Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Penguntit


__ADS_3

Selamat buat kamu yang sukses melepas masa lajangmu. Mulai dari sekarang hidupmu akan berubah 180 derajat dibandingkan sebelumnya. Menikah adalah sebuah keputusan yang berani dalam hidup seseorang. Dimana kamu memutuskan untuk hidup bersama dengan orang yang kamu cintai.


Seperti saat ini, sebenarnya ia tidak rela bila Fadia pergi keluar rumah tanpa dirinya. Tapi ia juga tidak ingin mengekang Fadia dan membuatnya tidak nyaman.


Dengan pasrah dan terpaksa ia mengizinkan Fadia pergi tanpa dirinya. Yang pasti ia akan mencari cara untuk tetap mengawasi Fadia.


Satu ide muncul dari isi kepala nya dan itu pasti akan terwujud. Segera ia hubungi kedua sahabat yang sedang patah hati.


Harry :


Kita ketemu di kafe Yudha. Sekarang.


Tulis Harry di laman pesan WhatsApp grub yang isinya mereka bertiga bertambah Fadia tentu nya. Dan hal itu belum di ketahui istrinya.


Bagaimana bisa ia ketahui? wong ponsel Fadia sering di tangan Harry.


Setelah melihat istrinya pergi dengan adik dan sahabat sang istri, ia bergegas mengambil dompet dan kunci sepeda motor miliknya yang sudah lama tidak ia kendarai.


Di tengah jalan Harry berhenti membeli 3 buah masker. Ia akan menjalani pekerjaan baru selain menjadi Asisten Afdeling, Pengarit rumput untuk pakan sapi sang kakek, sekarang ia akan menjelma sebagai penguntit sang istri.


Beberapa saat kemudian sepeda motor nya sudah terparkir di pelataran kafe sahabatnya. Sudah terlihat kedua sahabat duduk menunggu kehadirannya.


"Temani aku ke Pasar Minggu."


"APA?" Dua orang itu terperanjat saat Harry tiba-tiba muncul dan mendengar permintaan Harry.


Ini adalah pemecah rekor. Seorang Harry akan blusukan di pasar yang mana biasanya Harry hanya blusukan di semak-semak alias perkebunan.


"Tumben." ucap kedua orang itu bersamaan.


"Mendesak." jawab Harry singkat.


"Ada apa? biasa nya juga tidak terlalu suka ramai-ramai selain nonton bola ataupun pas di ramai-ramai lebih memilih di pojokan." sindir Yudha.


"Binik ku ke pasar Minggu." akhirnya Harry mengungkapkan alasan nya.


"Ya biarin tah Harr.. Perempuan juga butuh me time." sekarang Ricky mulai bersuara.


"Please bro." Harry memohon.


"Kamu mau jemput istrimu kan Harr? kenapa ajak kita?" tanya Yudha.


"Bukan." jawab Harry singkat.


Keduanya memicing menatap Harry penuh curiga. Mereka takut apa yang ada di pikiran mereka benar hal nya.


"Jangan bilang kalau kita akan jadi-" belum sempat Ricky menyelesaikan ucapannya sudah terpotong dengan Harry.


"Ya benar. Aku juga sudah beli masker. Kita tinggal beli topi nanti disana." Harry menyodorkan dua masker di atas meja kearah kedua sahabnya.


"Oh astaga.. sialan. Begini kalau punya sahabat bucin." gerutu Ricky mengambil masker yang di sodorkan Harry di atas meja.

__ADS_1


"Sudah ayo.. Mereka sudah turun angkot pertama."


Kedua sahabat itu pasrah dan memilih menuruti keinginan Harry. Begitulah mereka, walau jarang kumpul tapi tetap diusahakan untuk menghabiskan waktu bersama saat ketiganya berada di Malang.


"Seharusnya kamu beli mobil Harr.. Percuma banyak duit tapi tidak punya mobil." gerutu Yudha saat ketiganya berada di dalam taksi.


"Untuk apa Yudh? aku kerjanya tidak menetap di satu tempat." jawab Harry tanpa menatap Yudha.


Ketiganya memilih menaiki taksi daripada harus menaiki sepeda motor nya masing-masing.


Kini ketiga pria itu baru saja sampai di pasar Minggu yang hanya memiliki jam operasional pukul 8-11 siang.


Ketiganya membeli tiga topi saat melihat pedagang topi. Mata ketiga pria itu celingukan mencari sosok wanita yang di maksud Harry.


"Itu Hanum bukan?" tanya Yudha saat melihat seseorang seperti Hanum.


"Ah itu istriku." ucap Harry antusias.


Ucapan Harry membuat keduanya melengos dan memutar bola mata jengah.





"Sudah ketemu kan? Ayo pulang." ajak Ricky.


"Tunggu sebentar. Aku merasa aneh dengan istriku."


"Dia kayak tidak menikmati belanja nya Harr." ucap Yudha dan di anggukin dengan Ricky membenarkan.


"Kenapa ya? padahal istriku suka dengan daster."


Pikiran harus terus di penuhi pertanyaan-pertanyaan mengapa Fadia terlihat murung di saat belanja baju kesukaan nya.


Padahal pagi tadi istrinya itu masih sangat ceria dan sangat antusias di ajak belanja oleh adiknya itu.


****


"Jadi beneran ini mbak yang traktir belanja?" tanya Hanum kegirangan.


Ya Fadia sempat mengatakan jika ia akan mentraktir belanja pakaian sepuasnya saat baru saja tiba di Pasar Minggu.


Fadia mengangguk dengan tersenyum manis. "Ya.. Kita habiskan uang yang mbak bawa." ujar nya tertawa.


"Uang siapa Fad?" tanya Elsa.


"Uang SUAMIKU." jawab Fadia menekan kata suamiku tersebut.


Tapi sepertinya Elsa beranggapan lain. Bahkan ia tersenyum penuh maksud. "Suamimu itu memang idaman."

__ADS_1


Fadia dan Hanum melirik ke arah Elsa yang masih senyum-senyum sendiri. Kemudian Hanum menatap Fadia seolah bertanya Elsa kenapa dan Fadia hanya menggeleng kepala saja.


Ia terus mensugesti hatinya bahwa Elsa tidak mungkin setega itu padanya. Ia terus menepis pikiran buruk tentang sahabat nya.


Mood nya mendadak berubah buruk karena itu dan sukses membuat ia tidak berselera untuk berbelanja lagi. Akhirnya ia hanya memilihkan pakaian untuk Ibu Harry, Fatin, Gadhing, dan Dita.


Padahal di depan mata nya banyak model daster yang ia sukai bahkan ada model yang belum ia miliki. Tapi perilaku Elsa benar-benar membuat mood nya hancur.


Bahkan pertanyaan Hanum hanya ia jawab dengan anggukan atau senyum yang ia paksakan.


****


"Adik mu cantik ya Harr.. Untuk ku ya.." celetuk Yudha memperhatikan Hanum yang centil dan heboh memilih pakaian.


"Jangan aneh-aneh Yudh. Jangan buat adik ku sebagai pelarian." sergah Harry yang masih memperhatikan Fadia.


"Sahabat Ayu tomboy ya Harr?" tanya Ricky yang memperhatikan Elsa.


Harry mengedikkan bahu tanda acuh. "Aku tidak tahu. Yang aku tahu hanya tentang Ayu." jawab Harry tanpa melihat reaksi kedua sahabatnya.


"Dasar bucin." sungut kedua sahabat Harry.


Harry terkekeh tidak menyangkal ucapan kedua sahabatnya. Terserah mereka mau menjuluki ia seperti apa. Yang penting fokus nya pada Ayu istrinya.


Ia masih penasaran kenapa wajah sang istri tampak murung. Ia pun berniat mengirim pesan pada sang istri.


Harry :


Senyum lah. Karena senyuman mu adalah sebagian dari semangat hidup ku.


Harry tersenyum sendiri membaca isi pesan itu. Benar-benar bukan seperti ia yang dulu.


Fadia :


Aku tidak mood.


Yudha menarik Harry dan Ricky untuk berjongkok.


"Kamu kenapa Yudh?" tanya Harry saat ketiga nya berjongkok.


"Goblok.. Istrimu seperti celingukan mencari orang. Aku takut kita ketahuan." ujar Yudha.


"Gimana tidak celingukan. Wong mereka chatting an itu." kata Ricky yang sempat membaca isi pesan Harry.


Keduanya menatap Harry tajam seperti ingin menerkam Harry.


"Sorry..Sorry.. Aku khawatir sama istriku." ucap Harry lirih.


"Kalau khawatir sana datengin jangan buat kita jadi penguntit." cerocos Yudha dan Ricky.


"Gawat... Istriku video call."

__ADS_1


🌸


Bersambung..


__ADS_2