
"Apa kamu ngantuk?" tanya Harry. Saat ini keduanya akan berangkat kerumah jabatan Harry.
Tadi setelah mandi bersama, Fadia sudah tampak tidak bersemangat dan ia tahu pasti semua itu karena ulah nya karena menggempur Fadia semalaman di tambah padatnya acara resepsi pernikahan mereka.
Fadia hanya mengangguk. "Aku pengen rebahan bobok cantik."
"Nanti di rumah ya."
"Itu tidak mungkin Harry.. Ada bapak dan Ibu lagi. Aku tidak enak sama mereka."
Harry menghela nafas. "Maaf sayang. Ini karena ulah ku."
Fadia mengangguk. "Ayo kita berangkat. Aku kangen sama Gadhing."
Akhirnya Harry dan Fadia berangkat ke rumah jabatan Harry sebelumnya mereka sudah berpamitan dengan Fatin juga Ibu Elsa.
Fadia tersenyum berada di boncengan mengingat malam panjang mereka. Ia melingkarkan tangan nya di perut Harry yang sedang menyetir sepeda motor matic Fadia.
Harry tersenyum saat merasakan Fadia bersandar di punggung nya. Keduanya sama-sama mengingat kejadian malam panjang mereka.
Harry menggenggam tangan Fadia di perutnya. Di elus punggung tangan Fadia menggunakan ibu jarinya.
Tidak ada obrolan di sepanjang perjalanan. Keduanya menikmati perjalanan yang hanya memakan waktu 10 menit saja.
"Bundaa..." panggil Gadhing saat melihat Harry dan Fadia baru sampai di depan rumah jabatan.
Fadia turun dari sepeda motor dan berjongkok mencium seluruh wajah Gadhing.
"Apa Gadhing menyusahkan nenek dan kakek?" tanya Fadia pada anaknya itu.
Gadhing menggeleng. "Tidak Bun. Tadi Gadhing main sama kakek dan buyut di lapangan kantor ayah."
"Main apa?"
"Main bola."
"Ayah.. Gendong." rengek Gadhing.
Dengan sigap Harry menggendong anak sambungnya itu menggunakan tangan kanan. Membawanya masuk kerumah dengan tangan kirinya menggenggam tangan Fadia.
"Assalamualaikum.." ucap keduanya.
"Waalaikumussalam. Sini masuk menantu ibu." ujar ibu Harry.
Harry berdecak sebal. Ia tidak suka di abaikan. Dan jika ada ibunya pasti Fadia mengabaikan dirinya.
"Bu. Jangan lama-lama pinjam Ayu nya." ucap Harry.
"Iya. Sebentar doang. Ya sudah lepasin tangan Ayu nya dong."
Harry menghela nafas dengan terpaksa ia melepas Fadia jika sudah bersama ibunya. Tapi sebelum itu ia mendarat kan kecupan di kening Fadia.
__ADS_1
"Kamu tidak malu ih.." protes Fadia.
"Belum puas tadi malam apa?" tanya sang ibu.
"Belum." jawab Harry cepat.
"Sudah. Ayo kita tinggalkan suamimu itu, kita ke dapur saja." ajak ibu Harry dan di anggukin Fadia.
Selepas Fadia pergi ke dapur dengan sang ibu, Harry mengajak Gadhing menemui bapak dan kakek nya.
"Ayah.. Besok Gadhing sekolah?" tanya Gadhing.
"Besok Gadhing sekolah, tapi besoknya kita akan pergi naik pesawat kerumah kakek dan nenek. Gadhing mau?"
Gadhing mengangguk senang. "Naik pesawat tinggi ya yah? apa rumah kakek dan nenek jauh?" tanya Gadhing polos.
"Ya tinggi dan sangat jauh."
"Tapi kenapa ayah bisa jauh dari kakek? apa tidak kangen? Gadhing saja kangen bunda." celetuk Gadhing.
Harry terkekeh lalu mengacak rambut anak sambungnya itu. Kini keduanya duduk di samping rumah.
"Dengarkan ayah. Nanti Gadhing kalau sudah besar kayak ayah pasti akan merasakan jauh dari ayah dan bunda. Anak laki-laki itu harus tahan banting dari badan dan juga hati. Apa cita-cita Gadhing?"
Gadhing diam tampak berpikir. "Gadhing mau jadi angkatan laut yah. Bunda juga tahu Gadhing mau jadi angkatan laut."
Harry manggut-manggut. "Dengarkan ayah. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, apa yang Gadhing mau pasti bisa Gadhing dapatkan asal sabar, usaha, dan ikhlas dalam doa."
"Iya ayah."
Harry tersenyum. Ia beruntung memiliki Fadia yang dapat mengasuh Gadhing sendiri dan lebih beruntung lagi Gadhing adalah anak yang penurut dan sopan tutur katanya.
Jika dipikirkan, Fadia sudah lama tidak terpantau secara intens oleh orang yang lebih tua tapi Fadia dapat mengendalikan diri agar tidak menjadi anak yang buruk akan akhlak nya.
****
Di dapur ternyata sebelum Fadia dan Harry datang. Nenek, Ibu, dan Hanum sedang membuat kue bolu.
"Ini loh Yu. Ibu sedang buat kue bolu tapi kenapa tidak mengembang ya?" tanya ibu Harry.
Fadia memperhatikan bahan-bahan yang di gunakan ibu mertua nya itu.
"Ibu.. Ini mentega dan telur nya terlalu dingin. Seharusnya diamkan sebentar sebelum di gunakan." kata Fadia.
"Apa mau cepat?" tanya Fadia.
"Tidak boleh terlalu dingin ya? ibu kira sama saja. Tidak sih.. Kalau bisa matang nya sebelum berangkat Yu."
Fadia mengangguk. "Biar Fadia buat adonan nya lagi ya Bu. Ibu duduk saja sama nenek dan Hanum."
Ibu Harry mengangguk.
__ADS_1
Sebenarnya tubuh Fadia benar-benar sangat lelah dan mengantuk. Tapi ia sangat tidak enak pada yang lain.
Setelah adonan selesai ia memasukkan ke tempat cetakan dan memasukkan ke oven. Sambil menunggu matang ia ikut bergabung pada yang lain.
"Cu.. Apa kamu lelah?" tanya sang nenek.
Fadia tersenyum canggung. "Tidak terlalu nek."
Sang nenek dan ibu Harry menggeleng kepala. "Jangan bohong. Pasti Harry menyiksa mu tadi malam kan? jam berapa kalian berhenti?"
Fadia menjadi kikuk mendengar pertanyaan vul gar dari ibu mertua nya. Haruskah di jawab?
"Em.. jam setengah 5 Bu." pipi Fadia bersemu merah saat jawaban itu lolos dari bibirnya.
Lagi-lagi nenek dan ibu menggeleng kepala. "Sudah ku duga Bu. Keturunan bapak pasti kuat-kuat kan.." ucap ibu Harry kepada sang nenek.
Kedua wanita beda generasi itu tertawa.
"Nenek sama ibu mesum. Tidak memikirkan aku yang jomblo ini." celetuk Hanum sedari tadi diam.
"Makanya nikah." ucap nenek dan ibu bersamaan.
Fadia tersenyum melihat kekompakan keluarga suaminya itu.
"Bu. Apa bapak masih kuat?" tanya ibu Harry pada nenek yang notabene nya adalah mertuanya.
"Masih. Ibu kadang kewalahan. Sudah tua masih saja mesum." jawab nenek.
"Terus. Anak laki-laki ibu masih kuat kan?" sambung nenek lagi.
"Masih lah Bu. Tiap malam aku di keloni. Jangan sampai Harry dan Hanum punya adik gara-gara anak ibu." jawab ibu Harry santai tanpa beban.
Fadia dan Hanum ternganga mendengar cerita vul gar itu. Fadia sadari, pengalaman Harry memang minim tapi sifat mesum nya menurun dari nenek dan ibu nya juga. Ah ya kakek dan bapak juga.
"Hei.. Apa tidak malu dengan umur?" tanya Hanum tidak tahan dengan cerita vul gar tersebut.
"Tidak Hanum.." jawab nenek dan ibu bersamaan.
Empat pria beda generasi memasuki dapur bersamaan. Tiga wanita itu tersenyum selain Hanum karena hanya dia yang tidak memiliki pasangan.
Tapi hanya Harry yang berani mengecup kening Fadia di depan semua orang. Gadhing juga mengikuti apa yang di lakukan Harry. Dan bocah itu mengecup pipi Fadia.
Semua orang tercengang. Harry yang kaku menjadi tidak punya malu.
"Kamu sehat nak?" tanya ibu Harry.
"Sangat sehat Bu." jawab Harry dengan wajah tanpa ekspresi.
"Kamu aneh cu." celetuk sang nenek.
🌸
__ADS_1
Bersambung...