Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Fadia kepikiran


__ADS_3

"Bunda sama ayah ngapain tadi malam di kamar mandi ribut-ribut?" tanya Gadhing polos.


*Gubrak..


"Uhukk..uhukk..uhukk.." Fadia tersedak mendengar pertanyaan anaknya sendiri.


Harry dengan sigap memberi segelas air minum untuk Fadia. Dan mendapat tatapan tajam dari istrinya.


"Ayah sama bunda main perang-perangan." Entah bagaimana bisa jawaban itu yang terlintas di kepala Harry.


Bapak, ibu, dan Hanum sudah menahan tawa sedari tadi melihat sepasang suami istri itu dengan wajah memerah.


"Perang kayak tembak-menembak ya yah?" tanya Gadhing yang di balas anggukan kepala oleh Harry.


"Apa bunda yang kalah?" tanya nya lagi dan di jawab anggukan kepala oleh Harry lagi.


"Pasti sakit ya bun di tembak ayah sampai merah-merah leher bunda?" tanya bocah laki-laki nan polos itu.


"Uhukk.."


Lagi-lagi Fadia tersedak mendengar pertanyaan Gadhing. Tapi tunggu.. Fadia ingat sudah menutupi nya menggunakan foundation, lalu dimana lagi?


"Dimana yang merah nak?" tanya Fadia.


"Itu tadi Gadhing lihat di leher bunda yang disini." Gadhing menunjuk tengkuk leher Fadia.


Fadia menoleh Harry dan menatapnya dengan tatapan tajam. Ia benar-benar tidak tahu Harry akan membuat tanda kepemilikan di tengkuk leher.


Yang di tatap hanya nyengir kuda dan hal itu membuat para penonton tertawa.


****


Disinilah Fadia. Di sungai kecil yang terletak di belakang lahan rumah sang kakek. Ia duduk di tepi sungai mengingat bagaimana sikap Elsa saat tadi akan berangkat ke Bandara.


Beberapa saat lalu di rumah kontrakan Harry. Terlihat jelas di mata Fadia jika Elsa menatap Harry penuh kagum.


"Mbak hati-hati ya.." ucapnya mencium punggung tangan Fatin.


"Kamu juga hati-hati." balas Fatin.


Fadia beralih ke Fadil yang tampak kikuk dan mengulurkan tangan agar Fadia salam takzim juga namun Harry dengan sigap mendahului Fadia.


"Hati-hati bang." ucap Harry dengan wajah tanpa ekspresi. Bohong jika ia tidak mengetahui jika Fadil selama ini memperhatikan Fadia dari jauh.


Fadil hanya mengangguk lalu mengambil barang-barang yang akan di bawa pulang untuk di masukkan ke dalam mobil yang sudah di sewa Harry.


Harry sudah memfasilitasi keluarga Fadia untuk sampai ke alamat masing-masing. Dan tentu memakai uang tabungan khusus untuk pernikahannya.


"Makasih ya El.. Hati-hati di jalan. Salam untuk bapak dan ibu." ucap Fadia memeluk Elsa dan di anggukan Elsa sebagai jawaban.


Ia dapat melihat Elsa yang menatap suaminya penuh harap dan ia pun menyikut Harry agar melihat ke arah Elsa karena sedari tadi Harry hanya fokus pada nya saja.


"Ada apa hm?" tanya Harry ke Fadia.

__ADS_1


"Itu Elsa mau pamit pulang." jawab Fadia menekan segala rasa cemburu dan kecewa pada Elsa.


Harry menatap Elsa sekilas dan mengangguk lalu fokus lagi pada Fadia dan merapikan rambut Fadia ke belakang daun telinganya


"Terimakasih sudah mau ikut kesini."


Fadia dapat melihat tatapan mata Elsa begitu menginginkan Harry. Dan rasa kecewa itu semakin dalam dan ia berpikir apa Harry pernah memberi harapan?


"Harry.. Sana bantuin bang Fadil angkat barang."


"Baiklah. Aku bantuin dulu ya.. Kamu jangan kemana-mana." Ia daratkan kecupan di kening Fadia sebelum melangkah membantu Fadil.


Lagi-lagi dapat ia lihat mata Elsa mengikut arah dimana Harry berjalan mondar-mandir mengangkat barang.


Aku kecewa.


Ia mengingat sikap Elsa belakangan saat pertama kali bertemu Harry waktu apel pagi, mendatangi ia saat makan siang pertama kali di temani Harry dan mengatakan apa tidak malu dengan penampilan yang sudah tidak layak di pandang mata.


Apa itu sebuah sindiran El? Aku teringat saat pertama kali Harry mengirim foto di handphone ku. Kamu begitu memperhatikan foto Harry. Kenapa aku tidak menyadari itu?


****


Sebagai seorang pria yang banyak di kejar para gadis tentu ia mengetahui bagaimana sahabat istrinya itu ada hati untuknya.


Tapi itu bukan salah nya bukan?


Ia tidak pernah memberi harapan pada orang itu. Ia tidak pernah berbicara secara intens dengan Elsa. Bahkan bisa di hitung berapa kata yang ia keluarkan untuk Elsa.


Karena hidupnya sudah di penuhi dengan Fadia.Istrinya. Otomatis Gadhing juga adalah prioritas nya juga.


Untuk saat ini ia membiarkan sikap Elsa tapi jika hal itu terpengaruh untuk Fadia dan hubungannya maka ia akan bertindak keras ke Elsa.


Bagaimana jika ada yang mengatakan lebih baik Elsa dari pada Fadia?


Tentu Harry akan menyangkal hal itu. Maka ia akan bertanya juga bagaimana bisa dikatakan Elsa yang lebih baik dari pada Fadia?


Sudah jelas Fadia lah yang terbaik. Ia hidup sendiri mengurus anaknya tanpa bantuan orang tua. Di hina dan di pandang rendah tapi tetap tidak menyurutkan semangat semangat untuk menghidupi anaknya tanpa berharap mantan suaminya memberi nafkah untuk sang anak.


Lalu mengapa harus Elsa yang lebih baik? karena masih gadis?


Harry berdecak. "Bahkan aku jijik melihat dia sudah di cicipi sebagian tubuh nya tanpa di nikahi bahkan belum ada keseriusan akan hubungan mereka. Senakal-nakal nya laki-laki juga pasti memilih perempuan baik-baik bukan? dan aku memilih Ayu."


"Bahkan aku tidak berani untuk me remas milik Ayu sebelum nikah walau aku sudah mencium dan mengelusnya."


Harry melihat fadia tampak murung memandang air sungai yang mengalir. Dapat di pastikan Fadia mulai terusik dengan perlakuan Elsa.


Ia beranjak ke lain arah untuk mengambil sesuatu. Cukup lama ia mengumpulkan itu dan menghampiri Fadia.


"Ini." katanya singkat.


Fadia menoleh ke arahnya dan menaikkan sebelah alisnya.


"Tumben." ucap Fadia dan tersenyum.

__ADS_1


Senyuman Fadia menular ke Harry. Di kecup nya kening Fadia. "Jangan pikirkan apapun Yu. Dia tidak akan mengubah perasaan ku ke kamu."


"Kamu tahu?" tanya Fadia.


"Aku tahu. Laki-laki mana pun akan tahu jika melihat kelakuan dia." Entah mengapa Harry sangat malas menyebut nama sahabat istrinya itu.


"Aku hanya kecewa." jawab Fadia lirih.


"Sudah jangan pikirkan.. Sini aku foto kamu pegang bunganya." Harry mengalihkan pembicaraan.


Fadia tersenyum. "Oke. Tapi jelek tahu. Aku tidak dandan."


Harry mengacak rambut Fadia. "Kamu sangat cantik. Sudah cepat ambil gaya gimana biar aku fotoin."


"Gaya women on top bisa?" goda Fadia.


"Oke bisa nanti malam kita praktekkan." jawabnya tersenyum nakal sedangkan Fadia hanya mencebik bibir saja.


Dasar mesum.



"Aku gemas tahu." ucap Harry jujur dan menarik pinggang Fadia agar mendekat padanya.


"Ma-mau apa Rry?" tanya Fadia gugup. Entah mengapa ia tidak bisa menghilangkan rasa gugup dan senam jantungnya jika di tatap Harry secara intens begitu.


Cup


"Kamu adalah hidupku Yu.. Jangan pernah ragukan perasaan ku."


"Gombal."


"Hei.. Aku ngomong jujur." Sergah Harry lantas mengangkat tubuh Fadia agar mengimbangi wajah nya.


"Turun kan aku Harry.."


Cup.. cup..cup..


"Oh ya ampun.. Bisakah berhenti mencium ku?"


Harry menggeleng dan mengubah gaya gendongan menjadi bride style lalu ia melangkah menuju ke tengah sungai.


"Harry.. Jangan aneh-aneh.. Aku tidak mau basah." rengek Fadia mengalungkan tangan ke leher Harry.


"Sekali-kali Yu.."


"Haarryy..." teriak Fadia frustasi karena dirinya sudah basah ulah suaminya..


Sang pelaku hanya tertawa tanpa merasa bersalah. Tujuan nya hanya membuat Fadia tidak memikirkan sahabatnya.


🌸


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2