
Setelah makan malam bersama Gadhing dan menemani Gadhing tidur, ia pun kembali ke ruang tamu.
Dari pertama kali berkunjung ke rumah Fadia hingga sampai sekarang Harry hanya berani memasuki kamar Gadhing. Sama sekali tidak pernah terlintas ingin masuk kamar Fadia tanpa seizin empunya kamar.
Ia memilih merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang tidak mencukupi tinggi nya. Berselancar di media sosial facebook adalah pilihan saat ini.
Betapa terkejutnya ia melihat salah satu akun menandai akun Facebook calon istrinya sedang bernyanyi di atas pentas dengan goyangan mengikuti gendang dangdut koplo itu.
Cemburu.
Tidak rela.
Apalagi Fadia mengenakan gaun terbuka seperti itu. Benar-benar membuat ia ingin segera menikahi Fadia.
Ia mendengar deru sepeda motor matic yang ia yakini itu adalah Fadia.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam. Dari mana saja kamu?" kata Harry. Ia tidak membentak. Hanya nada tegas dengan wajah tenang.
Fadia menoleh ke asal suara. "Kondangan." jawab Fadia singkat sembari melepas high heels nya.
"Harus pakai gaun terbuka seperti itu? kan sudah pernah ku bilang, pakai yang terbuka kalau ada aku saja." ujar Harry karena ia benar-benar tidak rela. Fadia adalah miliknya pikirnya.
Fadia mengerutkan dahi. "Memangnya kenapa?" tanya Fadia masih berdiri di depan kaca ukuran 20cmX30cm yang menempel di dinding. Saat ini ia sedang melepas anting.
"Kamu tahu? kamu seperti seorang biduan di pentas itu."
Fadia tersinggung dengan perkataan Harry. Tapi ia mencoba untuk tidak kelepasan dengan amarahnya.
Fadia tersenyum miring. "Seorang janda penggoda gagal nikah beralih menjadi biduan begitu maksud mu?"
Deg
Pertanyaan Fadia seakan menghujamkan belati ke hatinya.
"Siapa yang gagal menikah? kita tetap menikah Yu." terang Harry.
"Oh ya? setelah semua orang menggosipkan ku karena ulah mu?" tanya Fadia.
"Ulah apa maksud kamu Yu? hanya karena aku mengabaikan mu hampir seminggu ini?" Harry seakan lupa niat awal nya untuk menceritakan kemana ia selama hampir seminggu ini.
Fadia menggeleng. Mencoba untuk tidak jauh tersulut emosi walau hatinya sudah di kuasai emosi.
"Aku tidak pernah mempermasalahkan mu mengabaikanku Harry. Tapi aku tidak pernah terima kalau kamu mengabaikan anakku karena kamu lebih mengutamakan perempuan itu." terang Fadia penuh penekanan di setiap katanya.
Deg
__ADS_1
Lagi-lagi ucapan Fadia membuat hatinya nyeri karena tanpa sengaja menyakiti dua orang terkasih nya. Apalagi mendengar Fadia menyebut wanita lain.
Apa Fadia melihatnya bersama gadis itu?
"Kamu tahu dari mana tentang perempuan itu?"
Fadia tergelak garing seakan mengalihkan perasaan nya berujung tangis.
"Semua karyawan sudah tau kalau kamu beberapa hari ini bersama perempuan lain. Ada juga melihat mu bersama dengan perempuan yang kamu bonceng melewati perkebunan termasuk aku juga melihatnya."
Fadia menjawab dengan santai. Ia menggigit bibir bawahnya menahan sakit di hatinya. Jujur ia cemburu tapi sekali lagi ia merasa tidak berhak.
"Aku sudah pernah membahas ini, kamu bisa memilih gadis lain dari pada aku. Aku tak masalah untuk ini."
Harry diam terpaku. Ia tidak menyangka kelakuan nya berakibat seperti ini.
Menyesal.
Itulah yang ia rasakan. Tapi ia tidak bermaksud seperti itu. Niat nya hanyalah menolong karena dia seorang diri disini dan hanya dirinya yang dikenal dia.
"Maafkan aku, tapi aku tidak berniat apapun. Aku hanya membantu dia Yu. Hanya aku yang dia kenal disini Yu." ucap Harry lembut.
Hanya Harry yang dikenalnya?
"Siapa dia?" tanya Fadia.
Deg
Saking terkejutnya Fadia terhuyung ke belakang karena sedari tadi ia berdiri. Bolehkah ia marah sekarang?
"Ck... Cinta lama belum kelar ternyata." sindir Fadia.
Harry menggeleng. "Kami sudah selesai Yu sebelum aku datang kesini."
Fadia memicingkan mata arah Harry. Ia tidak bo doh masalah seperti ini.
"Baiklah kalau memang sudah selesai. Tujuan dia kesini apa?"
Harry diam tidak berkutik. Akankah ia ungkapkan?
Fadia terkekeh garing. "Aku bukanlah perempuan kemarin sore yang bo doh soal cinta Harry. Tidak ada pertemanan murni antara laki-laki dan perempuan."
"Kami hanya berteman." sanggah Harry karena ia sekarang menganggap Sundari hanya teman.
Fadia tersenyum miring. "Kita sebelas tahun bersahabat berakhir memilik rasa sayang dan cinta itu bahkan sebelum kita bertemu bukan? apalagi kamu dan Sundari berhubungan sudah 7 tahun. Aku tidak tahu apa yang telah kalian lewati karena sedari dulu aku tidak ingin tahu. Dan kamu bilang kalian berteman sekarang?"
Lagi-lagi Harry terdiam. Lidah nya keluh karena yang di katakan Fadia benar.
__ADS_1
"Harry... Lebih baik kita pikirkan keputusan kita untuk menikah. Kita belum saling mengenal satu sama lain. Kita hanya saling mengenal dari suara saja."
Harry terperanjat. Tidak menyangka atas kelakuan nya akan berakibat fatal pada hubungan nya.
"Tidak Yu. Jangan putuskan hubungan kita Yu. Acara lamaran tinggal 10 hari lagi. Pernikahan kita 2 Minggu setelah itu. Bagaimana bisa kamu ambil keputusan sepihak seperti ini." tolak Harry sembari bangkit menghampiri Fadia dan ingin memeluknya.
Fadia mundur selangkah menghindari pelukan Harry. Ia kecewa pada Harry saat ini.
"Pulanglah. Ini sudah malam. Tidak baik kamu berada di rumah seorang janda terlalu lama." titah Fadia karena ia tidak ingin marah saat ini.
Menangis.
Hanya itu yang ia butuhkan.
"Tidak. Aku tidak akan pulang sebelum kamu bilang hubungan kita tetap lanjut Yu."
Fadia menghela nafas. "Tolong jangan buat kumat gila ku Harry. Aku tidak ingin melewati batas. Pergilah. Aku capek." Fadia beranjak ke depan rumah untuk memasukkan sepeda motornya dan menutup jendela nya.
Harry mengikuti kemana Fadia bergerak. Dan Fadia tidak peduli itu.
Setelah selesai ia pun masuk kembali berniat ke kamar. "Pulanglah. Sudah malam Harry. Besok kita akan kerja bukan? dan kamu juga akan sibuk mengurusi mantan mu itu."
"Kami hanya berteman Yu, tidak ada hubungan lain."
Emosi Fadia tersulut kembali. Ia memijit pangkal hidung nya.
"Kasih aku alasan yang tepat dan masuk akal untuk apa Sundari datang kesini?"
Harry diam tidak menjawab. Ia takut menyakiti hati Fadia bila mengakatan nya.
"Kenapa diam? masih ingin melindungi dia Harry? sudahlah. Pulang lah. Dia butuh kamu bukan? Jangan buat badan mu kelelahan karena mengunjungi kami."
Sungguh. Setiap kata yang terucap dari Fadia semakin membuat ia menyesal dan semakin merasa bersalah.
"Jangan katakan itu Yu. Aku hanya menolong nya." kata Harry.
"Dan karena dia mengabaikan anakku Harry? menolong apa sampai kamu lupa menjemput anakku dan tidak memberi tahuku? Sudah cukup Harry. Besok akan ku kabari Bapak dan Ibu di Malang sama mbak Fatin kalau hubungan kita sudah selesai. Dan aku tidak akan memberitahu hal ini. Akan ku buat akulah yang belum siap."
"Jangan seperti itu Yu. Aku tidak ingin kita berakhir. Tolong percaya padaku. Aku hanya benar-benar menolong nya."
"Tanpa memberitahu ku lebih awal? dari sini saja kamu membuatku curiga. Aku yang salah Harry. Aku yang salah karena menerima mu tanpa bertanya lebih jauh bagaimana hubungan mu pada Sundari. Aku lah yang terlalu percaya dan terbuka padamu. Maafin perasaan ku terlalu dalam."
"Pulanglah Harry."
🌸
Bersambung..
__ADS_1