Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Jody telah berpulang


__ADS_3

Fadia menatap nanar ponsel nya sembari menangis sesenggukan membaca pesan WhatsApp salah satu teman SMA nya dulu.


Jody telah berpulang.


Padahal tadi malam mantan nya itu tampak ceria kembali saat dirinya menjenguk. Ia langsung mengingat ucapan Jody.


Jadi benar ucapan mu adalah pertanda kau akan sembuh. Kau takkan kesakitan lagi. Dan ucapan cinta mu benar-benar terkabulkan. Kau masih sayang dan cinta aku sampai akhir nafas mu.


Fadia teringat percakapan tadi malam sebelum mereka memutuskan untuk pulang.


"Hingga kini perasaan ku masih sama. Aku tahu ini salah tapi biarlah perasaan ini ku bawa saat aku pergi." ucap Jody sangat pelan tapi mampu di dengar Fadia.


Fadia menghembuskan nafas. "Boleh asal jangan minta kita di persatukan saat di sana nanti." jawab Fadia bercanda dan hanya senyuman Jody yang tampak.


"Itu ide bagus."


Fadia tertegun mendengar itu.


...****...


Harry baru masuk kamar terkejut melihat istrinya masih mengenakan mukenah menangis sesenggukan menatap ponsel. Ia baru saja pulang dari masjid melaksanakan sholat subuh berjamaah.


"Sayang.. Kamu kenapa?" tanya Harry menghampiri Fadia.


Fadia menghapus air matanya lalu mencium punggung tangan Harry.


"Jody berpulang.." ucap Fadia lirih dan air mata nya kembali menetes.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun.. Jangan sedih.. Semua akan baik-baik saja oke.." Harry membawanya kedalam pelukan membiarkan Fadia menangisi seseorang yang pernah mengisi hati dan harinya.


Fadia mengangguk. "Dia orang baik Harry.. Dulu dia yang menjaga ku."


Bukan suatu kebohongan Fadia mengatakan itu, Jody benar-benar orang baik. Dia sangat menjaga Fadia. Walau mereka pacaran cukup lama, hampir 3 tahun. Tapi Jody tidak pernah mau menyentuh tanpa seizin Fadia.


Jody terpaksa menyentuh Fadia jika mereka akan melompati pagar sekolah karena bolos. Atau harus menggandeng Fadia agar bersembunyi karena di kejar guru BP saat razia sekolah.


"Aku tahu dia orang baik maka Allah merindukan nya Yu.."


Fadia mengangguk lemah dalam pelukan Harry. Ia tak mampu berkata lagi.


"Harry.."


"Aku tahu, nanti aku antar ya.." Harry mengerti jika sang istri ingin melihat Jody untuk terakhir kali.


"Tapi kamu kerja.."


"Aku izin sebentar antar kamu, dan aku jemput saat Gadhing pulang sekolah ya.."


Fadia mengangguk. "Makasih banyak sayang."


"He'em. Sekarang bersihkan muka kamu Yu.. Siapkan sarapan ya.. Aku mau buka sarung terus sapu halaman depan dulu."


Fadia tersenyum kala Harry mendaratkan sebuah kecupan di kening nya. Sungguh ia merasa beruntung di peristri seorang Harry Setiawan.


"Sudah jangan menangis.." ucap Harry dan di balas anggukan oleh Fadia.

__ADS_1


Keduanya membuka perlengkapan sholat dan keluar kamar menuju arah masing-masing. Hari masih gelap namun Harry sudah menyapu halaman rumah.


Sungguh suami idaman.


Fadia mengeluarkan bahan-bahan. Ia sibuk berkutat dengan alat-alat dapur.


"Ck...Gas habis. Ini lah yang buat istri-istri mengomel di dapur." gerutu Fadia sembari mengangkat tabung gas ke depan rumah.


Fadia melihat Harry sedang fokus pada sampah-sampah yang disapunya.


"Sayang.." panggil Fadia.


Harry langsung menoleh kearah Fadia. "Dalem."


"Bisa keluarin motor sekarang?"


Harry mengerutkan dahi. "Mau kemana Yu? ini masih gelap." tanyanya seraya meletakkan sapu lidi lalu menghampiri Fadia di teras rumah.


"Mau beli gas."


Harry mengangguk langsung masuk rumah untuk mengeluarkan sepeda motor Fadia.


"Sini biar aku yang beli." Harry mengambil tabung gas itu lalu ingin melajukan sepeda motor nya.


"Eh.. Tunggu! Ini uang nya Rry." cegah Fadia.


"Ah iya hampir lupa. Oke aku berangkat."


...****...


Fadia masih mematung di depan rumah mantan kekasih nya dulu. Ingin kembali pulang pun percuma. Harry sudah pergi untuk kembali bekerja.


Ia langkahkan kaki yang terasa berat masuk ke kediaman keluarga Jody. Bahkan sebelum sampai ke ambang pintu hatinya sudah tidak kuat menahan sakitnya kehilangan.


Suara tangis menggema di dalam sana membuat Fadia tidak mampu melangkah masuk. Akhirnya ia memutuskan untuk duduk di teras rumah itu. Sungguh ia benar-benar ingin menyembunyikan air matanya saat ini.


"Fadia.." panggil seseorang yang ia kenal.


"Heri.. Apa kabar?" tanya Fadia mencoba tersenyum.


Heri adalah sahabat Jody dan ia juga mengetahui hubungan antara Fadia dan Jody. Dan ia juga tahu betul bagaimana perasaan sahabatnya yang telah berpulang kepada Fadia.


"Aku baik. Kau sama siapa?" tanyanya.


"Aku sendiri."


"Ayo masuk sebelum para pelayat dan kawan sekolah kita berdatangan."


Karena Fadia datang masih pagi, pelayat masih tampak sedikit dan ia yakini juga teman-teman masa sekolah dulu akan datang di tambah teman Jody lain nya.


"Aku takut tak kuat Her.." tolak Fadia berkata jujur.


"Setidaknya hiburlah orang tua Jody Fad."


Akhirnya Fadia masuk ke dalam rumah Jody. Sungguh hatinya teriris mendengar tangisan orang-orang di dalam terdengar begitu pilu.

__ADS_1


Ia melihat tubuh Jody terbujur kaku dengan wajah bersinar. Lalu ia menatap ibu Jody menangis di sebelah jenazah Jody. Ia pun mendekati sang ibu.


"Ibu.." panggil Fadia berusaha menahan air mata.


Ibu Jody tahu siapa yang memanggilnya langsung berhambur kepelukan Fadia menangis meraung-raung. Ia hanya bisa mengelus punggung wanita paruh baya ini.


"Ikhlasin bu.."


Ibu jody menggeleng. "Tolong bangunin Jody nak.. Dia pasti nurut sama kamu.." ucapnya dengan sesenggukan.


"Jody sudah tenang disana Bu, dia sudah sembuh, dan kita hanya perlu mendoakan Jody."


...****...


Harry tidak bisa tenang di pekerjaan nya. Bahkan ia lebih banyak melamun di blok saat mengawasi para karyawan.


Kenapa aku meninggalkan Fadia sendiri?


Ia pun melajukan sepeda motor menuju rumahnya untuk berganti pakaian. Di tengah jalan lagi-lagi ia tersenyum miring saat melihat seseorang.


Setelah ia masuk kembali bekerja dan tidak menyambangi barisan karyawati saat apel pagi, ia selalu melihat Elsa berada di depan blok yang ia lewati sedang menatapnya.


Perempuan tidak malu.


...****...


Harry sudah berada di depan rumah duka. Ia mengedarkan pandangan mencari sang istri karena di luar rumah duka sudah sangat ramai. Ingin bertanya pun pada siapa? tidak ada yang dikenalnya.


Ia memutuskan untuk masuk ke dalam rumah duka juga sangat padat dan di penuhi kaum hawa tapi tidak menyurutkan niat nya untuk mencari sang istri.


Hatinya mencelos saat melihat sang istri menangis sesenggukan seorang diri di pojokan ruangan itu. Bukan karena cemburu saja namun ia sangat tidak bisa melihat Fadia menangis.


"Sayang.." panggilnya ketika sudah duduk di depan sang istri.


Fadia mendongak menatap sang suami dengan air mata yang turun sangat deras dari matanya.


"Ma-afin a-ku Rry.." ucap Fadia di tengah tangisan nya.


"Maaf?"


Fadia mengangguk. "Maaf karena aku menangisi laki-laki lain."


Harry terharu mendengar alasannya. Walau sebenarnya ia memaklumi, tapi ia tidak menyangka bila sang istri meminta maaf padanya. Pelukan pun ia hadiahkan untuk sang istri.


"Sudah jangan menangis. Nanti aku hukum loh.." ucap Harry bercanda sembari memainkan alis tebal nya naik turun untuk menggoda Harry.


"Dasar mesum." Fadia memukul dada Harry dan tersenyum disana.


🌸


***Bersambung..


Hai.. jangan lupa vote,


tambahkan novel emak jafi favorit kalian ya***..

__ADS_1


__ADS_2