Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
3 sahabat


__ADS_3

"Memang saat trimester kedua adalah waktu yang tepat untuk berpuasa, tapi dengan catatan semuanya baik-baik saja."


"Sebaiknya jangan dulu berpuasa ya Bu, kasihan si kembar."


Dokter kandungan itu terus memberi nasihat dan semangat untuk Fadia karena setiap ia memberi nasihat, Fadia selalu meneteskan air mata.


"Jangan sedih sayang.. Jangan lagi menangis ku mohon.." ucap Harry menenangkan Fadia.


"Benar Bu.. Ibu harus bahagia. Orang hamil tidak boleh stres." timpal sang dokter.


Fadia pun mengangguk lalu mengusap air mata yang sudah banjir di pipinya.


"Gimana? sudah tenang? jika sudah kita bisa memulai pasang infus ya Bu agar tidak lagi dehidrasi."


Ya, Fadia mengalami gejala dehidrasi ringan. Menurut itulah kunci nya saat ini. Ia pun menuruti intrupsi sang dokter untuk tertidur di brankar di ruang sebelah.


Punggung tangan Fadia sudah diolesi alkohol dan jarum infus juga sudah tertancap disana. Ada rasa iba pada sang istri karena tampak lesu dan pucat. Mencoba memberi ketenangan dengan mengelus kepala juga perut Fadia.


Tadi keduanya kembali berdebat lantaran Fadia konsultasi dalam keadaan hamil jika naik pesawat.


"Mas, gimana nanti kamu buka puasanya?" Fadia bertanya karena sudah terdengar adzan ashar.


"Nanti aku beli di luar saja, aku mau ke mesjid terus jemput Gadhing ya.."


Fadia mengangguk. "Maafin aku.."


Harry mengecup kening Fadia dengan sayang. "Tak apa, aku tinggal sholat sebentar."


Fadia terus melihat punggung kekar sang suami. Rasa bersalah kian bertambah setelah melihat jarum infus melekat di punggung tangan nya.


Ia terus mengelus perut seraya mengucapkan kata maaf berulang kali.


...****...


Di Malang, Jawa Timur.


"Dik.. Apa ada perkembangan?" tanya Yudha pada Hanum. Saat ini keduanya tengah berburu takjil.


"Mbak Ayu belum kasih kabar mas.. Jangan terlalu bebani mbak ayu mas, kasihan nanti stres dan itu berbahaya." Sekarang Hanum mulai sadar jika perlakuan nya dan juga Yudha bisa memicu Fadi menjadi stres dan itu bahaya untuk kehamilannya.


Yudha menatap pujaan hatinya lalu ia bertanya pada Hanum. "Apa kamu mulai menyerah dik?"


Hanum mengedikkan bahu. "Aku tidak tahu, tapi jika memang orang tua mas Yudha ingin menjodohkan mas sama mantan mas, aku bisa apa?"


Ya, orang tua Yudha berencana akan menjodohkan Yudha dengan mantan pacar Yudha saat SMA dulu yang kebetulan sudah balik ke Malang yang sebelumnya bekerja di Jakarta.

__ADS_1


"Mas akan tetap perjuangin kamu. Percayalah."


Hanum hanya mengangguk. Ia tidak menangis di depan Yudha namun hatinya menjerit. Hanum merasa telah salah mengambil keputusan dari awal. Jika saja dulu ia tidak menerima Yudha dengan meminta obati rasa sakit karena di tinggal mantan tunangan dulu.


Pada akhirnya ia yang lebih dulu jatuh dalam pesona Yudha. Ia sendiri tidak menyalahkan Harry ataupun Fadia.


Teringat perkataan Harry beberapa waktu lalu saat ia nekad menghubungi Harry dan meminta nya untuk mengizinkan mereka bertunangan lebih dulu.


"*Kenapa harus buru-buru dik?"


"Ya karena aku merasa siap mas*."


Tentu ia harus menyembunyikan kebenaran di balik pemaksaan nya itu. Namun siapa sangka jika Harry sudah mengetahui alasan mengapa harus buru-buru. Dan perkataan Harry sangat menohok hatinya.


"Kalian baru beberapa bulan berhubungan. Mas tahu Yudha adalah sahabat mas paling menurut diantara kami bertiga, coba kamu lihat apa Yudha menolak jika orang tuanya akan menjodohkan dirinya? mas tahu bagaimana gila nya dia saat pacaran dengan mantan SMA nya dik.. Mas bukan tidak memikirkan perasaan mu, tapi Yudha itu jenis orang yang susah move on dan mas lebih mementingkan kalian keluarga mas dari pada orang lain."


Hanum terus memikirkan perkataan Harry tentang Yudha yang tidak membantah jika orang tuanya menjodohkan dia dengan mantan pacar saat SMA.


"Perjuangin dengan cara gimana mas? apa mas menolak perjodohan itu?"


Yudha diam membeku dengan pertanyaan wanita yang selama ini mencoba mengobati luka hatinya.


"Hanum.. Percayalah.." ucapnya lirih.


Hanum pun mengangguk dan tersenyum tipis. "Ya aku percaya. Antar aku pulang mas."


"Apa kamu marah karena mas tidak bisa menolak apa yang di inginkan orang tua mas?"


Hanum menatap Yudha lalu menggeleng. "Mana mungkin aku marah, siapa aku mas? Ibu mu lebih berhak atas mu."


Yudha melihat wajah Hanum sedang berubah sendu, ia tak tega.


"Maaf." cicit Yudha.


"Jangan minta maaf."


Yudha melajukan sepeda motor dengan kecepatan sedang. Dari kaca spion ia dapat melihat hanum mendongak kepala agar air mata tidak menetes.


Ada rasa iba namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Sifat penurut lebih mendominasi jika dengan orang tua nya.


...****...


Di kediaman Ricky dan Elsa.


"Kamu masak apa hari ini?"

__ADS_1


"Aku cuma masak sambal ikan sama rebus bayam. Tak apa ya kak? hari ini aku capek."


Ricky mengangguk, walau ia kaku namun jika Elsa sudah mengeluarkan kata 'capek' maka ia mengerti.


"Ini aku beli bubur kacang hijau, punya ku simpan di kulkas ya.. Aku mau mandi dulu."


Elsa bersyukur dinikahi Ricky walau Ricky sangat kaku menurutnya tapi sangat bertanggung jawab.


Elsa masuk ke kamar dan menyiapkan pakaian ganti untuk Ricky. Untuk pertama kalinya melakukan hal seperti ini.


Tentu itu adalah saran dari sang sahabat, Fadia. Beberapa hari lalu ia bercerita pada Fadia bagaimana kaku nya sang suami dan ia meminta saran pada Fadia walau sebelum diberi saran harus menerima omelan Fadia.


"What?? Jadi selama ini kalian hidup masing-masing gitu? tugas mu cuma masak beberes rumah terus kak Ricky penting kerja kasih duit gitu?"


Elsa hanya mengangguk.


"Dasar pasangan aneh.. Mulai sekarang kasih kak Ricky perhatian."


"Aku sudah perhatian, setiap hari aku selalu tanya sudah makan belum, jangan kecapekan."


Fadia menghela nafas. "Kau kan boleh bawak motor, kandungan mu juga baik-baik saja.. Sempatkan dirimu datangi Kak Ricky jangan hari Minggu saja."


"Tapikan aku pulang kerja capek Fad.."


"Kan di toko ada kamar, sedikit buat dia khawatir dan perhatian karena melihatmu kecapekan kayak nya bagus juga. Terus kalau dia pulang dari toko tanya mau teh atau kopi terus kalau dia mandi siapkan baju ganti, kalau lagi makan siapkan makanan ke piring nya."


"Harus begitu ya?"


"Ya.. Misi mu sekarang adalah mendapatkan hati suami." Fadia terkekeh setelah mengatakan hal itu.


Elsa berharap hubungannya dengan Ricky tidak sekaku ini lagi. Elsa duduk di tepi tempat tidur menunggu Ricky masuk ke kamar.


Dan benar, tidak berapa lama Ricky masuk ke kamar melihat pakaian ganti itu tersenyum tipis.


"Kamu yang siapi?" tanya ricky dan di anggukan oleh Elsa.


"Apa kamu menginginkan sesuatu?" tanya Ricky.


"Tidak kak."


Ricky menghela nafas. "Aku tahu ini bukan dirimu El.. Percayalah aku tidak apa jika harus menyiapkan keperluan ku sendiri."


"Tapi kak, jika dipikirkan hubungan kita sangat kaku. Aku juga butuh waktu dan perhatian mu bukan cuma duit dan pelayanan di atas kasur."


Elsa menangis tersedu-sedu di depan Ricky karena merasa perhatian kecil dari nya di tolak mentah-mentah.

__ADS_1


"Maaf." cicit Ricky mendekap Elsa.


__ADS_2