
Hari telah berganti Minggu. Minggu juga sudah berganti bulan. Tidak terasa kehamilan Fadia sudah berusia 5 bulan. Perut Fadia tampak lebih besar dari mereka yang juga hamil dengan usia kandungan yang sama.
Itu karena apa?
Karena Fadia hamil anak kembar. Dan kehamilan simpatik Harry sudah hilang dan ia bersyukur akan itu.
Dari perdebatan manis di hari akad nikah Ricky dan Elsa, hubungan Fadia dan Harry bertambah manis. Fadia menjadi penurut dan Harry menjadi lebih siaga.
Harry tidak lagi terlalu mengekang Fadia, ia mengijinkan istrinya itu memasak karena itu adalah hobby istrinya. Tapi dengan catatan harus ia bantu atau bibi Minah yang bantu Fadia. Sedangkan Gadhing, anak laki-laki itu semakin mandiri dan tidak ingin terlalu merepotkan Fadia. Anak itu sudah cukup mengerti kalau sang bunda tengah membawa dua adik di dalam perut.
"Mas.. Sini." Pekik Fadia saat ini ia tengah duduk di atas tempat tidur bersandar di kepala ranjang sembari memperhatikan Harry tengah menyisir rambut.
Harry berbalik badan segera menghampiri Fadia. "Kenapa sayang?"
Fadia tersenyum membawa kedua tangan Harry menyentuh kedua sisi perut nya yang sudah membuncit.
Seketika mata Harry berbinar sudah berkaca-kaca dengan apa yang baru saja dirasakannya.
"Sayang.. ini.." Harry berbicara menatap Fadia seolah mencari keyakinan dan Fadia mengangguk dengan senyuman.
Harry mengelus perut buncit Fadia. Di kecup berulang kali, tanpa terasa air mata Harry mengalir dari pelupuk matanya.
Haru
Bahagia
Untuk pertama kalinya ia merasakan gerakan dari anak yang di kandung istri tercinta nya. Ada rasa bahagia yang berbeda dihatinya.
Apa seperti ini? apa sebahagia ini akan memiliki anak? pertanyaan itu terngiang di benaknya.
Harry mendekap Fadia dengan rasa bahagia. "Terimakasih Yu.. Terimakasih telah menjaga mereka." ucap Harry tulus.
Fadia mengurai dekapan dan menatap kedua mata Harry. "Kamu ikut andil dalam menjaga anak-anak kita. Kamu suami hebat. Ayah hebat juga."
"Iya kan dek? ayah hebat kan ya?" tanya Fadia menatap perut buncit nya menirukan suara anak kecil.
Harry terkekeh lalu menangkup kedua sisi wajah Fadia. Di kecup kening Fadia cukup lama membuat Fadia terpejam merasakan bibir Harry mendarat di kening nya.
"Aku akan pulang cepat sore ini, kamu harus sudah selesai pas aku pulang ya biar kita langsung ke tempat praktek dokter kandungan kamu."
Fadia mengangguk. Hari ini adalah jadwal pemeriksaan kandungan Fadia. Sebenarnya ia bisa saja pergi dengan bibi Minah. Tapi selalu saja suaminya tidak mengijinkan.
"Bekal kamu sudah ku siapkan di meja ya mas.." ucap Fadia yang masih enggan turun dari tempat tidur.
__ADS_1
Harry mengangguk beranjak hendak berangkat bekerja. Ia terus tersenyum melihat Fadia mencium punggung tangan nya dengan takzim.
Sudah menjadi kebiasaan untuk Harry mencium kening dan bibir Fadia. Dan semenjak Fadia hamil kebiasaan nya bertambah mendaratkan ciuman di perut Fadia.
"Aku pergi dulu." pamit Harry melangkah keluar kamar.
"Mas.. Ingat-" Belum sempat Fadia menyelesaikan bicara sudah di potong Harry.
"Iya mas tahu, jaga mata dan jaga hati kan? jangan tebar pesona kan?"
Fadia tersipu malu Harry bertanya seperti itu mengetahui ancaman nya.
"Tenanglah, aku selalu setia. Mana berani aku lawan Mak Gardam kayak kamu Yu. Serem." goda Harry namun agaknya membuat Fadia tersinggung.
"Aku bukan Mak Gardam." tukasnya.
Harry tidak menjawab hanya tertawa nyaring bahkan saat keluar kamar masih saja terdengar.
"Harry gendeeenngg..."
...****...
"Kak, bisa perhatian sedikit sama ku? aku masih hamil muda.." pinta Elsa baru sajaia keluar dari kamar mandi mengeluarkan isi perutnya.
Bukan ia tidak perhatian, tapi ia tidak pandai bereaksi. Di tambah lagi karekter nya yang kaku tentu saja ia bingung harus berbuat apa.
Ricky terus mencoba mengerti Elsa tapi selalu saja salah di mata Elsa.
"Tapi kamu lebih banyak di toko."
Ya, semenjak Ricky dan Elsa menikah, ia memutuskan membuka cabang toko rotinya di kabupaten kota tempat tinggal sang istri. Tidak sebesar toko roti di Malang. Ia menyewa satu ruko untuk toko rotinya.
"Jadi aku harus gimana? toko roti buka dari pagi sampai malam, tidak ada yang jaga kasir. Kata mu, kasir aku saja yang jaga."
"Aku hanya butuh waktu mu kak."
"Kamu juga harus ngerti El, kalau kamu mau dekat dengan ku bisa datang ke ruko. Aku bukan Harry yang suka rela mengantar Ayu kesana kemari karena jabatan nya sudah tinggi di perusahaan itu. Tapi suami mu ini hanya penjual toko roti yang harus memikirkan pemasukan dan pengeluaran. Aku memikirkan bagaimana anak kita nanti."
Elsa tertegun, sungguh dipikiran nya sudah tidak ada lagi nama Harry disana. Tapi kenapa Ricky sering saja membandingkan dirinya dengan Harry.
"Kakak cemburu?"
"Tidak biasa saja." jawab Ricky cepat mengalihkan pandangan nya.
__ADS_1
Elsa terkekeh. Ia akui bahwa sang suami sudah membuat ia jatuh cinta dengan sentuhan-sentuhan lembut yang di berikan Ricky untuknya.
Walau ia tahu kalau suaminya seorang player wanita dulunya tapi ia sangat berbangga hati saat Ricky mengungkapkan bahwa ia baru pertama kali melakukan hubungan in tim yang masih suci.
"Jangan menatapku seperti itu, aku tidak cemburu." ucap Ricky.
Elsa menahan senyum melihat ekspresi kaku sang suami. Ia tahu, sifat suaminya bukanlah seperti Harry yang sangat bucin ke Fadia. Suaminya penuh kata gengsi untuk perhatian pada istri dan itu konyol katanya.
"Kakak tidak rindu aku? sudah libur tiga hari loh.. Biasanya kakak mengajak ku pagi-pagi gini olah raga panas dulu."
Ricky menghela nafas menahan sesuatu. "Tidak. Biasa saja."
Entah semenjak hamil atau tidak tapi yang ia rasakan memang hanya ingin dekat dengan Ricky dan iaenjadi lebih agresif.
"Kata Harry, kalau hamil muda lebih baik kamu di bawah El. Nanti kamu tidak puas." kata Ricky lirih.
"Loh.. Kok kakak jadi sedih gitu?"
"Ya kakak takut kamu tidak puas."
"Eh."
Elsa tidak menjawab melainkan tertawa. Sungguh wajah lesu sang suami terlihat lucu di matanya.
Apa begini yang dirasakan Fadia setelah menyadari sedang jatuh cinta?
Elsa memberanikan diri untuk duduk di pangkuan Ricky. "Aku pasrah kak.." ucap Elsa menggoda.
Seperti kata orang, kalau jodoh pasti banyak kesamaan. Sepertinya kesamaan yang dimiliki Ricky dan Elsa itu lebih banyak tentang ranjang.
Keduanya sama-sama ingin mengakhiri permainan dengan skor seimbang.
🌸
Bersambung..
*Hai para readers ku tersayang..
Hari ini emak buat novel baru lagi..
yuk mampir ya sayang..
Dukungan kalian sangat berharga untuk emak*..
__ADS_1