Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Manja nya Harry


__ADS_3

"Kemana nya dia. Iisshh menyebalkan. Cuma segitu usaha nya. Awas saja kalau dia pergi sama Sundel bolong itu." gerutu Fadia menatap ponsel nya yang sepi.


"Cari aku?"


Deg


Seakan detak jantung Fadia berhenti kala mendengar suara orang yang mengganggu pikiran nya sedari tadi. Ia pejamkan kedua matanya mencoba untuk tidak gugup walau sebenarnya ia sudah gugup.


Fadia memberanikan menoleh ke arah adalah suara yang ia kenal. "Tidak. Siapa yang cari kamu. Ge Eropa. Wleekk." Fadia menjulurkan lidahnya.


Harry yang sedari tadi berdiri langsung mendekati Fadia.


"Ma-mau ngapain Rry?" tanya Fadia.


"Eh.." Fadia kaget dengan apa yang dilakukan Harry. Karena pria itu sudah merebahkan kepalanya di kedua paha Fadia.


"Kamu kenapa?" tanya Fadia karena ia merasa Harry sedikit pucat.


Kemudian ia meletakkan telapak tangan nya di dahi calon suaminya itu.


"Kamu sedikit demam Rry." gumam Fadia mulai khawatir.


"Em. Tapi tadi aku sudah minum obat dari klinik." ucap Harry dengan mata terpejam.


"Aku ambilkan bantal dulu ya." ujar Fadia karena ia merasa geli akibat rambut Harry.


"Biarkan seperti ini sebentar Yu. Ini lebih nyaman." elak Harry kemudian ia memiringkan kepalanya ke perut Fadia.


"Geli Harry. Kamu jangan ndusel-ndusel."


Harry tidak menjawab karena ia sudah terlelap dalam pangkuan Fadia.


Sejatinya pria setampan dan segagah Harry pasti akan ada di titik dimana ia ingin di manja seperti saat ini. Ia bahkan tertidur dengan memeluk pinggang Fadia


Fadia hanya pasrah dan mulai mengerti jika saat Harry sakit maka calon suaminya itu hanya butuh di manja dan di sayang.


Kini ia sudah mengelus-elus kepala calon suaminya dengan sayang. Ia teringat dengan Gadhing bila sakit juga sama persis dengan Harry.


"Kamu tidur di kamar gih Rry."


"Disini saja. Aku tidak mau adik Gadhing ada sebelum pernikahan kita." jawab Harry dengan mata terpejam.


Fadia terbelalak mendengar nya. "Kamu sakit pun masih mesum Harry." sungut Fadia.


Harry hanya terkekeh dengan wajah menghadap ke perut Fadia.


"Ibu mungkin malam baru sampai Yu. Kamu datang besok saja ya." ujar Harry sembari mulai menciumi perut Fadia.


"Geli Rry. Jangan di cium gitu." rengek Fadia.


"Aku datang pagi atau setelah pulang kerja?" sambungnya lagi.

__ADS_1


"Pulang kerja saja. Oh iya, kapan kamu berhenti kerja Yu?" Kini Harry menatap wajah calon istrinya.


Fadia terdiam. Ia bingung harus jawab apa. "Terserah kamu saja. Tapi kalau bisa setelah gajian ya?"


Harry mengangguk. "Kamu cantik." puji Harry.


Fadia yang semula menunduk kini tegak membuang pandangan ke lain arah. Pipi nya sudah merona.


Selalu saja Fadia tidak bisa mengendalikan diri di depan Harry. Padahal hanya dua kata yang keluar dari mulut suaminya itu.


"Oh iya, Aku nginep lagi ya." ujar Harry.


"Tidak boleh." elak Fadia.


Harry pura-pura cemberut. "Aku masih sakit Yu. Kamu tidak kasihan?"


Ada rasa iba di hati Ayu. Mana mungkin ia tega membiarkan calon suaminya sakit sendirian.


"Ya sudah. Tapi kamu tidur sendiri ya." ujar Fadia.


"Tidak mau. Temenin lagi."


Fadia teringat lagi bila Harry masih dalam mode manja.


Lama mereka bercerita. Tentang pekerjaan, tentang tempat-tempat wisata yang dekat dengan daerah mereka.


Hari sudah gelap dan Gadhing sudah tertidur di rumah Elsa. Sepertinya bocah laki-laki itu sangat kelelahan. Karena seusia mereka sedang asyik-asyiknya bermain.


Fadia dan Harry pun sudah terlelap di ruang tamu dengan berlapis tilam busa. Seperti kemarin, ia tertidur memunggungi Harry dan tentu tangan kekar calon suaminya itu sudah melingkar di perut Fadia. Tidak ada ciuman malam ini.


****


"Kalian tidak ikut? Aku dan teman-teman ku akan liburan hari Sabtu dan Minggu sore kami sudah balik." terang Niko sembari makan kentang goreng.


"Liburan kemana?" tanya Elsa antusias.


"Pantai Pakkodian, Balige. Kita kemah sehari disana."


"Wow.." seru Fadia dan Elsa.


"Tapi aku gimana? Apa Harry kasih izin?" Fadia mendadak lesu.


Ia tidak mempermasalahkan Gadhing. Karena anak semata wayang nya itu sangat lengket dengan bapak dan ibu Elsa. Bahkan ia lebih sering menghabiskan waktu dengan mereka jika Harry tidak mengunjungi rumah Fadia.


"Ajak saja Fad." kata Niko.


"Tidak mungkin. Karena Ibu nya Harry datang karena nanti malam acara apa ya namanya. Pokoknya acara sebelum lamaran gitu." terang Fadia.


"Tapi aku usahain deh." sambung Fadia lagi.


"Bun. Nenek datang ya?" tanya bocah laki-laki itu.

__ADS_1


Fadia mengangguk. "Iya sayang."


"Ayah bilang nanti kita mau di ajak ke rumah nenek. Betul Bun?" tanya Gadhing lagi.


Fadia mengangguk dan tersenyum. "Iya. Nanti kalau nenek datang di salim, jangan nakal ya..


Gadhing mengangguk sembari mengunyah makanan lagi.


Ada rasa takut Fadia akan menemui calon ibu mertua nya. Bayangan masalalu nya kini terngiang di benaknya. Bohong jika ia sudah melupakan masa lalu nya.


Suami yang kejam dan seakan tuli saat Fadia di caci maki dan di perlakukan buruk oleh mertua dan ipar nya.


Bagaimana bila Ibu Harry memperlakukan ia sama seperti mantan ibu mertua nya dulu? Jika itu terjadi maka dapat di pastikan ia akan merasakan neraka dunia lagi.


****


Elsa memperhatikan mimik wajah Fadia berubah sendu. Ia yakin ada yang Fadia pikirkan saat ini.


"Aku takut ibu Harry tidak menyukai ku El."


"Semua akan baik-baik saja. Jangan berpikir yang tidak-tidak."


Fadia hanya mengangguk.


****


Di tempat lain. Ibu Harry, Hanum, dan paman Harry bernama Paman Joni itu sudah sampai sejak malam hari dan kini sedang duduk santai di ruang tamu rumah jabatan Harry.


"Menantu ibu tidak kesini Harry?" tanya sang Ibu.


"Ayu lagi keluar sama anak kami Bu." terang Harry karena tadi Fadia juga sudah memberi kabar ia ingin bawa Gadhing ke kota.


"Kamu tidak mengantar merek? astaga Harry.. Kamu ini gimana? Kalau terjadi sesuatu bagaimana?" cerocos ibu Harry.


Harry menelan saliva saat di terpa pertanyaan bertubi-tubi dari sang ibu. Ya ibu nya benar. Ia lah yang salah.


"Biar Harry jemput ayu dulu ya Bu." Harry pun bergegas mengambil kunci sepeda motor dan dompet nya di kamar.


Harry berpikir, ya selama ini ia tidak melarang Fadia keluar kemana pun tapi bukan itu masalahnya. Ia membiarkan Fadia pergi sendiri seperti sebelum mereka bertemu.


"Hah.. Bagaimana ia akan bergantung padamu kalau aku saja membiarkan Ayu pergi sendiri. Mulai besok aku akan menjadi sopir dan pengawal mu Ayuku."


Setelah sampai di kafe dimana Fadia berada. Ia celingukan mencari dua orang kesayangan nya.


Ia berdecak kagum saat melihat calon istrinya itu. Tidak ada gaya yang mencolok. Fadia hanya menggunakan sweater pink kesayangan nya dan celana jeans. Dengan rambut tergerai indah dengan warna coklat nya sangat cantik di mata Harry. Dan ia juga melihat calon anak sambungnya nya.


"Sayang.." panggil Harry entah memanggil Fadia atau Gadhing.



__ADS_1


🌸


Bersambung...


__ADS_2