Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
mbak Fatin


__ADS_3

Pukul 9 malam rombongan Fadia sampai di rumah Fatin dan suaminya bernama Fadli. Mereka langsung istirahat malam itu.


Rumah Fatin hanya memiliki 2 kamar. 1 kamar utama di tempati sang pemilik rumah. 1 kamar lagi di tempati anak mereka. Jadi Gadhing, Fadia, dan Elsa tidur di kamar nama Fatin bernama Dita. Dan ke tiga pria dewasa itu tidur di ruang tamu.


Pagi harinya Fadia dan Elsa berada di dapur membuat teh manis setelah sarapan. Suasana rumah itu mendadak senyap tatkala Gadhing dan Dita pergi main ke taman komplek.


Fadia sedang memikirkan percakapan nya dengan Harry tadi malam saat berada di becak menuju komplek perumahan Fatin.


"Yu. Kamu ingat tidak saat kamu kelas XI SMA, pertama kali aku meminta untuk bertemu?" tanya Harry sembari memeluk Gadhing dalam pangkuan nya karena bocah laki-laki itu sudah tertidur.


Fadia mengangguk. "Ingat. Dan aku menolak." jawab Fadia lirih.


"Boleh aku tahu alasannya kenapa kamu menolak?"


Fadia tersenyum kemudian menggeleng saat mengingat alasan nya. "Aku takut kamu jelek."


Harry tersenyum. Bagaimana bisa Fadia berpikir seperti itu padahal ia berpikir bahwa Fadia cantik. Ia pun mengacak rambut Fadia dengan gemas.


"Jadi, sekarang aku jelek atau ganteng?"


Fadia tersipu malu ditanya seperti itu. "Biasa saja." gengsi untuk mengakui.


Harry tidak marah. Bahkan ia merasa bertambah gemas dengan wanita nya ini. Ia tidak perlu pengakuan. Cukup ia saja yang mengakui kecantikan Ayunya.


"Kamu tahu, padahal waktu itu aku sudah berada di Medan." ucap Harry lirih.


Fadia menatap Harry. Ada rasa sesal saat mendengar itu. "Maaf. Tapi sekarang sudah bertemu bukan?"


Harry mengangguk."Ya bahkan sebentar lagi jadi teman tidur." Harry tersenyum nakal.


"Kenapa senyum-senyum begitu?" Fadia menatap curiga.


"Aku sudah tidak sabar Yu."


Fadia masih saja melamun sampai suara Fadli membuatnya terkejut. Fadia mengusap dada saking terkejutnya.


"Maaf dek. Kaget ya?" tanya Fadli.


Fadia mengangguk."Ada apa bang?"


"Sudah siap teh nya? cepat siapkan. Mbak mu seperti mau ngamuk."


Seketika wajah Fadia dan Elsa menjadi pias. Sebenarnya keduanya sengaja mengulur waktu untuk bertatap muka dengan Fatin.


"Bang. Punya dua helm?" tanya Elsa seperti mendapat ide perlindungan.


"Ada itu di belakang pintu." jawab Fadli.


"Pinjam ya."


Elsa mengambil dua helm lalu memakainya dan memakaikan Fadia.


"Untuk apa ini El?" ia bingung karena Elsa diam saja sedari tadi.

__ADS_1


"Untuk perlindungan dari bahaya yang akan datang. Sudah ayo kita bawa teh ini ke depan."


Fadia dan Elsa membawa nampan berisi teh manis untuk para pria dan Fatin.


Semua terperanjat melihat dua wanita beda status itu.


****


Di ruang tamu sebelum Fadia dan Elsa datang.


Fatin duduk berhadapan dengan Harry, Niko, dan pak Seto. Ia menatap ketiganya dengan seksama. Karena ia belum tahu mana calon suami adik semata wayangnya.


Kemarin ia tidak ingat menanyakan nama calon suami adiknya dan Fadia pun tidak memberi tahu siapa namanya.


Ia menilai tiga pria di depan nya sama-sama tidak ada yang jelek. Memiliki ketampanan masing-masing.


Ia menatap lekat pria yang duduk di sisi kanan yaitu Niko. Dia lebih putih dua pria di sebelah.


Ya iyalah. Kan Niko kerja nya jadi satpam bank. Tidak kena panas.


Kemudian ia menatap pria yang duduk di tengah adalah Harry. Ia baru menyadari jika pria yang duduk di tengah ini lebih tenang dari dua pria di sebelahnya. Dan sedari tadi dia terus menatap kearahnya. Lebih tinggi dari yang lain, lebih mancung, dan lebih rapi.


Setelahnya ia menatap sebelah nya lagi adalah pak Seto. Dia rapi tapi tidak serapi pria yang di tengah. Dan lebih dewasa dari yang lain. Ia menilai mungkin saja seumuran dengan suaminya 35 tahunan.


Ternyata ia tidak bisa menebak sendiri siapa calon adik iparnya. Ia menghela nafas.


"Bang panggil dulu kedua adik kita itu. Ondak (mau) ku nasehati." titah Fatin pada suaminya.


Sebenarnya ia juga sadar, kedua wanita bak saudara itu sudah tumbuh dewasa dan sudah cukup umur untuk berumah tangga. Tapi ia sekarang kakak. Ia tidak ingin kisah Fadia terulang lagi atau akan di alami Elsa.


Tapi setelah melihat tampilan Fadia dan Elsa membuat ia terperanjat dan geram karena sepertinya kedua adiknya ini sudah tahu apa yang akan terjadi.


****


Semua terperanjat melihat dua wanita beda status itu. Selain Fadli suami Fatin. Bahkan ia terkekeh melihatnya.


"Mau kemana?" tanya Fatin ketus.


"Tidak ada." jawab Fadia dan Elsa bersamaan.


"Kenapa pakai helm?"


Fadia memegang helm yang ia pakai dan tersenyum jahil. "Ini itu perlindungan diri mbak. Perlindungan dari mara bahaya dari pemilik rumah." ia menepuk helm nya.


Harry mendengar itu hanya menggeleng kepala. Ingin rasanya menegur Fadia untuk jangan berbicara seperti itu tapi itu belum rana nya. Ia belum siapa-siapa. Atau mungkin saat berdua dengan Fadia ia akan menegur Fadia.


"Kau memang suka kali membuat ku emosi. Buka helm kalian dua." geram Fatin sembari berdiri.


Fadia dan Elsa menelan saliva nya. Kemudian keduanya melepas helm bersamaan.


"Aduh..Mbak ampun.. Aduh.." teriak keduanya saat tangan Fatin melintir daun telinga mereka.


Harry meringis melihat wanitanya di jewer seperti itu.

__ADS_1


"Katakan mana pacar kalian."


Elsa menunjuk ke arah Niko dan Niko tersenyum canggung. Dan telinga Elsa bebas. Tapi tidak dengan Fadia.


"Kenapa diam Fadia?" tanya Fatin.


"Fadia tidak punya pacar tapi calon suami mbak. Lepas iihh.." rengek Fadia.


Astaga..Ingin sekali Fatin tenggelam kan Fadia saat ini. "Sama saja. Yang mana calon mu?"


"Itu yang duduk di tengah, paling tinggi dan paling ganteng. Lepas dulu dong mbak iihh."


Akhirnya telinga Fadia bebas setelah itu. Ia mengusap telinga nya yang memerah dan panas.


"Mau copot telinga ku." gerutu Fadia dan di anggukin oleh Elsa.


****


Fatin menatap Harry intens. Ia akui adiknya pandai memilih saat ini. Tapi apa itu menjamin untuk selalu bersikap baik pada adik nya.


"Nama kau siapa?"


"Harry Setiawan mbak." jawab Harry sopan tanpa rasa ragu.


Fatin manggut-manggut. Cukup sopan pikirnya.


"Sudah lama kenal Fadia?" tanya Fatin masih dengan nada tidak bersahabat.


"Sudah 11 tahun." jawab Harry yakin.


Fatin menatap Fadia seperti meminta penjelasan.


"Iya kami kenal pas Fadia SMP." jawab Fadia.


"Tapi dari logat ngomong mu, kau bukan dari Sumatera ya?" tanya Fatin dengan sedikit lembut tapi tetap saja garang kalau Fatin yang bicara.


"Iya. Saya dari Malang.Jawa Timur mbak."


Fatin menatap Fadia lagi seakan bertanya bagaimana bisa?


Fadia menghela nafas. "Panjang ceritanya. Terpenting nomor hape Fadia nyasar ke temen nya Harry, dan Harry minta nomor hape Fadia jadi deh kami akrab." Fadia tersenyum karena terbayang bagaimana dulu keduanya mulai akrab sering berbalas pesan singkat dan teleponan.


Fatin melihat wajah sang adik tampak berseri kala menceritakan hal itu.


"Sejak kapan kau menginginkan adek ku?"


"Sejak lima tahun lalu."


Fadia melongo mendengarkan itu.


🌸


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2