Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Bab 27


__ADS_3

Sudah hampir satu minggu sejak kejadian malam itu. Laras dapat merasakan Ada sesuatu yang berbeda pada sikap Bosnya setelah Laras menolak lamaranya. Bosnya bersikap dingin dan terkesan mengabaikan. Bahkan Pria itu tidak protes saat mendapati 3 potong tempe dalam nasi pecelnya.


Laras juga tidak mendapati Bosnya meminta untuk dipakaikan dasi sejak tiga hari ini.


"Pagi Pak." sapa Laras saat melihat Bosnya baru saja melewati meja kerjanya. Namun Pria itu seperti tidak berminat membalas sapaan Laras barang sedikitpun.


Laras hanya mampu ngelus dada mendapati sikap Bosnya beberapa hari ini. Rasa nya lebih baik Ia dimarahi, dibentak dan dimaki daripada harus didiamkan sepeti ini.


Masih dengan perasaan dongkol setengah mati karena diabaikan, Laras memantapkan hati untuk mendatangi ruang kerja Bosnya. Jam 10 pagi ada meeting, biarlah diabaikan, yang penting Laras tetap berusaha profesional dalam bekerja.


Tok tok tok..


"Masuk!"


Laras melangkah memasuki ruang kerja Nakula dengan membawa beberapa berkas serta satu kotak bekal sarapan seperti permintaan Sang Bos, dengan harapan Bos akan kembali ramah seperti sebelum nya.


"Permisi Pak, ini berkas untuk meeting jam 10 nanti, dan ini.. ada sarapan untuk Bapak. Saya masak khusus buat Bapak pagi ini." Laras mengangsurkan kotak berwarna biru muda kehadapan Naku, tak lupa senyum termanis pun Ia berikan.


"Hm." lagi-lagi Naku hanya menjawab dengan deheman.


"Dimakan dong Pak. Saya rela bangun sebelum subuh cuma buat masakin sarapan Bapak loh."


"Jadi gak Ikhlas Kamu?" Naku mendelik menatap Laras.


"Eh. bukan! bukan itu maksut Saya Pak. Saya ikhlas kok, ikhlas banget malah. Tapi Bapak makan ya. hehe.." lagi-lagi Laras tersenyum memamerkan deretan giginya yang rapi.


"Suapi!"


"Eh. apa Pak?"


"Kamu gak mau? yasudah, sana bawa pergi saja makananmu!"


"Ish.. si Bapak. jangan ngambekan dong Pak. Iya-iya.. Saya suapi. Dasar Bayi Gede ngambekan." cibir Laras.


"Gak ikhlas Kamu?"


"Ikhlas Pak Ikhlas....."


Tanpa Laras ketahui, Naku menyunggingkan senyum kemenangan.


Harum aroma masakan menyeruak masuk menembuh indra penciuman saat kotak makan telah di buka, Naku sedikit mencondongkan badan nya kedepan mengintip menu apa yang laras buatkan untuk nya. Ternyata nasi pecel dengan Ayam goreng, tempe serta bakwan jagung favorit Naku.

__ADS_1


'Enak banget aroma nya. Perutku jadi tambah lapar, Laras memang pandai memasak. Rasa masakan nya tidak ada yang gagal, selalu cocok dengan lidahku. hemm alangkah bahagia nya Aku jika setiap hari bisa menikmati masakan nya.' batin Naku.


"A.." Laras menyodorkan satu sendok penuh nasi beserta lauk nya, meminta Naku agar segera membuka mulut dan menerima suapannya.


Naku menerima suapan Laras dan mulai menikmatinya.


"Gimana Pak, Enak?"


"Hem."


"Bapak masih marah ya sama Saya?"


Naku diam tidak menjawab pertanyaan Laras, namun Pria itu merebut kotak makan serta sendok dari tangan Laras. Mengambil satu sendok penuh lalu menyodorkan nya kemulut Laras.


"A.."


"Pak. Saya sudah kenyang."


Naku tidak menggubris dan tetap menyodorkan sendok di depan mulut Laras, Laras pun terpaksa menerima suapan itu. Mulutnya begitu penuh hingga menggembung saat mengunyah makanan nya. Lagi-lagi Naku mengulas senyum.


"Bapak kenapa sih, ngambek mulu. Udahan dong Pak ngambek nya. gak enak tau di diemin terus. Jadi serba salah Saya."


"Kalau makan jangan sambil ngomong!"


"Minum dulu Pak."


"Kamu dulu yang minum." Naku meminta Laras untuk meminum air yang baru saja Ia bawa.


"Ini baru loh Pak. Gak Saya kasih racun."


Naku mengangkat satu alis nya dan mata nya lurus menatap Laras. "Kamu minum dulu, baru Aku percaya. Aku mana tau kalau Kamu sudah memasukkan sesuatu kedalam minuman itu."


"Pak! mana ada sih Saya kaya gitu. Kalaupun Saya mau ngeracun Bapak juga uda dari kemarin-kemarin kali Pak."


"Ya mana Saya tau kalau Kamu punya dendam karena Saya cuekin."


Laras yang merasa kesal akhir nya meminum air itu hingga habis setengah botol. "Sudah. Saya masih sehat kan, dan tidak terjadi apa-apa. Mulut Saya juga tidak berbusa."


Naku tersenyum lalu merebut botol yang isi nya masih tersisa setengah lalu menenggak nya hingga tandas.


"Manis." ucap nya seraya mengusap sudut bibir nya yang basah.

__ADS_1


"Tuh.. Bapak masih hidup kan, sehat walafiat. Mulut nya juga gak berbusa kan? gak keracunan." Laras berbicara dengan tampang sinis, sedangkan Naku justru semakin terkekeh.


"Iya, Aku cuma ngetes Kamu aja. Lagian enak juga minum dari bekas bibir Kamu, manis." Naku tersenyum menggoda, sedangkan Laras justru melotot tajam.


"Mesum!"


Hahahahahaha...


Tawa Naku akhir nya pecah, pria itu tidak bisa menahan tawa nya saat melihat wajah Laras yang begitu kesal kepada nya.


"Bapak nyebelin!"


"Kamu lebih nyebelin."


"Kok bisa?"


"Kamu nolak lamaranku. Jadi Kamu lebih nyebelin."


Laras mengambil botol kosong bekas air minum nya lalu memukulkan nya berkali-kali pada lengan Naku.


"Aduh.. belum apa-apa uda KDRT aja Kamu Ras." Naku pura-pura kesakitan dan mengusap lengan nya yang dipukul Laras menggunakan botol kosong.


"Biarin. Mau dipukul lagi?" Laras mendelik sampil mengangkat botol nya, bersiap untuk memukul Naku.


"Enggak-enggak. Ampun Nyonya.. ampun. hahahaha.." Naku tertawa keras dan mundur menghidari pukulan Laras.


Setelah tawa nya mereda, Naku kembali mendekat dan berjongkok dihadapan Laras. Pria itu meraih tangan Laras dan menatap nya serius. Laras pun seketika menjadi salah tingkah.


"Ras.. Aku beneran tulus cinta sama Kamu." Laras memberanikan diri menatap mata Naku, mencoba mencari kebenaran melalui sorot mata nya. Namun yang Laras dapatkan justru ketulusan tanpa terlihat sedikitpun keraguan didalam nya.


"Apa Bapak serius dengan yang Bapak ucapkan ini?"


"Dengan cara apa Aku bisa meyakinkanmu agar Kamu percaya Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku?"


"Em..."


"Ras." Naku mengusap tangan itu dengan penuh kelembutan.


"Aku serius dengan ucapanku. Aku akan membuktikanya jika Kamu masih belum percaya." Naku menatap penuh kelembutan.


"Pak. Saya ini tidak cocok bersanding dengan Bapak, Saya perempuan miskin, Janda serta karyawan rendahan. Tidak sepadan dengan Bapak. Diluar sana masih banyak Gadis cantik yang lebih cocok mendampingi Bapak, bukan Saya."

__ADS_1


"Ras.. Please percaya sama Aku. Kamu adalah perempuan satu-satu nya yang Aku pilih dan yang terbaik untuk mendampingiku. Bukan Orang lain. Please kasih Aku kesempatan untuk membuktikan keseriusanku."


__ADS_2