Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Dua bayi laki-laki


__ADS_3

Langit masih gelap, ayam jantan pun belum berkokok namun Fadia sudah bangun. Ada ketakutan pada dirinya akan di operasi Caesar karena ini adalah pengalaman pertamanya.


Dengan masih mengenakan mukenah Fadia membuka Al-Qur'an dan membacanya berharap dapat menenangkan hati dan pikiran saat ini.


Seakan mengerti keadaan sang bunda, calon bayi kembar Fadia terus bergerak membuatnya tersenyum sembari tetap membaca Alqur'an.


Di saat seperti ini ia sangat-sangat merindukan almarhumah ibunda, ia juga ingin seperti mereka melahirkan ditemani sang ibunda.


"Shadaqallahul-'adzim."


"Anak-anak bunda sudah tidak sabar ketemu bunda ya? sebentar lagi kita ketemu.."


Fadia terus mengelus perut Fadia yang sangat buncit tersebut. Tubuhnya terjingkat ketika pundak nya di pegang seseorang lalu ia menoleh orang itu tengah tersenyum manis untuknya.


"Kenapa tak bangunkan aku Yu?"


Fadia menepuk sisi sebelah agar Harry duduk disana. Setelah Harry duduk di sebelahnya ia sandarkan kepala di lengan kokoh Harry.


"Kenapa hem?" tanya Harry sembari mengambil Al-Qur'an dari tangan Fadia lalu meletaknya di atas meja.


"Aku takut.." jawabnya lirih.


Tak lantas langsung menjawab, Harry mengangkat tubuh Fadia agar duduk di pangkuan nya. Membelai wajah sendu dengan kantung mata tampak sedikit menghitam karena kurang waktu tidur.


"Jangan takut.. Bukannya kamu sudah menunggu waktu ini?"


Fadia masuk dalam pelukan Harry yang selalu membuat ia merasa nyaman dan tenang. Pelukan Harry bagai magnet membuatnya ingin selalu berada disana.


"Oh iya, mas sudah ngurus surat cuti nya kan?"


"Sudah sayang cuti P3 sama aku ajuin cuti 3 hari lagi, jadi aku bisa temenin kamu di rumah sakit."


"Harry.. Makasih ya.." ucap Fadia mengurai pelukan dan menatap dalam mata Harry.


Ia juga membalas tatapan Fadia kemudian mengangguk. "Aku juga ucapin makasih atas kebahagiaan yang kamu kasih ke aku."


"Makasih sudah cinta aku sedalam itu."


Senyuman Harry semakin merekah dengan tangan meraih tali mukenah agar Fadia membukanya.


"Aku menginginkan mu sekali lagi Yu.."


Fadia pun membuka mukenah lalu melipatnya masih dengan duduk di pangkuan Harry.

__ADS_1


Melihat Fadia selesai melipat mukenah langsung menggendong nya membawa masuk ke dalam kamar untuk melakukan permainan panas kembali. Ini waktu terakhir sebelum ia harus puasa sangat lama dan itu adalah siksaan baginya.


Langit sudah terang semua yang di butuhkan Fadia dan calon anak kembar mereka sudah tersusun rapi di dalam mobil mereka.


Ya, Harry sudah membeli sebuah mobil satu Minggu lalu dan ia adalah asisten Afdeling pertama yang memiliki mobil pribadi bukan mobil yang di sediakan oleh pihak perusahaan dan itu berhasil membuat para istri staf mempertanyakan dari mana asal uang mereka bisa membeli mobil pribadi padahal gaji mereka hanya selisih beberapa juta saja.


Ada yang menebak jika mobil itu di beli secara kredit dan ada pula menebak jika mereka mendapat uang hasil korupsi dari perusahaan.


Namun Fadia hanya diam saja, bibi Minah selalu memberitahu gosib-gosib itu dari para ART di rumah staf yang lain.


Harry ingin menjemput Fadia ke kamar nya ia urungkan karena sudah melihat Fadia keluar rumah dengan satu tangan di pinggang dan satu tangan lagi mengelus perutnya.


Matanya membola kala melihat tampilan sang istri tampak begitu cantik.


"Sayang.. Kita mau ke rumah sakit karena kamu mau melahirkan loh.." ucap nya seraya membuka pintu mobil untuk Fadia.


"Ya memang lah mas.." sahutnya menerima tubuhnya di gendong Harry mendudukkannya kemudian memasang seatbelt.


Harry memutari mobil lalu masuk duduk di belakang kemudi. Di kursi penumpang sudah ada ibu Harry, Hanum, dan Gadhing yang masih tertidur.


"Bu.. Lihatlah menantu ibu ini." Harry mengaduh pada sang ibu.


Ibu Harry bingung harus jawab apa karena tidak tahu apa permasalahan nya.


"Dia mau melahirkan tapi dandan cantik begitu."


Ibu Harry dan Fadia tertawa mendengar nya.


"Rasain, mbak Ayu pasti di dalam sana bakalan godain pak dokter. Iya kan mbak? dokter laki-laki kan memang ganteng-ganteng."


Fadia mengangguk setuju. "Iya, mbak sering khilaf kalau ke rumah sakit lihat dokter laki-laki pasti pengen lihatin dokter itu terus."


Harry melihat mata Fadia yang tidak menampilkan kebohongan membuat hatinya panas. Sepanjang perjalanan ingin menuliskan pendengaran karena sang istri dan adiknya sedang asyik membicarakan pria tampan yang pernah mereka temui.


Ibu Harry hanya bisa menggeleng melihat perubahan raut wajah Harry dari pantulan kaca spion dan melihat Fadia tampak belum menyadari suaminya sedang cemburu.


Mobil mereka telah sampai di rumah sakit kabupaten kota tersebut. Semua telah turun namun tidak dengan Harry dan juga Fadia.


"Mas ayo turun, satu jam lagi jadwal operasi ku." ajaknya.


Harry melepas seatbelt masih dalam mode diam lalu keluar memutari mobil dan membuka pintu Fadia. Dengan tangan nya seatbelt Fadia ia lepaskan.


Tatapan mereka bertemu. "Jangan pernah melihat laki-laki lain dengan tatapan kagum Yu.."

__ADS_1


Cup


Fadia mengecup bibir Harry mengelus rahangnya.


"Kamu selamanya.. Sekarang turunkan aku Rry.."


"Baiklah.."


Harry mengantar Fadia kepada sang ibu dan ia segera mengurus surat-surat yang dibutuhkan.


Mereka memilih melahirkan di rumah sakit swasta agar bisa satu ruangan dengan bayi kembar.


Beberapa saat kemudian Fadia telah di bawa ke ruang operasi, lampu di atas pintu ruang operasi telah menyala itu artinya operasi telah di mulai.


Harry duduk termenung menunggu di kursi tunggu. Gadhing bersama Hanum pergi ke kantin rumah sakit sedang ibu juga tengah duduk memperhatikan anak sulung nya.


Tak lama terdengar suara tangis bayi di dalam ruang operasi sontak membuat Harry tersadar dari lamunan nya.


Matanya berkaca-kaca ketika mendengar tangis bayi yang kedua.


"Ibu.. Sekarang aku benar-benar menjadi seorang ayah." suara nya bergetar saat mengatakan hal itu pada sang ibu yang sudah duduk di sebelahnya.


"Selamat Harr.."


Tak berapa lama kedua bayi kembar itu dibawa keluar ruang operasi oleh kedua perawat di ikuti ibu Harry karena harus memastikan cucu-cucu nya dimana berada.


Harry masih duduk terpaku menatap pintu ruang operasi itu segera terbuka dan keluarlah sang istri.


Entah mengapa rasa khawatir merayap di kepalanya. Mengingat bagaimana Fadia melewati masa kehamilan nya dengan banyak kendala.


Apa kamu baik-baik saja Yu? aku bersumpah jika kamu tidak baik-baik saja maka aku siap mempertaruhkan nyawa ku. Aku takut kehilanganmu.


"Harry.. adzani dulu anak-anak mu.."


Harry menoleh ke arah sang ibu lalu bangkit menuju kamar mandi di mushola rumah sakit untuk whudu terlebih dahulu.


Tangan Harry bergetar untuk pertama kalinya menggendong seorang bayi kecil itu. Sangat kontras di tangan Harry.


Kedua anak kembarnya telah di adzan kan namun ada yang salah dengan hasil USG Fadia bahwa yang keluar bukan bayi laki-laki dan perempuan melainkan dua bayi laki-laki.


🌸


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2