Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
bingung


__ADS_3

Ayam berkokok menandakan matahari segera menampakkan senyum terik nya. Pagi pertama untuk Fadia tanpa keramaian sanak saudara dari pihak sang suami.


Selepas subuh tadi ia sudah berada di dapur bersama ibu mertuanya. Keduanya tidak memasak, hanya memanasi lauk dan sayur menu acara pesta ngunduh mantu yang sengaja ibu mertuanya simpan.


"Ndok.. Mana suami mu?" tanya ibu Harry.


"Mas Harry masih tidur Bu." jawab Fadia dengan mengucapkan kata mas di depan orang tua Harry.


"Ndok.. Kamu sangat dekat dengan sahabat mu itu?" tanya ibu Harry.


"Ya. Kami sudah kenal sejak lahir Bu." jawab Fadia masih belum mengerti arah bicara sang ibu mertua.


"Kita perempuan kalau sudah menikah jangan ceritakan kelebihan suami kita yo ndok."


"Kenapa ya Bu? kan bukan keburukan nya. Bukan kah itu bagus Bu?"


"Betul yang kamu bilang Yu. Tapi apa kamu tidak pernah berpikir bagaimana isi dari hati perempuan lain? bagaimana kalau dia jadi penasaran dan ingin menempati posisi mu?"


Fadia diam mencerna apa yang di katakan ibu mertuanya. Tentu benar akan hal itu. Tapi apa Elsa akan tega melakukan hal itu? pikir Fadia.


"Ibu bukan menuduh, tapi sudah berapa kali ibu melihat teman mu memandang Harry saat kalian sedang berduaan."


Deg


"Aku tidak tahu Bu."


"Tidak apa-apa. Mulai sekarang kurangi lah kemesraan kalian di depan orang lain termasuk teman mu sekalipun."


Fadia mengangguk patuh.


"Secinta-cinta nya laki-laki kalau di goda terus menerus akan goyah Yu.. Dan semoga apa yang ibu takutkan itu adalah salah."


Apakah perasaan seorang ibu dapat di ragukan? tentu saja tidak jika menyangkut hal kebaikan. Dan Fadia bersyukur akan hal itu.


"Mulai sekarang, bercerita lah dengan ibu jika menyangkut suami mu. Ibu bukan hanya mertua mu, anggap ibu sebagai ibu mu sendiri. Jangan pernah sungkan. Karena ibu lah tempat kamu berkeluh kesah jika menyangkut Harry."


Fadia mengangguk. "Terimakasih bu."


Pikiran Fadia berkecamuk dengan apa yang dikatakan ibu mertuanya. Apa benar selama ini Elsa memperhatikan Harry? tapi kenapa ia tidak pernah tahu?


"Mbak Yu.. Kita belanja yuk.." seru Hanum yang baru tiba di dapur.


"Ayo." jawab Fadia girang.


"Ajak mbak Elsa juga ya." kata Hanum.


"Iya. Nanti setelah sarapan kita jemput Elsa dan Gadhing." ucap Fadia.


"Ajak anak mbak Fatin juga deh. Kita naik angkot biar seru."


Fadia mengangguk setuju. Ia membantu ibu mertuanya menyiapkan sarapan di meja makan. Lalu ia beranjak ke kamar untuk membangun kan Harry.

__ADS_1


"Harry bangun.." ucap Fadia mengelus kaki Harry.


"Harry.."


"Hem.."


"Ayo bangun.. Kita sarapan. Tumben habis subuh langsung tidur." tegur Fadia.


"Iya sayang. Aku mandi dulu ya." ucap Harry seraya bangkit dari tempat tidur.


Fadia mengangguk. "Aku siapin baju nya."


Harry masuk kamar mandi sedangkan Fadia melihat ponsel Harry yang menyala. Ia melihat wallpaper ponsel Harry foto dirinya.


"Sejak kapan Harry punya foto ku yang ini?" tanya Fadia berbicara sendiri.


Ia melihat foto dirinya saat liburan di pantai Pakkodian waktu itu. Dan ia ingat siang itu Harry datang mencium dan memeluk nya.



"Berarti dia memotret ku dulu baru mencium dan memelukku. Untung aku cantik."


"Kalau mau buka handphone ku sandinya tanggal pernikahan kita." celetuk Harry baru keluar kamar mandi.


Fadia bergeming dan membuka ponsel Harry. Ini adalah pertama kali ia menyentuh dan memeriksa ponsel Harry. Berbeda dengan Harry setiap hari pasti memeriksa ponselnya.


"Ternyata kamu fans berat aku ya Rry.. Banyak banget foto aku di handphone mu." Fadia tergelak melihat isi galeri ponsel Harry penuh dengan foto nya.


Fadia mengangguk. "Nanti aku minta uang ya.. Aku mau belanja sama Hanum dan Elsa."


Harry kembali ke lemari mengambil uang dari laci lemari nya. "Ini 2 juta Yu, aku tahu Hanum pasti ajak kamu ke Pasar Minggu, disana baju murah-murah. Belikan juga Elsa, Mbak Fatin, dan bang Fadil. Anak-anak juga ya.."


Entah mengapa Harry menyebut nama Elsa membuat hatinya cemburu terlebih apa yang sudah di katakan Ibu Harry membuat ia kepikiran. Tapi lagi-lagi ia tepis prasangka buruk itu.


Fadia hanya mengangguk.


Kedua nya sudah berada di meja makan. Fadia dan ibu Harry melayani suami masing-masing sebelum memulai sarapan.


"Nanti sebelum Zuhur sudah dirumah ya.. Handphone tetap aktif, jangan pisah dari Hanum. Di angkot jangan main handphone, tas selempang di pangkuan jangan biarkan berada di samping atau belakang." titah Harry memberi arahan pada sang istri.


"Iya.." jawab Fadia patuh.


"Ah iya.. Handphone sama dompet di kantongi." ujar Harry lagi.


"Aku mau pakai dress.." sahut Fadia lirih.


"Di rumah saja kalau gitu."


"Oh no..no..no.. Oke aku pakai celana."


Fadia mendesah pasrah sedangkan Harry tersenyum kemenangan. Orang tua Harry hanya menggeleng melihat pasangan pengantin baru ini.

__ADS_1


****


"Aku pergi." pamit Fadia mencium punggung tangan Harry menyalami takzim di dalam kamar.


"Kenapa tidak di depan saja salim nya Yu?" tegur Harry.


"Tidak apa-apa. Tidak baik mengumbar kemesraan. Banyak orang yang baper termasuk author." sahut Fadia terkekeh.


"Hati-hati Yu.. Aku antar saja ya.."


Fadia menggeleng. "Kurang mantap kalau belanja di mandorin lakik Rry. Tidak bisa cuci mata."


Harry menghela nafas. "Ya sudah hati-hati."


****


Fadia, Hanum, dan Elsa kini sedang menunggu angkot. Gadhing tidak jadi ikut karena sudah di angkut lebih dulu oleh bapak Harry ke rumah sang kakek karena hari ini adalah hari Minggu jadi bapak Harry membantu para pekerja peternakan sapi milik kakek.


"Mbak Ayu jangan jauh-jauh dari ku. Nanti mas Harry marah sama aku." ujar Hanum.


"Iya-iya." jawab Fadia patuh.


"Sudah kayak tuan putri ya Fad." celetuk Elsa lalu ia tertawa.


Fadia menanggapi celetukan Elsa seperti sindiran untuknya. Hatinya kembali berkecamuk memikirkan apa yang di katakan Ibu Harry tadi pagi.


"Kau pingin punya suami kayak apa El?" pancing Fadia.


"Kayak Harry."


Deg


Haruskah Fadia marah pada sahabatnya nya Elsa?


"Maksud mu?"


Elsa tampak gugup dan gelagapan karena ia keceplosan menjawab pertanyaan Fadia.


"Maksud ku yang sifatnya kayak Harry Fad. Jangan curiga gitu."


"Ya dan aku juga tidak akan membiarkan orang lain merebut milikku. Dan aku yakin kamu benar-benar sahabatku."


Fadia mencoba mencairkan suasana lagi. Mereka banyak bercerita di dalam angkot dengan Fadia menuruti intrupsi Harry tadi.


****


"Temani aku ke pasar Minggu." ucap Harry saat baru tiba di kafe Yudha.


"APA?"


🌸

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2