
Pukul 13.00 Wib, setelah selesai berganti gaun dan istirahat sejenak, acara di lanjutkan kembali.
Pengajian yang akan di isi ceramah untuk membekali mental untuk sang mempelai, sekaligus juga untuk para tamu undangan. Ustad Khalid sang penceramah pun telah hadir 10 menit yang lalu.
Pengantin pun bersanding kembali di pelaminan. Selang beberapa saat kemudian sang penata acara pun mempersilahkam Ustad Khalid untuk mulai bertausyiah Bab mengarungi bahtera rumah tangga.
Reyhan dan Naina pun menyimak dengan saksama apa yang diucapkan oleh Ustad Khalid.
ππ π
Ketika Pak Ustad menyinggung kewajiban dan hak suami istri, Reyhan memperhatikan Naina yang nampak begitu serius menyimak ceramah Pak Ustad. Lalu Reyhan meraih tangan Naina dan begitu Naina menengoknya Reyhan tersenyum dan menatap Naina dalam-dalam, seraya berkata "Sayang, semoga kita bisa melaksanakan kewajiban kita dan memenuhi hak hak kita masing-masing. Jika nanti Mas teledor, Sayang tinggal jewer Mas aja atau kurangi jatah Mas."
Naina mengangguk lalu kemudian melotot begitu mendengar kalimat terakhir Reyhan, "Jatah? Jatah apa Mas?" tanya Naina sedikit kebingungan.
"Terserah yang kamu kurangi jatah apa, bisa jatah makan, jatah jajan, jatah belanja, yang penting jangan jatah cinta untuk Mas yang kamu kurangi. Karena seumur hidup, Mas akan selalu meminta untuk jatah cinta Mas bertambah." rayu Reyhan untuk mendapatkan senyuman dan hati Naina
Naina tersenyum manis mendengar penjelasan suaminya dan membalas "nanti kalau aku sudah punya anak, mungkin jatah Mas memang akan aku kurangi, aku bagi lebih besar untuk buah hati kita."
"Jatah anak sama Bapaknya harus dipisahkan dong Ay..." jawab Reyhan enteng.
"Mas sendiri nantinya akan lebih sayang sama anak-anak kita kelak kan ketimbang aku?"
"Anak-anak kita nanti adalah buah cinta kita. Kalian akan selalu jadi prioritas dalam daftar orang-orang yang wajib aku sayangi dan cintai seumur hidupku."
Meleleh sudah hati Naina mendengar kata-kata Reyhan yang amat menyejukkan hati. Dirinya hanya berusaha memberikan senyum termanisnya yang ia punya untuk sang suami.
πππ
Tak terasa ternyata waktu telah cepat berlalu. Ceramah Ustad Khalid pun telah dirampungkan dengan apik. Para tamu undangan yang hadir pun mulai undur diri satu persatu menyalami sang Pengantin untuk berpamitan pulang. Reyhan dan Naina masih terlihat segar, walau pegal sudah mulai terasa di telapak kaki karena lelah berulang kali harus berdiri lama untuk menyalami para tamu.
Resepsi Reyhan dan Naina berjalan sangat Lancar, waktu sudah menunjukan pukul 16.00 Wib, sekarang tiba giliran rombongan rekan kerja Naina dan Reyhan.
Naina bekerja disalah satu perusahaan terkemuka di kota Kediri.
Hampir 2 tahun dirinya bekerja disana. Ada banyak teman Naina, namun yang paling dekat diantara mereka adalah Nita dan Tika. Mereka satu perusahaan dengan Naina, namun berbeda bagian/staf.
Sedangkan dalam kurun waktu 3-1bulan terakhir Naina juga sempat dekat dengan Giyan Mahesa, yang dulunya rekan kerja tapi sekarang sudah diangkat sebagai Manager Personalia. Statusnya menjadi senior/atasan Naina.
(Jika digambarkan sosok Giyan Mahesa seperti inilah visual/penampakan dari tokoh Giyan Mahesa kita)
πππ Giyan Mahesaπππ
__ADS_1
Entah dari angin mana hubungan Naina dan Giyan yang dulunya asing sekarang terlihat sangat akrab semenjak 3 bulan terakhir. Giyan belakangan ini sering terlihat begitu nyaman berbincang dengan Naina, entah itu di area kantor, atau di luar kantor. Giyan dan Naina pun tak berpikiran mengapa mereka berdua bisa akrab dan sedekat itu, setelah meraka sama-sama acuh tak acuh dan cuek bebek dalam waktu yang cukup lama. Mereka tak menyadari perubahan sikap mereka masing-masing.
πΉπΉπΉπΉ Back to wedding....πΉπΉπΉπΉ
Naina tipe wanita yang supel, mudah bergaul, pandai, periang, tak jarang juga manja. Tapi dibalik semua itu Naina memiliki sisi kelam yang dirinya sembunyikan rapat rapat.
Termasuk Reyhan, yang sampai detik ia menjadi suami Naina pun, tak pernah tau kisah kelam Naina selama ini. Walaupun mereka berdua terbilang cukup lama berpacaran.
#Kembali ke resepsi.
Melihat kedatangan para rekan kerjanya Naina yang tadinya terlihat sudah sangat capek, kini sumringah lagi.
Dengan senyum bahagia Naina dan Reyhan menghampiri tamu undangan.
"Selamat ya Say.., akhirnya sekarang sudah sah menjadi isteri." ucap Nita seraya memeluk sahabatnya itu.
"Terima kasih ya kalian sudah mau sempetin dateng kesini." jawab Naina dengan senyum manisnya.
"Nai..aku doakan semoga kamu sama Mas Reyhan cepet dikasih momongan, biar nanti aku cepet nyusul kalian ke pelaminan." gantian Tika yang memeluk Naina.
"Amin ya robalalamin..." jawab Reyhan mengamini doa Tika.
Ekspresi Giyan Mahesa memandangi Naina dari sudut ruang yang sepi. Senyumnya bak mengandung seribu arti dalam hatinya. Namun belum begitu ia sadari perasaan semacam apa sebenarnya yang ia rasakan itu.
Naina melihat orang yang dicarinya melempar senyum spontan membalas senyumnya dan melambaikan tangan.
"Mas Giyan, Sini..." undang Naina dengan sedikit berteriak kearah Giyan.
Giyan tersenyum simpul, dan beranjak dari tempat duduknya yang berada di pojok ruang tamu.
Dengan santai Giyan menghampiri Naina dan Reyhan. Memberi selamat atas pernikahan mereka.
Tapi entah kenapa ada perasaan berat dihati Giyan, seolah sedikit tak rela melihat Naina bersanding dengan Reyhan.
"Selamat ya Bro..sukses jadi suami." ucap Giyan seraya berjabat tangan dan adu bahu dengan Reyhan.
"Kapan giliran mu?" tanya Reyhan meledek.
__ADS_1
"Gampang Bro, masih pengen santai nikmatin hidup" jawab Giyan enteng seraya curi pandang pada Naina.
"Mas, jangan jomblo kelamaan, nanti malah ga laku lho." Naina ikut meledek Giyan.
"Biar nggak jomblo kamu yang cariin dong buat Mas." jawab Giyan enteng.
Mereka bersama menikmati candaan dan hidangan di pesta itu. Hingga tak terasa satu persatu tamu Naina pun berpamitan.
Giyan pun tak menyadari bahwa selama dirinya berada disana matanya selalu mencuri pandang dengan Naina.
Giyan merasa hari itu Naina sangat cantik menjelma bak bidadari. Hingga dirinya tak berhenti mengagumi keanggunan Naina. Namun rasanya aneh, ada suatu perasaan yang tak biasa, perasaan yang tiba tiba sesak, perasaan yang tiba tiba muncul dalam hati kecil, perasaan yang tak mungkin untuk diungkapkan dengan situasi seperti ini.
Giyan membiarkan perasaan aneh itu bersarang di hatinya. Tak berusaha menepis apa yang kini ia rasakan.
Mungkinkah kedekatannya dengan Naina selama 1 bulan lalu telah menumbuhkan benih benih cinta?
Giyan hanya menikmati semua perasaan yang ada tanpa menyadari itu gejala cinta.
Bahayanya ia, bila memang jatuh cinta pada Naina saat ini.
π»
π»
π»
π»
π»
π»π»π»Bersambung..!!π»π»π»
π»
π»
π»
π»
π»
π»
__ADS_1
#bener ga nih Mas Giyan jatuh cinta diwaktu yang tak tepat..Apa yang akan terjadi pada Naina dan Reyhan setelah pesta pernikahannya telah usai? Nantikan di eps berikutnya..mohon vote dan dukungannya.π€