Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Ralat


__ADS_3

Para reader ku tersayang... Sudilah kiranya meringankan jarinya untuk menekan favorit ZX like,. dan komen agar emak semangat. Terimakasih.




Harry terus tersenyum sepanjang perjalanan pulang. Ini adalah pengalaman pertamanya berciuman.



Ia pun tidak pernah berpikir jika orang pertama yang mencium bibirnya adalah sahabat dunia maya nya. Yang dulu tidak pernah terlintas akan sedekat ini bahkan ia berkali-kali jatuh cinta pada Fadia.



Perhatian dan sering malu-malu selalu membuat ia jatuh cinta. Bahkan rasa ingin memiliki itu menjadi lebih besar.



Harry menggeleng kepala saat adegan ciuman itu terngiang lagi di kepalanya. Ia teringat begitu lembut Fadia membalas ciuman tadi. Sekuat tenaga ia menahan tangan nya agar tidak berpindah tempat dari kedua sisi wajah Fadia.



Jika ia tidak bisa menahan, dapat ia pasti saat ini pasti mereka sudah bercinta di kamar Fadia.


Dan ia tidak ingin hal itu terjadi sebelum sah dalam pernikahan.



"Kamu sangat manis Yu." ucap Harry dibalik helm full face nya dengan senyum yang terukir.



\*\*\*\*



Keesokan harinya seperti biasa apel pagi sebelum memulai kerja. Pagi ini Fadia terus mengulas senyum. Senyum bahagia yang tidak pernah itu tampilkan sebelum Harry hadir di hidupnya.



"Ciee.. Yang baru jadian sama sahabat dunia maya nya." goda Elsa setelah selesai apel pagi.



"Jangan menggodaku El."



Satu notifikasi pesan WhatsApp dari ponsel Fadia. Ia tersenyum saat melihat siapa sang pengirim pesan.Harry.



**Harry** :


*Kamu dimana*?



**Fadia** :


*Di parkiran* *kantor mau pulang antar Gadhing*.



**Harry** :


*Gadhing sudah ku antar*.



**Fadia** :


*Terimakasih 😊 ya sudah aku mau ke blok ya. Mau sarapan bareng yang lain*.



**Harry** :


*Aku belum sarapan Yu. Aku bangun kesiangan, subuh saja kelewatan*.



**Fadia** :


*Kok tumben kelewatan sih? makan bekal aku saja mau*?



**Harry** :


*Mau sih. Aku tunggu di ruangan aku ya*.



Fadia terbelalak membaca pesan WhatsApp terakhir Harry.



*Keruangan Harry? dengan penampilan ku begini? ya ampun. aku malu*.



Saat ini Fadia sudah berseragam kerja nya. Memakai kemeja panjang yang sudah lusuh, celana jeans yang sudah tidak jelas warna nya. Lengkap dengan APD (*Alat Pelindung Diri*) melekat di tubuhnya. Serta peruntukan alat kerja nya hari ini sebagai pencangkul piringan sekitar pohon kelapa sawit.



**Fadia** :


*Aku malu. Aku sudah pakai seragam kerja. 😒*



**Harry** :


*Tidak apa. Kamu tetap cantik. Kemari lah*.



Bagaimana hatinya tidak luluh bila dipuji terus? ah Harry selalu bisa membuat ia tersenyum pikir Fadia.

__ADS_1



Fadia mengalah demi Harry harus sarapan. Tapi ia harus mencari alasan apa yang akan ia jawab bila staf kantor bertanya. Tidak mungkin ia sembarangan masuk sedangkan ia hanya karyawati.



"El, kamu duluan ke blok ya.. Aku mau antar sarapan ke Harry. Kabari kalau sudah mulai kerja." kata Fadia.



"Iya, nanti aku WA ya.."



Fadia berjalan menuju kantor Harry perasaan tidak karuan dengan satu kantung plastik berisi bekal di genggaman nya. Gugup dan malu itulah yang sedang ia rasakan. Berulangkali ia mencium kedua ketiak nya memastikan tidak ada bau asem disana.



Ia teringat tadi sehabis mandi sudah memakai deodorant yang di jual eceran tiga ribuan itu. Ia berhenti di samping pintu masuk kantor karena belum menemukan alasan apa ia ke kantor.



Ia pun melengos tatkala otak nya tidak bisa bekerja sama.



"Eh ada Fadia janda kembang karyawati." kata seorang krani kantor yang diketahui Fadia bernama pak Rahmat.



"Iya pak." jawab Fadia lirih.



"Ada perlu apa Fadia? kamu kerja hari ini kan?"



"Anu pak." Fadia benar-benar bingung. Karena tidak ada yang tahu tentang kedekatan Fadia dan Harry selain Elsa. Para Asisten Kebun hanya mengetahui jika Harry memiliki calon istri janda anak satu tapi tidak tahu siapa wanita itu.



"Eh ada adek Fadia cantik." celetuk Pak Didi Asisten Kebun terkenal akan kegenitan nya.



"Iya pak."



"Adek Fadia ada perlu apa? mau ijin ke klinik? Adek Fadia sakit?"



"Atau mau istri saya dek Fadia?" sambung pak Didi lagi.



Fadia menggeleng.



\*\*\*\*




Mengingat kekasih. Apa Fadia termasuk kekasihnya? sedangkan ia tidak pernah melontarkan pertanyaan ataupun pernyataan bila Fadia adalah kekasihnya. Ia hanya ingin Fadia menjadi istrinya.



Menunggu cukup lama karena Fadia tidak membalas pesan nya. Akhirnya ia bangkit berniat menunggu Fadia di depan kantor.



Saat tangan menyentuh handle pintu, sayup-sayup mendengar di luar ruangan bercakap-cakap.



"*dek Fadia*?"



Ia berdecak sebal saat suara yang di kenal berbicara dengan wanitanya. Tambah kesal setelah suara yang di kenalnya.Pak Didi menggoda dengan bertanya mau menjadi istrinya.



Di buka pintu ruangannya melihat Fadia masih saja di goda Pak Didi.



"Fadia Rahayu." panggil Harry pelan namun penuh penekan di setiap kata.



"Oohh.. dek Fadia ada perlu sama pak Harry. Kok tidak ngomong dari tadi?" tanya pak Didi.



Fadia hanya bergeming. Sungguh ia malu saat ini berhadapan dengan atasan nya.



Ia tersentak saat Harry merangkul pinggang nya dengan posesif. Rasanya ingin menghilang dari kantor itu sekarang juga.



Pak Didi tampak melongo sejurus kemudian ia tersadar, calon istri dari atasan nya adalah Fadia.



"Hehehe.. Jangan marah ya Pak. Tapi saya cuma bercanda. Iya kan Bu Fadia." pak Didi cengengesan.



Harry tidak menjawab. Ia langsung membawa Fadia keruangan nya.


"Kenapa tidak langsung masuk Yu?"

__ADS_1



Harry mendekap Fadia. Entahlah, sekarang ia suka sekali memeluk wanitanya ini, sangat membuat hatinya tenang dan membuat ia semakin tidak ingin melepasnya.



"Aku 'kan tidak tahu ruangan mu dimana Rry.. Terus aku harus jawab apa kalau ada yang tanya seperti tadi?" kata Fadia dalam dekapan Harry.



Harry menghela nafas. Ternyata seorang janda jauh lebih membuat cemburu dibandingkan dengan gadis.



"Masak apa hari ini Yu?" tanya Harry mencoba mengesampingkan rasa cemburunya.



Fadia membuka bekal nya. "Aku masak soup ayam sama sambal kecap. Mau?"



Harry hanya mengangguk sembari menunggu Fadia menyediakan sarapan untuknya.



"Besok kalau tidak sempat masak kabari aku Harry. Aku bisa antar makanan ke kamu. Kita bagi dua ya." ujar Fadia masih fokus dengan bekalnya.



"Itu berarti kamu mau kerumah ku Yu?"



Fadia menatap Harry. Sungguh tatapan teduh Harry membuat dirinya gugup. Ia pun memutuskan tatapan itu.



"Hanya mengantar makanan saja tak masalah."



"Yu. Sore nanti. kita ziarah ya.. Malam nya aku mau kerumah Elsa. Terus besok sore kita ke Medan." terang Harry sembari memakan sarapannya.



Fadia terbelalak mendengar itu. "Secepat itu? apa tidak terlalu terburu-buru?" tanya Fadia.



"Tidak. Bukan kan lebih cepat lebih baik? menunda kebaikan itu tidak bagus yu."



"Aku ikut gimana baiknya. Tapi kamu jangan marah ya kalau mbak Fatin mengomel." kata Fadia.



"Tidak masalah. Masakan kamu enak Yu." puji Harry.



Selalu saja Harry bisa embuat hatinya menghangat. Senyuman itu terukir indah di bibir Fadia. "Terimakasih."



"Ayu.. Apa kamu marah persoalan tadi malam aku mencium mu?" tanya Harry lirih.



Wajar ia bertanya seperti itu karena tadi malam adalah pengalaman pertamanya berciuman. Hal inilah menyebabkan ia susah tidur karena terus terngiang adegan ciuman bersama Fadia.



Polos amat sih mas Harry..🤣🤣



Lihatlah pertanyaan calon suaminya ini. Wajah Fadia seketika berubah merah merona. Bohong jika ia tidak memikirkan hal itu karena dari hamil Gadhing dulu hingga sekarang tidak pernah berhubungan dengan pria.



Harry lah pria kedua untuk Fadia dan semoga Harry lah terakhir untuknya. Tapi apa harus di bahas lagi? ah ia baru teringat obrolan nyaa dengan calon adik ipar.Ia adalah wanita pertama yang mencium Harry.



*Ah akulah yang merebut first kiss Harry*. Fadia tersenyum dalam hati.



Fadia tersenyum. "Kenapa? mau lagi?" pancing Fadia. Ia berpikir tentu Harry menolak karena kepolosan Harry tentang hal seperti ini.



Mendengar pertanyaan Fadia. Ia merasa tertantang. Tanpa aba-aba Harry menarik tengkuk leher Fadia.



Sekali lagi. Harry melakukan nya perlahan dan sangat lembut. Sarapan yang baru beberapa suap kini merrekka lupakan. Saling berpangut dan melu mat. Bukan ciuman penuh gairah. Ini ciuman penyaluran cinta.



"Harry. Kenapa kamu ulangi lagi?" tanya Fadia dengan nafas. terengah-engah. Ciuman kedua ini lebih lama dari tadi malam.



Harry hanya tersenyum sembari mengusap bibir Fadia dengan ibu jarinya.



*Ku ralat. Harry sama sekali tidak ada polos-polosnya. Bahkan bisa dikatakan mesum. Oh tidaakk.. Bagaimana ini? tapi aku suka.



🌸*



***Bersambung***..

__ADS_1


__ADS_2