Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Malam pertama


__ADS_3

Di salah satu kamar di kediaman orang tua Harry terdengar decitan tempat tidur dan sayup-sayup suara syahdu.


Sepasang suami istri itu terus melewati malam dengan dibasahi peluh diantara keduanya. Sang suami seakan tak ingin terlepas dari penyatuan setelah libur beberapa hari karena acara pernikahan sang adik.


Ya, sang suami itu adalah Harry Setiawan yang tengah gagahi tubuh sang istri yang semakin seksi di matanya.


"Bee.." rengek Fadia karena merasakan sensasi yang luar biasa.


"Kamu sangat nikmat sayang.."


Pinggul nya terus maju mundur memberikan pelayanan terbaik untuk sang istri namun gerakan itu melambat karena mendengar sesuatu di kamar sebelahnya.


"*Hahaha... Geli mas.. Iihh jangan gini dong."


"Jangan di gigit geli mas.."


"Udahan ah, aku tidak tahan geli mas*."


Harry menghentikan gerakan membuat Fadia tanda tanya. "Kok berhenti sih?" tanya nya agak kesal.


"Gak fokus Yu, kamu tak dengar suara Hanum?"


Fadia mencebik bibir masih kesal dengan Harry. "Itu wajar karena pengalaman pertama untuk Hanum."


"Kenapa kamu tidak begitu Yu?"


Sumpah demi apa pertanyaan Harry seakan lupa bahwa dia bukan lah pertama untuk Fadia. Sekuat tenaga Fadia mendorong dada kekar Harry dan berhasil karena Harry tampak bingung.


"Kamu lupa kalau aku nikah sama kamu itu dengan status janda? Pakailah baju mu." ujar Fadia sembari memakai gamis nya dan hijab instan lalu membuka lemari mengambil handuk dan pakaian ganti, ia juga menyiapkan pakaian ganti untuk Harry.


Melihat Fadia yang marah membuat Harry buru-buru memakai celana da kan dan celana pendeknya.


"Yu, aku tak bermaksud seperti itu." Harry mengikuti Fadia yang hendak keluar kamar.


"Tunggu di kamar, aku mau mandi duluan."


"Ikut.."


"Tak usah manja."


Harry tak menggubris itu memilih mengikuti Fadia masuk ke dalam kamar mandi. Ia melihat istrinya membuka pakaian dan juga hijabnya. Tapi tunggu, Fadia menangis?


"Sayang.. Maafkan aku.. Ku mohon jangan menangis." Harry memeluk Fadia dengan erat. Sungguh ia tak sengaja bertanya seperti itu, tak ada niat untuk mengingatkan kembali masa lalu istrinya.


Fadia terus terisak dalam dekapan Harry. "Keluarlah, aku mau mandi takut anak-anak bangun."


Harry menggeleng. "Aku juga mau mandi."


"Ayolah.. Kamar mandi di rumah ibu tidak sebesar rumah jabatan kamu Harry."


"Tak apa, biar saja sempit."

__ADS_1


Fadia mencebik bibir saja membiarkan Harry berada di dalam kamar mandi bersamanya.


...****...


Sedang di kamar pengantin. Kedua mempelai sedari tadi belum juga bisa menembus gawang karena penjaga gawang terus saja bersuara hingga merusak konsentrasi pemain yang akan mencetak gol nya malam ini.


Ya, Niko baru tahu bila Hanum tidak bisa menahan geli karena ulahnya.


Niko menghela nafas panjang berpikir sejenak apa yang harus dilakukan karena ia tak mau gagal malam ini.


"Num."


"Ya.."


"Pernah nonton film biru?" tanya Niko dan mendapat gelengan dari Hanum.


Astaga.. Istriku polos kali..


Niko menggaruk alis yang tak gatal laluendapat ide yang membuat ia tersenyum.


"Kamu masih ingat apa yang mas lakuin tadi kan?"


"Masih mas."


Senyum sumringah terbit di bibir Niko lalu ia rebahkan dirinya sendiri.


"Sekarang kamu naik di atas tubuh mas terus lakuin apa yang mas lakuin tadi ya.."


"Tapi nanti mas kegelian." sanggahnya.


Hanum mengangguk lalu naik ke atas tubuh Niko membuat gai rah Niko kembali memuncak melihat kedua payu dara Hanum bergelantungan disana.


Ia menerima ciuman Hanum yang masih kaku menurut nya namun ia menikmati itu, sangat menikmati.


Manis.


Gerakan Hanum turun ke leher Niko namun berhenti ketika tangan Niko ikut bergerilya di tubuhnya.


"Geli mas.." rengeknya.


"Tapi mas juga pingin pegang-pegang kamu Num."


"Disini saja. Jangan ke punggung dan pinggang.. Geli." mengarahkan kedua tangan Niko ke payu dara nya membuat Niko senyum puas.


"Dengan senang hati."


Tibalah waktu yang ditunggu Niko sedari tadi yaitu waktunya finalti. Ia ingin sekali melayangkan tendangan pamungkas agar segera gol.


Ia mengarahkan Hanum kembali di bawah kukungan nya. Melebarkan penjaga gawang, jarinya bermain sebentar disana lalu mengarahkan senjata pamungkas ke arah gawang.


"Mas.." pekik Hanum saat kepala senjata pamungkas baru mencoba menembus gawang.

__ADS_1


"Ini akan terasa sakit Num, tapi hanya sebentar setelah itu hanya enak yang kamu bilang nanti."


"Tapi sakit mas.." rengek nya.


Nika tak bisa berhenti lagi, ini sudah terlanjur pikirnya dan ia tak akan menunda. Dengan perlahan ia arahkan senjata pamungkas itu memasuki gawang.


Akhirnya gawang itu jebol hingga ia melihat darah kegadisan istrinya menetes di seprei pengantin mereka.


Matanya terpejam merasakan denyutan-denyutan dari gawang Hanum. Sensasi yang tak bisa ia gambar dan ucapkan selain kata 'nikmat'.


"Jangan menangis sayang.." ucapnya setelah melihat Hanum meneteskan air mata.


"Aku sudah tak gadis lagi mas."


Niko terkekeh mendengar itu lalu mencium bibir Hanum sebelum istrinya itu menyuruh mengembalikan kegadisan nya.


Perlahan ia maju mundur pinggulnya agar gawang Hanum dapat menerima senjata pamungkas nya di dalam sana.


Hingga hanya kata ahh yang terus terucap di dalam kamar pengantin itu.


...***...


"Yudha.. Kenapa sih kamu ini." sungut Intan setelah selesai penyatuan.


Malam ini Yudha begitu kasar menjamah tubuh istrinya karena sedang melampiaskan rasa sesal dan tak rela membayangkan bagaimana malam pertama adik dari sahabat nya itu.


"Sudah seharusnya kamu melayani ku." jawabnya dingin.


"Iya tapi kenapa kasar begitu."


"Diam dan terimalah. Untung aku tak jajan diluar." imbuhnya seraya bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi meninggalkan intan yang terpaku.


Beberapa saat kemudian Yudha keluar dari kamar mandi sudah tampak segar kembali. Sedang Intan memperhatikan segala gerak-gerik Yudha.


"Kamu kenapa Yudh?"


Yudha menatap tajam ke arah Intan. "Berhentilah pura-pura baik di depan ibu ku In.. Aku sudah tahu semua tentang mu."


Intan tampak menegang mendengar ucapan Yudha. Bagaimana suaminya itu bisa tahu padahal rahasia nya sudah ia tutupi rapat-rapat.


"Dan kamu harus ingat, malam ini adalah terakhir kalinya aku memberi nafkah batin untuk mu."


"Yudha.. Aku ini istrimu."


"Ya, dan karena kamu aku tak bisa menikahi perempuan yang aku cintai dan karena kamu pula hidupku hancur. Kamu kira aku bisa mencintaimu lagi? Bermimpi lah."


Yudha berlalu begitu saja meninggalkan Intan yang sudah menangis. Ia tak tahu harus berbuat apa dan entah mengapa ia harus membuat Yudha menjadi pelampiasan atas kesalahan nya sendiri.


Sedang Yudha saat ini melajukan sepeda motornya kearah kafe nya. Sekelebat bayang kisah cinta sesaat bersama Hanum.


"Maafin mas Num.."

__ADS_1


🌸


Bersambung..


__ADS_2