
Setelah kepergian Nadia dan Ibu Aqmar, Laras pun menarik tangan Naku untuk keluar dari tempat Spa, Laras baru berhenti ketika sampa di tempat yang cukup sepi pengunjung. Sampai Laras menghentikan langkah kaki nya, namun tangan yang saling bertautan itu tidak kunjung dilepas, Naku tersenyum melihat itu.
“Bapak ngapain sih kesini? Bapak nguntit Saya ya?” mata Laras memicing penuh curiga.
“Percaya diri sekali, Kamu.” Naku tersenyum miring.
“Lah terus, Bapak ngapain kesini? Kalo gak ngikutin Aku.” Laras masih saja kokoh dengan tuduhan nya.
“Suka-suka Saya, ini kan tempat umum. Saya bebas kesini kapanpun. Dan satu lagi, ngapain Kamu panggil Aku Bapak, ini kan gak lagi di Kantor.”
Laras hanya mendengus kesal mendengar ucapan Naku, bukan Laras lupa akan permintaan Naku yang melarang nya memanggil Pak saat di luar kantor, tapi mengingat kejadian tadi pagi di ruangan Bos nya, membuat Laras malu sendiri rasa nya.
“Udah lupa..?” Naku bertanya sambil mencubit gemas pipi Laras.
“Mas..! sakit ih,” Laras memegangi pipi nya yang habis di cubit Naku.
“Mau lagi?” Naku tersenyum dan mengarahkan kembali tangan nya, untuk mencubit pipi Laras.
“Enggak!” Sontak Laras menutut kedua pipi nya dengan telapak tangan. “Mangkanya jangan bandel, Awas kalo Kamu berani deket-deket cowok lain selain Aku. Habis Kamu!”
Eh, ini Orang uda gila apa ya? Punya hak apa Dia ngelarang-larang Aku.
__ADS_1
“Makan yuk! Laper.” Tiba-tiba saja Naku merangkul pundak Laras dan mengajak nya berjalan menuju restoran yang letak nya berada di lanta atas mall itu. Berjelan dengan posisi sedekat ini, membuat jantung Laras berdebar tidak karuan, seperti seseorang yang baru jatuh cinta, perasaan nya sangat sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.
Begitupun dengan Naku, meski terlihat santai namun jantung nya juga sedang tidak baik-baik saja, ada rasa aneh yang menjalar ke sekujur tubuh nya. Naku bisa santai dan percaya diri saat menghadapi para client nya namun tidak saat bertemu dengan Laras, jantung nya justru berdetak tidak karuan.
Selesai makan, kini kedua nya sedang berjalan menuju area parkir, namun Naku tidak sedikitpun mau melepas tangan Laras dari genggaman nya, hal itu membuat Laras semakin kesal, pasal nya dalam posisi seperti ini Laras tidak bisa menetralkan detak jantung nya yang bergemuruh hebat.
“Lepasin kali Mas, Aku bisa jalan sendiri. Aku bukan Rama yang selalu harus digandeng biar gak ilang.” Setelah sampai di depan mobil Naku, Laras memberanikan diri untuk melayangkan protes.
Cup! Satu kecupan singkat berhasil mendarat tepat di bibir Laras, “Kamu ini cerewet sekali, Aku memang gak mau Kamu ilang, apa lagi kabur. Mangkanya Aku gandeng terus.” Naku menatap gemas kepada Laras yang sedang cemberut.
Mendapat ciuman mendadak, tubuh Laras mematung, ,ata nya membulat lebar, kaget dengan perlakuan Naku yang semakin berani kepada nya.
“Kenapa memang nya?” Naku bertanya dengan enteng nya seolah tidak terjadi apa-apa.
“Haram, bukan muhrim!” Laras sedikit sewot saat mengucapkan kalimat itu.
“Ya sudah, besok Aku halalin biar jadi muhrim.” Setelas mengucapkan kalimat itu, Naku bergegas membukakan pintu mobil untuk Laras, “Udah.. gak usah di pikirin, iya-iya besok Aku ke rumah Kamu buat halalin Kamu.” Naku tersenyum menggoda Laras, sedangkan yang di goda justru semakin jengkel.
Ini adalah hari sabtu, hari dimana sedang diadakan nya pesta pernikahan antara Aqmar dan Nadia. Sebetul nya Laras tidak ingin menghadiri undangan itu, namun Laras tidak mau dibilang wanita gagal move on. Ahir nya Laras memutus kan untuk hadir memenuhi undangan Aqmar, Akan Laras tunjukkan bagaimana diri nya baik-baik saja melihat Aqmar bersanding dengan Nadia di pelaminan.
Laras membuka tiga paperbag pemberian Naku kemarin malam, awal nya Laras sudah menolak dan ingin mengembalikan barang mahal itu, namun Naku menolak dan bersikeras agar Laras mau menerima nya, ahir nya Laras pun menerima. Siapa sih yang gak suka jika dikasih barang mahal limited edition? Laras pun suka, namun Ia juga tidak mau disebut Wanita matrei dan gampangan.
__ADS_1
Paperbag pertama berisi gaun berwana hitam, Laras menempelkan gaun itu ke tubuh nya sambil bercermin, Laras mengulas senyum saat gaun pemberian Naku itu terlihat sangat cocok dengan selera nya. Dan dua paperbag lain ternyata berisi tas dan juga sepatu yang ditaksir harga nya mencapai ratusan juta.
Laras buru-buru mandi kemudian memoles wajah nya dengan make up tipis kesukaan nya, Laras tidak ingin terlihat menor dan justru akan mempermalukan diri nya sendiri, meskipun hanya make up tipis dan sederhana, namun pesona Laras tidak bisa diragukan, Wanita itu bahkan berdecak kagum melihat pantulan diri nya di cermin.
Baru saja ingin memesan taxi online untuk mengantarkan nya ke gedung tempat dimana Aqmar melangsungkan resepsi pernikahan, Laras dikagetkan dengan ketukan pintu dari luar kamar nya. Ternyata Ibu yang berada di balip pintu itu, Ibu mengatakan jika Naku sudah menunggu di luar.
Hah, ngapain Dia kesini? Laras membatin sambil mengingat apakah Ia punya janji dengan Bos nya itu, tapi bukan Naku nama nya jika tidak datang dan pergi sesuka nya.
Laras bergegas menemui Naku yang sedang duduk di ruang tamu menunggu kedatangan nya, Untuk beberapa detik Naku terpaku dengan bidadari yang sedang berdiri tepat di hadapan nya, Dress berwarna hitam selutut, sepatu dengan warna senada serta tas dengan warna yang sama pula, begitu cantik saat dikanakan Oleh Laras.
Naku seakan terpukau dengan penampilan Laras malam ini, Pria itu seakan enggan untuk mengalihkan pandangan nya dari Laras.
“Mas ngapain ke sini?” pertanyaan Laras berhasil membuyarkan lamunan Naku.
“Mau ngajak kamu ke kondangan, sudah Ayo berangkat! Nanti kemaleman.” Naku buru-buru menarik tangan Laras dan berpamitan kepada Ibu serta Bapak. Sedangkan Rama, Anak itu sudah tertidur setelah maghrib tadi. Laras tidak tega membangunkan Rama yang sedang tertidur, sehingga Laras lebih memilih untuk meninggalkan Rama di rumah. Toh mungkin lebih baik seperti itu, karena Laras tidak ingin Rama bersedih saat melihat Ayah nya menikahi Wanita lain.
Sebelum nya Laras sudah menjelaskan jika Naku akan akan mengantar Laras menghadiri pernikahan Aqmar, dan Ibu setuju akan hal itu. Ibu justru seneng kalo Laras diantar oleh Naku. Ibu sungguh ingin melihat reaksi Ibu Aqmar yang sombong itu saat melihat Laras datang bersama laki-laki yang jauh lebih kaya dari Aqmar.
__ADS_1