka untuk saling bicara barang sejenak pun.


"Ayah.. Nanti malam tidur sama Gadhing ya.." celetuk Gadhing yang sudah duduk dipangkuan Harry.


Harry melirik ke arah Fadia dan ia tidak mengerti arti senyuman Fadia.


"Wah.. tidak bisa malam pertama dong." ledek Didi tanpa merasa bersalah.


"Gadhing tidur di rumah ayah sama nenek ya.." ujar ibu Harry.


"Memang nya kenapa kalau tidur sama ayah nek?"


"Em malam ini ayah mau temani bunda dulu, besok baru tidur sama Gadhing." kata Harry.


"Gantian ya yah?"


Harry mengangguk.


Seluruh keluarga sedang makan siang. Begitu juga dengan Harry dan Fadia. Setelah makan siang Fadia akan di rias kembali untuk menjadikan pengantin adat Jawa.


"Mau makan?" tanya Fadia.


Harry mengangguk. "Sedikit saja Yu."


Entah kenapa kecanggungan itu datang lagi di antara keduanya. Padahal inilah yang mereka tunggu.


"Mau pakai ayam semur atau rendang daging Rry?"


Fadia tersenyum. "Termasuk nasi doang?"


Harry mengangguk. "Ya jika kamu tega aku makan hanya nasi doang."


Fadia terkekeh tanpa menghiraukan perkataan Harry. Ia juga mengambilkan makan untuk Gadhing.


"Ini untuk kedua jagoan bunda. Sekarang di makan ya.." kata Fadia meletakkan dua piring di depan Harry dan Gadhing.


"Terimakasih sayang."


"Terimakasih bunda."


****


Setelah selesai makan siang Fadia dan Harry berada di dalam kamar pengantin. Fadia bermaksud untuk mengganti pakaian karena masih ada waktu sebelum ia di rias kembali. Tapi sepertinya harus di tunda karena Harry mengikuti nya masuk ke kamar.


"Yu.." Panggil Harry setelah berada di dalam kamar.


"Hem."


"Kamu kenapa?" Harry merasakan Fadia berbeda sejak akad tadi.


Fadia tertegun. Ternyata suaminya itu memperhatikan dirinya.


"Kamu nyebelin. Kenapa maharnya segitu?" ia masih belum terima dengan mahar yang diberikan Harry terlalu besar untuknya.

__ADS_1


"Kurang ya Yu? aku bingung harus berapa.. Maaf ya. Jangan cuekin aku."


Fadia bergeming menatap Harry.


Kurang katanya? bahkan aku merasa tidak enak karena itu terlalu banyak.


"Itu terlalu banyak untuk status janda ku Harry.."


"Siapa bilang kamu janda? sekarang kamu istriku." Harry meraih pinggang Fadia sehingga tubuh keduanya saling bersentuhan.


"You'r mine." ucap Harry menatap Fadia.


Wajah Fadia bersemu merah tatkala mendengar Harry mengatakan itu. Disembunyikan wajahnya pada dada bidang Harry.


Harry terkekeh dengan kelakuan istrinya itu. Ia dekap dengan sayang tubuh mungil istrinya.


"Kamu cantik." celetuk Harry lagi.


"Jadi selama ini aku tidak cantik?" tanya Fadia mendongak menatap Harry kemudian menenggelamkan wajahnya lagi karena tidak sanggup bersitatap berlama-lama dengan Harry.


"Kamu selalu cantik di mataku." Ia menghujani kecupan di pucuk kepala Fadia.


Karena terlalu nyaman dalam pelukan Harry membuat ia mengantuk. Di tambah lagi semalam hanya tidur beberapa jam. Ia memejamkan mata menikmati harum maskulin di tubuh Harry.


"Aku ngantuk." celetuk Fadia dan tentu membuat Harry melonggarkan pelukannya.


"Tidurlah. Kamu memang butuh istirahat Yu." Harry menuntun Fadia ke ranjang kemudian ikut merebahkan tubuhnya di samping Fadia.


Di pandangi wajah Fadia dengan seksama. Betapa mengaguminya ia dengan wajah istrinya itu.


*Kamu yang aku cinta..


Terima kasih telah menerima ku Yu..


Ingin sekali aku menerkam mu sekarang.. Tapi itu tidak mungkin.. Sebentar lagi kita akan di rias lagi.


Tapi.. Curi cium boleh kali ya..


Cup


cup


cup*


Plak..


"Jangan mesum iihh.. Aku beneran ngantuk."


🌸


Bersambung..


Apa kabar para readers ku? sehat kan? bahagia kan??

__ADS_1


__ADS_2