Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Bar-bar nya Fadia


__ADS_3

"Woy Fad..." seru Elsa.


"Hem.."


"Sebenarnya suasana hati mu itu gimana?" tanya Elsa karena sedari tadi pagi memperhatikan Fadia.


Ia tahu jika Harry bermalam di rumah Fadia. Melihat mata Fadia yang sembab dan bibir Fadia yang melengkung membuat ia bingung.


Apa Fadia sudah gila? Ia pun tidak menggubris karena Fadia diam saja.


"Apa kau dapat jatah tadi malam?" tanya Elsa.


Keduanya sedang istirahat di bawah pohon kelapa sawit. Karena ini sudah waktunya jam makan siang menjadikan waktu bergosip riya antara keduanya.


"Tidak ada jatah. Aku capek El. Kenapa kau banyak tanya." sungut Fadia karena ia memang lelah.


Hari ini Fadia dan Elsa dapat jatah kerja sebagai pemupuk sawit muda. Dan itu membuat keduanya kesulitan karena pelepah sawit masih rendah dan tidak ada jalan setapak untuk mereka lalui selama berjalan di ancak.


Fadia melihat Elsa sedang membuka lipatan selembar kertas yang berisi bedak tabur merk bahasa Indonesia nya bayiku itu.


"Bagi ke aku El. Pulang kerja harus ku masker muka ku ini iya.. Tak ondak aku kalau sampai kusam." gerutu Fadia karena cuaca hari ini pun begitu terik.


"Sama. Nyalon yuk Fad." ajak Elsa.


"Hari libur lah. Calon mertua ku mau datang. Jantung ku dag dig dug jeder dari tadi."


"Ha? kau sudah bilang Ibu belum?"


Fadia menggeleng dengan wajah polos nya.


Elsa gemas sendiri pun menjitak kepala Fadia.


Ctak


"Sakit El." pekik Fadia mengusap kepalanya.


"Nanti pulang kerja kita cari makanan. Gila kau ya? mau di kasih apa mertua mu?"


Fadia menghela nafas. "Besok saja."


Lama keduanya bergosip menceritakan siapa saja yang terlintas dari pikiran keduanya. Bahkan keduanya menceritakan diri sendiri.


"Kamu Ayu ya?" tanya seorang gadis yang tidak gadis lagi bersama rekan kerja Fadia dan Elsa yang tidak menyukai keduanya. Siapa lagi kalau bukan Ratna.

__ADS_1


Fadia dan Elsa menoleh ke asal suara itu. Keduanya mengenali wajah orang itu adalah wanita yang di bonceng Harry beberapa hari lalu.


"Sundari." gumam Fadia yang masih terdengar ditelinga Elsa.


"Iya aku Ayu. Ada apa ya?" Fadia masih sopan walau hatinya sudah geram dengan orang itu.


Sundari melihat penampilan Fadia dari atas hingga kebawah. Sangat jelas kelas Fadia di bawah nya. "Kenalin aku Sundari teman dekat Harry."


Fadia hanya berdecak. Ia malas menanggapi orang sejenis Sundari.


Lagi-lagi Sundari memandang rendah ke arah Sundari. "Kamu tidak takut Harry kembali lagi padaku?"


Fadia tersenyum dan menggeleng. "Tidak."


"Bagaimana keperkasaan Harry? ah aku rindu sentuhan nya." Sundari memancing Fadia walau ia berbohong.


"Maksud mbak Sundel.. Eh maksud nya mbak Sundari apa ya?" Siapa yang tidak tahu maksud dari Sundari. Tapi ia hanya ingin Sundari sendiri yang mengakui nya.


Sundari melotot mendengar sebutan namanya dan ia semakin ingin membuat Fadia terpancing. "Loh kamu belum pernah di sentuh Harry ya? sayang sekali. Dia itu sangat memuaskan. Akulah perempuan pertama yang di sentuh nya. Kalau di pikirkan, Kamu kan janda ya, pasti tidak masalah jika tidur dengan laki-laki manapun."


Fadia yang memang sudah geram dengan Sundari bertambah sudah lelah karena pekerjaan pun akhirnya tersulut juga.


"Apa maksud mu?"


Fadia pun memijit pangkal hidung nya. "Heh Sundel bolong, Ferguso, gigolo, Jangan kau pancing naik pitam ku.. Dari tadi aku diam ya. Jangan buat aku jadi perempuan bar-bar disini."


Sundari tersenyum miring meremehkan Fadia.


"Ya aku belum pernah di puaskan Harry. Dia menjaga ku walau aku sering mengijinkan Harry mencium kening, kedua mata ku, mencium hidung mancung ku, mencium kedua pipi ku, dagu ku, dan tentu aku mengajari Harry bagaimana ciuman bibir dengan benar." Semua yang di katakan Fadia memang benar selain ciuman bibir itu. Padahal kenyataannya ia lah yang selalu terbuai dengan ciuman Harry. Mengingat hal itu ia harus bertanya pada Harry.


"Dan ingat, kau mengatakan hal seperti tadi itu bisa menunjukkan bahwa kau bukan lagi anak perawan. Apa kau tidak malu? Aku memang tidak percaya kalau Harry ku yang berbuat itu. Tapi bukan nya laki-laki bisa melakukan itu tanpa cinta?"


Sundari mengepalkan tangan. Ia kalah telak oleh Fadia. Tapi ia tidak mau terlihat kalah. "Kamu hanya seorang bawahan yang dekil dan bau jangan belagu."


Fadia yang sedari dulu memang gadis bar-bar tentu ia tidak mau kalah. "Kerja mu apa rupanya? Teller bank kan? itu tidak ada apa-apa nya dengan ini." Fadia mengangkat pupuk yang belum di sebar dalam karung seberat 30kg bersisa setengahnya dan menyerahkan pada Sundari.


"Berat kan? kalau hanya pakai komputer, menghitung uang pakai mesin terus menjerit nomor urut juga aku bisa. Dan jangan salah menilai penampilan dekil ku. Aku bisa lebih cantik darimu kalau hanya persoalan make-up."


Elsa sudah terbahak-bahak sedari tadi. Ia sangat tahu sebar-bar apa Fadia dulu. Tapi ia mencoba berubah setelah memiliki Gadhing.


"Lihat saja. Aku akan merebut Harry."


"Dan aku tidak akan membiarkan itu."

__ADS_1


****


Di lain tempat, Harry sedang memesan dua bungkus nasi Padang setelah ia selesai makan disana. Ia berinisiatif membawakan nasi Padang untuk calon istrinya.


Hatinya sangat senang karena ia sudah berbaikan pada Fadia. Wanita kesayangan nya sedari dulu. Tempat ia bercerita senang maupun susah. Tempat ia mengaduh bila hatinya gulana. Dan tempat ia mengungkapkan perihal privasinya.


Harry melajukan sepeda motornya menuju blok dimana Fadia dan Elsa di tugaskan. Dengan senyum merekah ia hiasi wajah tampan nya.


Kedua mata Harry seakan seperti memakai kacamata kuda yang hanya fokus memandang lurus tepat dimana Fadia sedang bercengkrama.


Seperti yang pernah ia katakan. Cinta nya pada Fadia bagai kamera. Ia hanya fokus pada Fadia, yang lain nya ngeblur.


"Assalamualaikum Yu."


Harry tahu Fadia tidak sendiri dan sekarang semua pada menoleh ke arahnya. Tapi sekali lagi. Ia hanya fokus pada Ayunya.


"Waalaikumussalam." jawab Fadia ketus.


"Kamu kenapa?" tanya Harry lembut mendekati Fadia memberi kecupan di pipi Fadia.


Fadia menggeleng. Tapi ia juga bertanya-tanya. Apa Harry tidak melihat 3 orang lagi di sekitarnya? apa Harry memang seperti itu pada orang lain?


"Aku bau keringat kenapa cium-cium sih.." gerutu Fadia.


Harry tidak menjawab. Hanya kekehan Harry yang ia dengar.


"Aku lapar Harry. Karena berharap yang tidak pasti juga butuh tenaga." Sindir Fadia untuk Sundari.


Elsa mendengar sindiran itu pun hanya bisa melipat bibirnya dalam-dalam menahan tawanya. Dengan sikap Harry yang tidak perduli dengan sejuta sudah biasa ia hadapi.


Sudah beberapa bulan Fadia berhubungan dengan Harry tapi bisa di hitung berapa kata yang keluar dari mulut Harry untuknya.


Miris sekali.


"Harry. Aku disini." Rengek Sundari.


"Eh."


🌸


Bersambung...


Like dan komen ya..

__ADS_1


__ADS_2