
Enam minggu berlalu dengan indah. Gadhing sangat bahagia karena akan tinggal bersama dengan orang yang di anggap adalah ayahnya. Bahkan ia sekarang sering tidur di rumah dinas Harry. Tentu hal itu membuat Fadia cemburu karena Gadhing sekarang lebih dekat dengan Harry.
Setiap orang pasti ingin memiliki kehidupan asmara yang bahagia. Setiap orang juga pasti ingin memiliki kekasih atau pasangan yang mencintainya dengan tulus. Pun sebaliknya, ia juga ingin mencintai kekasih atau pasangannya dengan tulus dan penuh cinta.
Begitu juga dengan Harry dan Fadia. Kalian yakin jika jodoh akan dipertemukan di waktu yang tepat? Inilah yang di rasakan mereka. Saling melengkapi dan menerima kekurangan serta kelebihan masing-masing. Dengan prinsip saling percaya, jujur apa adanya, saling terbuka dan mereka menjadikan satu sama lain untuk tempat mereka berpulang serta berkeluh kesah.
Siang itu di jam istirahat, Harry memberi kabar tidak makan siang bersama dengan Fadia di blok.
Harry :
Aku mau ke kota sebentar. Kamu makan saja ya jangan tunggu aku.
Fadia yang baru istirahat hanya bisa mendesah lemah. Bagaimana tidak? ia hari ini sudah membawa lauk dan sayur banyak karena pagi tadi Harry memberi kabar ingin makan bersama di blok.
Ia tidak membalas. Biarkan saja pikirnya. Ia pun membuka bekal makan siang nya seorang diri. Karena Elsa sudah makan bersama dengan yang lain nya.
Hubungan Harry dan Fadia juga sudah menyebar di kalangan karyawan dan staf. Itu pun ada yang menanggapi dengan positif walau banyak yang beranggapan negatif.
Fadia hanya mencoba menulikan pendengaran agar hatinya tidak terpengaruh akan hal itu. Tapi tetap saja bohong bila ia merasa baik-baik saja.
"*Sayang kali pak Harry mau nikahi Fadia yang sudah janda ada anak lagi."
"Kok mau sih sama yang longgar?"
"Ya ampun. Pelet apa yang di kasih Fadia untuk pak Harry?"
"Sayang. Ganteng-ganteng bege milih calon istri*."
Padahal jika mereka tahu sebenarnya bahwa Harry lah yang selalu meyakinkan bahwa hanya ia yang pantas bersanding dengan Harry.
Fadia juga kini sudah dekat dengan kedua orang tua Harry walau belum bersitatap langsung. Ia sering melakukan video call dengan ibu Harry.
Rencana acara lamaran akan di lakukan dua Minggu lagi sebelum acara pernikahan. Semua acara di tanggung jawabkan oleh kedua orang tua Elsa karena Fatin dan suami harus bekerja. Hanya bisa pulang dua hari sebelum acara lamaran.
Keluarga Harry juga begitu karena bapak Harry dan Hanum bekerja akan datang dua Harry sebelum acara lamaran dan akan datang lagi saat mendekati hari pernikahan.
Semua urusan dari Seserahan, Hiasan Pernikahan, Upacara siraman, Paes atau ngerik, dodol dawet, upacara Midodareni, dan Pernikahan sudah selesai hanya menunggu hari bahagia itu tiba.
Fadia bersyukur hatinya kini telah sangat yakin pada Harry. Sahabat dunia maya yang ia kenal tanpa sengaja. Pria dengan penuh kelembutan nya. Sejauh ini tidak pernah Harry berbicara dengan nada bentakan. Baik urusan pribadi maupun di kerjaan.
Selesai istirahat saat karyawati ingin memulai pekerjaan nya lagi, karyawati di hebohkan dengan kejadian yang baru saja mereka lihat. Seorang Asisten Afdeling membonceng seorang wanita dan wanita itu bukanlah Fadia.
Deg
Jantung Fadia seakan berhenti sejenak saat ia pun melihat itu. Ia kenal pria itu. Dia adalah Harry nya. Tapi siapa wanita itu?
__ADS_1
Fadia menepis segala pikiran negatif nya. Ia selalu mencari jawaban positif untuk menenangkan pikiran nya walau tidak ada jawaban atas itu.
Mungkin karena wanita itu kah Harry tidak makan siang dengan ku?
"Fadia." panggil Elsa.
"Ya."
"Kau tidak apa-apa?" tanya Elsa hati-hati.
Fadia mengangguk. "Aku tak apa." jawab Fadia lirih.
"Jangan sembunyikan apapun dariku Fad." ujar Elsa.
Fadia menunduk sembari tangan nya terus mengutip berondolan dan dimasukkan ke ember.
"Aku hanya takut." jawab Fadia.
"Lebih baik kau tanyakan langsung pada Harry Fad." Elsa memberi saran.
Fadia menggeleng. "Untuk apa? jika memang Harry merasa penting memberi tahuku pasti sudah dikatakan nya saat dia memberi kabar tidak jadi makan siang bersama ku kan?"
Elsa mendesah lemah. "Mungkin itu teman nya Fad. Kamu jangan khawatir ya.. Ingat kalian sebentar lagi menikah."
Fadia diam saja. Perasaan nya sekarang bukan hanya cemburu. Melainkan kecewa dan takut. Kecewa atas ketidak jujuran dan Harry tidak terbuka kemana ia pergi. Takut jika ia batal menikah. Maka bisa di pastikan semakin buruk image nya di tanah kelahirannya ini.
Siapa perempuan itu? apa Harry memiliki teman perempuan yang tidak aku ketahui? bukan kah semenjak datang kemari Harry lebih sering di rumah ku? ingin ku tidak cemburu dan tidak curiga... Tapi itu sulit.
Hingga sore Harry pun Harry tidak ada memberi kabar pada Fadia membuat hati wanita itu menjadi tidak karuan. Tapi ia tidak cukup berani untuk bertanya pada Harry.
"Bunda.. Ayah tadi kemana? kenapa tidak jemput Gadhing?" tanya bocah laki-laki itu.
Fadia terperanjat mendengar itu. "Jadi siapa yang jemput Gadhing?"
"Gadhing di bonceng Mama nya Rita. Karena Gadhing tadi jalan." Rita adalah teman sekolah Gadhing.
"Jalan? apa Gadhing sudah menunggu lama?"
Gadhing mengangguk.
Ada rasa kecewa dihati Fadia. Jika memang tidak sempat jemput Gadhing setidaknya kasih kabar ke Fadia.Pikirnya.
"Sekali lagi jangan jalan ya.. Besok yang antar jemput biar kakek saja ya.
"Kenapa tidak ayah lagi Bun?" tanya Gadhing polos.
__ADS_1
"Ayah sibuk kerja." jawab Fadia singkat.
****
Malam harinya Harry belum juga memberi kabar pada Fadia. Ia mencoba untuk merasa baik-baik saja tapi hati tidak bisa di bohongi bukan?
Fadia :
Kamu lagi dimana?
Cukup lama Fadia menunggu balasan dari Harry, bahkan ia berkali-kali membuka chat Harry ternyata belum di baca.
Kemana Harry?
Haruskah aku tetap percaya?
Tapi hatiku tidak bisa.
Apa masih dengan perempuan itu?
Siapa dia?
Apa kamu menemukan yang kamu rasa tepat?
Jika iya aku harus apa?
Memang jika benar begitu, dengan senang hati Fadia melepaskan Harry demi kebahagiaan orang tercintanya.
Bukan kah dulu itu keinginan dirinya sendiri. Harry menemukan yang lebih baik dari dirinya. Walau ia harus yang merasa sakit, bukan kah cinta tidak harus memiliki?
Tapi kenapa saat hari bahagia itu sudah di depan mata?
Fadia menggeleng lagi mencoba terus percaya pada Harry. Tapi hatinya tidak bisa.
Harry :
Aku di kota. Maaf malam ini aku tidak bisa kerumah.
Fadia menghela nafas. Sudah cukup, bukan kah ia pernah mengalami lebih sakit dari ini? Mulai sekarang ia harus menyiapkan hati bila memang Harry berubah pikiran.
*Tapi.. Siapa perempuan itu?
🌸
Hai hai... Waktunya sebentar lagi mereka menikah..
__ADS_1
kita kasih sandungan dulu ya*...