
Sinar menembus sela-sela gorden kamar rawat inap milik Fadia, ia menguap dan mengusap mata yang tersorot dari cahaya itu. Sayup-sayup ia mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi dan gelak tawa kedua orang yang ia cintai.
Sang suami dan anaknya.
"Jadi kalau adik Gadhing sudah keluar, Gadhing tidak boleh di mandiin bunda ya yah?" tanya Gadhing masih di dalam kamar mandi.
"Bukan tidak boleh, tapi kamu harus belajar mandi sendiri ya.. Kasihan dong bunda sudah mandiin dua adik kamu masa' kamu nya juga minta mandiin bunda." terang Harry memberi pengertian pada anak sambungnya.
"Oohh.. Kalau gitu Gadhing bantu bunda mandiin adik saja."
Harry tidak menjawab karena ia sudah tergelak dengan perkataan Gadhing. Bagaimana bisa anak seusia Gadhing mandiin bayi? sedangkan dirinya saja belum tentu bisa.
Keduanya keluar kamar mandi dalam keadaan fresh. Dapat dilihat oleh matanya, Harry terlihat lelah. Bagaimana tidak lelah? suaminya itu harus berangkat pagi-pagi buta ke kantor nya untuk memberi arahan apel pagi, setelah itu harus kembali ke RSUD untuk mengurusi Gadhing berangkat sekolah dan harus membantu dirinya membersihkan diri.
Bahkan sarapan harus suap-menyuap antara ia, Gadhing, dan juga Harry. Suaminya itu selalu mementingkan ia dan Gadhing sarapan lebih dulu. Bahkan dengan tangan Harry lah ia dan anaknya makan. Dan hal itu pula menjadikan dirinya berinisiatif menyuapi sang suami.
Belum lagi acara mual dan muntah-munta suaminya membuat ia sering merasa tidak tega.
Beruntung dua hari lalu mengijinkan Harry mencari ART untuk membersihkan rumah. Di tambah Harry meminta art tersebut menjemput Gadhing saat pulang sekolah dan menemani Fadia sebelum Harry pulang bekerja sore hari.
"Selamat pagi sayang.."
"Selamat pagi bunda.."
Fadia tersenyum menatap kedua pria tercintanya.
"Selamat pagi juga.."
Harry mendekati Fadia sementara Gadhing duduk menikmati bubur ayam yang sudah di beli Harry sebelum mandi tadi.
Harry ini adalah hari Minggu menjadikan mereka sedikit santai dan besok Fadia sudah boleh pulang.
"Mau mandi sekarang?" tanya Harry lembut.
Fadia mengangguk.
"Sebentar ya.. Aku siapin air hangatnya. Tadi bibi sudah antar air panas pakai termos." ucapnya seraya mengambil termos di lantai dekat nakas lalu dibawanya menuju kamar mandi. Bibi adalah panggilan untuk art nya.
Sebenarnya ia sudah baik-baik saja. Luka di tangan dan dahinya sudah mengering. Namun karena ia di rawat menggunakan kartu kesehatan dari pemerintah, menjadikan ia di rawat sampai 4 hari di RSUD.
"Gadhing tolong kunci pintu nya ya.. Jangan kasih orang masuk karena bunda mandi." titah Harry setelah keluar dari kamar mandi.
"Iya yah." jawab Gadhing bangkit menutup pintu kamar rawat tersebut lalu kembali duduk meneruskan sarapan buburnya.
__ADS_1
"Aku jalan saja ya.." pinta Fadia ketika Harry hendak menggendong nya.
Harry mencebik bibir saja dan tetap menggendong Fadia. Beruntung infusan Fadia sudah di lepas tadi malam karena menurut dokter keadaan Fadia jauh lebih baik dari hari sebelumnya.
Cup
"Mas.." pekik Fadia setelah Harry mengecup bibirnya.
Harry terkekeh sembari mendudukkan sang istri di bangku plastik yang sengaja ia letak di atas WC. Dengan telaten Harry membuka kaos oblong sang istri, celana, lalu alat pelindung kedua aset berharga sang istri.
"Tunggu sebentar." Harry berlalu begitu saja membiarkan gadis duduk di dalam kamar mandi dalam keadaan polos.
"Eh.. Kenapa buru-buru begitu mas?" tanya Fadia karena kaget melihat Harry tiba-tiba masuk dan mengunci pintu kamar mandi.
"Kamu mau a-apa mas?" tanyanya lagi.
Harry tidak menjawab, membungkam bibir istrinya adalah tujuannya sekarang. Lu matan dan gigitan kecil ia berikan pada bibir manis sang istri. Bertambah semangat kala sang istri memberi akses lidahnya untuk menjelajahi rongga bibir sang istri.
Ah Fadia adalah candu bagi Harry.
Harry tidak memberi kesempatan pada Fadia untuk berbicara lagi. Yang ia mau hanya suara lenguhan dan desa han walau tertahan karena ada Gadhing.
"Tolong bantu aku Yu.. Ini membuat ku tersiksa dan kepala ku pening karena terlalu lamaenahan nya." ucap Harry lirih dengan tatapan berkabut gai rah.
"Belum, aku masih takut untuk kita menyatu, aku bantu keluarkan saja ya.." Bohong jika Harry tidak menginginkan Fadia, tapi ia harus memikirkan nasib 2 buah hati nya yang berada di dalam rahim sang istri.
"Yakin?" tanya Fadia karena ia tahu bagaimana Harry bila menyangkut kasur bergoyang.
Akhirnya Fadia membantu Harry untuk menuntaskan dahaga selama beberapa hari ia tahan.
...****...
"Sayang.. Gimana pekerjaan mu?" tanya Fadia karena selama ia di rawat tidak mendengar cerita tentang pekerjaan Harry.
Deg
"Ba-baik sayang.." jawab Harry gugup.
Fadia mengerutkan dahi merasa aneh dengan jawaban Harry seperti gugup. Awalnya ia merasa Harry tidak bercerita lantaran ia yang sedang di rawat. Tapi mendengar Harry menjawab dengan gugup membuat curiga.
"Apa ada yang kamu sembunyikan suamiku?" tanya Fadia lembut namun tegas. Karena baru kali ini ia merasa Harry menyembunyikan sesuatu.
"Ti-tidak Yu.." ucap Harry berkilah tanpa menatap Fadia.
__ADS_1
Fadia tersenyum kecut karena ia yakin menyembunyikan sesuatu darinya.
"Kamu tidak bisa berbohong padaku mas. Ya sudah jika pada akhirnya kamu akan membiasakan diri menyembunyikan apapun itu dari ku. Lanjutkan lah." ujarnya lalu berbaring memunggungi Harry yang tengah duduk di sebelah brankarnya.
Kilatan bayangan dimana Elsa sudah mulai nekad mendatangi Harry terus terngiang di pikiran nya. Jika sudah nekad sekali pasti akan ada nekad dua kali, tiga kali, dan nekad berkali-kali.
Kegagalan pernikahan kembali menakuti dirinya. Bahkan lebih takut dari pernikahan pertama nya dulu yang sangat ia inginkan berpisah. Tapi kini.. Ia tidak bisa membendung air mata dari pelupuk matanya.
...****...
Harry panik malihat punggung Fadia bergetar. Bukan maksud menyembunyikan tapi ia hanya menjaga kesehatan Fadia dan tidak ingin sang istri menjadi stres.
"Sayang.. Jangan menangis.." ujarnya setelah berada di depan Fadia. Ia meringis
Beruntung saat ini Gadhing tengah tidur membuat Fadia leluasa menangis walau dengan suara tertahan. Jika Gadhing mendengar, dapat di pastikan Harry tidak boleh mendekati sang Bunda.
Ia melihat Fadia bergeming masih dengan isak tangisnya. Hatinya mendadak nyeri melihat pemandangan memilukan ini.
"Ini tentang Elsa Yu, di Perkebunan beredar gosip kalau aku dan dia ada hubungan dan mengakibatkan kamu masuk rumah sakit." Pada akhirnya ia memilih menceritakan kebenaran apa yang terjadi.
"Kalau memang tidak ada hubungan dengan Elsa kenapa harus kamu tutupi dari ku? berarti memang ada hubungan kalau begitu." sergah Fadia bangkit duduk kembali mengusap air matanya menatap tajam sang istri.
Harry menelan saliva kasarnya ditatap seperti itu. Mendadak merasa ngerih dengan sang istri.
"Mana ada begitu Yu.." elak Harry karena memang tidak ada apa-apa di antara ia dan Elsa.
Fadia semakin menajamkan pandangan nya ke mata Harry seolah mencari kebohongan sang suami walau ia tidak menemukan hal itu dan berharap tidak ada kebohongan.
"Awas saja kalau berani macam-macam sama perempuan lain di belakang ku."
Fadia mengancam namun itu terlihat lucu di mata Harry. Karena hal itu akhirnya Harry tidak bisa menahan tawanya.
Fadia melotot tak percaya melihat Harry tertawa padahal ia sedang mengancam nya.
"Kenapa ketawa heh?"
"Kamu lucu kalau marah, makin cantik kalau cemberut gitu. Tambah sayang dan cinta."
Fadia hanya mencebik bibir saja. Padahal dalam hatinya ia sangat senang di rayu seperti itu pada Harry.
*Pingin kali aku jingkrak-jingkrak karena rayuan mu itu Harry.. Tapi aku gengsi.
🌸*
__ADS_1
Bersambung..