
Sehari setelah Fadia kecelakaan. Di perkebunan tampak ramai. Kisah cinta segitiga antara 2 karyawan dengan sang Asisten Afdeling menjadi tranding topik.
Elsa menyadari hal itu jika ia lah menjadi bahan gunjingan para karyawati. Tapi apa mau dikata? bukankah ini konsekuensinya jika menyukai suami orang? terlebih lagi suami sahabat sendiri.
Padahal niat nya hanya mengungkapkan perasaan saja kemarin, tapi ia terbawa emosi karena Harry menatapnya dengan tatapan jijik.
Memang di hatinya ada rasa bersalah pada Fadia, tapi ia juga tidak bisa di salahkan seluruhnya. Bukan kah hati tidak bisa dipaksakan pada siapa ia jatuh cinta?
Perhatian Harry ke Fadia membuat ia iri dan menyesal kenapa dulu tak meminta nomor ponsel Harry pada Fadia.
Ia berpikir jika dulu juga berteman dengan Harry pastilah ia bisa mendapatkan hati Harry. Ah, penyesalan selalu datang terlambat.
Sekarang ia sendiri, tidak ada lagi pacar. Niko sudah ia putuskan saat acara ngunduh mantu Fadia dan Harry di Malang 2 bulan lalu.
Entah apa yang membuat ia memutuskan Niko yang jelas-jelas sudah menikmati separuh tubuhnya.
Dan sekarang ia merasa Harry semakin jauh padanya. Sangat jauh dan tak tergapai. Bagaimana nasib hatinya pun ia sudah tidak tahu.
...****...
Selama Fadia di rumah sakit, Harry hanya fokus pada tugas nya saja. Saat sore hari pun ia hanya datang ke blok untuk mengecek buah kelapa sawit dan berondolan nya di TPH tanpa harus masuk belusukan ke dalam ancak.
Tidak lupa ia berkirim pesan pada sang istri untuk mengurangi rasa khawatirnya. Ingin sekali rasanya berada di dekat sang istri, namun apa daya pekerjaan tidak bisa di tinggal.
Beruntung sekarang ia menggunakan art yang bisa menemani sang istri dan juga Gadhing. Jika tidak, bisa di pastikan ia akan sangat kerepotan.
Harry :
"Aku tanpamu bagaikan sego kucing tanpa karete. Ambyar."
(Aku tanpamu bagaikan nasi kucing tanpa karet, hancur.)
Tidak lama Harry menunggu balasan dari Fadia karena sedari tadi mereka bertukar pesan.
Fadia :
Preett 😋🤣
Harry pun terkekeh membaca balasan dari Fadia.
Harry :
Minta di gigit ya lidahnya?
Lama ia menunggu balasan dari Fadia tapi agaknya sang istri tidak lagi membalas. Tidak mempermasalahkan, mungkin sang istri sedang istirahat pikirnya. Ia pun memilih untuk kembali ke kantor karena sedari tadi ia berada di blok pemanen.
...****...
RSUD dimana nama pasien Fadia Rahayu di rawat.
"Nik. Ngapain kesini?" tanya Fadia kala Niko masuk ruang rawat inap dengan membawa satu kantung plastik besar berisi buah apel, pisang, dan jeruk. Satu kantung plastik lagi ia tidak tahu.
__ADS_1
Niko berjalan ke arah brankar menyerahkan satu kantong plastik pada Fadia.
"Ini khusus untukmu. Sangat bagus untuk si kembar." ucap Niko.
Niko tahu Fadia masuk rumah sakit dan hamil dari Fadia sendiri karena sampai sekarang keduanya masih berteman baik.
Memang Niko masih memiliki perasaan pada Fadia, tetapi pria itu menjaga jarak dan tahu batasan. Terpenting ia tahu bahwa Fadia bahagia dengan pernikahannya yang sekarang tanpa ingin mengusik hubungan Fadia dengan suaminya.
Awalnya ia ingin mengundang Fadia ke acara makan-makan karena ia baru saja mendapatkan bonus tahunan di tempatnya bekerja untuk pertama kali.
Saat itulah ia menghubungi Fadia dan diberitahu jika Fadia masuk rumah sakit karena kecelakaan dalam keadaan hamil kembar.
"Itu dessert alpukat, brownies alpukat, dan es lilin alpukat." ucap Niko kembali duduk di sisi kanan brankar Fadia.
"Makasih.. Siapa yang buat?" tanya Fadia.
"Es lilin nya ibu ku lah.. Kalau brownies sama dessert nya aku beli tempat kawan ku. Beruntung kali ini masih musim alpukat jadi ada jual olahan alpukat dia." jawab Niko.
Dimata Fadia olahan alpukat yang di bawah Niko sungguh menggugah selera. Tapi ia ragu, betapa tidak enaknya alpukat menurut lidah nya.
"Jangan cuma di lihat saja, tapi di makan Yu.. Aku sudah bawa ini semua khusus bumil."
"Tahu dari mana kalau buah dan olahan alpukat ini khusus untuk bumil?"
"Dari Mbah Google lah."
Fadia hanya mencebik bibir saja sembari mengambil es lilin alpukat dan mencobanya.
"Enakkan? ibu sengaja banyakin susu biar rasa alpukat nya tidak terlalu kentara." ucap Niko saat mengetahui Fadia merasa baik-baik saja.
"Makasih banyak loh.. Sudah sana pulang, sebentar lagi lakikku mau kesini. Bisa berabe nanti." usir Fadia.
"Ya ampun Fad.. Aku duduk belum ada sepuluh menit sudah di usir saja. Aku persis bang ojol." gerutu Niko namun ia tetap bangkit.
Baru dua langkah Niko berjalan menuju pintu tapi pintu sudah terbuka.
"Assalamualaikum.." ucap Harry yang awal bersemangat berubah pelan tatkala melihat siapa yang berada di dalam kamar rawat inap sang istri.
Mendadak suasana kamar tersebut menjadi hening mencekam. Fadia dapat melihat wajah Harry berubah dingin, bersyukur ada art dan Gadhing juga di dalam kamar nya.
"Waalaikumussalam mas.." jawab Fadia sembari mencium punggung tangan Harry setelah Harry mendekat pada Fadia.
"Kalau gitu aku pulang Fad.. Bang." ujar Niko karena ia merasa tidak enak hati dengan suami Fadia.
Setelah Niko keluar membuat Fadia menjadi kikuk pada Harry. Bingung harus berbuat apa.
Hening.
"Mas bawa apa?" tanya Fadia saat melihat sang suami membawa satu kantung plastik.
Harry pun mengeluarkan 4 cup jus alpukat dan menyerahkan satu untuk Fadia, bibir art, Gadhing, dan untuk dirinya.
__ADS_1
Mam to the pus ! Kenapa harus jus?
"Di minum." titah Harry karena ia masih berusaha meredam rasa cemburunya.
Ah aku lupa Harry tidak tahu kalau aku tidak suka alpukat apalagi di buat jus begini.
Fadia menatap pias cup berisi jus alpukat tersebut. Sungguh ia tidak enak hati bila menolak namun ia tidak bisa meminum nya.
"Di minum, jangan hanya pemberian orang lain yang di makan." titah Harry lagi masih dengan wajah dingin nya.
Fadia menelan saliva kasarnya. Ia memejamkan mata karena ia tidak sanggup untuk meminumnya.
"Aku tidak bisa mas." ucapnya lirih.
"Kenapa?"
"Aku tidak suka alpukat." jawab Fadia lirih.
Dahi Harry mengkerut hingga alisnya pun menyatu. "Kalau memang tidak suka kenapa banyak kue dari bahan alpukat? bukan nya kamu juga baru abisin es lilin alpukat?"
"Niko tahu kalau aku tidak suka alpukat dan ibunya yang buatkan es lilin tadi, kalau dessert sama brownies nya dia beli katanya." Jawab Fadia jujur.
Harry menghela nafas kasar. "Ternyata hubungan kalian sangat dekat. Pantas saja dia juga tahu kamu masuk rumah sakit." kata Harry sembari bangkit mengambil jus yang ada di tangan Fadia.
Tapi Fadia menahannya. "Kami juga jadi dekat karena aku sering belajar bahasa Jawa. Dan itu demi bisa balas chat kamu atau sedang teleponan denganmu. Dan masalah dia tahu aku masuk rumah sakit karena dia hubungi aku untuk ngundang kita untuk acara makan-makan."
Setelah bicara, Fadia langsung meneguk jus alpukat tersebut dengan menahan nafas dan wajahnya memerah menahan jus itu agar tidak keluar kembali dari perutnya.
Ia meminum nya hingga menyisakan seperempat cup tersebut. Wajahnya berubah merah padam menahan perutnya terasa di aduk-aduk. Ia letakkan sisa jus itu di atas makam lalu berbaring memunggungi Harry.
Tidur meringkuk dengan tangan menahan perutnya agar tidak bereaksi untuk memuntahkan jus alpukat itu.
Detik berikutnya ia bangkit menuju kamar mandi menghiraukan Harry yang mengejarnya.
Brakk
Fadia menutup pintu kamar mandi sedikit keras lalu mengunci nya. Di muntahkan semua yang ada di dalam perutnya termasuk makan siang yang tadi ia makan.
Setelah di siram nya muntahan itu, di bawahnya mulut dan wajahnya. Ini pertama kalinya ia turun brankar sendiri tanpa bantuan Harry maupun art nya.
Ia sadar salah tidak memberi tahukan hal yang tidak di sukainya. Karena selain alpukat, tidak ada lagi makanan yang tidak disukai. Jadi ia berpikir bahwa bisa mengatasinya dan tidak akan mungkin meminumnya.
Tapi ia juga tidak tahu jika hamil kali ini di anjurkan untuk banyak mengkonsumsi alpukat.
Masalah Niko dekat dengan dirinya juga semua berawal karena pertemanan antara ia dan Harry di mulai. Bukan kah Niko yang membuat ia dan Harry saling mengenal?
Mengapa Harry lupa akan hal itu?
Fadia menghela nafas panjang.
*Hah.. Semua gara-gara alpukat.
__ADS_1
🌸*
Bersambung..