Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Pakkodian


__ADS_3

Disini lah Fadia. Di pantai Pakkodian, Balige. Setelah pulang kerja ia langsung berangkat dengan Elsa beserta rombongan Niko.


Ia tidak jadi izin pada Harry karena sudah terlanjur kecewa dengannya. Semalam sepulang dari warung mie ayam bakso, Harry mengantar nya pulang dengan sepeda motor masing-masing.


Yang membuat ia kecewa adalah Harry menuduhnya selingkuh dan Harry mencium Fadia dengan kasar karena meluapkan emosi dan cemburunya.


Ia memaklumi itu karena memang ialah yang bersalah, tidak memberitahu bagaimana hubungan nya dengan Niko. Ia hanya memberitahu Niko lah yang membuat ia dan Harry saling mengenal.


Tapi ia tetap izin pada calon ibu mertuanya sebelum berangkat kemarin. Biarlah ia dan Harry menjauh untuk dua hari kedepan. Agar mengerti apa itu rindu.


Pantai Pakkodian adalah kawasan camping hits di tepian Danau Toba. Fadia dan Elsa dalam satu tenda dan ada 4 tenda lain nya berisikan 3 orang pemuda dalam satu tenda.



Pagi harinya Fadia keluar tenda. Ia menikmati angin segar di pagi hari. Dengan menggunakan jaket bulu berwarna marun dan topi navy menutupi kepala dan telinga nya untuk meminimalisir angin yang masih menusuk ke tulang saking dingin nya.Sedangkan Elsa masih tertidur pulas.


Pantai Pakkodian adalah salah satu serpihan wisata Danau Toba yang menghadirkan keindahan pantai pasir putih ini dipastikan membuat pengunjung betah menghabiskan waktu.


Gagahnya perbukitan di seberang pantai di sertai jernih nya air membuat wisata Pantai Pakkodian layak untuk di singgahi. Wajar bila banyak pengunjung tidak tahan untuk berenang dan merasakan sensasi segarnya.


Begitu bagi camping mania. Pantai Pakkodian adalah tempat terbaik untuk camping di Toba Samosir. Bagaimana tidak? berkemah dengan suasana tenang disertai sejuk nya angin berhembus dari balik pepohonan di tepian danau pasti akan terasa sangat menenangkan.


Fadia melihat Niko dan para rombongan sedang memancing. Ia ikut tertawa saat yang lain juga tertawa karena ikan nya terlepas setelah memakan pakan pancingan.


Satu notifikasi pesan WhatsApp di ponsel Fadia. Dan ia tersenyum saat mengetahui si pengirim adalah calon suaminya.


Harry :


Kamu pergi tinggalin aku sendiri tanpa izin.😔


Fadia terkekeh karena tumben Harry mengirim pesan ada emoticon nya. Ia pun membalas pesan itu.


Fadia :


Hanya dua hari. Besok juga sudah pulang.


Harry :


Maaf . Kamu masih marah?


Lagi-lagi Fadia tersenyum. Benar yang dikatakan Hanum. Harry itu sudah terlalu bucin padanya.


Fadia :


Sedikit. **D**an sekarang aku sedang menghukummu. Sudahlah jangan di bahas lagi.


Bukan Harry namanya kalau tidak membahas yang sudah terlewati. Dan tentu itu membuat wajah Fadia bersemu merah.

__ADS_1


Harry :


Maaf kalau aku mencium mu sangat kasar kemarin. Aku cemburu Yu.


"Kenapa kamu selalu minta maaf padaku setelah mencium ku Harry? bahkan kamu mencium ku dengan kasar, aku menikmati nya walau jengkel juga. Astaga.. Sepertinya aku pun sudah bucin padamu." ucap Fadia bukan balasan pesan untuk Harry.


Fadia tidak ingin membalas nya. Jauh ataupun dekat berhubungan dengan Harry membuat sport jantung. Apalagi ini masih pagi, sangat tidak baik untuknya.


Ia melihat ponselnya yang berdering dan Harry memanggil dengan panggilan video. Ia mengangkat nya namun ia hanya menampakkan dahi nya di kamera.


"Assalamualaikum Ayu."


"Waalaikumussalam." jawab Fadia.


"*Yu. Kenapa jidat kamu yang lebar itu saja yang terli*hat?"


Fadia mencebik saja. Bisanya Harry berkata seperti itu. Tapi tidak di pungkiri bila ia pun merindukan calon suaminya ini.


"Jangan menggoda ku Harry. Apa kamu sudah merindukan aku?"


"Sangat. Ingin rasanya aku menyusul mu tapi aku tidak tahu arah jalan nya."


Fadia dapat melihat ada guratan sedih di wajah Harry. Ada rasa tidak tega telah meninggalkan calon suaminya itu.


"Maaf tidak mengajak mu. Tapi ini hanya sampai besok loh. Kita bahkan bisa tidak bertemu selama 11 tahun." goda Fadia padahal sama halnya dengan Harry. Ia sangat merindukan Harry dan juga Gadhing.


Fadia hanya menggeleng kan kepala. Sungguh ia suka bila Harry posesif padanya. Karena ia merasa dirinya di perhatikan dan di jaga. Dua hal yang sangat ia rindukan sejak lama.


"Apa aku cantik?" tanya Fadia tersenyum manis.


"Sangat cantik. Kamu saja tidak pernah memuji ku. Padahal banyak yang memuji ketampanan ku."


Fadia tertawa melihat wajah Harry yang cemberut dengan rambut yang masih berantakan akibat bangun tidur.


"Kamu Harry ku yang sangat tampan. I miss you." Fadia mengatakan itu menatap wajah Harry dengan seksama.


Terdengar helaan nafas dari seberang telepon. Sepertinya ia akan mengatakan sesuatu yang serius.


"Rasanya aku ingin langsung menikahi mu saja tanpa acara lamaran. Bisakah itu terjadi Yu?"


"Bisa. Buat aku tekdung."


Keduanya tertawa bersama. Hal mudah untuk melakukan itu, tapi keduanya tentu tidak akan melakukan itu.


Fadia diam saja memandang ke depan melihat Niko dan para rombongan sedang berenang tanpa memakai pakaian.


"Kamu lihat apa Yu?"

__ADS_1


"Cuci mata. Lihat perut kotak-kotak sesuatu banget Rry."


"Perutku lebih bagus dari mereka. Sudah lah. Assalamualaikum."


"Eh."


Panggilan di putus sepihak oleh Harry.


****


"Ck.. Apa badan ku kurang bagus?" tanya nya pada diri sendiri sembari melihat tubuhnya di depan cermin.


"Aku harus menyusul nya."


Ia pun mengambil dompet dan kunci sepeda motor nya. Ia benar-benar berniat akan menyusul Fadia. Ia akan mengajak pak Didi dan membeli peralatan kemah untuk disana.


Ia juga akan mencari mobil yang bisa di sewa untuk berangkat saat itu juga setelah persiapan sudah tersedia.


"Bapak serius berangkat hari ini juga?" tanya pak Didi setelah Harry menghubungi nya tadi.


Harry mengangguk. "Calon istri saya lagi menghukum saya pak. Dia pergi dan saya tidak bisa jauh dari dia."


Didi terkekeh. "Begitu ya pak kalau sudah mau menikah? pengen nya dekat-dekat terus."


Harry tertawa tanpa menjawab karena yang di katakan pak Didi benar adanya. Dan ia baru mengerti jika mendekati hari pernikahan akan banyak ujian seperti hal nya yang ia alami.


Semua persiapan telah tersedia. Begitu juga mobil sewa sudah dapat. Harry sengaja menyewa tanpa supir karena ia dan Didi bisa menyetir dan juga memiliki SIM.


Harry juga sudah mengirim pesan pada Hanum jika ia menyusul Fadia dan ia juga mengatakan sudah meninggalkan uang di laci lemari pakaiannya.


Kini ia dan pak Didi hanya bermodalkan google maps untuk menuju ke Pantai Pakkodian. Balige. Karena pak Didi juga belum pernah ke pantai itu.


"Pak. Boleh tanya tidak?" tanya pak Didi.


Harry yang sedang menyetir mobil menoleh ke arah pak Didi dan kembali fokus ke jalanan.


"Tanya saja pak."


"Enak tidak pacaran yang status nya seperti Ibu?"


"Enak. Lebih banyak cerewet nya."


Keduanya pun tertawa.


🌸


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2