Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Memujamu


__ADS_3

Giyan terlihat begitu serius di depan komputernya yang masih dalam keadaan off, yang sebenarnya pikiran dan hatinya sedang terbang melayang mencari insan yang membuatnya gundah gulanya seperti ini. Terus terusan mengharapkan segera kehadiran Naina yang sebenarnya sudah sedari tadi hadir diruangannya.


Naina yang tanpa disadari kehadirannya oleh Giyanpun terus tersenyum simpul melihat ekspresi serius atasannya itu.


Tak sabar menunggu lebih lama lagi, akhirnya Naina berusaha menyadarkan Giyan dari lamunannya yang dimanipulasinya seperti orang yang sedang serius bekerja dengan menggedor lengan Giyan. Giyan pun sontak kaget dan tertegun melihat disamping kanannya sudah berdiri wanita yang sedang ia pikirkan dan tunggu-tunggu sedari tadi.


Tapi sesegera mungkin Giyan buru-buru menata hatinya agar tidak terbaca oleh Naina yang masih memperhatikan gerak gerik Giyan. Dengan sedikit gugup Giyan mulai memberanikan diri untuk menghadapi Naina yang pagi ini sukses mengacaukan semangatnya.


Sambil berdehem Giyan berdiri dari duduknya dan mendekati Naina disamping meja kerjanya itu.


"Terlambat 25 menit, tahu apa hukumannya?" hardik Giyan bersikap seolah-olah tegas dengan bawahannya yang sudah datang terlambat. Tak peduli walaupun saat ini hatinya tengah berbunga-bunga melihat kehadiran Naina diruangannya. Pintanya dalam hati telah Tuhan kabulkan dengan mengirim Naina segera di hadapannya. Giyan sangat lega dan bahagia.


Sementara Naina yang mendapati sikap Giyan yang mendadak sedikit garang, hanya menggeleng sambil tersenyum kecil.


Giyan yang melihat senyum Naina menjadi mulai salah tingkah didepan Naina. Mendadak hatinya bak mau copot dari tempatnya. Sesegera mungkin Giyan mengatur lagi perasaannya itu agar tak diketahui oleh Naina.


"Minta maaf dan berjanji untuk lebih disiplin dalam bekerja, jangan lupakan tugas dan tanggung jawabmu." Tegas Giyan sambil memalingkan muka. Berakting kesal dan marah karena Naina terlambat hampir setengah jam.


🌷Sebenarnya Giyan sedang berusaha mati-matian menutupi risalah yang ada dihatinya. Bahwa jantungnya tiba tiba berdebar lebih keras, hatinya bergejolak tak menentu, berlarian kesana kemari seperti mau loncat tak bisa diam.


Giyan pun tak mengerti, mengapa perasaannya aneh seperti ini saat berhadapan dengan Naina. Padahal sebelumnya baik baik saja dan normal seperti biasa. Tak ada rasa yang sebanyak ini menyerang dirinya ketika menghadapi Naina yang dulu.


Mungkinkah bagi Giyan Naina yang sekarang dengan yang dulu berubah dan berbeda?


Atau justru bukan Naina yang berubah, melainkan rasa yang tercipta untuk Naina lah yang kini telah berubah tanpa Giyan pinta.


"Siap Mas Giyan, janji tidak akan lalai lagi dengan pekerjaanku, jadi jangan hukum aku yah!!" jawab Naina setengah bermanja pada Giyan.


"Baiklah, kali ini aku maafkan. Kembalilah ke meja kerjamu, dan lekas berikan berkas kerjasama kita dengan PT. Suka jaya bulan lalu itu." perintah Giyan merasa lebih baik karena Naina tak menyadari perasaan Giyan yang tak karuan itu.

__ADS_1


"Siap komandan !!" Naina menjawab seraya memberi hormat dan tersenyum manis, layaknya Polwan kita yang mendapat perintah langsung dari komandannya.


🌷Naina bergegas meninggalkan ruangan Giyan setelah berhasil membuat hati dan perasaan Giyan bercampur aduk tak menentu, antara senang karena kini Naina telah kembali bekerja dan hari harinya akan kembali diwarnai candaan Naina, sedih karena Naina yang baru menemuinya tadi sudah ada yang memiliki, serta bingung mengapa hati dan pikirannya terus tertuju pada Naina, mengapa hatinya seolah merasa kehilangan dan juga ada rasa tak rela melihat Naina telah bersuami. Dan yang paling membuat sesak dadanya ada sepercik rasa penyesalan mengapa dirinya dulu tak menyadari karisma Naina dan jatuh cinta lebih awal dengannya, sehingga mungkin yang akan bersanding di pelaminan nanti dirinya dengan Naina, bukanlah Reyhan.


🌷Itu semua misteri ilahi yang telah terjadi, Giyan hanya bisa menikmati hari harinya yang kadang suka dan gelisah karena prahara perasaannya yang belum ia sadari bahwa benih cinta sudah mulai menunas dalam hatinya. Dulu Giyan bisa bersikap cuek dan acuh terhadap Naina karena tak ada rasa seperti saat ini. Tapi kali ini Giyanlah yang yang tak bisa bersikap cuek dan acuh lagi terhadap wanita yang sama, karena benih cinta kini mulai bersemayam dalam hatinya. Mau tak mau Giyan harus menjalani lakon takdirnya kali ini yang sedikit pilu, karena jatuh cinta disaat yang tidak tepat. Lalu apa yang bisa Giyan lakukan untuk menolong dirinya sendiri?


Naina bekerja dengan tekun, berusaha memenuhi janjinya tadi pada Giyan untuk bertanggung jawab atas tugas dan pekerjaannya.


Naina memakai kacamatanya dan mulai berkutat dengan komputer dan beberapa berkas bersampulkan maps di mejanya.



(Beginilah penampakan visual Naina ketika bekerja)


πŸ€πŸ€πŸ€Naina memang sangat ulet dalam bekerja, jadi tak heran jika Giyan sangat puas dengan pekerjaan Naina. Menurutnya hanya Naina yang bisa diandalkan dalam menyelesaikan deadline laporan yang harus ia serahkan kepada atasannya.


Disela kesibukan Naina ternyata sepasang mata tengah memperhatikannya dengan saksama.


"Nai...Nai, kenapa kamu terlihat lebih mempesona setelah menikah dengan Reihan? Aura cantikmu sulit untuk aku pungkiri saat ini. Apakah aku boleh menikmati indah cantikmu setiap hari?" batinnya dalam hati.


Entah mengapa memandang Naina dari jauh saja sudah cukup membuat hati Giyan bahagia.


Setelah dirasanya puas memandang, Giyan kembali ke meja kerjanya dan mencari sesuatu. Ia temukan sebuah buku kecil lalu Giyan meraih bolpoin dan mulai menuliskan sesuatu pada buku kecil itu.


πŸπŸπŸπŸπŸ€πŸ€πŸπŸπŸπŸ


Rindu ku slalu mengalir nama mu, yang selalu detakkan jantungku lebih cepat.


Sulit ku bendung naluri itu, selalu begitu setiap waktu.

__ADS_1


Dan akhirnya....., akulah yang terpuruk dalam rasa itu, rasa yang sudah mulai menggebu saat ini.


Rasa ku dan juga ada ku pada mu, semakin terukir jelas di relung kalbu, mengalir deras di aliran darahku, memukul keras membuat lebih cepat detak jantung ku.


Sedikit pun aku tak mengingat dan tak tahu, seperti menghitung bintang berjuta di malam itu, seperti menghitung rinai hujan yang jatuh ke permukaan bumi, seperti menghitung hamparan pasir di pantai kala itu.


Sampai mati pun rasanya aku tak pernah melupakan itu, bahwasanya disini ada satu hati yang selalu menunggu,..satu jiwa yang terbelenggu olehmu.


πŸπŸπŸπŸπŸ€πŸ€πŸπŸπŸπŸ


Sebaris kata puitis tertulis dalam buku kecil itu. Giyan mencoba menorehkan isi hatinya yang terbelenggu rasa yang tak bisa ia ungkapkan kepada siapa pun. Setelah itu Giyan menyimpan buku kecil itu di laci kerjanya. Berharap tulisannya aman tak terbaca siapa pun seperti isi hatinya saat ini.


🌻


🌻


🌻


🌻


🌻🌺🌺Bersambung...!!🌺🌺🌻


🌻


🌻


🌻


🌻

__ADS_1


#Benih cinta Giyan akan kah bisa dibendung nantinya? atau bisa jadi kisah cinta yang memilukan? karena cintanya datang terlambat disaat wanitanya telah bersuami?.Mohon kasih votenya yah guys😎😊


__ADS_2