Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Extrapart (Hanum-Tolong jangan seperti ini)


__ADS_3

"Intan, sekarang aku meminta mu untuk jujur di depan keluarga kita." tukas Yudha pada Intan.


Saat ini orang tua nya dan orang tua Intan sedang berkumpul di rumah sewa dimana Yudha dan Intan tinggal.


"Yudh, bisakah kita bicarakan ini nanti berdua saja?"


Yudha menatap geram pada Intan. Tidak tahukah dia bahwa dirinya begitu tersiksa dengan pernikahan ini?


"Bapak, Ibu. Ada yang ingin ku sampaikan pada kalian." Yudha menatap serius kedua mertua nya sedang menggendong anak Intan.


Bapak Intan mengangguk saja.


Suasana ruangan mendadak tegang kala melihat raut wajah Yudha serius tak ada lagi senyum keramahan darinya.


"Karena kalian ada disini, maka aku akan mengatakan ini. Tapi sebelum aku mengatakan dan menjelaskan semuanya, aku Yudha Fernan dengan sadar mengembalikan putri kalian. Aku menjatuhkan talak padanya."


"APA?"


"Apa maksud kamu Yudha?" sergah Bapak Intan tak terima begitu juga ibu Intan dan ibunya.


"Anakku baru saja melahirkan dan kamu menjatuhkan talak?"


Begitu banyak caci dan maki untuk Yudha namun ia tetap diam, sudah cukup rasanya memendam kesakitan ini sendiri.


"Bisakah aku menjelaskan semua nya? ini bukan salah ku, tanyakan saja pada putri kalian. Anak siapa yang di kandung nya dan kemana ayah kandung nya mengapa tak menikahi nya padahal setiap bulan nya mereka memeriksakan kandungan Intan."


Seketika suasana kembali hening. Bapak intan menatap tajam pada putrinya meminta penjelasan.


"Maaf pak.."


"Siapa laki-laki itu?" tanya bapak Intan dingin.


"Ferdi pak." jawab Intan lirih yang telah menangis sedari tadi.


"Ferdi laki-laki bajingan itu? bahkan dia sudah menikah, itu berarti kamu perempuan simpanan?" sergah Bapak Intan.


"Anak tidak tahu di untung. Bereskan barang-barang mu sekarang." titah sang bapak.


Yudha dan ibunya hanya diam membisu melihat kegaduhan dan sekarang ibu Yudha sudah menangis menyesali perbuatannya dahulu kepada sang anak.


Kini dirumah itu tinggallah Yudha dan ibunya setelah tadi keluarga itu memohon maaf dan merasa malu pada Yudha. Mau bagaimana pun anaknya menyakitinya namun ia tetap memperlakukan mantan mertua nya itu dengan baik.


"Yudha, maafkan ibu." pinta sang Ibu.


"Sudahlah Bu, jangan di bahas lagi. Aku mau tidur dulu." Yudha berjalan meninggalkan sang ibu ke kamar.


Bukan untuk tidur, namun menenangkan hatinya. Merasa di sakiti dan khianati Intan tak berasa sakit apa-apa di banding sakit meninggalkan Hanum dahulu.


"Mas kangen kamu dik.." ucapnya menatap ponsel dimana ada foto ia dan Hanum tengah memakan gulali saat di pasar malam.


"Apa kamu sudah bisa membuka kulit udang sendiri?" tanya Yudha menonton video Hanum yang kesusahan membuka kulit udang lalu cemberut ketika mengetahui apa yang di lakukannya direkam dirinya.


Lalu ia menggeser layar ponsel nya dan terlihat foto Hanum tampak bahagia menatap barisan udang yang kulitnya sudah ia bukakan untuk Hanum.

__ADS_1


Begitu banyak kenangan yang mereka lewati hingga ia benar-benar jatuh hati pada adik sahabatnya itu. Dan kesalahannya hanya satu, ia tak sabar menunggu.


"Si centil mas yang suka makan."


"Kamu harus bahagia ya.."


...****...


"Mas, udah minum obat?" tanya Hanum.


Ya, selama sebulan ini Niko mengalami penurunan kesehatan karena Asam lambung yang ia derita sedari SMA.


"Sudah Num."


"Jangan banyak kerja dulu mas."


"Kalau tidak kerja, kamu gimana?"


"Jangan pikirin itu, mas harus sehat terus biar ada yang marahin aku lagi."


Setelah mengatakan itu, Niko benar-benar istirahat menuruti apa yang dikatakan Hanum. Ia pun bersiap untuk membeli keperluan dapur bersama Fadia.


"Ayo mbak." ajaknya ketika sudah bersiap dan keluar kamar dan tadi ia sudah berpamitan pada Niko sebelum tertidur.


"Iya ayo, sebentar mbak panggil mas mu dulu."


Ia berdecak melihat wajah masam yang ditunjukkan Harry ketika keluar rumah. Seperti biasa ia harus menunggu perdebatan manis kakak dan kakak iparnya itu.


Terkadang ia merasa heran dengan masalah yang membuat mereka berdebat. Bukan karena orang ketiga atau apapun. Hanya masalah sepele menurutnya.


Uang belanja terlalu banyak menurut kakak iparnya.


Kakak iparnya tak sayang lagi menurut kakaknya.


Cemburu dengan ketiga anaknya.


Dan salah satunya seperti sekarang ini, kakak nya itu tidak rela melihat kakak iparnya mengenakan gamis berwarna maroon keluar rumah.


...****...


"Ya ampun istriku, bisa ganti tidak gamis nya?"


Fadia melihat tampilan nya sendiri. "Memangnya kenapa mas? ini udah sangat longgar loh, hijab nya juga panjang."


Harry menggeleng lalu membawa Fadia masuk ke kamar lagi. "Tidak Yu, lihat lah ini kamu masih kelihatan." Harry sengaja mere mas bokong Fadia karena kesempatan, pikirnya.


"Ya tapi jangan di re mas juga dong.. Tangan kamu gratil." gerutu Fadia membuka lemari mengambil gamis lain nya berwarna navy begitu juga hijab nya.


"Eh kenapa buka nya di depan ku sih Yu?" tanya Harry panik. Bisa gawat jika di teruskan maka bisa di pastikan mereka tak jadi pergi.


"Bukan nya seorang istri itu adalah ujian terbesar untuk seorang suami? ya di tahan dong." Fadia mengerti maksud Harry sebenarnya.


Fadia mah sudah mengenal Harry luar dalam.

__ADS_1


"Mana bisa aku tahan Yu.."


Bukan nya takut malah tertawa mendengar itu, dan dengan sengaja ia membuka gamis itu di depan Harry.


"Si kembar dimana Yu?"


"Sama ibu dibawa pengajian."


"Gadhing?"


"Biasa ke kandang."


Fadia tak curiga sama sekali namun ia terjingkat kaget merasakan tangan Harry sudah melingkar ke perut dan mengecupi bahu nya.


"Harry.. Jangan sekarang, ini sudah sore dan kita harus belanja."


Harry tak menggubris tetap melanjutkan aksinya yang tak akan ditolak Fadia.


...****...


"Tuh kan beneran pasti berakhir diatas tempat tidur. Sore-sore juga." gerutu Hanum memilih pergi sendiri.


Ia memilih menaiki angkutan umum menuju pasar tradisional. Sudah menjadi kebiasaan keluarga seminggu sekali belanja untuk memenuhi kebutuhan Minggu depan nya.


"Hanum."


Deg


Hanum menoleh ke sumber suara yang sudah lama ia rindukan. Tetapi sekuat tenaga harusenjaga sikap.


Aku sudah menikah.


"Eh iya mas." jawab Hanum canggung namun tetap memilah bawang merah yang bagus dan memasukkan ke kantung plastik.


"Belanja sendiri? suami kamu kemana? Harry atau istrinya."


Hanum mendongak menatap Yudha lalu melihat beberapa kantung plastik di satu tangan Yudha.


"Mas belanja? mana mbak Intan?" ia mengabaikan pertanyaan dari Yudha memilih bertanya dan tetap memilah bawang merah.


"Intan di rumah orang tuanya." sahut Yudha lirih dan sekarang wajahnya berubah datar.


Hanum menoleh lagi menatap wajah Yudha yang sudah berubah namun tetap abai karena ia tak ingin melewati batas.


Jika saja ia tanya kepada orang disampingnya ini 'kamu kenapa?' maka bisa dipastikan hatinya tak akan terkontrol lagi.


Dengan cepat ia selesaikan belanjaan nya karena sedari tadi Yudha terus ikut memilih bahan dapur dimana ia juga berada disana.


*Tolong jangan seperti ini.


🌸*


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2