Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Sang pengobat luka


__ADS_3

"Kak Ricky...."


"Ya, gimana hasilnya?" tanya Ricky


Elsa keluar dari kamar mandi dengan wajah sendu memegang benda kecil menggambarkan dua garis merah disana.


"Kak.. Aku hamil.. Gimana ini?" tanya Elsa gusar. Bagaimana tidak? usia baby Amanda masihlah 3 bulan namun ia sudah hamil lagi.


Ricky mendekati sang istri lalu memeluknya erat. "Makasih banyak El.." Ia sungguh bahagia mengetahui Elsa hamil lagi.


"Kak, Amanda masih kecil.. Kakak sih tidak bisa menahan sampai besok. Hamil kan jadi nya. Coba kalau kakak tahan sampai besoknya kan aku bisa beli obat KB dulu."


Ya, Saat baby Amanda berumur 40 hari dan Elsa selesai masa nifas sudah bisa melakukan hubungan suami istri, malam hari nya Ricky langsung menyerang nya.


"Kangen El, puasa 40 hari itu nyiksa tahu.. Mending puasa Ramadhan, malam nya bisa kuda-kudaan sama kamu." Jawab Ricky santai.


Mata Elsa melotot mendengar nya. Ia merasa suaminya itu kian hari semakin cerewet dan blak-blakan jika bicara soal ranjang.


"Kakak kenapa sih?"


"Kenapa gimana? kakak ngomong jujur loh.. Kamu habis lahiran semakin cantik dan tambah enak."


Wajah Elsa sudah memerah bak udang rebus. Dahulu ia menginginkan sikap manis Ricky namun setelah merasakan justru membuat ia sering sekali salah tingkah.


Beginilah jika rasa cinta itu tumbuh setelah menikah. Dan ia tak menyesali itu meski terlambat.


"Kakak sekarang pintar gombal."


Ricky terkekeh lalu menuntun Elsa untuk duduk di tepi ranjang. "Besok kita periksa kandungan ya sekalian tanya kamu bisa naik pesawat tidak."


"Kalau aku tak bisa berangkat bagaimana kak?"


"Kita tunda sampai kamu lahiran."


Ya, Ricky dan Elsa harus pindah ke Malang karena toko roti disana tidak ada yang mengelola. Ibu Ricky meninggal satu bulan yang lalu sama halnya juga nenek Niko hanya selisih satu Minggu saja.


Toko roti milik Ricky di Sumatera akan di kelola oleh ibu Elsa. Berat melepas anak semata wayang nya pergi jauh namun ibu Elsa tak bisa berbuat apapun karena sudah kewajiban Elsa untuk mengikuti kemana pun suami mengajaknya pergi.


...****...


Di Malang, Jawa Timur.


"Intan.. Baju ganti ku mana?" tanya Yudha pada istrinya.

__ADS_1


"Ya di Lemari lah Yudh."


Yudha menghela nafas melihat istrinya tengah sibuk dengan ponsel nya. Tidak ada yang penting di ponsel itu. Intan hanya melihat video-video orang sedang menari saja.


Kian hari kelakuan intan semakin menjadi. Ia akui jika urusan ranjang Intan sangat lihai namun ia juga perlu di layani dengan pelayanan lain nya.


Penduduk tengah juga perlu di beri makan. Ia juga ingin di hormati sebagai suami.


Yudha jadi teringat bagaimana perlakuan Fadia terhadap Harry saat di Malang waktu lalu. Ia sangat tahu betapa cinta nya Harry pada Fadia hingga di sebut-sebut suami bucin.


Tapi ia melihat Fadia tidak memanfaatkan perasaan dan perlakuan Harry terhadap dirinya. Saat berkunjung ke rumah orang tua Harry, ia menjumpai adegan romantis menurutnya walau Fadia tengah mengomel.


"*Sayang.. Aku bilang jangan memasak dulu. Kamu hamil loh.."


"Kamu ini kenapa sih mas? yang hamil itu di perut bukan di tangan juga. Aku mau puas-puasin masak dulu sebelum aku lahiran."


"Perempuan itu sukanya belanja Yu bukan masak."


"Kamu lupa kalau aku juga suka belanja online?"


"Oh iya lupa*."


Hati Yudha galau mengingat Harry masih marah padanya karena menjadi pria pengecut tidak bisa mengambil keputusan untuk kebahagiaan dirinya sendiri.


Dan lihatlah sekarang, ia tidak bisa menolak karena orang tua dan juga ia terpesona oleh mantan pacar yang sekarang sudah menjadi istrinya itu saat pertama kali bertemu setelah sekian lama putus.


Ada rasa sesal terbersit di hatinya.


Apa kabar kamu dik?


...****...


"Harry.. Kamu serius mau resign?" tanya Fadia. Mereka tengah duduk berdua sembari memangku si kembar.


"Justru aku tanya sama kamu Yu.. Kamu tak apa jika aku tak lagi bekerja?" Harry bertanya balik sembari bermain dengan Daffa dipangkuan nya.


"Aku tak apa, tapi bukankah ini cita-cita mu Harry?"


"Ayu istri ku.. Sungguh aku tak apa kehilangan cita-cita ku demi kamu merasa aman dan nyaman berada di dekatku. Bukan kah itu bagus? kita akan berkumpul disana bersama Gadhing, Niko dan Hanum juga pindah kesana karena sudah tak ada lagi yang dijaga Niko disini."


Fadia tak tahan untuk tidak menangis. Ia benar-benar merasa beruntung di cintai pria baik seperti Harry.


Kata syukur terus terucap dalam hatinya. Andai Harry tidak di pindah tugaskan di kota mantan suaminya dahulu tentu ia dengan senang hati ikut bersama Harry.

__ADS_1


Bertahun-tahun lamanya namun trauma itu masih melekat di hatinya.


"Mbak Fatin juga sudah izinkan kita pindah kan?" tanya Harry sembari mengusap air mata Fadia.


"Sudah."


"Harry.. Kenapa kamu begitu mencintaiku?"


Harry tersenyum. "Dan kamu kenapa membalas cinta ku? Jangan tanya alasan mengapa aku bisa mencintaimu Yu, lebih baik kita pikirkan gimana cara nambah anak banyak-banyak."


Fadia mencebik bibir mendengar itu. "Emang dasar itu mau nya kamu. Dasar suami bucin."


Keduanya tertawa bersama dengan si kembar menatap kedua orang tuanya dengan tatapan bingung.


...****...


"Num, gimana kalau aku tidak bekerja disana?"


"Ya kita bisa minta kerjaan sama mas Harry. Sekarang yang pegang kendali peternakan sapi kan mas Harry."


"Kamu tidak malu punya suami kerjanya numpang sama keluarga kamu."


Hanum menatap dalam mata Niko. "Tidak. Aku senang kamu bekerja di keluarga ku mas, itu berarti kamu tidak akan bertemu perempuan lain dan aku bisa mengawasi mu."


Niko tersenyum. Ia akui semakin dekat dengan pernikahan, Hanum semakin posesif padanya. Pilihan tepat adalah menikahi Hanum. Biarlah nama Fadia tersimpan rapih di hatinya.


Pernikahan mereka terkesan buru-buru karena ibu Niko yang meminta. Ibu Niko di izinkan pulang ke Indonesia karena nenek Niko meninggal dunia dan hanya dua bulan berada di Indonesia setelah itu ia harus kembali ke luar negeri untuk bekerja kembali sebagai TKW.


"Ibu ingin melihat mu menikah nak.." ucap ibu Niko setelah acara 7 hari nenek Niko.


Ibu Niko berbicara di depan Harry dan lain nya.


"Jika kamu tak menikah juga belum tentu ibu bisa melihat mu menikah ke depan nya."


Setelah berpikir panjang akhirnya Harry menyetujui memajukan pernikahan Niko dan Hanum. Masalah restu orang tua Harry tentulah itu tergantung Harry menjadikan proses lamaran mudah di lalui keduanya.


"Hanum.. Kebaya putih saja untuk akad nikah ya.." seru Niko.


"Aku manut saja mas."


"Pakai hijab ya.."


"Iya mas." Hanum tersenyum akhirnya ia akan menikah dengan Niko, sang pengobat luka.

__ADS_1


🌸


Bersambung...


__ADS_2