
Hari terus berganti hingga tanpa terasa hari yang ditunggu hampir tiba. Undangan telah tersebar. Sanak saudara mulai berdatangan.
Ini memang pernikahan kedua Fadia, tapi ini adalah acara resepsi pernikahan pertama untuknya. Di pernikahan pertama hanya mengadakan akad saja karena pihak keluarga Fadia tidak memiliki cukup uang untuk melakukan resepsi pernikahan.
Dan sekarang acara resepsi pernikahan Fadia dan Harry di tanggung oleh Harry begitu juga untuk acara ngunduh mantu yang akan di laksanakan lima hari setelah acara resepsi di kediaman Fadia.
Setelah acara lamaran, Fadia dan Harry tidak di izinkan untuk bertemu.
Pingit.
Itulah yang sedang dijalani keduanya. Rindu? sudah pasti, tapi ia beruntung karena di zaman modern sekarang bisa melepas rindu dengan smartphone.
Dan ia masih bisa mengalihkan rasa rindu itu dengan kesibukan di rumahnya. Ia turut ikut serta meracik bumbu untuk menu hidangan, membuat kue, atau bergosip riya dengan sahabatnya.
Fadia telah berhenti bekerja usai acara lamaran beberapa waktu lalu. Kesibukan nya terkadang abai dengan Harry. Dan hal itu membuat mereka sering selisih paham.
Harry selalu mengira bila Fadia berubah, tidak perduli lagi padanya. Padahal Fadia sangat sibuk mengurusi banyak hal untuk resepsi pernikahan.
Ia cukup mengerti bila Harry seperti itu. Selain Harry sudah bucin, ini adalah pengalaman pertama untuk calon suaminya itu.
Ia hanya bisa mendengarkan ocehan Harry bila sudah dalam metode merajuk karena rindu nya itu.
Tratag dan tarub sudah terpasang di depan rumah Fadia. Sanak saudara jauh Fadia dan Fatin juga telah di undang. Para tetangga sudah mulai berdatangan untuk membantu memasak hidangan untuk acara akad dan resepsi pernikahan.
Kembar mayang sudah terbentuk dan tuwuhan juga sudah terpasang dengan harapan kedua pengantin di karuniai momongan.
Satu Minggu sebelum hari pernikahan membuat Fadia sangat sibuk. Bahkan ia harus meminta tolong pada salah satu orang tua teman sekelas Gadhing agar menumpangi Gadhing pergi dan pulang sekolah.
Pukul tiga sore Fadia baru bisa merebahkan tubuh nya yang lelah. Besok adalah acara siraman. Itu berarti dua hari lagi adalah hari yang ia tunggu.
Bersanding dengan Harry.
Bahagia? tentu ia bahagia.
Takut? itu juga ia rasakan. Bohong bila ia tidak takut. Ketakutan untuk berumah tangga masih saja sering menghampiri.
*Bagaimana bila Harry ku berubah seperti dia?
Bagaimana bila ia tidak puas denganku terus cari yang lain?
Bagaimana kalau dia malu menikah dengan ku*?
"Harry.. Aku sangat merindukanmu."
__ADS_1
Ia mengecek ponsel nya tidak ada notifikasi dari calon suaminya.
Tumben!
Fadia :
Sudah pulang kerja?
Centang dua berwarna abu-abu itu menandakan bila sang penerima pesan belum membaca nya. Fadia tidak terlalu mempermasalahkan kan, karena ia begitu lelah akhirnya memilih terlelap untuk sebentar saja. Karena pukul 5 sore akan dilaksanakan prosesi siraman.
****
Harry baru saja pulang bekerja. Ia sengaja tidak ambil cuti sekarang. Ia akan ambil cuti saat hari pernikahan sampai dua Minggu ke depan. Ia ingin mengajak Fadia dan Gadhing mengelilingi kota Malang.
Persiapan dari pihak Harry juga sudah selesai. Mengurus dokumen dan syarat sah menikah juga telah selesai. Cincin kawin sudah ada.
Semakin hari semakin gugup yang di rasakan Harry. Ini bukan lah akhir dari hidupnya. Tapi ini adalah awal hidupnya.
Akan hidup bersama seseorang yang baru beberapa bulan bersama. Walau ia membenarkan mereka mengenal sudah 11 tahun, tapi tidak bisa di pungkiri pasti akan ada banyak perbedaan kebiasaan yang belum keduanya ketahui.
Tapi ia yakin dan percaya, Fadia lah wanita yang di kirimkan sang Maha Pemberi jodoh. Bagaimana tidak? Bukan kah benar jika yang berjodoh itu pasti banyak perbedaan. Dan perbedaan itulah yang menyempurnakan kehidupan kita.
Sama halnya dengan ia dan Fadia. Jika Fadia yang cerewet maka ia hanya diam mendengarkan. Begitu juga sebaliknya. Tapi sepertinya akhir-akhir ini ia lah yang lebih banyak cerewet dari pada calon istrinya itu.
Padahal ia sendiri tahu pasti Fadia sangat kerepotan di rumahnya untuk menyiapkan acara akad dan resepsi pernikahan mereka.
Harry membaca isi pesan WhatsApp dari calon istrinya. Ia tersenyum dan langsung membalas. Ia terlambat membaxa nya tapi tidak salah jika di balas pikirnya.
Harry :
Baru pulang. Kamu lagi apa?"
Cukup lama Harry menunggu balasan dari Fadia namun agaknya calon istri nya kembali dalam mode tidak peka jika dirinya sangat merindukan wanitanya itu.
"Hhh.. Baru ku sadari, aku terlalu merindukan mu Yun Cepatlah dua hari berlalu. Aku benar-benar tidak bisa jauh darimu."
****
Seorang pria menatap nanar ke arah acara siraman Fadia berlangsung. Ia tidak bisa membohongi perasaan nya bahwa orang yang sedang melaksanakan acara siraman itulah pemilik hatinya.
Dari mulai kelas VII SMP hingga kini walau sekarang ada nama lain di hidupnya.
Ikhlas untuk kedua kalinya. Dan berharap orang itu selalu bahagia dan sangat berharap jika pria yang akan bersanding dengan dia adalah pria terakhir dihidupnya.
__ADS_1
"Berbahagialah Fadia. Aku akan mencoba ikhlas."
"Ikhlas untuk kedua kalinya."
"Ya kau benar. Lebih baik kita berteman dari padaenjalin hubungan namun berpisah. Mulai sekarang aku akan menerima Elsa di hatiku."
****
Kini Fadia menjalani sesi siraman dan malam nanti Fatin dan Fadil akan melaksanakan dodol dawet.
Sebenarnya ia merasa ribet dengan segala tentang prosesi adat Jawa. Mungkin karena ia lahir di tanah Batak maka beranggapan seperti itu.
Di acara siraman ini akan ada tujuh orang yang melakukan siraman, jumlah ini pun berdasarkan sebutan tujuh pada bahasa Jawa yaitu “pitu” atau disyaratkan sebagai pitulungan (pertolongan) kepada calon pengantin.
Ritual siraman ini menyimbolkan pembersihan diri sebelum masuk ke ritual yang lebih sakral. Nantinya, sang ayah dari mempelai wanita yang akan melakukan siraman terakhir. Kemudian dilanjutkan dengan menggendok anak perempuannya menuju kamar pengantin.
Tapi karena Fadia tidak lagi memiliki orang tua, Fadia berjalan menuju kamarnya dengan di rangkul haru Fatin.
Di saat seperti inilah Fatin maupun Fadia merasa hidupnya sendiri. Hati siapa tidak sedih bila kedua orang tuanya sudah tiada?
Apalagi Fadia di tinggal kan sejak usia nya masih remaja yang masih butuh kasih dan sayang kedua orang tua nya.
Bolehkah Fadia menangis sekarang?
Tentu.
Fadia sedari tadi sudah meneteskan air mata. Untuk kedua kalinya. Acara sakral dalam hidupnya tanpa di dampingi kedua orang tua nya.
*Ayah.. Fadia kangen.
Bunda.. Apa Fadia nakal hingga menikah untuk kedua kalinya*?
Begitu juga dengan Fatin yang tak kuasa menahan tangis nya.
Kini kakak beradik itu saling berpelukan.
"Fadia kangen ayah bunda mbak." ucap Fadia di sela tangis dalam pelukan Fatin.
🌸
Bersambung..
Like dan komen ya..
__ADS_1