Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Mas galak


__ADS_3

Dua bulan berlalu tanpa terasa, seperti angin berlalu tanpa kenal waktu begitu pula keadaan hati seorang Hanum. Raga memang berada jauh dari kota kelahiran namun hati dan angan masih tertinggal disana.


Kabar pernikahan Yudha bulan lalu masih menjadi sesuatu yang menyakitkan untuknya. Ia begitu kecewa kepada Yudha yang tidak bisa memperjuangkan cinta nya.


Ia pun membenarkan apa yang dikatakan Harry bahwa seseorang dari masa lalu bisa membuat mereka melupakan kita yang setia mengobati dan menemani hidup di masa sekarang dengan nya.


"Kamu pengecut mas. Aku membenci mu."


Saat ini Hanum tengah berada di alun-alun kabupaten kota tersebut. Duduk sendiri di hamparan rumput hijau.


Harry tidak mengetahui betapa rapuh nya keadaan ia sekarang. Fadia lah tempatnya untuk bercerita dan menjadikan kakak iparnya itu sebagai pendengar terbaik.


Semua akses yang berhubungan dengan Yudha sudah ia blokir dengan maksud tidak akan mengetahui apapun yang terjadi dengan Yudha. Namun nihil, teman-teman nya banyak yang upload foto pernikahan Yudha dengan istrinya.


"Ini semua salah mu mengapa menerima dia dulu untuk menjadi pengobat luka hatinya."


Seseorang menyodorkan tissue ke depan wajahnya, dengan sigap Hanum menerima lalu menghapus air matanya.


Hanum menoleh melihat seseorang itu dan terkejut saat mengetahui orang itu adalah Niko.


"Mas galak?"


Niko berdecak mendengar julukan yang tersemat dari Hanum.


"Kau habis nangis masih sama menjengkelkan." gerutu Niko tak terima dikatakan galak.


Hanum menunduk merasa bersalah dan ia tidak ingin berdebat karena hatinya sesakit tidak baik-baik saja.


"Tidak baik perempuan sendirian menangis gini , sudah mau Maghrib pulang sana." ujar Niko.


Hanum menegakkan kepala kembali dan membenarkan perkataan Niko karena hari sudah mulai gelap.


"Kamu bukan asli orang sini ya?"


"Bukan, aku disini baru tiga bulan."


"Pantas. Asal darimana? terus sekarang tinggal nya dimana? kenapa waktu itu bisa di rumah Fadia?" cerca Niko.


Jika boleh jujur semenjak pertemuan pertama dengan Hanum, Niko penasaran dengan sosok Hanum. Ia terkadang senyum-senyum sendiri saat bayang wajah Hanum sedang kesel karena ia galak waktu itu.


"Kenapa mas jadi kepo gini?" tanya Hanum bingung dan heran.


Niko gelagapan ditanya seperti itu dan ia bingung harus jawab apa. Mendadak ia gugup di depan Hanum.

__ADS_1


"Eemm.. Hanya tanya saja."


"Oohh kirain, waktu itu aku bantu kakak ipar aku. Kan ada acara disana." jawab Hanum santai.


"Kakak ipar? berarti kau adik nya bang Harry?"


"Ya.."


"Gawat.. Sana pulang, nanti ngamuk abang mu kalau kau dekat sama ku."


"Memang nya kenapa?"


"Dia itu sensitif kali sama ku, selaku cemburu kalau lihat aku dekat sama ku. Padahal kami ini bekawan sudah dari SMP." curhat Niko.


Hanum mencebik bibir. "Jangan kan sama mas galak, kalau mbak Ayu terlalu asyik sama aku atau Gadhing saja mas ku itu cemburu."


Niko menggeleng masih merasa tidak percaya bahwa suami Fadia bucin akut padanya.


"Padahal bang Harry kalau tidak ada Fadia muka nya sangar, ngerih aku."


Hanum terkekeh mendengar kejujuran Niko dan ia membenarkan juga karena ia sering merasa takut berhadapan dengan Harry jika tidak ada Fadia.


Tanpa mereka sadari ini adalah awal keakraban mereka. Saling bertukar nomor WhatsApp dan Niko menemani Hanum pulang kerumah Harry.


"Sayang.. Kamu kenapa meringis begitu?" tanya Harry baru saja pulang kerja langsung masuk ke dalam kamar mencari istrinya.


Fadia menyingkap baju hingga menampakkan perut buncit nya. Ini adalah bulan ke sembilan dan besok adalah jadwal operasi Caesar Fadia.


Kedua anak dalam kandungan Fadia tengah bergerak hingga bentuk perut sudah tidak bulat dan Harry melihat itu dengan takjub.


"Hai anak ayah.. Apa ini kaki kalian atau tangan kalian?" Harry berbicara sembari mengelus perut Fadia yang menonjol.


Mereka juga sudah tahu jenis kelamin dari keduanya, semua perlengkapan bayi dan box bayi sudah di desain dan warna sesuai jenis kelamin anak mereka.


Ya! Hasil USG Fadia menyatakan jenis kelamin kedua anak mereka adalah laki-laki dan perempuan. Maka dari itu mereka banyak membeli peralatan bayi berwarna biru dan merah muda. Dari box bayi, pakaian, botol dot susu juga berwarna biru dan merah muda.


"Apa kamu sudah menyiapkan nama untuk mereka?" tanya Fadia sembari membelai rambut Harry.


"Sudah, tapi belum tahu kamu suka atau tidak."


"Aku selalu suka apapun dari mu Harry.. Kamu hidupku."


Harry memegang tangan Fadia yang membelai rambut nya lalu mengecup tangan itu. "Besok yang semangat ya.. Jangan takut di dalam ruang operasi nya."

__ADS_1


Fadia mengangguk menuruti walau sebenarnya ada rasa takut merayapi dirinya.


"Baju kamu dan bayi kita sudah siap kan?"


"Sudah mas.. Baju kamu, Gadhing, dan ibu juga sudah selesai. Baju Hanum belum karena aku tidak tahu dia akan ikut nginap di rumah sakit atau tidak."


Harry mengangguk lalu ikut rebahan bersama sang istri padahal ia belum membersihkan diri. Namun tetap saja harum tubuh Harry sangat menenangkan bagi Fadia.


"Apa Hanum baik-baik saja setelah mendengar kabar Yudha menikah?" tanya Harry sendu.


Fadia menggeleng, "Tentu tidak. Aku geram sama kak Yudha, yang di kira dia jadi pelampiasan untuk melupakan mantan itu tak sakit? andai di orang sini sudah ku jambak sahabatmu itu Harry." Akhirnya ia bisa meluapkan emosi nya, bagaimana pun sesama seorang wanita tentu ia merasa sakit.


"Itu lagi istrinya itu. Dimana hatinya, tahu nya dia kalau kak Yudha punya pacar ya jangan gitu napa.. Kenapa seenak jidat nya saja pergi ninggalin kak Yudha terus balik lagi ngerebut kak Yudha yang sudah punya Hanum."


"Pantas saja mereka berjodoh. Sama-sama tak punya hati."


Harry hanya menjadi pendengar budiman ketika sang istri sedang mengomel. Bukan kan seorang wanita lebih butuh di dengar? seperti sekarang ini, jika pasangan mu sedang mengomel tolong jangan di potong pembicaraan nya, cukup di dengar saja.


"Kamu kenapa diam saja mas? kamu bela sahabat mu itu?" Harry gelagapan di tanya seperti itu.


"Bukan gitu Yu.. Aku hanya dengarkan kamu saja."


"Iya tapi kamu diam itu tandanya kamu belain dia. Awas saja kalau kamu bela sahabat kamu itu."


Cup


"Sudah jangan marah-marah lagi sayang, gimana kalau sekarang buat kan aku teh."


Mata Fadia membola sempurna karena melupakan kebiasaan Harry jika pulang kerja selalu minum teh buatannya.


"Maaf mas aku lupa.." pekik Fadia merasa bersalah lalu segera bangkit.


"Iya tak apa sayang.. Hati-hati jalan nya."


Fadia mengangguk lalu berlalu menuju dapur sedang Harry memilih untuk membersihkan diri lebih dulu sembari menunggu Fadia.


Selesai membersihkan diri ia memilih bermain ponsel dalam keadaan handuk masih terlilit di pinggang nya.


Mengapa seperti itu? karena Fadia belum menyediakan pakaian nya. Malam ini ia berencana ingin bermanja-manja dengan sang istri karena mulai besok akan ada tiga orang yang menjadi pesaing nya dalam merebut perhatian Fadia.


🌸


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2