Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Memotong, membelah, apapun itu


__ADS_3

"Harry. Aku disini." Rengek Sundari.


"Eh."


Harry menoleh ke asal suara dan ia terkejut ternyata orang yang bersama Fadia adalah mantan kekasihnya dulu.


"Kamu tidak apa-apa Yu?" bukan menjawab perkataan Sundari, ia malah khawatir dengan Fadia.


"Bapak tidak tahu saja calon istri Bapak tidak sopan pada pacar Bapak." kata Ratna memanasi keadaan.


Harry menoleh ke arah Fadia. Ia tahu jika Fadia dulu sebelum menikah, menurutnya Fadia termasuk gadis yang suka kelayapan saat siang hari. Makanya ia sering bercerita malam hari dan Fadia juga menceritakan apa yang ia lakukan pada siang hari.


Fadia yang di tatap Harry hanya mengedikkan bahu. "Aku hanya ngomong apa adanya."


"Ratna.. Aku masih capek karena kerja, tolong jangan buat aku semakin emosi." ucap Fadia penuh peringatan.


"Cih.. Tadi saja kau ngomong ngegas. Tiba pacar nya mbak Sundari datang langsung akting suara mu, kau lembut-lembut kan."


"Seharusnya kau sadar, sudah janda tukang goda suami orang, sekarang jadi perebut pacar orang lagi. Cih."


Elsa sedari tadi hanya diam juga ikut tersulut emosi. Tapi ia tahan karena bukan urusan nya. Dan selagi Fadia masih bisa menghadapi nya, ia akan tetap diam dan menjaga Fadia.


"Demi apapun, aku ingin sekali mencekik mu Ratna.. Kau kalau punya muncung itu mending diam. Aku selama ini acuh sama mu, ku biarkan kau pengaruhi karyawati disini agar aku tidak punya kawan kerja. Kau kalau belum terima karena dia lebih milih aku, seharusnya kau ngaca. Muka kayak dikasih pelicin begitu, perempuan saja takut apalagi laki-laki." Sepertinya Fadia sudah lepas kendali.


"Ayu.." tegur Harry.


"Diam Harry. Ini semua karena mu. Kamu masih menanggapi mantan pacarmu yang cantik ini, kerjanya di AC, kerja nya yang hanya di depan komputer, mesin penghitung uang. Tidak seperti ku."


Harry bingung harus jawab apa. Karena benar ia lah yang memulai nya. Andai saja Harry membiarkan Sundari saat itu pasti tidak akan begini.


"Maaf Yu." sesal Harry.


"Dengar Harry. Aku tidak suka keadaan begini. Sumpah demi apapun.. Aku ingin kamu memotong, memangkas, membelah, mengiris aahh apapun itu menyangkut Sundari, baik itu kenangan, hal-hal yang berhubungan dengan Sundari, dan teman-teman nya juga."


"Dan sini nasi Padang nya. Aku lapar. Marah-marah juga butuh tenaga." sambung Fadia lagi.


Ia pun meninggalkan Harry, Sundari, dan Ratna disana. Ia berjalan mencari tempat yang pas untuk makan bersama Elsa yang sedari tadi diam mendengarkan dan mengikuti Fadia.


Setelah mendapat tempat yang pas untuk makan, Fadia membuka bungkus nasi Padang tersebut. Ia makan dengan lahap dan fokus menatap makanan nya.


"Kau sangat rakus." celetuk Elsa.


"Aku sangat lapar El. Di tambah serangan mendadak. Benar-benar menguras tenaga."


Keduanya terkekeh mengingat bagaimana bar-bar nya Fadia tadi. Rasanya sudah lama sekali Fadia tidak bicara dengan kasar layaknya lingkungan tanah Batak ini.

__ADS_1


"Kau hebat Fad. Dua-duanya kalah telak kau buat." puji Elsa.


Fadia mengangguk setuju. "Di kira orang itu aku lemah. Ck.. Menjengkelkan."


"Tapi Fad, bagaimana perasaan mu?"


"Tentu aku sakit hati, marah, dan cemburu. Tapi aku bisa menahan nya selagi Gadhing tidak di ganggu El."


Mereka terus bercerita sembari menghabiskan makan siang nya.


*****


Harry terpaku mendengar perintah Fadia. Tapi ia tidak takut, bahkan ia sekarang tersenyum. Bagaimana tidak? Fadia mengatakan memotong, membelah. Apa bisa?


Saat marah saja kamu menggemaskan Yu.


"Kamu ngapain kesini Sundari?" tanya Harry setelah sadar dari lamunannya.


"Aku hanya ingin melihat bagaimana tempat kerja mu dan bertemu calon istri mu itu saja."


"Dan membuat keributan?" tanya Harry lagi yang sudah mulai jengah pada Sundari.


"Aku tidak membuat keributan. Aku hanya bertanya. Dia saja yang marah-marah dan sangat kasar." kilah Sundari.


"Aku mengenal Ayu. Dia pasti melakukan itu karena merasa harga dirinya di rendahkan. Pulanglah ke Malang. Percuma kamu mengejarku." terang Harry masih dengan lembut.


"Cukup Sundari. Jangan melewati batas. Pergi dari sini."


Harry tidak terima jika Fadia di pandang rendah oleh siapapun. Tidak ada yang salah dengan Fadia. Mereka yang sedari dulu tidak suka pada Fadia tentu akan selalu menilai buruk. Tapi tidak dengan nya.


Sundari dan Ratna pergi meninggalkan Harry sendiri. Ia menyugarkan rambut hitam nya ke belakang.


Tidak pernah terpikirkan olehnya jika Sundari akan seperti itu. Bukan kah perpisahan yang diinginkan nya dulu? ada apa sebenarnya antara Ricky dan Sundari sehingga Sundari meminta kembali pada dirinya.


****


Sore harinya setelah selesai membersihkan halaman rumah, menyiram bunga, Fadia duduk di teras rumah.


"Aku malas mandi sore ini." kata Fadia pada dirinya sendiri.


Masuk satu notifikasi pesan WhatsApp di ponsel Fadia.


Harry :


Yu.

__ADS_1


Fadia hanya membacanya saja. Ia masih malas berdebat dengan Harry.


Harry :


Calon istriku..


Fadia berdecak saat membaca satu pesan lagi dari Harry. Hanya dikirim pesan seperti itu sudah membuat hatinya berdesir.


Tapi ia tetap tidak membalas nya.


Harry :


Sayangku..


Demi apa? Hati Fadia berbunga-bunga membaca satu pesan lagi dari Harry. Seperti anak ABG yang baru jadian pikir Fadia.


Tapi Fadia tetap tidak membalas. Biarkan saja.


Harry :


Ayu.. Kamu tidak berniat untuk meninggalkan ku seperti tadi malam kan?


"Ya ampun Harry.. Bagaimana bisa di bilang aku meninggalkan mu tadi malam? Aku hanya tertidur di kamar tadi malam kamu bilang meninggalkan mu? Sakit ini orang." gerutu Fadia tapi tetap saja ia tidak membalas pesan Harry.


Harry tidak lagi membalas dan hal itu membuat Fadia gelisah. Ia kehilangan sosok Harry yang sering mengganggu nya.


Fadia menghembuskan nafas. "Ck.. Hanya segitu usaha mu." ia menjadi kesal pada Harry.


Ia pun beranjak ke dapur untuk mandi karena tubuh nya sudah berada gerah dan juga hati sudah sore.


Sedangkan Gadhing masih mencari rumput untuk pakan ternak bapak Elsa. Fadia tidak mempermasalahkan Gadhing ikut seperti itu.


Selesai mandi Fadia tampak lebih segar. Ia mengenakan kaos oblong warna charcoal dan celana pendek di atas lutut berwarna putih. Sangat tidak menampakkan jika Fadia seorang janda beranak satu.


Kini ia duduk di selonjoran di depan tv.


"Kemana nya dia. Iisshh menyebalkan. Cuma segitu usaha nya. Awas saja kalau dia pergi sama Sundel bolong itu." gerutu Fadia menatap ponsel nya yang sepi.


"Cari aku?"



🌸


Bersambung...

__ADS_1


Maaf ya.. emak abis berburu kuliner hari libur ini 😁🙏🙏


__ADS_2