Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Kembali normal


__ADS_3

Fadia dan kedua sahabat suaminya pulang kerumahnya dengan senyum mengembang. Akhirnya lamaran Ricky di terima, bahkan kedua orang tua Elsa meminta Minggu depan adalah akad nikahnya. Masalah resepsi bisa dibicarakan lagi.


Bukan tanpa tujuan kedua orang tua Elsa memutuskan hal itu. Tentulah karena mereka tidak ingin Elsa menganggu Harry dan Fadia lagi.


Elsa juga diminta untuk meminta maaf pada Fadia. Dan kini mereka berbaikan. Fadia juga sudah memikirkan bagaimana kedepannya pada Elsa. Ia akan meminimalisir cerita membahas sang suami. Bila perlu tidak ada nama Harry diantara ia dan Elsa.


Pihak keluarga Ricky juga sudah di beri kabar bahwa malam ini ia melamar anak orang. Karena Ricky hanya memiliki seorang ibu saja tentulah ia di ceramahi habis-habisan walau akhirnya sang ibu menangis haru. Dan dua hari lagi sang ibu akan berangkat ke Kabupaten Kota dimana tempat Elsa berada.


"Masa aku sendiri yang masih berjalan di tempat sih?" keluh Yudha merasa tidak terima.


Sontak hal itu membuat Fadia dan Ricky tertawa. "Sabar ya kak.." ucap Fadia untuk Yudha.


"Kamu bujuk suamimu dong Yu.. Minimal tunangan dulu gitu baru nikah nya abis kamu lahiran." bujuk Yudha.


"Iya nanti ku bujuk suamiku ya.. Aku masuk kamar duluan."


Fadia membuka pintu kamar melihat sang suami sudah terlelap di tempat tidur. Di belai kepala sang suami lalu ia kecup kening Harry.


Setelah itu ia keluar kamar untuk mencuci kaki dan juga sikat gigi. Usai membersihkan diri, ia mengambil air putih untuk dibawa ke dalam kamar.


Ceklek


"Loh mas.. Kok bangun?" tanya Fadia ketika sudah masuk ke dalam kamar.


"Em.. Tadi ngerasa ada yang belai kepala mas." jawab Harry dengan suara khas bangun tidur sembari mengusap matanya.


Ia duduk di tepi ranjang sebelah Harry. "Maaf membangun kan mu mas."


"Kemari lah." titah Harry menepuk sisi ranjang sebelahnya.


Harry mendekap Fadia yang rebahan disebelahnya. "Kapan mereka menikah?"


"Minggu depan mas. Bapak sama ibu minta di cepat kan saja."


Harry hanya diam tanpa menjawab. Ia semakin mengeratkan dekapan.


"Apa kalian baik-baik saja hari ini?" tanya Harry sembari menghirup bau harum rambut Fadia.


"Ya, kami baik-baik saja. Mas apa tidak ingin mendengar apa yang kami bicarakan tadi di rumah Elsa?"


Harry menggeleng. "Aku sudah tahu pasti dia menerima lamaran Ricky. Karena Ricky memaksa dia dengan cara ekstrim." tiba-tiba ia tergelak karena mengingat bagaimana Ricky mengancam Elsa.


"Hei.. Kenapa mas ketawa sih? apa ada yang aku lewatkan?"


"Ya ada." jawab Harry.

__ADS_1


"Apa mas?" tanya Fadia penasaran dan Harry pun menceritakan bagaimana Ricky mengancam dan perkataan Ricky yang akan membuat Elsa jatuh cinta dari sentuhan nya.


Fadia terbelalak mendengar cerita Harry. "Kenapa kalian mesum begitu?" sungut Fadia.


"Laki-laki mah memang seperti itu."


"Seperti itu gimana mas? kira-kira Elsa bakalan jatuh cinta dengan sentuhan kak Ricky tidak ya? apa kak Ricky perkasa kayak kamu mas?"


Harry mengerutkan dahi dan mengurai pelukan. Ia tatap mata Fadia. "Kenapa kamu tanya tentang keperkasaan laki-laki lain ke suami mu Yu? jelas lebih perkasaan aku."


Fadia menyadari kesalahannya. Padahal bukan maksud lain, hanya ingin tahu saja.


"Mas tahu dari mana kalau mas lebih perkasa?"


"Ya jelas tahu lah, dulu kami bertiga pernah barengan bermain solo dan suamimu ini lebih lama dari mereka." jawab Harry santai sembari merapikan anak rambut Fadia.


Mata Fadia terbelalak mendengarnya. Tiba-tiba ia membayangkan 3 sekawan tersebut sedang bermain solo bersama. Seketika bayangan itu terus menari di kepalanya membuat rona merah di wajahnya.


"Jangan bayangin mereka berdua, sekarang waktunya suamimu ini membuktikan keperkasaan nya."


Fadia tergagap dan terkejut ketika Harry sudah mengukung nya. "Maass.. Tapi tadi sudah."


"Lagi.."


Dengan pasrah Fadia menerima semua sentuhan dan layanan Harry.


...****...


Fadia duduk bersandar di kepala ranjang tersenyum melihat Harry yang sudah rapi dengan pakaian kerja.


"Maaf aku bangun kesiangan mas.."


Harry berjalan mendekati Fadia lalu mengecup kening dan bibir sang istri.


"Jangan pikirkan itu, aku yang seharusnya minta maaf karena menggempur mu habis-habisan tadi malam. Apa kalian baik-baik saja?"


Harry khawatir dengan keadaan Fadia juga anak-anak nya karena permainan tadi malam ia tidak menggunakan pengaman walau di akhir saat ia ingat akan pelepasan dan mengeluarkan cairan masa depan di luar namun ada juga ia keluarkan di dalam.


Fadia tersenyum. "Sepertinya anak-anak kita sangat mengerti ayah nya kalau tadi malam sangat merindukan mereka."


"Jadi?"


"Kami baik-baik saja dan khusus aku sangat senang karena permainan mu."


Harry tertawa bangga mendengar bangga atas pengakuan Fadia. Kejujuran yang sangat langkah.

__ADS_1


"Mas.. Apa kamu tidak bosan aku berada di bawah kukungan mu terus?"


"Tidak sayang.. Nanti setelah lahiran baru kita pikirkan gaya apa yang akan kita pelajari oke.."


Fadia tersenyum mengangguk. Banyak yang mereka bicarakan sebelum Fadia beranjak keluar kamar. Termasuk Fadia menceritakan tentang hubungan Yudha dan adik iparnya,Hanum.


"Bukan aku tidak menyetujui tentang itu Yu, tapi aku memikirkan kamu yang sedang hamil, aku ingin kamu juga ikut ke Malang tapi nanti setelah anak-anak sudah lahir."


Lagi-lagi Fadia tersenyum. Jika harus jujur bahkan ia tidak memikirkan tentang dirinya. Sedangkan Harry, lebih memikirkan dirinya juga anak-anak nya.


...****...


"Maafin aku Fad." tutur Elsa saat mereka duduk berdua di warung bakso kesukaan Fadia.


Keduanya baru saja mendatangi pihak Wedding Organizer untuk mendekorasi ruang tamu rumah Elsa untuk tempat akad nikah Minggu depan.


"Aku sudah maafin kau El. Gimana? ciuman kak Ricky sama remasan nya?" goda Fadia.


Elsa melotot tak percaya jika Fadia tahu hal itu. "Kau tahu dari mana?"


"Dari CCTV di rumahku." jawab Fadia bohong tergelak melihat wajah merah Elsa.


"Serius dirumah mu ada CCTV?"


"Iya, gimana? lebih enakan sentuhan mantan-mantan mu, dari Niko, atau kak Ricky?" goda Fadia lagi.


"Diamlah Fad.."


Fadia semakin tergelak mendengar itu. "Pasti sentuhan kak Ricky kan? ah.. Akhirnya kau dapat yang sudah berpengalaman.. Pasti lebih nikmat."


Elsa mengusap-usap telinganya yang terasa panas karena godaan Fadia.


"Berhenti menggoda ku Fad.. Andai kau tidak hamil saat ini, maka ku pastikan kau akan ku hajar."


Fadia benar-benar tergelak mendengar nya. "Coba saja kalau berani." tantang Fadia.


"Ogah."


Akhir nya hubungan persahabatan Fadia dengan Elsa kembali normal walau Fadia masih melarang Harry untuk hadir jika ia sedang bersama Elsa.


Jika terpaksa datang pun Harry akan menunggu di tempat yang berjarak cukup jauh. Dan Harry mengerti akan hal itu.


Harry :


*Aku sudah di parkiran warung bakso nya Yu.

__ADS_1


🌸*


Bersambung...


__ADS_2