Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Perpisahan


__ADS_3

"Maafkan mas yang tidak bisa membahagiakan mu Num."


Hanum hanya mengangguk tak sanggup mengeluarkan suara karena sedari tadi tanpa diminta air mata itu terus saja mengalir.


Dengan sigap Niko mengusap air mata itu. Sungguh ia tak ingin ini terjadi, namun hati tak bisa untuk memaksa bersama.


Tepat setahun sudah terlewati setelah Hanum bertemu dengan Yudha di pasar. Sejak saat itu pula Hanum tak pernah bertemu kembali dengan Yudha. Ia lebih memilih berada di rumah saja menjaga si kembar. Dan hingga kini ia belum hamil juga.


"Maafin Hanum yang nggak bisa jadi istri yang baik untuk mas."


Keduanya saling berpelukan di tengah keluarga nya yang ikut mengantar Niko ke Bandara.


Di kecup pucuk kepala Niko. Dan ia melepaskan pelukan itu setelah panggilan bahwa pesawat akan segera berangkat.


"Sudah waktunya Num."


Hanum mengangguk.


Niko menghela nafas. "Bismillahirrahmanirrahim, dalam keadaan sadar menjatuhkan talak kepadamu Hanum Inayah. Dan sekarang haram bagiku untuk menyentuhmu."


Hal inilah yang sudah mereka sepakati tetapi sama saja ini adalah hal paling menyakitkan. Tak dipungkiri kedua nya mengakui bahwa mereka sudah melakukan hal terbaik satu sama lain namun menyadari bahwa hanya sampai disini mereka dapat bersama.


Niko pamit kepada semua orang termasuk kedua mertua nya yang sebelumnya sudah memberi izin atas keputusan mereka berdua.


Awalnya tak setuju hingga sampai satu tahun dilewati akhirnya kedua orang tua Harry setuju.


"Tetaplah bahagia Num. Mas pamit."


"Mas juga harus bahagia, carilah pengobat luka hati mu mas. Aku percaya akan ada wanita lain yang memberi mu cinta begitu luas dan dalam sama seperti perasaan mu ke mbak Ayu." ucap nya lirih tak ingin Harry dan Fadia mendengar itu.


"Kamu juga."


Lalu Niko mengalami Harry dan berpamitan padanya. Dan ketika di depan Fadia, ia hanya bisa mengatup kedua tangan sama hal dengan Fadia lakukan.


Ia sadar, sekarang Fadia tak lagi mau bersentuhan dengan mereka yang tak muhrim baginya.


...****...


Hati siapa yang tak terluka melihat adiknya bercerai dengan suaminya?


Awalnya Harry tak terima keputusan mereka namun melihat bagaimana mereka tak bahagia atas pernikahan mereka membuat ia terpaksa menyetujui nya.


Ia tahu, hati adiknya masih untuk sahabatnya. Namun bukan berarti ia ingin membuat mereka kembali bersama.


Tidak, karena hingga kini Hanum belum mengetahui bahwa Yudha sudah menjadi Duda dari setahun yang lalu.


Harry memboyong keluarga nya pulang ke rumah. Tidak ada yang berbicara di dalam mobil selain ketiga anaknya.


Senyuman nya mengembang ketika melihat ketiga anaknya saling bercerita melalui kaca spion yang ada di dalam mobil.


"Bunda.. Gadhing mau di panggil abang saja."

__ADS_1


Fadia menoleh menatap anak sulung. "Kenapa mau dipanggil abang?"


"Kata Om Niko, Gadhing anak Medan."


Harry tersenyum lagi. "Oke, Gadhing dipanggil abang mulai hari ini."


Gadhing bersorak gembira dan sikembar juga mengikuti nya. Gadhing yang begitu lemah lembut membuat si kembar sangat manja padanya. Tak hayal perlakuan lembut Gadhing sering membuat si kembar bertengkar karena rebutan ingin terus bersama Gadhing.


"Mas, aku mau kerja lagi." celetuk Hanum ketika mereka baru saja masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa begitu juga Harry.


"Kamu mau kerja dimana? apa mau di kantor dinas pemerintah lagi?"


Hanum menggeleng. "Aku nggak mau mas ngeluarin duit lagi."


Harry berdecak. "Itu juga duit kamu."


Harry celingukan mencari seseorang yang sedari tadi mendiami nya. Bahkan belum ada ia mendengar suara nya.


"Cari siapa mas?"


"Mbak mu."


Hanum terkekeh. "Itulah, suruh siapa kebiasaan. Hampir terlambat tadi kan?"


Harry menggaruk tengkuk lehernya. "Anak kecil jangan sok tahu."


Hanum melotot tak terima. "Mas, aku itu sudah tahu kebiasaan mu kalau kalian mau pergi ya. Pasti kamu yang selalu menata penampilan mbak Ayu tapi sebelum itu kamu itu dulu sama mbak."


Harry tergelak mendengar itu membenarkan ucapan adik nya itu lalu memeluk sang adik. "Kamu benar dan mas yakin kamu akan menemukan dia yang memperlakukan mu bak seorang Ratu, menjaga mu bagai berlian. Jangan pernah merasa sendiri Han, mas selalu ada untukmu."


"Mas.. Hiks.."


"Maafkan mas yang dulu menghalangi hubungan mu dengan Yudha." ada rasa sesal dihatinya. Ia ikut andil dalam perpisahan mereka kala itu.


Hanum hanya menggeleng. "Kami tak jodoh mas."


Harry mengurai pelukan menatap lembut sang adik. "Sana masuk kamar, istirahat. Besok adalah hari baru dan ingat, jangan pernah dengarkan apa kata tetangga lagi."


"Iya."


Ya, umur pernikahan nya dengan Niko hampir dua tahun namun belum juga hamil membuat stigma buruk untuknya.


Kapan hamil?


Mandul?


itulah yang sering terlontar. Apalagi mengetahui kakak nya dahulu waktu baru menikah, bulan berikutnya istrinya langsung hamil semakin membuat ia dinilai buruk.


...****...


Pagi harinya Hanum hendak masuk ke dapur namun ia urungkan karena melihat Harry tengah bercumbu dengan Fadia.

__ADS_1


"Nggak tahu tempat." gerutu nya lalu kembali masuk ke kamar memakai hijab instan, memakai rok plisket dan cardigan tanpa melepas baju daster yang ia kenakan. Tak lupa ponsel dan uang dua puluh ribu lalu ia masukkan ke dalam casing karet yang membungkus ponselnya.


Di ambilnya kunci sepeda motor miliknya dan berjalan keluar rumah. Di starter sepeda motor matic itu lalu dilajukan menuju warung kelontong yang sudah lama tak ia datangi.


Tidak terlalu jauh, namun karena sengaja mengurangi kecepatan laju sepeda motor nya sehingga sedikit lama sampai ke warung kelontong itu.


Ia sedang menikmati kesendirian nya.


Ya, mulai hari ini ia sudah berstatus janda muda. Stigma negatif sudah tersemat pada dirinya.


Satu yang ia syukuri, dari pernikahan pertama nya belum di percayakan memiliki anak. Bukan ia tak ingin, namun setidaknya anak nya tidak akan pernah mendengar hal negatif untuk nya.


Hanum tersenyum ketika warung kelontong itu sudah ramai karena memang warung kelontong itu terkenal enak, banyak, dan murah.


Keinginan setiap orang bukan?


Diparkir kan sepeda motor nya itu di sebelah sepeda motor lain nya. Kemudian masuk ke warung itu memesan seporsi lontong sayur.


Ia mengedarkan pandangan mencari kursi kosong ternyata ada di pojokan. Sambil menunggu pesanan datang ia memilih berselancar di dunia maya.


"Ini pesanan kamu Han."


*Deg


Suara itu*!


Hanum mendongak memastikan pendengaran nya dan benar saja ternyata itu Yudha dan ia selalu merutuki dirinya yang masih saja seperti ini ketika bertemu dengan Yudha.


Jantung nya berdetak hebat, gugup, namun ia merindukan itu.


"Makasih." katanya berusaha bersikap biasa saja namun ia semakin gugup melihat Yudha duduk di depan nya karena kebetulan hanya di depan nya kursi kosong.


"Sendiri?"


Hanum mengangguk lalu meletakkan ponsel di samping piring nya dan memulai sarapan nya.


Sebisa mungkin ia tak menatap Yudha karena setahun tidak bertemu dengan nya membuat pria di depan nya ini tampak begitu mempesona.


Tampak semakin dewasa di usianya hampir menginjak di angka 30 tahun.


"Kenapa sarapan diluar?" tanya Yudha.


Hanum mendongak lalu menunduk lagi. Benar-benar takut terpesona.


Ingat Num, dia suami orang.


"Iya, dapur lagi di kuasai mas Harry." Mendadak ia kembali geram melihat kakak nya yang tak tahu tempat itu.


Hanum mengangkat pandangan ke arah Yudha yang tengah tertawa atas ucapan nya. Lalu menunduk kembali karena ia tak tahan akan pesona Yudha.


*Ingat Num, dia ada anak dan istri dan kamu adalah seorang janda sekarang. Ketuk palu saja belum.

__ADS_1


🌸*


...Bersambung.....


__ADS_2