
Bulan Ramadhan adalah bulan kesembilan dalam Kalender Islam dan dirayakan oleh umat Muslim di seluruh dunia dengan puasa dan memperingati wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad saw menurut keyakinan umat Muslim. Puasa Ramadhan merupakan salah satu dari rukun Islam. Bulan Ramadan akan berlangsung selama 29–30 hari berdasarkan pengamatan hilal, menurut beberapa aturan yang tertulis dalam hadist.
Esok adalah hari dimana seluruh umat Muslim di dunia menantikan nya. Bagaimana tidak? seperti salah satu hadist menyebutkan.
"Bila Ramadhan telah datang, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan di belenggu." HR.Bukhari
Sama hal nya dengan Fadia, ia sangat antusias menyambut kedatangan bulan Ramadhan tahun ini, selain keberkahan dari bulan Ramadhan ia juga sangat bahagia tahun ini adalah tahun pertamanya dengan Harry.
Jika tahun-tahun kemarin ia membangunkan Harry melalu ponsel, namun tidak dengan bulan Ramadhan tahun ini.
"Sayang.. Kenapa kamu banyak sekali masak gulai ayam nya?" tanya Harry baru pulang dari mesjid untuk sholat ashar menghampiri sang istri yang berkutat di depan kompor.
Fadia mendongak menatap Harry berdiri di sebelahnya. "Iya, mau kasih bi Minah sama ni Ratih mas. Gadhing mana?"
"Ada di depan."
"Peci Gadhing sudah di simpan belum?" tanyanya karena tahu Gadhing ikut ke mesjid bersama Harry.
"Sudah sayang.. Jangan capek-capek Yu.." Harry berujar sembari memeluk Fadia setelah ayam gulai telah matang dan Fadia mematikan kompornya.
Fadia hanya mengangguk dalam pelukan sang suami.
Nyaman. Itulah yang dirasakan Fadia.
"Sayang.. Besok sampai 29 hari kedepan kalau siang jangan tersenyum pas siang di depan ku ya.. Jangan manja-manja kalau siang di depan ku." titah Harry dan membuat Fadia mengurai pelukan karena terkejut.
"Maksud mas apa? gimana bisa aku tak senyum selama sebulan? kalau soal manja-manja jangan salah kan aku saja dong.. Anak-anak juga bawaan nya manja sama kamu." Fadia protes pada Harry.
"Aku bukanlah Rasullullah SAW yang mencium dan bercumbu pada istrinya tanpa ada syahwat. Kamu harus tahu hanya Rasulullah SAW lah orang yang paling kuat menahan syahwatnya dari pada kami-kami kaum suami."
Fadia mencebik bibir dan beragumen lagi. "Ya terus apa hubungan nya sama aku tak boleh senyum?"
Harry menghela nafas sebelum menjawab. "Ketika mata kamu bertemu dengan mataku lalu kamj melempar senyum mungkin terdengar seperti hal biasa. Namun bagi ku, hal tersebut bisa bikin aku mabuk kepayang."
Fadia menganga tidak percaya dengan apa yang dikatakan Harry. "Sesederhana itu?"
"Ya, begini kami para laki-laki kalau sudah jatuh cinta Yu.. Apapun tentang orang yang di cinta adalah kebahagiaan untuk kami dan kami akan hancur saat melihat kalian bersedih."
Fadia tersenyum haru. "Aku tahu itu.. Kamu tahu, Suamiku.. Maafkanlah kesalahan ku selama ini, maaf aku belum bisa menjadi istri yang mas inginkan." Fadia menatap lekat mata Harry. Mata teduh yang selalu menatapnya dengan penuh cinta.
__ADS_1
Harry tersenyum. "Iya maafin mas juga yang belum bisa menjadi imam yang kamu harapkan. Maaf selama kita menikah, kita sangat jarang sholat bersama seperti keinginan perempuan dimana-mana yang menginginkan sholat di imamin suami."
"Aku tak masalah, karena yang aku tahu memang laki-laki itu sholat nya berjamaah di mesjid. Tapi bukan berarti tidak boleh berjamaah dirumah, kalau boleh jujur saja aku suka kita sholatnya di mesjid mas."
"Kenapa gitu?" tanya Harry sembari mengangkat Fadia untuk duduk di sebelah wastafel agar leluasa memandang wajah Fadia.
"Ya karena aku suka saja mas.. Apalagi sambil cuci mata. Kalau di rumah terus mataku sepet lihat mas sama Gadhing mulu." jawab Fadia santai hingga membuat mata Harry membola sempurna.
Karena gemas Harry pun menarik hidung mancung Fadia. "Kamu selalu saja bisa buat aku cemburu Yu.."
Fadia pun tergelak lalu mengecup kening sang suami. "Maaf, sudah turunkan aku mas.."
Harry menggeleng. "Biar gini saja mumpung anak kita main di luar."
"Mas.. Aku belum nyayur loh.."
"Nanti aku bantu."
Ya, hari ini Fadia memasak sendiri karena para art nya sengaja ia liburkan karena ingin mereka merasakan hal sama sepertinya yaitu menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan dengan semangat.
Keduanya bercanda gurau dengan tetap posisi Fadia duduk di atas sebelah wastafel. Bahkan sayur yang akan di buat lalapan sudah matang juga sambal terasi yang akan di masak Fadia telah matang di masak Harry.
"Mas Gadhing hati-hati. Jaga bunda ya.." ujar Harry.
"Gadhing akan terus jaga bunda dan adik-adik Gadhing ya.." jawab Gadhing sembari mengelus perut buncit Fadia.
Harry dan Fadia tersenyum mendengar hal itu.
...****...
Malam hari usai sholat Maghrib keluarga kecil itu tengah makan malam untuk bersiap kembali ke mesjid melaksanakan sholat isya dan tarawih.
"Nanti mas Gadhing tak boleh ribut ya.." titah Fadia sembari membereskan piring bekas makan malam mereka.
"Cuci piring nya nanti saja Yu.."
"Iya mas.. Sudah sana kalian ambil air wudhu dulu."
Kedua pria beda generasi itupun berlalu menuju kamar utama untuk ambil wudhu.
__ADS_1
"Nanti mas Gadhing tidak boleh sentuh perempuan ya kan sudah wudhu." Harry mulai memberikan nasihat apa-apa yang tidak boleh menyangkut bukan mahram.
"Iya yah, kata ayah juga tidak boleh dekat-dekat perempuan kan?" tanya bocah itu.
"Iya sudah sana wudhu dulu. Ayah mau lihat bunda dulu." Harry meninggalkan Gadhing menyusul Fadia di dapur.
"Sayang tunggu.." ucapnya kala melihat Fadia hendak ke kamar mandi.
Fadia menoleh ke arah Harry yang berjalan ke arahnya. Menunggu apa yang akan di ucapkan Harry.
Harry tidak mengatakan apapun hanya mengecup lalu ******* bibir Fadia dengan lembut.
"Hei kamu ini kenapa sih mas. asal ngambar bibir ku saja." gerutu Fadia karena ia mulai terbuai dengan kelembutan bibir Harry tadi.
"Maaf sayang.. Sudah ayo kita ambil wudhu."
...****...
Ketiga nya keluar dari rumah berjalan kaki menuju mesjid yang tak jauh dari rumah jabatan nya.
Ketiganya berjalan tak beriringan karena Harry menyuruh Fadia berjalan lebih dulu di depannya dan Gadhing. Itu ia lakukan karena tidak ingin wudhu nya batal sebelum sampai mesjid.
Banyak warga perumahan kebun menyapa Harry dan Fadia. Lebih tepatnya mereka menyapa Harry dengan rasa hormat tapi tidak dengan Fadia. Warga perumahan banyak mengenal Fadia sebelum Harry menikahi Fadia.
Tentulah sapaan itu selayaknya teman seperti dahulu namun ada rasa segan bila Harry berada di dekat Fadia.
"Sudah berapa bulan Fad?" tanya salah satu warga yang menyapa Fadia.
"Jalan 6 bulan."
"Wih.. Tapi perut mu kayak hamil 7 bulan Fad.. Besar."
Fadia hanya mengangguk lalu masuk ke mesjid setelah sampai disana. Banyak yang mempersilahkan Fadia untuk sholat di shaf pertama namun Fadia menolak karena ada banyak yang lebih dulu datang daripada dirinya.
Tapi tidak dengan Harry, ia menerima dan berdiri di shaf pertama. Ia juga memastikan dimana Gadhing berada dan mengikuti sholat isya dan tarawih malam ini.
🌸
Bersambung..
__ADS_1