Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Karena dia lagi


__ADS_3

Malam ini adalah malam Jumat. Malam kemarin, Fadia dan Harry sudah melakukan satu prosesi sebelum lamaran yakni Cungkog.


Dalam prosesi ini, keluarga calon  mempelai pria mengutus perwakilan untuk bertanya. Tujuannya adalah  mendapatkan berbagai informasi mengenai calon mempelai wanita. Termasuk  informasi yang perlu diketahui adalah status perkawinan, kesiapan  menjadi istri, hingga hal lain-lain yang dianggap penting dan sesuai  kriteria.


Sebenarnya pihak keluarga wanita boleh saja meminta waktu untuk memberi jawaban, tapi Fadia malam itu langsung memberi jawaban bahwa ia siap di lamar dan di persunting Harry. Jadi, mereka melewati prosesi berikutnya yakni Selar.


Dan Fadia berniat meminta izin pada calon suaminya itu bahwa besok usai pulang kerja, ia akan pergi kemah ke Pantai Pakkodian. Balige. Memang Harry belum bertanggung jawab atas itu, tapi sudah menjadi kebiasaan untuk keduanya memberitahu kemana mereka akan pergi.


Dan malam ini Harry mengajak Fadia dan Gadhing ke pasar malam di kota. Ia pun berniat meminta izin Harry malam ini.


Ia juga mengajak sahabatnya untuk ikut ke pasar malam dengan nya. Tentu Elsa mengajak sang pacar, tak lain teman dekat Fadia juga.


Ya hingga pukul 8 malam Harry belum juga datang. Ia khawatir Gadhing akan ketiduran nanti. Padahal Harry sudah memberi kabar setelah Maghrib ia akan menjemput.


"Ayah kemana sih Bun?" tanya Gadhing mulai kesal.


"Bunda juga tidak tahu Gadhing. Mungkin sebentar lagi."


"Fad. Kita jemput aja deh. Kan sekalian jalan arah kota rumah calon lakik mu." ujar Elsa karena ia juga mulai kesal.


Fadia mengangguk. Ia pun beranjak ke dapur untuk mengunci pintu belakang, memeriksa jendela sudah terkunci, lalu ia ke kamar mengambil ponsel dan dompet. Di masukkan nya kedua benda itu ke dalam tas selempang.


Seperti biasa, tampilan Fadia dengan Elsa jauh berbeda. Bila tampilan Fadia kalem dan sangat terlihat ia wanita yang manja. Ia memakai dress putih mix pink dengan motif daun juga dalaman kaos putih. Ia tambahkan pula bando kain dengan corak senada dengan dress serta anting sebagai pemanis.


Sedangkan Elsa. Ia lebih nyaman dengan kemeja putih dan celana jenis kain nya. Dengan ikat pinggang senada dengan celana nya.




Kini Fadia dan yang lain nya baru sampai di kediaman Harry. Fadia turun dari sepeda motornya kemudian berjalan ke arah pintu rumah Harry di ikuti Gadhing di belakangnya.


"Assalamualaikum." seru Fadia.


"Waalaikumussalam."


Pintu terbuka dan tampaklah calon ibu mertua Fadia. Ia pun meraih tangan mencium punggung tangan calon ibu mertua nya begitu juga Gadhing.


"Ada apa Yu? sini masuk." tanya ibu Harry.


"Harry ada Bu?" tanya Fadia sembari masuk ke rumah itu.


"Loh.. Harry sudah pergi dari ba'da Maghrib Yu. Apa tidak kerumah?"


Fadia menggeleng.


"Harry memang ajakin kami keluar Bu, tapi sampai jam segini tidak ada datang dan kasih kabar. Makanya kesini."

__ADS_1


"Owalah.. Kemana anak itu? selalu saja. Kamu pergi sama Hanum saja ya.." ujar ibu Harry.


Fadia mengangguk dan tersenyum. Tak apa, penting tidak membuat Gadhing kecewa.


"Mbak Ayu... Ayo kita berangkat." ajak Hanum yang sudah rapi.


"Ayo."


Kini Fadia dan yang lain nya menuju pasar malam. Fadia sempat kepikiran dimana Harry. Tapi ia mencoba untuk tidak memikirkan sekarang.


"Mbak tidak takut jalan di kebun begini?" tanya Hanum.


"Kalau sendiri takut sih.."


"Mbak kok mau sih sama mas Harry? mas kubitu kan kaku. Susah senyum kalau sama perempuan." cerocos Hanum.


Fadia tersenyum dan tetap fokus menyetir. "Mas mu itu aneh Num. Sama mbak tidak begitu, tapi sering mbak perhatikan dia memang begitu kalau ngomong sama orang lain."


"Tapi ya mbak, aku saja adik nya sebel lihat tampang mas Harry. Apa lagi perempuan lain. Tapi dasarnya mas Harry sudah terlanjur bucin ke mbak jadi ya begitu deh.. Cuma mbak yang ada di pikiran mas Harry."


Fadia tidak menjawab, ia tertawa mendengar apa yang dikatakan calon adik iparnya itu.


"Apa mas kamu itu sudah bucin sama mbak Num? kayaknya biasa saja deh." elak Fadia.


"Beehh.. Mbak tidak tahu saja. Semenjak mbak sudah nerima mas Harry.. Tiap teleponan selalu saja menceritakan mbak Ayu. Dan lebih sering bilang mbak ayu itu cantik."


Fadia benar-benar merasa beruntung dan ia selalu bersyukur karena di pertemukan Harry. Sekali lagi ia telah jatuh cinta pada Harry.


"Pernah beberapa hari yang lalu kalau tidak salah."


"Gimana reaksi nya mas Harry mbak?" tanya Hanum kepo.


Fadia hanya diam saja. Tidak mungkin untuk menceritakannya.


*****


Di tempat lain. Harry pamit pada sang ibu untuk kerumah Fadia. Tapi ia berniat sebelum ke rumah Fadia, ia ingin membelikan Gadhing roti bakar Bandung.


Jadilah ia ke kota lebih dulu. Tapi saat ia akan ke rumah Fadia, seseorang menghubungi nya bahwa ia kehilangan dompet di pasar malam.


Memang memiliki tidak tegaan pun ia mendatangi seseorang itu ke tempat tujuan ia dan dua orang kesayangannya.


Ia pun bergegas ke tempat seseorang itu. Ia berpikir akan mengantarnya ke penginapan baru ia akan menjemput Fadia dan Gadhing.


"Bagaimana? sudah dapat?" tanya Harry saat berhadapan dengan orang itu.


"Belum. Aku bingung." jawab orang itu sembari melihat ke bawah.

__ADS_1


Harry pun membantu orang itu mencari dompet di tempat-tempat yang tadi di lewati orang itu. Ia pun tidak melihat tempat-tempat permainan. Ia hanya fokus menunduk walau hatinya gusar karena sudah terlalu lama berada di tempat itu.


"Loh mas Harry?" ucap Hanum ketika melihat Harry dan..


"Sundari?" lanjut nya lagi.


Tentu Fadia yang mendengar itu menoleh ke arah pandangan mata Hanum begitu pun Elsa dan Niko.


Harry tersentak. Ia menatap Fadia yang juga menatapnya. Ia melihat Fadia berulangkali menghirup udara dalam-dalam.


Kini ia bersalah lagi.


"Hai Hanum.. Hai Ayu." sapa Sundari.


"Maaf ya Yu, pinjam Harry nya dulu. Soalnya aku suntuk di penginapan sendirian." terang Sundari.


Fadia melengos. "Ya ambil saja Harry nya."


"Elsa.. Aku titip Gadhing ya.. Aku pergi sebentar." Fadia bangkit dari duduknya. Ia menitipkan Gadhing karena saat ini Gadhing tengah menaiki komedi putar.


"Kamu mau kemana Yu?" tanya Harry.


Fadia menatap tajam. Sungguh ia tidak masalah Harry menyakiti hatinya asal jangan Gadhing. Tapi lihatlah..


"Nikmati jalan-jalannya sama Sundari Harry. Jangan ganggu aku." Fadia pun berlalu setelah mengatakan itu.


Elsa pun kecewa pada Harry karena lagi-lagi mereka berselisih paham penyebabnya adalah Sundari.


"Tidak tahu malu. Katanya orang pendidikan tapi tak malu masih saja mendekati Harry. Sudah ingin menjadi pelakor ya? miris. Cantik-cantik tapi murahan." celetuk Elsa.


"Mas.. Hanum kecewa sama mas. Bukan nya ibu sudah bilang? utamakan mbak Fadia bukan mantan?"


Harry hanya diam saja karena ia sudah tahu salah. Bukan bermaksud mengutamakan Sundari, tapi karena ia kasihan pada Sundari yang sendirian di kota mereka.


"Itu karena Harry masih mencintaiku. Bagaimana kalian tidak tahu?" ucap Sundari percaya diri.


"Tidak. Aku sama sekali tidak mencintaimu Sundari.. Aku hanya kasihan padamu. Hanya itu." elak Harry.


Tidak ada yang menyadari, jika salah satu dari mereka telah mengikuti Fadia yang pergi dalam keadaan emosi.



Penampilan calon adik ipar Fadia. Hanum Inayah.


🌸


Bersambung..

__ADS_1


*Like dan komen ya.. biar emak semangat..


Kira-kira siapa yang mengikuti Fadia*?


__ADS_2