Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Akad nikah


__ADS_3

SAH?


SAH


SAH


Terdengar suara para saksi mengucapkan kata SAH. Itu berarti seorang gadis bernama Elsa Maharani telah SAH menjadi istri seorang Ricky Saputra.


Tangis haru menghiasi ruang tamu rumah orang tua Elsa. Sanak saudara Elsa banyak menghadiri acara akad nikah Ricky dan Elsa.


Kedua mempelai telah bertukar cincin dan menandatangani berkas-berkas yang di perlukan.


...****...


Di sisi lain.


"Sayang.. Sini ikut aku." ajak Harry membawa Fadia ke arah dapur.


"Ada apa mas?"


Harry mengeluarkan kotak kecil berwarna merah dari kantong celananya lalu membuka kotak itu di ambil isinya.


Sebuah cincin emas dengan berbentuk dua hati dan di hiasi permata kecil-kecil.


"Mas.. Ini cantik.." ucap Fadia menatap cincin dengan mata berbinar.


Harry meraih tangan Fadia di pakaikan di jari manis yang juga sudah terpasang cincin disana.


"Mas.. Bisa-bisa jadi toko emas berjalan aku." ucap Fadia dengan kekehan sembari memandang jari tangan nya yang terpasang cincin.


"Lepas salah satu nya Yu, mana yang lebih kamu suka itu yang kamu pakai."


"Tapi ketiganya cantik." gumam Fadia masih terdengar oleh Harry.


Harry tersenyum mendengar itu lalu di kecupnya kening sang istri. "Apa kalian baik-baik saja pagi ini?"


Ya, Harry baru saja datang saat para saksi mengucapkan kata SAH. Ia harus bekerja walau di hari pernikahan sahabatnya. Tidak ingin menghabiskan cuti karena akan ia gunakan untuk di hari yang ia tunggu-tunggu.


Kelahiran kedua anaknya.


Walau di perusahaan perkebunan tempat Harry bekerja memberi 3 hari libur untuk semua yang bekerja di perusahaan itu bila istrinya melahirkan (jika yang memiliki istri) dengan persyaratan pastinya. Salah satu persyaratan nya adalah ada surat keterangan dokter kandungan atau rumah sakit atau juga klinik menyatakan sang istri tengah hamil.


Tapi tetap saja bagi Harry 3 hari tidaklah cukup untuk menemani sang istri apalagi dari awal dokter kandungan Fadia menyarankan untuk operasi caesar.


"Kami sangat baik mas. Gadhing terus memperhatikan ku."


Harry celingukan mencari anak sambung rasa kandung tersebut.

__ADS_1


"Gadhing di ruang tamu mas. Mana nampak dari sini. Kamu mau makan?"


"Iya, tapi di rumah kamu saja yuk, aku pengen telur dadar buatan mu saja."


Fadia mengerutkan keningnya. Merasa heran dengan apa yang di dengarnya.


"Tapi makanan disini enak loh mas.. Lihat ada rendang daging lembu atau sapi kata kakek, gulai kambing, sambal tempe campur kentang, ada mie goreng, tumis kacang panjang. Ada yang lain juga itu."


"Tidak mau, aku mau telur dadar buatan mu saja."


Fadia pasrah melangkah kakinya keluar dari rumah Elsa lewat pintu belakang diikuti Harry.


Harry tersenyum memandangi lekukan tubuh Fadia tampak lebih sek si setelah hamil. Bokong yang semakin bulat, lalu ia mengingat dua benda kesukaan yaitu payu dara Fadia sekarang tambah kenyal dan besar padat.


Harry menggeleng menyadari pikiran mesum nya. Ah tapi memang selalu begitu jika berhadapan dengan Fadia.


"Mas.." Pekik Fadia terkejut ketika merasakan rema san di bokong nya. Ia yakin itu adalah ulah sang suami.


Harry terkekeh memeluk Fadia dari belakang. Resiko memiliki istri mungil nan pendek begini. Tidak bisa seperti di dunia novel-novel yang ketika memeluk istrinya dari belakang maka sang suami meletakkan dagunya di pundak istrinya lalu menghirup aroma tubuh istrinya.


Tapi itu tidak bisa dilakukan Harry karena Fadia itu mungil dan hanya sebatas dadanya saja. Mau menirukan di adegan novel-novel? itu tidak akan ia tirukan. Bisa jadi pinggang nya sakit karena terlalu membungkuk dan kesan nya bukan romantis malah lucu.


"Duduk dulu mas, aku mau goreng telur mu dulu."


"Telur ku? jangan di goreng dong.. Nanti kamu tidak bisa mainkan telur ku lagi." celetuk Harry ambigu.


Mata Fadia membola bahkan mulutnya menganga dengan ucapan sang suami. "Dasar kamu Harry mesum." umpat Fadia ketika sudah membalikkan tubuh kehadapan sang suami.


Harry membawa Fadia untuk duduk di kursi papan yang ada di dapur rumah Fadia. Lalu ia bersimpuh di depan Fadia dengan mengelus perut rata Fadia.


Fadia tersenyum membelai pipi mulus Harry. Sungguh ia juga merindukan panggilan mereka seperti dulu, tapi nasihat yang selalu di ucapkan ibu mertua dan Fatin selalu ia ingat.


Bahwa Harry sekarang adalah suaminya bukan lagi sekedar sahabatnya, jadi panggillah Harry sebagaimana ia menghormati Harry sebagai seorang suami.


"Kamu suamiku. Aku harus menghormati mu Rry.. Walau panggilan ku sudah berubah, percayalah.. Aku masih Ayu mu yang dulu bahkan sudah bertambah peran. Aku adalah Ayu istrimu dan calon ibu dari anak-anak mu."


Setelah mengucapkan itu Fadia mengecup kening Harry lalu kedua mata Harry, hidung mancung Harry yang selalu menggelitik perutnya ketika Harry mengecup perut Fadia.


Lanjut kedua pipi Harry terakhir ia sengaja melu mat bibir Harry menyampaikan pengungkapan rasa cinta untuk sang suami.


Tatapan keduanya bertemu saat bibir mereka menyatu. Bukan ciu man penuh gai rah melainkan penuh cinta. Tidak menuntut untuk sentuhan berlebih.


"Kenapa aku ngerasa kalian yang baru menikah bukan dua orang di ruang tamu itu?" celetuk seseorang yang sedari tadi sudah berdiri bersandar di lemari es.


Mendengar ada suara lain di dapur membuat kedua insan mabuk asmara itu melepaskan pagutan lalu menoleh melihat siapa orang itu.


Harry berdecak kesal melihat siapa orang tersebut lalu ia berdiri. Sedang Fadia langsung memeluk pinggang Harry karena ia sangat malu.

__ADS_1


"Ngapain kesini?" tanya Harry.


"Aku haus.. Maaf ya kakak ipar sudah ganggu." Ya orang itu adalah Yudha. Ia tidak nyaman di rumah Elsa apalagi para sepupu Elsa mendekati nya. Dari pada hati goyah dan terkena bogeman bila ketahuan Harry mending ia kembali kerumah Fadia.


"Kakak ipar, bibir mu bengkak." goda Yudha untuk Fadia lalu pergi meninggalkan keduanya.


Harry melotot mendengar ledekan sahabat dan calon adik iparnya itu.


"Kamu duduk sini saja, aku mau goreng telur nya dulu. Aku harus balik kerja lagi."


Fadia hanya mengangguk lemah.


"Bi Minah sudah ku suruh kesini untuk temani kamu sampai aku pulang kerja, aku sedikit terlambat ya.. Karena pihak Audit datang periksa lapangan."


"Iya mas. Tapi ingat, jangan tebar pesona." ucap Fadia merengut.


"Iya sayang, wong Audit nya laki-laki semua kok."


...****...


Sore harinya mereka kembali berkumpul lagi di rumah Elsa. Sanak saudara keluarga Elsa mulai berpulangan karena tidak adalagi acara lanjutan.


Harry enggan masuk kerumah Elsa. Walau ia juga menginjakkan kaki di rumah Elsa itu semua hanya karena Fadia yang meminta. Namun di dasar hati ia tidak bisa memaafkan kesalahan Elsa yang sudah menyakiti Fadia.


Jadilah ia duduk bertiga dengan Yudha dan bapak Elsa. Dengan di temani teh manis dan sepiring kue lapis, bugis, dan kue dadar menemani mereka.


Harry memakan kue dadar itu tanpa berucap apapun. Namun kunyahan nya terhenti sejenak saat bapak Elsa bersuara.


"Kue itu yang buat Fadia dan mertua anak bapak."


Harry menelan kunyahan nya lalu menatap Yudha dengan tajam. Ia sempat meminta Yudha untuk menjaga Fadia, bukan ia melarang Fadia untuk membantu acara akad nikah ini. Namun ia sudah membayangkan betapa banyak kue-kue yang di buat dari tangan istrinya.


Bisa di pastikan sang istri kelelahan.


"Kue apa saja pak yang di buat istriku?"


"Semua Fadia ikut membantu, dia memang selalu begitu. Tidak mau melewatkan momen sedikitpun."


Harry menghela nafasnya. Ia pun setuju dengan perkataan terakhir bapak Elsa. Tapi sungguh ia tidak ingin Fadia kelelahan. Bukan kah ia juga meminta bibi Minah menemani Fadia yang pasti ia menambah honor art nya itu.


"Harr.. Aku sudah melarang kakak ipar, tapi selalu bilang tak apa-apa selagi kamu tidak tahu." Yudha mengerti keadaan Harry sekarang. Walau ia tidak ada pengalaman tentang hal berbau mesum, tapi ia tahu bagaimana perasaan bila sudah jatuh cinta. Ini adalah bidang keahliannya.


Bila Yudha ahli dalam cinta, maka Ricky ahli dalam kelihaian urusan ranjang dan Harry ahli kedua nya. Makanya Yudha dan Ricky menjadikan Harry panutan untuk kisah asmara.


Tapi tentunya keahlian Harry ini ia tunjukkan hanya pada satu wanita, yaitu Fadia Rahayu.


"Aku harus membuat kakak iparmu itu istirahat total. Terkadang de'ene iku merengkel pengen tak iket neng omah." gerutu Harry memikirkan kelakuan Fadia yang kadang tidak memikirkan sedang hamil kembar.

__ADS_1


"Siapa yang mau di ikat?"



__ADS_2