Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Midodareni dan nasihat


__ADS_3

Prosesi hajatan pernikahan adat Jawa sebelum hari pernikahan akan diakhiri dengan midodareni.


Kata midodareni sendiri berasal dari kata ‘widodari’ yang dalam bahasa Jawa berarti bidadari. Yang diharapkan dari ritual ini adalah sang pengantin wanita akan secantik bidadari dari surga saat hari pernikahannya esok hari. 


Malam midodareni dilangsungkan pada malam sebelum acara pernikahan keesokan harinya. Mempelai wanita hanya akan ditemani keluarganya saja dan mendapat wejangan seputar pernikahan. 


Pada malam ini pula, dengan mengenakan busana Jawa lengkap keluarga calon mempelai pria mengunjungi rumah calon mempelai perempuan untuk memberi seserahan berupa kebutuhan seperti busana, alas kaki, kosmetik, buah-buahan, makanan.


Pada malam midodareni, calon mempelai perempuan hanya diperbolehkan berada di dalam kamar pengantin dan yang bisa melihatnya hanya saudara serta tamu perempuan saja. Bahkan, calon mempelai laki-laki dilarang melihat calon istrinya di malam tersebut. 


Dan itu sungguh sangat menyiksa bagi keduanya. Dua Minggu tidak bertemu sangat menyiksa diri Fadia maupun Harry.


Acara pertama dalam proses midodareni adalah jonggolan. Dalam tahapan ini, Harry datang ke rumah calon istrinya untuk bertemu Fatin dan Fadil beserta keluarga besar Fadia. Kedatangannya tersebut bertujuan untuk menunjukkan bahwa dirinya dalam keadaan sehat dan hatinya telah mantap untuk menikahi Fadia.


Setelah calon suaminya datang dan menunjukkan kemantapan hatinya, kini saatnya Fadia yang ditanyakan kembali apakah sudah mantap menerima pinangan kekasihnya tersebut. Dan ini adalah acara kedua adalah tantingan.


Malam itu benar-benar sungguh menyiksa bagi keduanya. Mereka berada dalam satu rumah namun tidak ada yang mengijinkan mereka untuk bertemu.


Acara selanjutnya Penyerahan Catur Wedha dan di susul Welujengan Majemukan.


Malam midodareni ditutup dengan wilujeng majemukan, yakni silaturahmi antara keluarga calon pengantin laki-laki dan perempuan untuk merelakan anak mereka membangun rumah tangga. Kemudian, keluarga calon mempelai perempuan menyerangkan angsul-angsulan atau oleh-oleh berupa makanan, kancing gelung atau pakaian, serta sebuah pusaka berbentuk dhuwung atau keris yang bermakna bahwa mempelai laki-laki diharapkan menjadi pelindung bagi keluarganya kelak.


Harry sudah tidak tahan. Ia benar-benar ingin bertemu Fadia malam itu juga. Ia pun mengirim pesan WhatsApp pada Fadia.


Harry :


Kamu sama siapa di kamar?


Tentu ia tahu dimana Fadia. Jika bukan di kamar dimana lagi pikirnya. Apa lagi kamar Fadia akan menjadi kamar pengantin mereka besok.


Fadia :


Sama Elsa. Ada apa?


Harry bangkit melangkah keluar rumah lebih dulu.


Harry :


Buka jendela kamar kamu sebentar Yu.


Fadia pun beranjak membuka jendela kamar yang tidak begitu besar.


"Harry." pekik Fadia dengan mata berbinar penuh kerinduan.


Begitu juga Harry. Ia sangat merindukan calon istrinya itu.


"Yu. Aku kangen." celetuk Harry.

__ADS_1


Fadia mengangguk. "Aku juga."


Harry mencium kening Fadia sangat lama. Pingitan sungguh benar-benar mengajarkan kedua nya arti rindu.


Fadia yang di cium hanya bisa memejamkan mata sejenak. Ingin rasanya menghentikan waktu sebentar untuk ia dan Harry menghabiskan waktu bersama malam ini. Tapi apalah daya. Ia bukan sang Pencipta.


"Mas Harry." panggil seseorang tak lain adalah adik Harry. Hanum.


Harry dan Fadia terkejut. "Hanum." ucap Harry lirih.


"Sudah belum ketemuan nya? acara sudah mau selesai. Nanti ketahuan." Ternyata Hanum sedari tadi sudah tahu bila sang kakak sedang menemui calon istrinya. Ia pun membenarkan, siapa yang tidak rindu dengan orang tercinta nya selama dua Minggu? padahal jarak rumahnya dengan calon istrinya tidaklah jauh. Dan ia lebih memilih meninggalkan kakak nya itu.


Harry mengangguk. Diraihnya tengkuk Fadia dan Ia kecup berulang kali bibir Fadia dengan gemas.


*Cup


cup


cup*


"Harry.. Lihat itu, lipstik ku nempel di bibir kamu." celetuk Fadia.


"Sini aku bersihin." sambung nya lagi.


Harry pun mendekatkan wajah nya ke arah Fadia.


Fadia pun berjinjit meraih kedua sisi wajah Harry. Dengan lembut ia menci um bibir Harry. Ini adalah kedua kalinya Fadia berinisiatif melakukan nya lebih dulu.


Kini tubuh bagian atas keduanya sudah merapat hanya terhalang tembok rumah. Perasaan yang kian menggebu harus di hentikan setelah ciu man terlama mereka.


Nafas keduanya terengah-engah membuat dada mereka naik turun.


"Sudah sana pulang." usir Fadia dengan wajah sudah merah merona saat mengingat ia lah yang memulai ciuman panas itu.


"Kamu usir aku Yu?" tanya Harry dengan senyum menawan nya.


Harry mendekap Fadia lewat jendela itu. Bukan jendela kaca, melainkan jendela terbuat dari kayu.


"Aku tidak sabar untuk menghabiskan malam dengan mu." bisik Harry.


Fadia hanya bisa menyembunyikan wajah nya karena malu.


"Aku pulang ya. Nanti aku telepon." Pamit Harry dengan kecupan di pucuk kepala Fadia.


"Hati-hati." ucap Fadia setelah pelukan dari Harry terlepas.


Malam terakhir dengan status lajang dan janda itu diakhiri dengan senyuman karena baru saja keduanya melepas rindu.

__ADS_1


****


Dua orang pria beda usia kini duduk berdua di ruang tamu. Sedangkan yang lain nya sudah terlelap karena besok akan menjalani hari panjang.


Dua pria itu adalah Harry dan juga sang Bapak. Masing-masing masih menikmati segelas teh manis hangat.


"Gimana tadi? Sudah puas tadi lepas kangen nya?" goda sang bapak.


Harry hampir tersedak karena mendengar godaan sang bapak. Ia berpikir apa bapak melihat aksi nekad nya tadi dengan Fadia di jendela?


"Bapak melihatnya tadi. Untung adikmu langsung membawa ibu dan kakek nenek mu. Kalau tidak, maka sapu rumah Ayu akan melayang ke badan mu." sambung sang bapak.


Harry hanya cengengesan ketahuan aksinya tadi. Ia benar-benar malu saat ini.


"Maaf pak."


Bapak Harry hanya mengangguk. "Sabar lah sedikit lagi. Besok pagi Ayu sudah halal untuk mu. Dulu bapak juga begitu, tidak tahan jauh dengan ibu mu. Tapi Harry, di mata masyarakat itu kalau lajang dan gadis melakukan seperti itu beranggapan biasa saja karena besok akan menikah. Tapi tidak dengan Ayu. Dia janda maka akan semakin jelek di pandang masyarakat karena banyak yang berpikir dialah yang menggoda mu." Nasihat sang bapak sangat mengenak di hati Harry. Ia kini diselimuti rasa bersalah pada calon istrinya itu.


"Maaf pak. Tadi aku kelepasan." cicit Harry.


Lagi-lagi bapak mengangguk. "Jadilah laki-laki yang bertanggung jawab nak. Bawa Ayu dan Gadhing beserta anak-anak mu hidup bersama di akhirat."


"Insyaallah pak."


"Dan ingat. Jangan pernah membedakan Gadhing dengan anak mu nanti. Bapaklah orang pertama yang akan menghajar mu karena kamu adalah laki-laki brengsek jika itu terjadi."


"Sudah. Bapak mau tidur. Mau kelonan sama ibu mu." sambung bapak lagi.


"Bapak mesum."


Keduanya pun tertawa.


Sepeninggal sang bapak. Harry semakin gugup karena mendekati ijab kabul. Bahkan ia tidak bisa tidur padahal waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari.


Satu notifikasi pesan WhatsApp dari calon istrinya. Ia tersenyum setidaknya ada sedikit tenang melihat nama calon istrinya mengirim pesan. Padahal ia belum tahu pesan itu membuat ia bahagia atau justru sedih.


Fadia :


Our love is the best love because you make my imaan rise, you help me in the dunya and for that reason i want to meet you again in Jannah."


(Cinta kita adalah yang terbaik karena engkau membangkitkan imanku, menolongku di dunia ini. Dan untuk alasan itulah, aku ingin berjumpa kembali denganmu di surga)


🌸


Bersambung...


*Meleleh gak tu mas Harry nya?

__ADS_1


meleleh dong..


Jadi tambah bucin dong*..


__ADS_2