Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Gara-gara sahur


__ADS_3

Sikap antusiasme umat muslim sedunia menyambut bulan suci Ramadhan. Khususnya


di daerah tempat tinggal Fadia dan Harry.


Bisa dikatakan ini adalah sebuah kebiasaan untuk para remaja keliling desa sekitar dan perumahan kebun membangunkan para warga untuk bersiap melakukan sahur sebelum berpuasa pagi hari hingga petang.


Tak lupa para remaja membawa bedug, botol, sendok, dan barang apapun yang menurut mereka bisa mengeluarkan suara.


Dan saat melewati rumah warga dalam keadaan lampu padam maka para remaja ini akan berhenti melangkah dan tetap bersorak sahur sampai lampu rumah tersebut telah menyala.


Pukul tiga dini hari mereka sudah mulai berkeliling.


...****...


Di kamar rumah jabatan Harry.


Harry dan Fadia baru selesai sholat sepertiga malam. Fadia mencium punggung tangan Harry setelah kedua nya selesai membaca Al'quran.


Harry melepas mukenah yang dikenakan Fadia. Di pandangi wajah cantik sang istri dengan cinta.


"Ayu.. Bangun.." Harry menirukan nada bicara nya dulu ketika ia membangunkan Fadia untuk sahur tiap tahun nya melalui telepon.


Fadia terkekeh. "Iya aku bangun."


"Mas selalu saja lebih dulu bangun daripada aku." sambung Fadia lagi.


"Kamu benar, dulu juga aku lebih dulu membangunkan mu Yu.. Tapi aku suka." jawab Harry jujur.


Fadia mengecup pipi sang suami. Lalu bibir keduanya berpagutan mengantarkan apa yang harus terlepaskan.


Tubuh keduanya masih menyatu di atas tempat tidur. Fadia meminta Harry untuk melepaskan penyatuan karena ia harus menyiapkan makanan untuk sahur.


"Mas.. Awas ih.. Aku harus mandi dan siapin sahur kita."


Harry menggeleng sembari maju mundurkan pinggulnya perlahan. "Apa kamu tidak merasakan junior masih mau lagi?"


"Mas.. Besok malam lagi kan bisa.." sahut Fadia dengan suara tertahan.


"Oke besok malam lagi, tapi biarkan aku menyelesaikan ini."


Fadia hanya pasrah karena tahu sang suami tidak akan pu as hanya sekali pelepasan. Kamar itu kembali dihiasi suara alunan merdu bersahutan. Peluh keringat membasahi keduanya. Hingga saat ini Fadia sering kewalahan menghadapi fantasi liar sang suami.


Dan Fadia suka akan hal itu.


Sahur sahur

__ADS_1


Sahur sahur


Sahur sahur


Ayo kita sahur...


Harry menghentikan gerakan nya dan saling pandang. Harry baru tahu jika di daerah tempat tinggal nya ini membangunkan warga untuk sahur dengan keliling perumahan kebun dan desa karena di tempat-tempat ia bertugas biasanya hanya dari mesjid saja menggunakan microphone.


"Mas.. Lepas dulu, mereka tak akan pergi sebelum lampu rumah nyala."


Harry menggeleng. "Sudah kepalang tanggung Yu.." setelah mengucapkan itu, Harry kembali menggerakkan pinggulnya dan Fadia hanya bisa pasrah menikmati permainan.


Ibu-ibu bapak-bapak yuk kita bangun sahur


Besok kan kita akan berpuasa


Berpuasa kita akan dapat pahala


Tidak puasa akan dapatkan dosa


Para remaja itu sepertinya tidak menyerah membangunkan keluarga kecil yang rumahnya belum menampakkan jika sang tuan rumah sudah terbangun.


Mereka terus saja memukul bedug, mendetingkan botol kaca lebih keras agar sang pemilik rumah bangun. Mereka mengira jika lampu rumah masih padam itu karena belum bangun.


...****...


Ia lirik jam dinding hampir pukul empat subuh. Akhirnya ia pasrah dengan keadaan padahal ia sendiri belum pelepasan.


"Nanti di sambung lagi.." ucap Fadia menenangkan sang suami. Ada rasa iba melihat wajah Harry berubah menjadi muram.


Harry meraup wajah dengan kasar karena perasa pusing karena has rat nya belum tersampaikan.


"Mana ada waktu lagi Yu kalau mau di sambung." keluh Harry sembari menuju kamar mandi.


Fadia tidak menanggapi, dengan selimut terlilit di tubuhnya ia membuka pintu sudah ada Gadhing berdiri disana.


"Bunda.. Abang-abang di luar ribut kali." keluh Gadhing.


Fadia hanya mengacak rambut sang anak karena gemas dan Gadhing patut di puji karena tidak takut dengan ruang gelap.


Tentu Gadhing tidak takut karena dulu saat keduanya tinggal berdua, sudah hal wajar mereka tinggal di rumah dalam kegelapan hanya di bantu sinar dari lilin. Itu karena apa? tentunya karena Fadia tidak memiliki uang lebih dari dua puluh ribu untuk mengisi pulsa token listrik rumahnya.


Fadia pun berjalan ke tempat saklar lampu ruang tamu barulah para remaja di luar sana tampak berjalan menjauhi rumah mereka.


"Mas Gadhing ke kamar dulu ya.. Bunda mau ke dapur dulu panasi lauk kita. Mulai besok mas Gadhing harus belajar puasa." Sebenarnya Fadia akan mandi dulu sebelum menyiapkan makanan untuk sahur.

__ADS_1


Fadia kembali ke kamar tidak mendapati Harry disana. Ia pun masuk kamar mandi yang sengaja tidak di kunci oleh Harry.


Mata Fadia membola melihat apa yang di lakukan Harry. "Sayang.. Apa yang kamu lakuin?"


Harry yang sedang membelakangi Fadia pun menoleh melihat Fadia. Ia pun menghampiri Fadia. "Tolong aku Yu.. Kepala ku sakit karena ini."


Fadia mengangguk dan berlutut dengan hati-hati. Ia mulai mengu lum junior Harry yang berdiri tegak di depannya itu.


Fadia mendongak menatap mata sayu Harry. Selalu saja ia terpesona pada ketampanan Harry dan ia suka melihat wajah Harry yang sedang di kuasai naf su.


"Aahh.. sayang.." erang Harry saat cairan masa depan itu sudah tumpah keluar dan membasahi dada Fadia.


Harry membantu Fadia berdiri dan membersihkan cairan masa depan nya itu. Lalu mengecup seluruh wajah Fadia.


"Makasih Yu.. Kamu memang selalu buat aku puas. Ayo kita mandi, keburu imsak."


Mandi wajib sudah, makanan untuk sahur sudah tersedia di meja makan, teh hangat untuk Harry, susu untuk Gadhing, dan susu hamil untuknya, dan Gadhing sudah bangun sedari tadi. Kini keluarga kecil itu tengah menikmati makanan nya masing-masing.


Sebenarnya Harry sudah melarang Fadia untuk berpuasa karena ia khawatir pada Fadia dan kedua anaknya. Tapi seperti biasa, Fadia akan ngeyel dan keras kepala jika ia semakin melarang nya.


"Kalau ngerasa tak baik-baik saja langsung buka puasa saja ya Yu.."


"Kami sehat kok mas."


Harry mencebik bibir lalu ia beralih menasehati anak sambungnya. "Mas Gadhing tidak boleh diam-diam makan atau minum ya, itu dosa namanya. Jangan terlalu banyak lari-lari. Kalau bosan diam di rumah ajak bunda ngaji atau nyanyi. Jangan kelayapan."


Gadhing mengangguk lemah. "Iya ayah."


Ia kembali memberi peringatan pada sang istri karena hatinya benar-benar tidak rela Fadia berpuasa.


"Bunda harus banyak istirahat, jangan mengerjakan apapun selain mencuci pakaian ayah dan vitamin nya di minum juga."


Ya, Selama sudah menikah Fadia tidak memperbolehkan art nya mencuci pakaian Harry. Ia akan sangat posesif dengan hal mengenai keperluan Harry.


"Iya ayah.."


Berasa di ceramahin guru. gumam Fadia sembari melirik ke arah Harry.


"Ya sudah ayo kita ke mesjid."


Fadia dan Gadhing hanya bisa pasrah jika Harry sudah dalam mode profesi sebagai suami.


🌸


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2