Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Kamu adalah hidupku


__ADS_3

Hari Minggu adalah hari keberuntungan bagi Fadia. Bagaimana tidak? hanya di hari Minggu lah Harry mengijinkan Fadia untuk bebas memasak dan pekerjaan rumah lain nya.


Kenapa bebas? karena kedua art mereka setiap tanggal merah sengaja Harry liburkan.


Fadia baru saja selesai mencuci pakaian lalu membawanya kebelakang rumah untuk di jemur. Ia melihat anak sulungnya sedang membuang sampah sehabis menyapu halaman.


"Sudah selesai mas Gadhing sapunya?" tanya Fadia setelah melihat anak sulungnya menyimpan sapu lidi dan skop kebelakang rumah.


"Sudah bun, ayah mana bun?"


"Ayah masih kerja di kamar, jangan ganggu dulu ya.."


Saat ini Harry sedang sibuk menghitung penghasilan dari bisnis properti nya karena ia akan menambah rumah kontrakan lagi.


"Iya, Gadhing mau temenin bunda saja boleh?"


Fadia tersenyum dan mengangguk. Beruntung sang suami tidak melihat ia mengangkat pakaian satu ember keluar rumah. Jika tahu pasti akan mengomel seharian.


"Ayo kita masuk sayang.. Bunda mau masak untuk sarapan." ajak Fadia berjalan beriringan dengan Gadhing.


...****...


Selesai menghitung biaya pembangunan rumah dari bahan hingga ongkos kuli bangunan Harry melihat jadwal sang istri Minggu ini.


Ia sengaja semua jadwal sang istri ia yang pegang agar kesehatan Fadia tetap dalam pengawasan nya. Bukan maksud mengekang tapi memang beginilah dirinya, semua tentang Fadia dan Gadhing adalah tanggung jawabnya.


Seperti Minggu ini ia akan menemani Fadia mengikuti senam ibu hamil sekalian ia akan nge-gym disana. Ada juga jadwal pengajian di rumahnya hari Kamis sebagai penutupan pengajian menyambut Ramadhan.


"Sayang.. Mau aku masakin apa?" tanya Fadia ketika sudah berada di dalam kamar.


"Terserah saja sayang.."


Fadia cemberut. "Kok terserah sih mas? nanti aku masak yang aku mau kamu nya tak mau."


Harry menoleh melihat sang istri tengah cemberut. "Ya sudah ikan nila asam manis saja kalau gitu."


Fadia mencebik bibir. "Tak ada ikan nila mas.. Lupa kalau semalam kita tak jadi ke pajak?"


"Apapun yang ada di kulkas itu buat masakan mu Yu.. Aku akan makan apapun yang kamu masak."


"Wwiihh.. Ya ada beberapa lauk di kulkas masak semua di masak."

__ADS_1


Harry menghela nafas panjangnya. "Ya sudahlah, kita makan lontong sayur saja yuk di depan.."


"Oohh.. Jadi kamu sudah tidak mau lagi aku masakkan?"


"Eh.."


"Kenapa sih kamu tidak kayak kak Ricky kalau di tanya mau makan apa sama Elsa pasti langsung di jawab apa yang dia mau." kata Fadia cemberut karena bingung harus masak apa dan ia tidak suka jika Harry menjawab terserah.


Harry tersenyum masam ketika di bandingkan dengan sahabatnya sendiri. Padahal maksud dari terserah karena selama ini ia selalu makan apapun yang di masak dengan Fadia.


Tapi hari ini tumben sekali sang istri bertanya mau dimasakkan apa.


Harry bangkit menuju kamar mandi namun sebelum masuk kamar mandi ia mengucapkan sesuatu.


"Ya sudah mulai sekarang masakkan saja kak Ricky mu itu Yu.."


Brak..


Fadia terlonjak kaget mendengar suara pintu kamar mandi tertutup cukup keras. Ia pun mencerna apa saja yang ia katakan.


"Pantas saja marah, oh ya ampun.. Kenapa mulutmu tak kau filter dulu Fadia.. Lihat suami mu marah." ucapnya sembari menyediakan pakaian sang suami. Ia ingat hari ini adalah jadwal Fadia senam otomatis Harry ikut nge-gym juga.


Selesai menyediakan pakaian olahraga mereka bertiga, ia langsung ke dapur untuk menggoreng telur dadar dan telur mata sapi untuk suami dan anak nya. Kemudian mengisi air minum di botol untuk bekal saat senam nanti.


...****...


Senyuman itu mengembang lalu ia memakai nya. Ia tahu Fadia tidak bermaksud untuk membuatnya marah ataupun merajuk. Fadia hanya ingin dirinya mengatakan apa yang ia mau bukan menyerahkan apapun pada Fadia.


Ia tahu jika Ricky memang seperti itu. Ricky terbiasa menjadi pemilih makanan karena sedari kecil bisa di bilang Ricky di manja kedua orangtuanya karena anak semata wayang.


Sedang dirinya sudah terbiasa makan apa yang ada di masak sang ibu. Itu makanya ia tidak pernah protes jika Fadia hanya menggoreng telur saja jika hari Minggu begini.


Harry keluar kamar mencari sang istri di dapur. Sungguh ia tidak marah lagi persoalan tadi.


"Sayang.. Maaf ya, aku tidak bermaksud seperti itu tadi." kata Fadia saat melihat Harry masuk ke dapur.


Harry mengangguk dan mengecup kening lalu bibir Fadia. Kemudian berjalan menuju rak piring mengambil gelas untuk membuat susu hamil Fadia.


"Aayaahh.." seru Gadhing baru masuk ke dapur.


"Hai anak ayah.. Kamu dari mana?" tanya Harry sembari meletakkan susu di atas meja makan.

__ADS_1


"Gadhing dari kamar ayah.. Bunda, apa sarapan kita sudah matang? Gadhing sudah lapar."


"Sudah, makan lah.. Sudah di atas meja makan."


Harry tersenyum melihat apa yang di masak Fadia. Ia tidak protes hanya gemas pada Fadia saja. Harry mencium pipi Fadia dengan gemas hingga menekan pipi Fadia melalui ciuman nya.


"Mmaass.. Sakit ih, tidak malu di lihat Gadhing." gerutu Fadia sembari mengusap pipi yang baru saja di cium Harry.


Harry hanya cengengesan seraya duduk di kursi meja makan menunggu Fadia. "Kamu tidak sarapan Yu?" tanya Harry karena ia hanya melihat dua piring di atas meja.


Fadia menggeleng. "Aku tidak selerah makan mas.." sahutnya duduk di antara Harry dan Gadhing.


Harry dan Gadhing selalu tidak ingin Fadia harus memilih duduk di dekat siapa. Keduanya memang sangat dekat, namun jika menyangkut dengan Fadia maka keduanya adalah rival yang tidak di sadari Fadia.


"Bun.. Gimana kalau kita beli mobil." celetuk Harry sembari menyuapi Fadia. Harry dan Fadia sepakat memanggil ayah dan bunda jika di depan anak-anak nya.


Fadia mengerutkan dahi. "Untuk apa yah?" tanya Fadia setelah suapan Harry telah tertelan.


"Anak kita sudah mau nambah dua. Mana lah bisa kita pergi naik motor berlima."


Fadia menghela nafas membenarkan apa yang dikatakan Harry, tapi jika beli mobil akan susah saat mereka akan pindah tugaskan.


"Tapi gimana nanti kalau kita pindah tugas yah? terus kita kan mau bangun rumah lagi."


Harry tersenyum dan ingin mengecup bibir Fadia namun diurungkan karena ucapan sang anak.


"Ayah terus yang ciumin bunda, Gadhing saja dari tadi belum ayah cium."


Harry cengengesan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Sini ayah cium mas Gadhing nya.." Harry beranjak menghampiri sang anak lalu menciumi pipi Gadhing.


"Sini adik-adik mas Gadhing juga ayah cium." ujarnya lalu menciumi perut Fadia yang buncit.


Sedari tadi Fadia hanya tersenyum bahagia. Sungguh ia bersyukur dinikahi Harry. Sahabat dunia maya nya yang menemani selama 11 tahun.


*Kamu adalah hidupku Harry.. Ya Allah.. kali ini saja aku memaksa mu untuk tetap mempersatukan kami sampai ke kehidupan selanjutnya.


🌸*


Bersambung...


*Udah hari Senin nih.. Yok vote karya emak..

__ADS_1


Emak sayang kalian*..


__ADS_2