Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Gadhing pergi


__ADS_3

Fadia sudah pulang dari rumah sakit, sudah dua bulan ibu Harry berada di rumah Harry. Hari ini ibu Harry berencana pulang ke Malang. Raut wajah sedih tergambar jelas dari wajah Fadia, pasalnya Gadhing akan ikut ke Malang dan akan sekolah disana.


"Harry.. Haruskah Gadhing ikut? sekolah disini juga bagus-bagus." rengek Fadia masih melayangkan protes terhadap keputusan Harry.


"Sayang.. Dengar, aku lakuin ini biar dia yang akan neruskan peternakan ku Yu.. Apalagi Gadhing sangat suka hewan kan?"


Fadia menatap Harry dengan mata berkaca-kaca, ia tidak bisa menyembunyikan kesedihan jika dihadapan Harry.


"Jangan menangis sayang.. Nanti Daffa dan Daffi ikut sedih Yu.."


Ya, Nama anak kembar mereka, Harry beri nama Daffa Putra Setiawan dan Daffi Putra Setiawan.


Fadia mengusap halus pipi nya yang basah karena air mata. Akhirnya dengan berat hati ia mengijinkan Gadhing ikut mertua nya.


"Kamu tak apa aku tinggal sebentar ke kota antar ibu dan Gadhing ke stasiun?" tanya Harry memastikan.


"Pergilah.. Hati-hati."


Harry mengangguk merasa tak tega, namun Gadhing sendiri memang ingin ikut tinggal di Malang bersama ibu Harry.


"Ibu pamit ya bawa Gadhing.. Kamu tengang saja, kami akan menyayangi nya. Dia adalah cucu pertama ibu.." kata ibu Harry.


Fadia mencoba tersenyum dan mengangguk.


"Oh iya Yu, masa nifas mu sudah siap, cepatlah sediakan obat kontrasepsi. Ibu lihat Harry sudah sering nyosor kamu kalau di kamar."


Mendengar itu membuat Fadia tersipu malu karena hal itu benar adanya.


Setiap ia memberi ASI pada si kembar jika ada Harry selalu meminta jangan di tutupi, ia ingin melihat dua aset yang sudah di cap paten olehnya.


"Yu.. ini masih punya ku kan?" tanya Harry sembari menekan payu dara Fadia dengan jari nya.


"Punya si kembar sayang..."


Harry berdecak kesal dengan jawaban Fadia.


Fadia sendiri terkekeh melihat wajah kesal Harry lalu mengelus rambut dan mengecup bibir Harry merasa gemas.


"Sabar ya.. Ini tak akan lama dan aku pasti menyerahkan diri ke kamu."


Harry mengangguk lemah. "Iya, cepatlah jagoan-jagoan ayah.."


Untuk pertama kalinya Fadia menjaga anak kembarnya sendiri karena art sudah pulang dan Hanum sudah bekerja dari sebulan lalu.

__ADS_1


Baby Daffi si pinky boy masih terjaga sore itu setelah selesai mandi sedang baby Daffa sudah terlelap. Perbedaan sangat kentara pada bayi kembar itu.


Baby Daffa sang kakak lebih tenang dan mudah di tidurkan, berbeda dengan baby Daffi lebih rewel, jika kelaparan pasti menangis begitu juga saat buang air kecil atau besar.


"Adik Daffi masih bangun ya? kenapa? sedih ya mas Gadhing pergi?" cerca nya dengan mata berkaca-kaca.


Seakan mengerti, bayi mungil itu menggenggam satu jari Fadia yang tengah mengelus pipi mulus nan lembut itu.


Fadia tersenyum lalu mengecup tangan mungil baby Daffi dengan gemas.


"Kenapa kamu sangat menggemaskan dik?"


...****...


Di taman kota kabupaten, sepulang bekerja Hanum memilih duduk disana. Satu jam yang lalu sang ibu sudah kembali ke kota asalnya, kota Malang.


Ia termenung menunggu seseorang yang selama ia tinggal bersama Harry dan juga Fadia selalu menemani nya.


Niko.


Semenjak waktu itu, mereka terlihat dekat. Baik Niko ataupun Hanum telah menceritakan bagaimana masalalu percintaan mereka.


Dan keduanya memutuskan untuk jalan beriringan menyembuhkan luka hati. Bukan, bagi Niko bukan menyembuhkan luka hati karena ia sendiri tidak merasa tersakiti oleh Fadia.


Ia hanya mencoba mengikhlaskan kebahagiaan Fadia terletak pada seorang Harry Setiawan. Orang yang ia kenalkan pada Fadia tanpa sengaja.


Sedari tadi ia memandangi wajah Hanum yang imut dan polos menurutnya. Mengingat bagaimana Hanum mencoba keras memenangkan hati sahabat Harry ada rasa marah dihatinya.


Bagaimana bisa pria itu menyakiti seorang Hanum yang sangat polos jika menyangkut percintaan. Ketulusan nya itu mudah dimanfaatkan.


"Hanum.." panggilnya ketika ia mendekat ke Hanum.


"Oh iya.. Hai.."


"Sudah lama nunggu aku?" tanya Niko mendudukkan bokong di sebelah Hanum.


Hanum menggeleng. "Aku baru sampek kok." sahutnya tidak ingin melihat Niko merasa bersalah.


Niko berdecak pasalnya ia tahu jika Hanum cukup lama menunggu nya. Dan ia yakin pasti Hanum berpikir agar ia tidak merasa bersalah.


Dengan gemas ia mengacak rambut yang terbungkus hijap itu. Ya, tempat kerja Hanum mengharuskan memakai hijab dan ia menuruti itu walau setelah pulang kerja ia tetap tak memakai hijab.


"Makan bakso yuk.." ajak Niko dan dijawab girang oleh Hanum.

__ADS_1


"Ayo.. Sudah lama aku tak makan bakso.." Hanum langsung bangkit menarik lengan Niko.


Niko hanya menggeleng melihat tingkah Hanum. Ia merasa gemas pada Hanum. Terkadang timbul rasa ingin membungkam bibir Hanum dengan bibirnya karena sangat berisik dengan celotehan nya.


Namun ia tahan karena mengingat Hanum adalah adik dari seorang Harry Setiawan. Mereka pergi dari taman dengan menaiki sepeda motor masing-masing.


Disini lah mereka, mie ayam bakso langganan Niko dan Fadia.


"Bang, mie ayam bakso satu sama mie ayam tanpa bakso satu ya.." ucap Niko.


"Loh.. Niko.. Sama siapa? apa sama Fadia?" tanya Abang tukang bakso yang masih di dengar Hanum.


Niko terkekeh melirik Hanum yang berubah murung.


"Tidak bang, Fadia sudah nikah dia baru lahiran. Kalau aku sama Fadia bisa di gorok sama suaminya." sahut nya santai karena ia bicara apa adanya.


Abang tukang bakso itu tertawa sembari membuatkan pesanan Niko.


"Sama siapa kau Niko? baru?"


Niko bingung harus jawab apa, Hanum bukan siapa-siapa saat ini namun mengatakan Hanum hanya teman ada rasa tidak rela di hati.


"Anu bang.." saking bingung nya Niko menggaruk kepala yang tak gatal.


"Doain saja bang."


Ia melihat wajah Hanum masih murung. "Jangan masukkan di hati Num.."


Hanum senyum dipaksakan. "Kenapa tak bilang kalau ini tempat favorit mas sama mbak Ayu?"


Niko tersenyum. "Kamu cemburu?"


Ditanya seperti itu membuat Hanum gelagapan. "Mana ada." Hanum membuang pandang ke lain arah.


Niko terkekeh merasa gemas langsung menarik hidung Hanum.


"Mas kamu sudah tahu ini tempat favorit kami sejak SMP karena memang rasanya juga enak."


Hanum mengangguk mengerti. "Tapi kenapa mas tak pakai bakso?" tanya Hanum.


"Pingin mie nya saja." sahut Niko.


*Bukan, tapi karena biasanya bakso ku yang makan Fadia Num.. Maaf aku harus bohong karena hatiku masih sepenuhnya ada nama Fadia disana, walau aku sudah merelakan nya.

__ADS_1


🌸*


Bersambung..


__ADS_2