
Jam sudah menunjukkan pukul 17:00. Laras merapikan meja kerjanya, memasukkan barang-barang pribadinya kedalam tas dan akan segera bergegas pulang.
Sampai di depan Loby perusahaan, Laras terpaksa menghentikan langkahnya saat melihat seseorang berdiri dengan membawa bucket bunga mawar di tangannya.
Seseorang itu adalah Ibra.
'Ibra mau ngelamar siapa?' batin Laras bertanya-tanya.
Beberapa karyawan yang melintas pun memilih untuk berhenti saking penasaranya, tidak terkecuali Laras.
Tiba-tiba Ibra mendekat dan berhenti tepat dihadapan Laras.
'Buset! mau apa ini orang?' Laras mulai panik.
Ibra mulai berlutut dihadapan Laras, tentu batin Laras semakin dibuat panik.
"Will You Marry Me?"
'Hah? ini siapa sih yang diajakin nikah sama Mas Ibra? tapi dia berdirinya si depan aku.' Batin Laras.
"Ras, aku uda lama suka sama Kamu, bahkan jauh sebelum kamu berada di perusahaan ini. Kamulah satu-satunya Wanita yang aku cintai selama ini, hanya saja aku terlalu bodoh, aku terlalu takut kamu akan menolakku. Sekarang dengan segala keberanianku, aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Maukah kau menikah denganku."
Ibra, berlutut dan menyerahkan sebucket bunga mawar merah ditangannya. Sedangkan Laras justru diam mematung, bibirnya seakan kelu untuk sekedar menjawab.
Ditempat yang sama, Ocha juga dibuat berdiri mematung dengan kenyataan pahit yang ada didepan matanya.
Pupus sudah harapanya saat ini, ternyata wanita yang dicintai oleh Ibra adalah Laras, bodoh! selama ini cinta tulusnya kepada Ibra hanya sia-sia semata.
Terima
__ADS_1
Terima
Terima
Semua orang bersorak agar Laras mau menerima lamaran Ibra, Ibra juga telah mengeluarkan kotak cincin dari saku celananya. Hati Ocha semakin dibuat hancur oleh keadaan.
Laras menunduk, menatap lurus ujung sepatunya, sungguh amalan baik apa yang pernah ia lakukan, hingga ia dilamar oleh dua laki-laki berbeda dalam satu hari.
Laras tersadar dari lamunanya ketika merasakan tangan lembut menyentuh jari-jemarinya. Ternyata Ibra meraih tangan Laras lalu menggenggamnya.
"Ras?" Ibra kembali bertanya.
"Ma-maaf.. Mas Ibra. Aku gak bisa."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Laras berlari menuju parkiran, kemudian memacu kencang motornya keluar dari area perusahaan.
Sungguh tidak tega jika melihat ketulusan dari sorot mata Ibra, Dan Ibra pun pasti akan sangat malu akibat penolakanya, namun apa boleh dikata, cinta tidak bisa dipaksa, atau hanya atas dasar rasa tidak tega.
Benar saja, vidio Ibra yang sedang melamar dirinya sudah tersebar du grub perusahaan. Laras seakan malas jika harus kembali datang untuk bekerja esok hari.
Mungkin Laras akan mengambil cuti untuk besok, namun mengingat padatnya jadwal Naku, lagi-lagi Laras dibuat dilema.
Tidak berselang lama, Laras mendengar deru suara mobil yang berhenti di depan rumahnya, Tidak lama kemudia terdengar salam dan Rama menyambut dengan riang gembira.
Laras kembali memastikan penampilanya sebelum keluar menemui tamunya, entahlah tidak biasanya Laras begitu memperhatikan penampilan, biasanya Ia akan lebih cuek dan tampil apa adanya.
Laras kembali menyemprotkan minyak wangi sebelum benar-benar turun untuk menemui tamunya, seistimewa apa tamu itu untuk Laras?
"Mas?" Sapa Laras kepada pria yang saat ini duduk di ruang tamu, Rama pun terlihat menempel pada pria itu dengan memainkan mainan barunya.
__ADS_1
Tidak hanya itu, ternyata masih ada satu kardus besar berisa macam-macam mainan khas anak laki-laki di sana.
"Mas yang beli semua mainanan ini?" tanya Laras pada Naku.
"Iya Sayang.." Naku tersenyum lebar.
Laras melotot menatap Naku, seakan memberi kode jika tidak boleh memanggil Sayang dihadapan Rama.
"Kenapa? kan sama calon Istri sendiri." ucap Naku polos.
Gemesh pingin uwel-uwel.
"Sayang, Ayah sama Ibu ada gak?"
"Kenapa emanya Mas?"
"Aku mau lamar kamu ke Ayah sama Ibu langsung, kalau diizinin. Sabtu besok orang tua aku mau datang kesini, melamar secara resmi."
"Terus, kalo Ayah sama Ibu gak ngebolehin gimana?"
"Ya, aku paksa."
"Kalo tetep gak boleh?"
"Aku culik anaknya, terus aku ajak kawin lari." Naku tersenyum lebar.
"Enak aja! anak orang ini, bukan anak kambing main culik aja." cibir Laras.
"Mangkanya.. panggilin dong Ayah sama Ibunya."
__ADS_1
"Iya.. iya.. bentar ya, Ayah sama Ibu lagi dikamar kayanya. Aku panggilin dulu ya."
"Siap Sayang.."