Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Lamaran yang menegangkan


__ADS_3

Sudah hari Senin, yok vote karya author.. Atau kasih hadiah bunga atau kopi juga boleh..




Elsa menemani Gadhing di kamarnya karena biasa jam segini waktu untuk tidur Gadhing. Dan benar saja, tidak lama menemani, Gadhing sudah terlelap.



Ia bangkit keluar kamar ingin kembali ke ruang tamu untuk nonton tv. Tapi betapa terkejutnya ia mendengar Fadia menyampaikan niat kedatangan nya.



"Begini pak, Bu.. Maksud kedatangan kami selain menjemput Gadhing pulang.. Saudara mas Harry ingin melamar Elsa."



"APA?" ternyata bukan hanya ia saja yang terkejut melainkan bapak dan ibu nya juga sama hal dengan nya.



"Apa maksud mu Fadia? Jangan karena aku menyukai Harry lalu seenak nya kau berbuat semau mu." ucap Elsa geram dengan nada tinggi.



"Turunkan suara anda saat bicara dengan istri saya." Harry sedari tadi diam saja mendadak emosi mendengar Elsa bicara dengan suara tinggi pada sang istri.



Ia menatap Elsa dengan tatapan tajam. "Mungkin selama ini saya diam karena memikirkan perasaan istri saya yang masih menganggap anda sebagai sahabat. Tapi lihatlah, apa anda pantas disebut sebagai sahabat? yang tega jatuh cinta pada suami sahabat sendiri? bahkan dengan tidak tahu malu mendatangi suami sahabatnya sendiri untuk mengungkapkan perasaan nya? bahkan anda bicara buruk tentang istri saya. Apa anda seorang perempuan terhormat?"



Kedua orangtua Elsa terkejut mendengar apa yang di katakan Harry. Bahkan mereka baru mendengar ini. Mereka sangat malu. Bahkan ibu Elsa sudah menangis.



"Dan karena perbuatan anda itu membuat istri saya harus mengalami kecelakaan. Dimana hati anda? Jangan karena dulu saya membiarkan anda selalu ada diantara saya dan istri saya menilai itu adalah bentuk perhatian saya kepada anda, kalau boleh jujur.. Saya tidak pernah menganggap anda ada pada saat itu."



Harry benar-benar emosi saat ini. Tidak ada kesopanan atau keramahan sedikitpun bicara pada Elsa maka dari itu memilih bicara formal karena ia benar-benar tidak menganggap Elsa dekat dengannya.



Sedangkan Fadia hanya diam saja sembari menggenggam tangan Harry agar tidak melewati batas. Sebenarnya ia terkejut saat di bentak Elsa, namun ia tidak menghiraukan setelah itu.



Ia terkesiap saat Harry bicara formal pada Elsa dengan emosi memuncak. Untuk pertama kalinya ia mengetahui sang suami marah.



"Kenapa diam? dimana kelantangan anda saat menjelekkan istri saya?"



"Sayang.. Sudah.. Elsa tidak sengaja tadi karena kaget dengan penyampaian ku. Tidak enak sama bapak dan ibu." tegurnya merasa tidak tega melihat ibu Elsa menangis sedari tadi.



Harry menghela nafas kasarnya menatap sang istri. Ia pun tahu jika ini pertama untuk sang istri melihat ia membentak seseorang.



Harry meraih tubuh sang istri dalam dekapan. Tidak perduli ada siapa di ruangan itu. Ia mencari sumber ketenangan disana.



"Maafkan aku.. Aku tidak rela ada yang bentak kamu Yu.." ucapnya seraya menghirup harumnya rambut Fadia dalam-dalam. Harum yang sangat ia sukai, harum shampoo brand ternama yang ada iklan nya di televisi.



Bagaimana ia rela? sedang dirinya ketika kesal dengan Fadia hanya menyebut nama lengkap saja.



"Tidak apa mas, tenangkan diri mas dulu ya.." jawab Fadia dibalik dada Harry.



Harry mengangguk pasrah. "Aku tunggu diluar." kata Harry setelah mengurai dekapan nya lalu mengecup kening Fadia.



Elsa melihat itu hanya bisa membuang muka ke sembarang arah. Dan hal itu tak luput dari pandangan Ricky dengan senyuman miring.



Harry bangkit tanpa menghiraukan kedua orangtuan Elsa. Menatap tajam pada kedua sahabatnya.



"Kalian melakukan kesalahan." kecam Harry pada kedua sahabatnya lalu melangkah keluar rumah Elsa.



Dan kedua pemuda itu menegang menelan saliva yang terasa sulit. Mereka dapat melihat kemarahan nya. Biasanya Harry akan menghukum mereka karena kesalahan mereka sendiri, dan sekarang mereka melakukan kesalahan karena membuat orang yang di cinta sang sahabat dilukai orang lain.



Keduanya bergidik ngerih memikirkan apa yang akan dilakukan Harry dan mereka merutuki perjanjian yang dahulu mereka sepakati untuk menghukum siapa di antara mereka membuat kesalahan.

__ADS_1



Fadia menatap pias kedua sahabat suaminya. Padahal ia tidak masalah dengan apa yang diperbuat Elsa. Bukankah itu hal wajar? siapapun akan berekspresi seperti itu jika ada orang tiba-tiba melamar tanpa memberi tahu dahulu.



Mungkin Harry lupa, pikirnya.



"Bapak..Ibu.. Saya meminta izin untuk bicara berdua dengan Elsa." ucap Ricky seraya bangkit dan menarik tangan Elsa keluar rumah.



Kedua orangtua Elsa masih dalam keadaan terkejut pun tidak menjawab. Mereka sangat malu pada Harry dan Fadia atas perbuatan anak semata wayangnya.



"Maafkan Elsa nak.." pinta bapak Elsa.



Fadia mengangguk dan tersenyum tulus. "Tidak apa-apa pak, aku yakin Elsa hanya khilaf. Bukan kah kami juga dulu sering selisih paham seperti ini?"



"Tapi dia sangat keterlaluan Fadia.. Bagaimana keadaan kamu nak?" sela ibu Elsa berpindah duduk di sebelah Fadia.



"Aku dan anak-anak ku baik-baik saja Bu, kami sangat kuat." jawab Fadia tetap mengukir senyuman indah.



Yudha melihat Fadia hanya bisa berdecak kagum.



*Pantas saja Harry bisa bucin akut pada Ayu, dia sangat bijak menanggapi masalah. Ah aku jadi merindukan gadis centil ku. gumam Yudha*.



"Mungkin ini bukan ranah ku Bu, tapi ibu bisa mempertimbangkan. Kak Ricky orang baik, dia punya toko roti cukup maju di Malang."



Bapak sedari tadi hanya diam langsung membuka suara. "Ada pekerjaan atau tidak bapak akan menerimanya, bapak tidak mau anak bapak menjadi perebut suami orang. Bapak malu pada mu nak. Bapak gagal menjadi orangtua."



"Bapak.. Tidak seperti itu, hubungan ku dengan suamiku baik-baik saja." Fadia merasa tidak enak pada kedua paruh baya ini.



...\*\*\*\*...




"Sakit.." cicit Elsa karena Ricky menarik dan menggenggam pergelangan tangannya cukup kuat.



Ricky melepaskan genggaman nya dengan kasar. Walau dalam kegelapan ia dapat melihat wajah Elsa yang masih meringis merasakan sakit di pergelangan tangan.



Ditariknya tengkuk leher Elsa lalu ia lu mat bibir Elsa dengan kasar sembari menahan kedua tangan Elsa yang memukul dada nya.



"Kurang ajar." pekik Elsa setelah ciu man terlepas.



Ricky menyeringai sembari mengusap sisa saliva di bibirnya.


"Aku sudah memperingati mu dengan halus saat di Malang untuk tidak menggangu hubungan sahabatku dengan Ayu."



"Bahkan aku meminta mu untuk menikah dengan ku secara lembut bukan? tapi kenapa kamu masih saja mengganggu mereka?" sambung Ricky lagi.



Elsa masih diam saja.



"Sekarang ayo kita balik kerumah mu dan terima lamaran ku." titah Ricky.



"Tidak." jawab Elsa cepat.



Ricky kembali geram. "Baiklah jika kamu masih menolak ku, maka aku akan membuatmu menerima ku."



Ricky mendekati Elsa sembari melepas kemeja yang ia kenakan lalu merapatkan tubuhnya pada tubuh Elsa.

__ADS_1



Di lu mat kembali bibir Elsa sembari tangan nya bergerilya ke punggung lalu meremas dua gunung kembar Elsa hingga tanpa sadar Elsa mele nguh dan hal itu semakin membuat Ricky menyeringai.



"Bagaimana? mau kita lakukan sekarang atau setelah kita menikah?" ucap Ricky lembut tidak seperti tadi dan menatap Elsa dengan tatapan lembut.



Elsa merutuki tubuhnya sendiri menikmati sentuhan Ricky. Hati berkata tidak namun tubuh tidak bisa berbohong.



Elsa menatap tatapan itu mendadak jantungnya berdetak kencang.


"Jangan menikahi ku hanya karena ingin menjauhkan aku dengan perasaan ini. Aku juga tahu perasaan ini salah." jawabnya.



"Tidak. Aku serius untuk hal ini."



"Kita tidak saling mencintai."



Ricky mengangguk setuju. "Aku percaya jika ada orang bisa jatuh cinta karena perhatian, jatuh cinta karena masakan enak, jatuh cinta karena melihat laki-laki itu perhatian sama pasangan nya seperti dirimu."



Elsa menelan saliva mendengar sindiran itu.



"Tapi aku tidak akan memilih di antara itu semua." lanjut Ricky lagi.



"Jadi?" tanya Elsa.



"Aku akan membuat mu jatuh cinta padaku dari sentuhan ku."



Elsa tercengang mendengarnya. Ia langsung menyilang kan kedua tangan di dada nya.



"Jadi pilihan mu sekarang adalah kita melakukan nya sekarang atau setelah menikah?" tanya Ricky tegas menatap tajam Elsa.



Mendadak Elsa merasa sesak di dada seakan udara di ruang tamu Fadia telah habis.


"Ha-habis menikah." jawab Elsa terbata-bata.



Ricky tersenyum manis dan itu sukses membuat Elsa terkesima. Untuk pertama kalinya ia melihat Ricky tersenyum manis.



"Aku anggap itu sebagai jawaban. Ayo kita lanjutkan acara lamaran nya." Ricky menarik Elsa yang masih terpaku.



...\*\*\*\*...



Harry keluar rumah Elsa dan masuk kerumah sang istri. Sengaja ia matikan lampu ruang tamu karena ingin suasana sunyi sejenak. Sungguh ia tidak rela bila istrinya di bentak orang lain.



Belum lama ia meredam emosi, di buat terkejut dengan kedatangan 2 orang yang menyebabkan sang istri di bentak.



Tapi ia bergeming melihat keduanya sedang berci uman. Lebih tepatnya sang sahabat memaksa ciu man itu.



*Apa aku akan menonton film biru secara live*?



Harry hanya bisa menggeleng kepalaendemgar setiap kalimat yang di ucapkan sang sahabat.



Pemaksaan dan tidak menerima penolakan.



🌸



***Bersambung***..

__ADS_1


__ADS_2