
Rantang makanan yang di bawa Fadia telah di sajikan di teras belakang rumah kakek. Ternyata Fadia hanya membawa sayur dan lauk pauk karena nasi sudah di masak oleh ibu Harry.
Dua mangkuk sayur lodeh dengan bermacam lauk pauk yang terhidang.
"Yu, apa tidak repot memasak lauk macam-macam gini?" tanya ibu Harry melihat masakan menantunya.
"Tidak Bu, aku masak sesuai kesukaan kita. Mas Harry suka telur dadar buatan ku, perkedel untuk ku sama ibu, ayam goreng lengkuas untuk Gadhing sama Hanum, dan udang krispi untuk si kembar." Terang Fadia mengambil nasi lalu di ruang ke piring Harry, Gadhing, dan si kembar.
"Terimakasih sayang." ucap Harry tulus. Ia begitu beruntung menikahi Fadia karena istrinya itu bukan hanya baik padanya, dengan keluarganya juga begitu.
Fadia hanya mengangguk.
...****...
"Dik, mas juga ambilkan dong." Bisik Hanum yang duduk di sebelahnya.
Tadi setelah mendatangi Hanum ke kandang, Ibu Harry memanggil untuk makan siang bersama.
"Idih, tidak usah panggil adik deh, sejak kapan aku nikah sama mas mu." sahut Hanum sewot.
Yudha terkekeh tertahan melihat wajah sewot Hanum. Sangat menggemaskan di matanya.
"Bukan nikah sama mas ku, tapi nikah sama mas, Hanum."
Ucapan Yudha membuat matanya membola sempurna. "Ogah." ucapnya.
Mau bagaimana perasaan nya pada Yudha namun tekad sudah bulat untuk tak mudah luluh kepada semua pria yang hendak mendekatinya.
"Kita lihat saja, tahun depan anak kita sudah lahir."
Minum yang hendak di telan hampir saja nyembur keluar dari mulut Hanum. Bagaimana bisa Yudha bicara seperti itu? sedangkan masih ada istri disana.
"Jangan ngadi-ngadi. Minta saja sama Intan." sindir Hanum membuat Yudha bungkam.
Tetapi kebungkaman Yudha membuat sakit di hati Hanum.
Di tengah makan siang mereka, Ardi yang baru saja selesai sholat melewati teras belakang hendak melanjutkan pekerjaan nya membersihkan kandang.
Ia sedikit terlambat melaksanakan sholat tadi sehingga tak sempat untuk makan siang.
"Bang Ardi." panggil Hanum.
"Eh iya, Ada apa Num?"
"Sini makan bareng." ajak Hanum.
Ardi sebagai karyawan baru tentu saja tidak enak hati menerima tawaran dari Hanum.
"Nanti saja Num." tolak Ardi.
"Makan lah nak, bapak lihat kamu belum makan dari tadi."
Ardi pun setuju dan duduk di sebelah Hanum. Itu artinya Hanum berada di antara Yudha dan Ardi.
Yudha menatap sinis ke arah Ardi. Sepertinya orang itu menjadi rival nya saat ini.
__ADS_1
Hanum mendekatkan panci nasi, sayur dan lauk pauk nya. Tidak perduli dengan Yudha yang sudah bermuram durja.
...****...
Seakan kisah lama terulang kembali. Stigma negatif untuk wanita berstatus janda kini melekat pada Hanum.
Sebenarnya bukan saat ia sudah menyandang status janda melainkan saat dirinya di tinggal nikah Yudha sudah menjadi buah bibir para tetangga.
Malu?
Pasti.
Sakit?
Apalagi.
Tidak ada yang tahu bagaimana terpuruk nya Hanum menghadapi cibiran tetangga. Andai ia bisa pergi jauh lagi seperti saat Yudha lebih memilih Intan maka akan dilakukan Hanum sekarang juga.
"Ini sakit mas."
"Ini semua karena mu."
Hanum menangis dengan menggenggam cincin yang sengaja di lilit dalam kalung yang ia kenakan.
Ya, cincin itu masih ia simpan. Itu adalah pemberian Yudha saat hubungan mereka sudah berjalan setahun.
Malam sebelum berangkat ke Sumatera Utara, ia menemui Yudha hendak mengembalikan cincin itu. Namun ketika ingin menyerahkan, Intan datang menemui mereka. Akhirnya ia urungkan dan pamit pulang.
*Sebelum kamu meninggalkan ku, aku selalu berdoa agar kita di persatukan. Tapi Allah lebih memilih kita berpisah.
Rasaku masih sama, hatiku terus cenderung padamu.
Mas, semoga kamu bahagia bersama wanita yang selalu membuat mu jatuh cinta*.
...****...
Yudha masih tak percaya jika Hanum berpisah dengan suaminya. Rasa penasaran begitu besar namun Harry tak juga memberitahu alasan mengapa Hanum berpisah dengan Niko.
Di tambah sikap dingin Hanum kepadanya semakin membuat ia menjadi tak percaya diri. Namun sungguh sakit melihat Hanum begitu ramah dengan Ardi.
Yudha tahu Hanum pasti begitu sakit, kecewa, dan marah dengan keputusan nya dahulu.
Ingin memperbaiki tetapi Hanum terus tidak memberi ruang untuk mereka berdua agar bisa berbicara secara pribadi.
...****...
Keesokan hari, Hanum di undang acara pernikahan teman SMA nya dahulu.
Hanum sudah mengenakan kaftan bermotif batik, dengan hijab segi empat berwarna cokelat sama seperti warna dasar kaftan. Tak lupa heels dan hand bag agar penampilan nya semakin on point.
"Mas, aku berangkat dulu."
"Hem. Hati-hati, jangan pulang larut."
Hanum diam mematung merasa heran dengan Harry. Tak seperti biasanya Harry mengijinkan begitu saja.
__ADS_1
Tapi tak ambil pusing dan ia pun mengambil kunci sepeda motor matic nya dan keluar rumah.
Dirinya terperanjat melihat seseorang yang berdiri di teras rumah. Tentu ia kenal betul postur tubuh itu.
Tinggi tegap dengan dada bidang yang dahulu sering sekali ia berada dalam pelukan pria itu.
Jantungnya berdegup kencang ketika pria itu berbalik badan dan tersenyum melihatnya.
"Sudah siap?" tanya Yudha.
"Sudah, mas mau kemana rapi betul." kata Hanum karena saat ini Yudha tengah mengenakan kemeja putih yang sangat pas di tubuhnya hingga sangat terlihat dada bidang itu.
"Mau antar calon istri."
Hanum melotot. "Sudah punya istri tapi mau cari istri lagi."
Yudha terkekeh merasa sangat gemas melihat Hanum yang cemberut.
"Istri muda lebih menggoda." sahut Yudha membuat Hanum kesal.
Tetapi Yudha menggandeng tangan Hanum dan di bawanya masuk ke dalam mobil Harry.
"Mas jangan gandeng-gandeng tangan aku bisa tidak? Nanti aku di kira pelakor." cecar Hanum membuat Yudha bungkam.
"Cukup dengan gosip gagal nikah dan janda ku saja, jangan kamu tambah lagi mas."
Sungguh Yudha tidak bermaksud seperti itu. Ia lebih memilih melajukan mobil ke tempat tujuan Hanum saat ini.
Namun di tengah jalan, ia mendengar Isak tangis Hanum.
"Dik."
Tak ada sahutan membuat ia menepikan mobil. Lalu menarik lembut Hanum agar melihat ke arah nya.
"Maafin kebodohan mas, Dik."
Isakan itu semakin terdengar menyakitkan di hati Yudha. "Boleh mas peluk?" izin nya malah mendapat pukulan di lengan nya.
"Dasar bodoh, kenapa harus izin?"
Yudha tersenyum lalu menarik Hanum ke dalam pelukan.
"Kamu ingat kapan terakhir mas peluk kamu?"
"Dulu, waktu mas baru pulang dari Jember." sahut Hanum.
"Ya, setelah itu kamu yang sering peluk mas. Mas kangen pas kamu lari terus peluk mas."
Hanum tersenyum dalam dekapan Yudha.
"Mas, jangan bilang istri mas kalau aku peluk mas ya."
🌸
Bersambung...
__ADS_1