
"Siapa bi?" tanya Fadia pada art nya bernama bibi Minah itu.
"Anu Bu, ada tamu." jawab bibi Minah.
"Kenapa tidak disuruh masuk saja Bi?" tanya Fadia lagi tanpa mengalihkan pandangan nya karena ia sedang fokus membungkus lemet pisang.
"Tamu nya laki-laki Bu, bibi mana berani suruh masuk nanti bapak marah."
Ya, Harry sudah memperingati art nya itu untuk tidak menyuruh masuk tamu jika berjenis kelamin laki-laki.
Fadia menghela nafas panjang. "Buatkan minum ya Bi, sama kasih lemet pisang yang sudah matang tadi."
"Baik Bu." Bibi Minah berlalu untuk membuat teh dan lemet pisang.
Sedangkan Fadia mengelap tangan kemudian mengambil ponsel untuk menghubungi sang suami.
"Assalamualaikum mas.." ucap Fadia ketika panggilan telepon nya di angkat Harry.
"Waalaikumussalam sayang.. Ada apa? apa kamu baik-baik saja?"
Fadia tersenyum dicerca pertanyaan dari Harry. Ternyata kebiasaan sedari dulu tidak berubah jika Fadia lebih dulu menghubungi nya.
"Mas sibuk?"
"Tidak jika untuk kamu, ada apa sayang?"
Ia tahu betul dari suara Harry bahwa suaminya disana sedang khawatir.
"Ada tamu dirumah. Tamu nya laki-laki. Aku belum lihat siapa orang nya mas."
"Mas pulang sekarang."
"Iya, Hati-hati mas. Assalamualaikum."
"iya. Waalaikumussalam."
Setelah mengakhiri panggilan telepon, Fadia segera membersihkan diri ke kamarnya namun sebelum melangkah ia memberi titah untuk sang art.
"Bi, tolong terusin ya. Aku mau ke kamar dulu."
"Iya Bu." jawab bibi Minah dengan nampan di tangan nya.
...****...
"Terimakasih ya Bi." ucap Ricky.
"Sama-sama mas."
"Oh iya, Ayu nya kemana ya Bi?" tanya Yudha karena sedari tadi tidak melihat istri sang sahabat.
"Ayu siapa ya mas?" tanya bibi Minah karena ia merasa tidak mengenal orang yang namanya Ayu di rumah majikannya.
"Fadia bi." jawab Ricky karena ia tahu kalau istri sahabatnya itu di kenal dengan nama Fadia.
"Oh ibu sedang di dalam mas."
"Kenapa dia tidak menemui kita Rick?"
Ricky hanya mengedikkan bahu tanda tidak tahu.
__ADS_1
"Mana dikasih bapak mas. Ya sudah saya tinggal dulu ya mas, di minum teh nya sama di makan makanan nya ya. Permisi." pamit bibi Minah.
Kedua pemuda tersebut hanya mengangguk dan melihat art sang sahabat. Ketika art tersebut masuk, Yudha berkata. "Kita apakan nanti si Harry?"
"Hajar lah, apalagi?"
"Aku setuju."
...****...
Harry turun dari sepeda motor saat ia sudah sampai di depan rumahnya. Tak lupa ia melepas helm dan menyugarkan rambut hitam nya ke belakang.
Ketika pandangan nya terkunci pada dua orang sedang duduk di teras rumahnya. Ia kenal betul siapa dua orang tersebut. Sedetik kemudian ia terperanjat.
"Ngapain kesini?" tanyanya sendiri seraya melangkah ke rumahnya.
...****...
"Assalamualaikum.." ucap Harry.
"Waalaikumussalam.." jawab keduanya.
"Duduk." titah Ricky seakan ialah pemilik rumah.
Dan lihat, bagai kerbau di cunguk hidung nya. Menurut tanpa protes ataupun bertanya.
"Apa kamu tidak malu sama kelakuan mu Harr? Dulu saja ogah-ogahan sama perempuan. Kenapa sekarang malah main hati perempuan heh?" cerca Ricky.
Harry mengerutkan dahi. "Maksud mu apa Rick?"
Ricky bangkit menghampiri Harry yang sudah berdiri karena di dekati nya.
Harry terserobok ke lantai dengan darah segar mengalir di sudut bibirnya.
"Apa ini Rick? kamu datang-datang malah menghajar ku." Harry bangkit tidak terima dengan perlakuan salah satu sahabatnya.
Ia melihat wajah santai Ricky semakin geram di tambah lagi Ricky sudah duduk seperti tidak ada masalah apapun.
"Giliran mu Yudh untuk hajar sahabat kita ini." ujar Ricky menatap Harry dengan senyum sinis nya.
"Aku tidak berani Rick, Dia calon kakak ipar ku."
Ricky hanya mencebik bibir saja.
Karena Harry adalah pria yang lebih tenang dibanding kedua sahabatnya, ia hanya menunggu penjelasan dari keduanya.
Jika Harry si tenang, maka Ricky si emosian, dan Yudha sebagai penengah.
Jika Harry susah jatuh cinta dan cuek pada lawan jenis, maka Ricky adalah si playboy dan player, dan Yudha si baperan paling setia.
Tapi perlu di ingatkan. Ketiganya membuat kesepakatan untuk tidak hancurkan persahabatan apalagi masalahnya hanya karena wanita.
"Kamu apakan Ayu Harr? jangan macam-macam kamu. Jangan menjadi jahat saat sudah menikah." Setelah ketiganya ditelan keheningan akhirnya Ricky mengeluarkan suaranya.
"Apa maksud mu? aku hanya membuat ayu hamil kenapa harus di hajar kayak gini?" Harry sudah mulai kesal karena sudut bibirnya terasa perih.
"Jadi apa maksud dari gosip itu? bahkan tukang becak saja bisa tahu gosip tentang cinta segitiga kalian." Ucap Ricky yang masih geram dengan Harry.
Kini Harry mengerti apa masalahnya sekarang. Ia merutuki Elsa yang telah lancang menaruh hati padanya.
__ADS_1
"Itu salah paham." Akhirnya Harry menceritakan dari Elsa mengungkapkan perasaan nya, lalu Fadia kecelakaan hingga mengetahui hamil.
...****...
Di tengah perbincangan ketiga sahabat itu, Fadia berniat melihat ke depan apakah sang suami sudah kembali atau belum karena ia merasa tidak enak dengan tamu sang suami.
Tadi ia tidak mendengar keributan di teras rumah karena sedang mandi dan kebetulan air dari pom air kebun masuk menjadikan ia tidak tahu apapun yang telah terjadi di luar kamarnya.
Setelah berpakaian rapi, ia membuka pintu utama rumahnya.
Ia terperanjat saat melihat wajah sang suami. Lalu ia menatap tajam kedua sahabat sang suami.
"Sayang.. Kamu kenapa?" Ia mendekati sang suami menyentuh sudut bibir nya yang mulai membengkak.
Ketiga pria bersahabat itu menelan saliva kasarnya. Harry ingin mengaku tapi memang begini lah mereka bertiga. Jika ada yang membuat masalah akan kena bogeman dari salah satunya.
"Tadi ada sedikit masalah di kerjaan Yu, tidak apa-apa." jawab Harry berbohong.
Mata Fadia menjadi berkaca-kaca. Ia pun berlalu begitu saja masuk ke dalam rumah.
"Apa Ayu marah Harr?" tanya Yudha merasa tak enak hati.
"Kalau tahu ulah kalian pasti marah lah." jawab Harry santai.
"Kenapa kamu bogem aku terlalu keras Rick? Ahh ini sakit." keluh Harry karena merasa sakit di sudut bibir nya.
Ricky yang di tanya hanya mengedikkan bahu. "Rasain. Kesempatan Harr, selama ini hanya kami yang membuat masalah dan kamu yang kasih bogeman." Ricky dan Yudha tertawa sedangkan Harry melengos.
Keributan berhenti tatkala Fadia kembali bergabung dengan membawa mangkuk berisi air untuk mengkompres sudut bibir Harry.
"Sini aku obati dulu." ucap Fadia dan di anggukan kepala Harry sebagai jawaban.
Sebelum di kompres, Fadia memandangi luka itu. Tentu ia sangat sedih melihatnya. Selain tidak tega ada rasa tidak rela wajah sang suami berubah sedikit bengkak begitu.
Cup
Fadia mendaratkan kecupan di sudut bibir Harry yang terluka. Lalu dengan lembut ia mengompresnya.
"Aku tidak selugu itu, aku tidak sepolos itu, dan aku tidak sebodoh itu mas sampai kamu berbohong untuk menutupi kesalahan dua sahabat mas itu, mana mungkin karyawan atau asisten kebun berani buat kamu begini." Fadia berbicara dengan lembut. Ia tidak marah, hanya tidak suka Harry berbohong. Padahal jika Harry jujur ia juga tidak akan marah dengan kedua sahabatnya.
Ketiga sahabat itu memiliki privasi bukan?
"Maaf." ucap ketiganya bersamaan.
"Sudah jangan di pikirkan. Aku cuma tidak rela wajah genteng suamiku tergores."
Kedua sahabat Harry mencebik bibir sedangkan Harry terkekeh mendengar nya.
"Baiklah, sekarang temani aku ke kota mencari sesuatu." celetuk Ricky.
"Cari apa Rick?" tanya Yudha.
"Keperluan untuk melamar Elsa."
"APA?"
🌸
Bersambung..
__ADS_1