Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Percakapan


__ADS_3

Lihatlah wanita pujaan Harry. Tadi ia mengomel atas apa yang Harry beli. Namun sekarang, wanitanya itu tampak tersenyum bahagia dan pasti apa yang ia kenakan adalah pilihan nya. Kini ia merasa bahagia.


Bahagia sesederhana itu.


"Gadhing jangan lari-lari." Ujar Fadia melihat Gadhing berlari mendekati burung-burung bangau yang mengelilingi sapi kakek.


"Iya bun.."


Harry terkekeh melihat kedua orang yang ia sayangi itu. Sungguh ia tidak menyangka bila Fadia malah menginginkan ikut bergembala sapi daripada menerima ajakan ke kafe milik Yudha.


"Besok kamu mau kemana Yu?"


Fadia diam sejenak. "Em.. Kita kapan balik?"


"2 hari lagi sayang.. Sisanya untuk perjalanan kita dan sehari untuk istirahat di rumah."


"Aku ingin lihat sekolah mu Harry.." pinta Fadia.


Harry tersenyum. "Oke.. Permintaan mu terkabulkan."



"Apa kamu tidak ingin ke mall atau kemana gitu Yu?" tawar Harry.


Fadia menoleh ke arah Harry. "Tidak ah. Aku takut gaya hidup ku berubah tak sesuai isi kantong."


Harry tertegun. Benarkah istrinya bicara begitu. "Apa kamu suka kota ku?


Fadia tersenyum dan mengangguk. "Suka.. Apa betul Kota Malang itu Paris nya Jawa Timur?"


"Iya. Karena Malang memiliki alam yang indah dengan iklim yang sejuk serta kota yang bersih." Harry menjelaskan alasan mengapa bisa di sebut Paris nya Jawa Timur.


"Sepertinya besok berburu kuliner seru Rry.." celetuk Fadia dengan mata berbinar.


Harry tersenyum mengangguk. "Sepertinya aku besok akan jadi supir ojek."


Fadia tertawa tanpa menanggapi. Karena ia membenarkan ucapan Harry.


****


Keesokan hari nya Fadia sudah bersiap untuk ke kafe Yudha. Begitu juga dengan Harry. Namun lagi-lagi Gadhing tidak ikut karena lebih tertarik dengan sapi sang kakek.


Fadia heran dengan anaknya itu, cita-cita menjadi angkatan laut tapi sangat menyukai hewan.


"Kita berangkat?" tanya Harry.


"Fadia mengangguk. Keduanya berangkat setelah berpamitan pada sang ibu.


"Kenapa harus sewa mobil Rry?" tanya Fadia.


"Yudha dan Ricky maksa ikut. Ganggu orang pacaran saja."


Harry menepikan mobil di pinggir jalan yang sepi. Sesaat keduanya dalam hening. Menoleh kearah Fadia yang juga sedang menatapnya.


"Kenapa kita berhenti? Apa sudah sampai?" tanya Fadia celingukan melihat gedung-gedung sekita tidak ada kafe disana.


Harry melepas seal bath lalu mencondongkan tubuh ke arah Fadia. Di tatapnya secara intens mata dan bibir Fadia.


"Ha-Harry.." ucap Fadia lirih.

__ADS_1


"Kamu belum memberikan ku ciu man dari semalam."


Tanpa menunggu jawaban, Harry sudah menyesap bibir Fadia yang masih terpaku. Bahkan istrinya belum juga membalas namun tetap memberi akses pada Harry.


"Kenapa hem?" tanya Harry setelah melepaskan pagutan nya tapi itu hanya seperkian detik saja. Karena ia kembali menyerang bibir Fadia.


Sejurus kemudian ia sudah mengangkat Fadia dan di dudukkan nya di pangkuan belakang kemudi.


"Harry.. Nanti ada orang."


Harry menggeleng. "Nikmati lah Yu..


Ia membuka kancing kemeja namun tidak menanggalkan. Ia hanya memberi akses Fadia yang memang suka dengan tubuhnya.


Lalu ia membuka 5 kancing dress Fadia untukenimati payu dara kesukaan nya. Seperti biasa, di kecup lalu di cium gemas sebelum ia memainkannya.


Terdengar lengu han Fadia yang tertahan membuat Harry semakin bersemangat di tambah lagi tadi malam ia libur karena Fadia tidur lebih dulu.


Saat junior memasuki rumahnya. Baik Harry maupun Fadia masih diam menghentikan permainan dengan saling tatap.


"Kamu mesum Bee.." desis Fadia dengan suara manja.


"Aahh.. Aku suka kamu manggil aku begitu saat begini sayang." Harry kembali menyesap bibir Fadia dengan membantu Fadia yang sedang menaik turun pinggul di atas pangkuan nya.


Keduanya seakan lupa sedang berada dimana karena sibuk dengan permainan keduanya.


"Aahh..."


Fadia ambruk dalam pelukan Harry setelah keduanya mencapai puncak kenik matan.


"Ada tissue Rry?"


"Dua-dua. Siniin."


****


Setelah sampai di kafe Yudha. Keduanya menghampiri Yudha dan Ricky.


"Sorry telat."


"Kami ngerti." ucap keduanya.


"Kak Yudha ada kamar pribadi tidak?" tanya Fadia ragu-ragu.


Ketiganya menatap Fadia sedangkan yang ditatap hanya nyengir kuda.


"Mau bersih itu dulu." ucap Fadia menatap suaminya dan Harry mengangguk.


Kedua pria itu memicingkan mata menatap Harry penuh curiga. Kemudian mereka berdecak saat melihat kemeja Harry sedikit kusut.


"Pantas saja lama. Istrinya di garap dulu bro."


Keduanya tertawa membuat Fadia tersipu malu. "Ada di ruangan kakak. Kamu lurus saja belok kiri."


Fadia mengangguk lalu beranjak menuju ruangan Yudha. Sedangkan Harry memesan makanan karena ia sangat lapar.



"Kamu gila Harry.." cicit Ricky.

__ADS_1


"Diam lah.. Kamu sudah merasakan surga dunia pasti tidak bisa menahan nya." Jawab Harry santai sembari menikmati makanan nya.


Yudha berdecak sebal karena hanya dia yang belum pernah merasakan itu. Dan nyalinya ciut saat Harry mengatakan sesuatu untuk nya.


"Tak usah membayangkan gimana rasanya apalagi adikku menjadi bayangan fantasi mu Yudh. Sebelum kamu mendapat restu dan menikahi adik ku jangan coba-coba mencicipi adik ku. Jika itu terjadi maka nyawa mu pun aku siap layangkan." ancam Harry tanpa menatap Yudha.


Yudha menelan saliva nya dengan kasar. Begini jadinya jika memiliki perasaan terhadap adik dari sahabat sendiri.


Mengerikan.


"Dan kamu Rick. Cukup sudah penjajakan mu pada perempuan. Carilah perempuan baik-baik yang bukan hanya bisa menjadi istri tapi juga bisa menjadi seorang ibu untuk kita juga anak-anak mu nanti." Harry bicara santai tanpa menatap orang yang ia sebutkan.


"Kenapa begitu?"


"Kita butuh perempuan yang bisa menjadi ibu bukan hanya sebagai istri."


Ricky dan Yudha manggut-manggut membenarkan apa yang di katakan Harry sembari menyomot ayam milik Harry.


"Tapi aku ingin seorang gadis." ucap Ricky.


"Itu hanya karena penasaran dengan rasa perawan atau gimana?" tanya Harry tetap fokus pada makanan.


Rickky mengedikkan bahu.


"Tidak semua yangasih gadis masih polos seperti adikku." kata harry menatap Yudha entah apa tujuan nya.


"Aku bukan membanggakan istriku. Tapi aku bersyukur Dia hanya di sentuh oleh mantan suaminya dan tidak pernah di sentuh mantan-mantan nya dulu."


"Walau aku sedikit menyentuh nya sebelum menikah." sambung Harry tersenyum mengingat sebelum menikah betapa takut ia menyentuh Fadia.


"Maksud mu apa Harry?" tanya Yudha tak mengerti.


"Zaman sekarang sangat banyak yang gadis tapi sudah di sentuh-sentuh laki-laki lain walau tidak sampai making love."


Obrolan ketiga sahabat itu terus berlanjut hingga tidak menyadari Fadia telah tiba di belakang ketiganya.


Ia terenyuh mendengar Harry melindungi Hanum dari pikiran kotor Yudha.


"Harry.." sapa Fadia.


Harry menoleh ke sumber suara lalu bangkit untuk menyediakan tempat duduk Fadia. Setelah Fadia duduk ia mendarat kan kecupan ke seluruh wajah selain bibir Fadia.


"Kenapa lama hem?"


"Aku mandi sekalian. Risih dan aku mengipasi rambut ku di ruang kerja kak Yudha." jawab Fadia mengecup bibir Harry dan itu membuat suaminya tersenyum.


Fadia beralih menatap Yudha. "Maaf ya kak Dinda pakai tadi."


"Tidak apa-apa kakak ipar." jawab Yudha.


Fadia menatap makanan di meja. Lalu di comot ayam nya saja. "Kamu tidak lanjut makan Harry.." tanya Fadia karena ia melihat makanan Harry belum habis dan Harry masih terus menatapnya.


"Kita pulang saja yuk. Pengen kurung kamu di kamar terus."


Sontak ketiganya terbelalak mendengar itu.


🌸


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2