Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Batal puasa


__ADS_3

"Bu.. Mas Harry itu kenapa sih?" tanya Hanum cemberut mengaduh pada sang ibu.


Ibu Harry menghela nafas panjang. "Sabar nduk.. Kamu tahu sendiri mas mu gimana kan? dia begitu karena khawatir sama mbak mu."


Ibu Harry sendiri sebenarnya juga sudah mulai kesal dengan anak sulung nya itu. Tapi ia mengerti jika Harry begitu karena sangat khawatir dengan istri dan anak-anaknya.


"Iya Bu, padahal aku sudah minta tolong mbak Ayu loh Bu.."


"Terus apa kata mbak mu?"


"Gagal. Mas tetap dalam pendirian nya."


Kedua wanita beda usia itu menghela nafas frustasi. Ia tahu sedari dulu Harry lebih dekat dengan bapak dan kakek nya. Dan ia tahu pula ketiga pria itu jika sudah mengambil keputusan maka akan sangat sulit untuk di ganggu gugat.


"Jalani saja hubungan kalian nduk.." ujar ibu Harry pada anak gadisnya.


Hanum hanya mengangguk lemah dan ia akan meminta tolong pada kakak iparnya lagi nanti.


Begitu juga Yudha sudah bolak balik mengaduh pada Ricky agar membantu berbicara pada Harry.


"Kamu tahu sendiri kan Harry gimana Yudh?" tanya Ricky dari seberang telepon.


"Ya aku tahu.. Tapi mau gimana lagi? orang tua ku sudah mengancam terus Rick.."


Ya, orang tua Yudha sudah mengancam jika bulan depan ia tidak membawa calon istrinya maka Yudha akan di jodohkan. Dan hal itu tidak ingin terjadi. Terlebih ia sudah jatuh hati pada adik sang sahabat.


Hanum yang centil, ceroboh, dan polos itu mampu membuat ia bangkit dari keterpurukan atas perbuatan mantan tunangan nya dulu.


Andai ia memiliki keberanian untuk menjerat Hanum lebih dulu pasti sang sahabat tak akan bisa menolak. Tapi tidak, ia tidak ingin melihat kemarahan dan kesedihan sang sahabat.


Jika saja ada orang yang tahu bahwa selama mengenal Harry dan Ricky, ia lebih mengagumi Harry. Menurutnya, Harry adalah sosok sempurna. Dari segi fisik tentulah di antara mereka bertiga memang Harry lebih menonjol ketampanan nya. Sifat wibawa dan jiwa pemimpin Harry selalu membuat ia bangga menjadi salah satu sahabatnya.


"Bicaralah dengan Ayu Yudh..Kamu tahu kan,. Ayu itu pawang sahabat kita.."


"Iya aku akan coba minta tolong lagi sama Ayu."


...****...


Seperti biasa Fadia akan dirumah sendiri dari pagi hingga siang hari. Gadhing berada di rumah orang tua Elsa, sedangkan Harry harus bekerja.


Ada rasa tak enak yang di rasakan saat ini. Rasa tidak nyaman di dalam perutnya. Tapi ia belum tahu apa itu.

__ADS_1


Fadia merasa pusing yang tidak kunjung hilang ketika bangkit dari tempat duduk, mata berkunang-kunang, merasa mau pingsan, dan ia memilih kembali duduk.


"Aku kenapa?" gumamnya.


Elsa baru selesai dari tugas kerjaan nya berniat mampir kerumah Fadia. Setelah menikah Elsa tidak keluar dari pekerjaan dan Ricky mengijinkan hal itu. Hari ini pekerjaan nya menyapu seluruh halaman rumah para staf perkebunan di bantu dua orang karyawati lain nya.


"Fadia.. Kau kenapa?" tanya Elsa ketika baru sampai di teras rumah Fadia melihatnya sedang memijit kepala.


Fadia menggeleng. "Aku tak tahu El.. Kepala ku pusing dan perut ku terasa tidak nyaman."


"Kau puasa?" tanya Elsa dan di anggukan kepala Fadia sebagai jawaban.


"Kau gila Fad? tak ingat di dalam perut mu ada dua anak?"


Fadia hanya diam saja membuat Elsa menghembuskan nafas. Ia tahu Fadia keras kepala karena setiap bulan puasa Ramadhan Fadia merasa senang karena merasa kedua orang tuanya bersama seperti dahulu walau lebaran ia akan menangis mengingat kepergian orang tuanya.


"Berbuka lah Fad, ayah dan bunda juga pasti marah kalau tahu kamu. menyiksa diri dan anak-anakmu. Bagaimana kalau Harry tahu keadaan mu?"


"Hanya begini rasanya aku bisa merasakan mereka hadir El.. Aku kangen."


"Tapi tidak harus menyiksa kalian bertiga.. Jangan keras kepala Fad.."


Fadia menyerah, benar kata Elsa bahwa ia tidak boleh egois hanya karena merindukan kedua orang tuanya. Menelepon sang suami adalah pilihan nya.


Mendengar suara Harry membuat Fadia terisak, mungkin efek kehamilan membuat Fadia menjadi lebih sensitif.


"Sayang.. Hei, kenapa menangis?" terdengar suara Harry mulai panik.


"Sudah jam dua kenapa belum pulang?" tanya Fadia dengan suara serak.


"Maaf, sebentar lagi aku pulang ya.."


"Harry.. Maaf, bisa kamu pulang sekarang?"


"Ada apa sayang? apa kamu baik-baik saja? kamu sama siapa di rumah? bibi kemana?"


"Apa bisa pulang sekarang?" Fadia lebih memilih bertanya kembali daripada harus menjawab pertanyaan khawatir Harry.


"Aku pulang sekarang."


Harry mematikan panggilan telepon secara sepihak, dapat di dengar baheowa Harry sangat khawatir disana. Fadia hanya bisa menghela nafas.

__ADS_1


"Apa suamimu akan pulang?"


Fadia hanya mengangguk.


"Sekarang kau buka puasa dulu Yu, aku saja tidak puasa. Terus kau siap-siap biar nanti suami mu datang langsung berangkat periksa kandungan mu."


Fadia mengangguk lalu mencoba bangkit dan berjalan dengan di papah Elsa ke ruang tamu. Ia pun ke dapur mengambil kan segelas air putih dan di berikan kepada Fadia.


"Sudah jangan nangis, mereka pasti baik-baik saja oke..". ucap Elsa sembari mengelus perut buncit Fadia.


"Gerakan mereka melambat El.. Aku takut, kenapa aku jadi bo doh gini." Fadia terus terisak meratapi apa saja yang akan terjadi. Padahal pagi tadi ia masih merasa baik-baik saja, tapi menjelang tengah hari keadaan tubuhnya berubah menjadi lemah dan ia merasa gerakan janin di dalam perut berkurang selama 2 jam berturut-turut.


Elsa membantu Fadia berganti pakaian dan merias wajah Fadia tampak pucat dan mata membengkak habis menangis.


"Assalamualaikum.."


Harry tidak mendengar jawaban salam nya semakin khawatir lantas dengan cepat membuka sepatu kerja begitu saja lalu melangkah ke kkamair mencari sang istri.


Ia melihat Fadia baru selesai di rias Elsa mendekatinya.


"Sayang.." Seru nya.


Elsa mengetahui Harry sudah datang pun pamit pulang.


"Maaf." cicit Fadia menunduk tidak memiliki keberanian untuk menatap mata Harry.


"Maaf untuk apa sayang?"


Fadia mendongak menatap mata teduh Harry. "Maafin aku yang tidak mau mendengar larangan mu mas.. Bisakah kamu bawa kami ke dokter?"


Harry mendekap tubuh Fadia yang sudah terisak itu, ia sudah menduga bila ini akan terjadi, melihat kebiasaan baru Fadia yang tukang makan saat hamil ini membuat ia cemas.


"Jangan marah padaku Rry.." ucap Fadia masih dalam dekapan sang suami.


"Aku tak akan marah jika kamu menyadari kesalahan dan tak akan mengulangi lagi." sahut Harry mengurai dekapan lalu bersimpuh untuk mengelus dan mengecup perut Fadia.


"Anak-anak ayah.. Yang kuat ya, kasihan bunda jadi sedih.. Kalian lapar kan? ayah masakin baru kita ke dokter ya.." ucap Harry di depan perut Fadia lalu ia berdiri lagi.


Harry tersenyum melihat wajah Fadia yang sudah tampak kacau lagi.


"Jangan nangis lagi, aku masak sebentar terus kamu makan, dokter kandungan buka 1 jam lagi."

__ADS_1


🌸


Bersambung..


__ADS_2