Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
you trust me so much.


__ADS_3

Hari libur telah usai. Hari dimana di gadang-gadang sebagai honeymoon namun tidak seperti isi di novel-novel romantis yang menghabiskan waktu di dalam hotel lalu berkeliling di tempat wisata negara.


Honeymoon mereka berbeda. Seminggu berada di Malang di habiskan di rumah sang kakek berkumpul dengan keluarga suaminya. Hanya 1 hari saja keduanya menghabiskan waktu di luar itupun bersama dengan Ricky dan Yudha.


Fadia tersenyum memandangi Harry dan Gadhing terlelap dengan damai setelah mereka menempuh perjalanan panjang dari Malang ke desa Fadia.


Tak menyangka ia akan bersuamikan sahabat dunia maya nya sendiri. Bahkan sempat terpikir olehnya tidak akan menikah lagi.


Takut.


Itulah yang dirasakan. Tapi lihatlah, Harry datang membawa sejuta kebahagiaan dan perlindungan. Sehingga hati ini benar-benar jatuh cinta sedalam-dalamnya.


Tapi kenapa Fadia jarang mengungkapkan nya?


Gengsi.


Rasanya ia sudah gengsi untuk mengatakan itu. Mungkin bagi mereka yang sedari awal sudah pacaran lalu menikah, atau di jodohkan lalu menikah, atau karena kesalahan lalu menikah sangat muda jika sudah menyadari telah jatuh cinta lalu di ungkapkan.


Tapi Fadia dan Harry adalah teman dan sahabat sejak 11 tahun lalu dimana waktu itu Fadia belum mengalami menstruasi dan Harry belum merasakan mimpi basah.


Fadia menggeleng-geleng mengingat Harry menceritakan pertama kali nya mimpi basah dan Fadia remaja kala itu juga penasaran mimpi basah itu bagaimana.


Namun walau Harry terlalu terbuka padanya bukan berarti Fadia juga terbuka. Ia sama sekali tidak pernah menceritakan hal-hal yang sangat privasi seperti itu.


Ia pun teringat akan kesepakatan bersama Harry akhirnya akan berkurang. Mengapa tidak? waktu Harry akan terbagi antara bekerja dan di rumah. Jadi tidak melulu berpikir olahraga diatas ranjang.


Mungkin saat di Malang Harry banyak berolah raga panas karena ia tidak memikirkan pekerjaan dan uang di tabungan masih lebih dari cukup. Tapi tidak untuk besok, suaminya itu harus mencari uang kembali untuk menambah saldo tabungan yang sudah di serahkan kepadanya.


Fadia bangkit dari ranjang menuju dapur dan membuka lemari es mengambil cabai rawit dan saos cabai lalu duduk di lantai yang sudah ia gelar tikar. Di dekat ia duduk sudah terdapat bawang merah, bawang putih, kencur, dan bumbu masakan lain nya.


Ia ingin memasak seblak yang kebetulan masih ada stok mie instan dan beberapa telur. Kelaparan dalam tidur itu sungguh menyiksa. Dan inilah yang dirasakan Fadia di tambah dirumahnya tidak ada nasi karena mereka baru sampai tengah malam dan langsung tidur.


Selesai mengupas bawang merah, bawang putih, kencur, dan cabai rawit. Di cuci terlebih dahulu sebelum di masukkan ke blender.


Kuali telah berisi minyak panas tanda bumbu seblak siap di masukkan. Sembari menunggu bumbu matang, Fadia mencuci beras hingga bersih lalu ia masukkan ke rice cooker.


Saking asyiknya memasak tidak menyadari bila sang suami sedang memperhatikannya tengah berdiri bersandar di dinding dengan wajah kusut dan rambut berantakan. Tapi jangan lupakan senyuman itu terus mengembang memperhatikan Fadia.


__ADS_1


Tampak Fadia menghirup wangi dari seblak nya saat ini. Harry tersenyum melihat itu. Ia pun melangkah mendekati Fadia yang sedang melahap seblak tersebut.


"Aku tidak di masakin?" tanya Harry seraya mengambil sendok dari rak piring.


"Harry.. Kamu mengagetkan ku.." gerutu Fadia beruntung ia tidak tersedak karena seblak di mulutnya sudah melesat ke kerongkongan.


"Maaf." ucapnya lalu duduk di hadapan Fadia mendekatkan mangkuk seblak Fadia agar mudah melahapnya.


"Jangan dihabisin Rry. Aku sangat lapar, nasi belum matang." ucap Fadia dan Harry mengangguk saja karena mulutnya penuh dengan mie seblak buatan Fadia.


Fadia tersenyum melihat Harry sedang makan. Hari ini ia benar-benar menjalani profesinya sebagai istri seorang Harry Setiawan atasan nya dulu saat bekerja.


"Yu.. Aku nanti minta duit ya.." pinta Harry karena teringat sesuatu.


Fadia terkekeh geli mendengarnya. "Aku geli dengarnya Rry.."


Keduanya pun tertawa bersama di depan semangkuk seblak.


"Kenapa tidak kamu saja yang pegang duit nya Harry.. Kamu cuma kasih aku uang bulanan saja."


Harry menggeleng. "Kamu saja yang pegang. Aku minta Rp300.000 saja ya.."


Fadia menghela nafas. "Oke. Besok gajian kan?" Fadia tersenyum manis mengucapkan kata gajian.


Fadia mengangguk. "Boleh kan aku belikan cincin?"


"Terserah kamu. Mau kamu pakai juga?"


"Ya tidak lah.. Cukup 2 cincin ini saja yang ada di jariku." Fadia menunjukkan 2 cincin pemberian Harry.


Harry tersenyum lalu mengacak rambut Fadia yang. Lalu ia beranjak membawa mangkuk seblak yang telah kosong serta membawa alat masak Fadia yang kotor ke tempat cucian piring.


Fadia memperhatikan Harry begitu cekatan mencuci piring. Dapat ia pastikan bahwa suaminya itu sudah terbiasa mencuci piring dengan tangan nya sendiri.


"Kamu sudah terbiasa ya cuci piring sendiri?"


Fadia menoleh ke belakang tersenyum pada Fadia lalu melanjutkan lagi.


"Iya. Tapi lebih sering sore atau malam. Karena pagi dan siang di kerjakan art."

__ADS_1


Fadia mengangguk mengerti. Ia cukup tahu kalau para staf perusahaan perkebunan memang rata-rata memiliki art.


"Kamu tidak malu mencuci piring padahal ada istri loh.."


"Tidak sayang.. Ini itu ilmu." ucap Harry ambigu sembari mengelap tangan karena baru selesai mencuci piring.


"Ilmu? ilmu apaan?" tanyanya bingung.


"Ilmu membahagiakan istri. Sedari dulu aku selalu bertekad bila kelak aku sudah beristri aku bisa bantu meringankan kerjaan istri aku. Mungkin sebagian orang mengatakan mencuci, memasak, menyapu itu adalah tugas seorang istri, tapi bagiku tidak. Istri itu pendamping suami. Jadi kerjaan itu seharusnya dikerjakan secara bersama-sama. Bukankah bersama-sama itu lebih baik? Selain dapat meringankan pekerjaan, juga dapat membuat hubungan suami istri makin lengket dan harmonis." ujar Harry tersenyum menatap istrinya yang mendengarkan secara seksama.


Fadia tampak terkesima terhadap setiap kata yang keluar dari mulut Harry. Selain itu juga ia menjadi teringat seseorang. Cinta pertamanya. Ayah Fadia dulu pernah mengatakan hal itu. Bahkan ia ingat dahulu ayah nya tidak segan-segan menjemur pakaian di luar rumah.


Ia merindukan ayah dan bunda nya. Air matanya kini luruh tanpa di sengaja.


"Sayang.. Kamu kenapa menangis? apa aku salah bicara?" tanya Harry panik saat mengetahui Fadia menangis.


Fadia menggeleng dan tersenyum walau air mata tetap saja mengalir.


"Tidak. Kamu tidak salah ngomong kok. Aku cuma teringat almarhum ayah Rry. Ayah juga pernah ngomong kayak gitu soalnya. Ayah tidak pernah sungkan bantu pekerjaan ibu di rumah. Bahkan aku masih ingat, ayah masih menyuapi ku makan saat aku sudah SMP." ujar Fadia menghapus air matanya.


"Maaf ya Yu.. Aku sudah mengingatkan mu dengan almarhum ayah. Aku yakin pasti ayah adalah orang yang sangat hebat karena mampu mendidik dan membesarkan kamu menjadi perempuan hebat dan tangguh. Selain itu hati kamu juga sangat baik hati." ujar Harry.


Fadia tersenyum mendengar nya. Lalu ia berucap kembali. "Kamu tahu, aku begitu beruntung di peristri dari seorang Harry Setiawan. Makasih."


Harry tersenyum lembut dan mengangguk. "Aku lebih beruntung menikahi seseorang yang sudah tahu aku dari dulu." ucap Harry seraya mengecup kening Fadia.


"you trust me so much. And I'm happy about that."


(kamu sangat mempercayaiku. Dan aku senang tentang itu.)


"And I hope happiness always accompanies our household."


(Dan aku harap kebahagian selalu menyertai rumah tangga kita.)


Keduanya tersenyum dengan tatapan cinta.


"Kamu jelek Rry." Fadia terkekeh.


Harry mencebik bibir nya walau akhirnya ia tetap memuji istrinya dengan mengatakan. "Kamu cantik." ini yang ia suka, Fadia selalu tersipu malu setiap ia mengatakan 2 kata tersebut.

__ADS_1


🌸


Bersambung...


__ADS_2